Energy Of Love

Energy Of Love
Terdiam



"Terdiam. Ketika aku tahu dua perasaan dari dua pria yang berbeda itu terungkap. Aku lebih terdiam, ternyata ada sosok yang mencintaiku dalam doa," gumam Fira dalam lamunannya. Tatapan sayu itu fokus pada tulisan Henry.


Hari ini Fira jadi tidak selera sarapan. Padahal di atas meja sudah tersedia bekal nasi, sayur bayam, tempe dan teh hangat yang dibawannya sendiri. Wajahnya yang ayu itu tampak pucat. Terlihat mulai mengering dan pecah-pecah pada bibirnya. Ia masih tenggelam dalam lamunannya. Foto yang ia pegang nyaris jatuh ke lantai. Namun, Fira tidak menggubrisnya.


"Wanita seperti diriku enggak pantas dicintai. Karena aku punya masa lalu. Aku sadar aku ini hanya janda dan aku juga masih trauma. Aku trauma, karena mencintai pasti tidak di cintai lagi. Pasti terluka lagi dan pasti patah hati lagi," desis Fira.


Rafi membuka pintu ruang kerja Fira dengan kasar. Raut wajahnya menunjukkan kecemasan karena tingkah Fira yang dingin padanya. Kedatangan Rafi saat itu, Fira melengos. Fira kembali dalam lamunannya. Rafi membawa kotak makanan untuk Fira. Ditaruhnya di atas meja. Rafi tidak tega dan bertanya-tanya dengan sikap Fira seperti ini. Rafi tetap berdiri sembari menghentak meja.


"Ayo makan! Kata Rahline dari tadi malam kamu enggak makan. Abang tidak ingin kamu sakit, Fir," geram Rafi.


Tatapan Fira nanar menoleh ke arah Rafi, kemudian Fira menyadari fotonya terjatuh di lantai. Sejenak ia membungkuk dan mengambil foto itu. Ia mendengus dan memalingkan wajah ke arah jendela ruangan. Pelipisnya disandarkan pada tangan kanan. Fira diam tanpa kata dan tidak menghiraukan ocehan Rafi.


"Kamu lagi sakitkah? Wajahmu pucat begitu. Nah, ini makanan tersedia, kenapa enggak dimakan? Ayolah makan! Nanti asam lambungmu kambuh lagi. Abang tidak ingin kamu sakit," rayu Rafi.


"Bisa biarkan aku menyendiri dulu? Tolong Abang mengerti. Aku ini hanya seorang janda," ucap Fira ketus.


"Maksudmu apa? Abang enggak peduli dengan statusmu sekarang. Abang peduli padamu karena ..." Rafi berusaha menahan ucapannya.


"Tolong, jangan temui aku dulu! Aku ingin sendiri! Paham? Sekarang Abang keluar!" perintah Fira agak kasar seraya mengangkat tangan kirinya.


"Baiklah. Tapi, tolong kamu makan walaupun sedikit. Abang enggak bisa melihatmu sakit, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Rafi meninggalkan Fira sendiri. Sebenarnya begitu berat meninggalkan Fira dalam kondisi seperti ini. Namun, Rafi bergumam seraya mendoakan supaya Fira baik-baik saja.


"Ya Allah, kepalaku pusing sekali. Perutku mual. Tapi aku enggak selera makan," ucap Fira. Ia merintih memengang bagian lambungnya.


Gawai Fira berdering karena ada video panggilan masuk. Fira melirik ponselnya. Ia mengambil ponselnya yang berada di samping laptopnya. Ternyata panggilan video masuk itu dari WhatsApp Khalifah. Fira sigap mengangkat panggilan video dari Khalifah. Wajah mereka saling bertemu di balik kamera gawai masing-masing.


"Assalamu'alaikum, jeng Firaku, sayang. Aku, Velia dan Medina lagi berkumpul di toko rotinya Velia nih. Tadi kami selesai kajian akbar. Ya, sudah deh mumpung ada waktu di buat nongkrong," jelas Khalifah.


"Masyaallah, kalian ini beruntungnya bisa berkumpul. Aku enggak diajak, ya, hahaha," canda Fira.


"Kamu lagi sakitkah? Terlihat pucat sekali dari wajah dan bibirmu pecah-pecah begitu," kata Khalifah.


"Aku baik-baik saja kok," kilah Fira.


"Kebiasaan deh, ngomong baik-baik saja---padahal ada masalahkan?" sindir Medina.


"Cerita saja sih, Fir. Mumpung kami lagi ada untukmu, eeaakk," kata Velia menyantap roti keju.


"Aku sedang enggak selera makan," lirih Fira


"Kenapa? Nanti asam lambungmu kambuh lagi loh," kata Khalifah penuh perhatian.


"Kamu lihat ini! Karena ini---aku jadi enggak selera makan!" geram Fira. Ia seraya memejamkan mata karena tersipu malu. Fira menunjukkan fotonya dan tulisan Henry di balik fotonya.


"Waw, masyaallah, sepertinya bakal ada yang kawin lagi nih, hahaha." Sindiran Khalifah menohok untuk Fira.


"Bahasamu, Fah, huhuhu." Fira tersipu.


"Siapa yang bakal nikah lagi?" tanya Velia penasaran. Sejenak ia menggeser tubuh Khalifah supaya dapat melihat foto yang ditunjukkan Fira.


"Aku kasih lihat juga dong. Kepo nih, hihihi," ujar Medina. Ia lantas membelakangi Khalifah.


"Eh, eh, nanti ponsel eike jatuh loh. Tanganku kejepit nih! Kepo sih kepo, Buk! Tapi enggak begitu amat. Aduh Gusti!" ucap Khalifah ketus.


"Biar aku saja yang pegang ponselmu. Aku enggak mau ketinggalan berita soal sahabatku, Fira, hahaha," sahut Medina. Ia lantas merebut gawai Khalifah.


"Masyaallah, Henry romantis sekali, mencintaimu dalam doa," kata Velia dengan mata berbinar-binar.


"Alhamdulillah, sepertinya pertanda jodoh sudah dekat nih," ucap Medina semakin membuat Fira merinding.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Fira.


"Tidak semudah itu, Neng Velia! Karena bukan Henry saja yang mencintaiku dalam doa. Rafi juga mencintaiku dalam diam. Itupun aku baru tahu dari cerita dari Rahline adik sepupu Rafi," jelas Fira.


"Masyaallah, speechless!" serentak Medina, Khalifah dan Velia tertegun. (Speechless \= terdiam)


"Yeah, speechless. Then what should i do?" kata Fira. (Ya, terdiam. Terus apa yang harus aku lakukan?)


"Istikharah dong, Fir. Masa gitu doang enggak tahu?" ucap Khalifah.


"Aku itu sudah menutup hati untuk seorang laki-laki lagi. Aku enggak siap menikah lagi," keluh Fira terpejam.


"Fira, kalau kejadian seperti ini pertanda jodohmu semakin dekat. Bisa jadi Allah ingin kamu memulihkan rasa traumamu dengan kehadiran cinta yang dianugerahkan oleh Allah," jelas Medina.


"Ta-tapi, a-aku masih takut mencintai, Din." Fira tergugu seraya memegang kepalanya.


"Lukamu terlalu dalam, trauma dan takutmu sudah menguasai dirimu. Cobalah ikhlas saja yang menguasai dirimu. Move on, Fira! Bismillah, pasti kamu bisa! Begini saja deh, yang utama adalah indahkan Allah di hatimu. Mulai sekarang kamu fokus memperbaiki dan memantaskan diri saja. Insyaallah, Allah sandingkan kamu dengan seorang yang juga mengindahkan Allah di hatinya. Maa fii qalbi ghairullah," timpal Medina.


"Maa fii qalbu ghairullah. Insyaallah, Din," ucap Fira.


"Dan sudah saatnya kamu menjalani masa istikharah. Untuk menentukan pilihan yang tepat bagi Allah, kamu dan pastinya untuk anak-anakmu."


"Bismillah, semangat Fira, pasti kamu akan dipertemukan yang jodoh yang baik dengan cara yang baik," ucap Velia mendukung Fira.


"Fira, kalau sudah mantap dengan salah satunya. Jangan lupa undangan kawinnya bagi ke kita, ya, hahaha. Eike ingin lihat Fira jadi ratu sejagat, maksudnya pengantin gitu loh, jeng-jeng," kelakar Khalifah centil.


"Khalifah! Anjeun mah teu acan rarabi, kalah miwarang batur rarabi," ucap Medina dan Velia sambil melirik tajam ke Khalifah.


"Woi, biasa saja dong mukanya," canda Khalifah.


"Ya, sudah, aku kembali kerja lagi, ya. Semoga suatu saat kita bisa berkumpul," ucap Fira.


"Baik-baik, ya, Fira. Jangan loyo! Jodoh tuh sudah kelihatan harusnya lebih bahagia gitu. Kalau butuh obat move on lebih baik perbanyak istighfar dan salat taubat," ucap Khalifah.


"Nah, ini julid yang berfaedah!" seru Medina dan Velia.


"Dokter Khalifah gitu loh, hahaha."


"See you next time, ladies. I miss you, all. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, bye-bye Fira. We miss you too."


Percakapan persahabatan di panggilan video itu berakhir. Fira merebahkan punggungnya di kursi. Ia masih bermain dengan gawai. Wanita itu melihat kontak WhatsApp milik Ratih. Ibunya.


"Apa aku harus cerita ke Ibu dan Bapak soal ini, ya?" desisnya, "ah, nanti saja. Aku mau keluar sebentar ambil wudu. Sebentar lagi mau salat Dzuhur. Tapi, kepalaku pusing sekali." Fira beranjak dari kursi seraya memegang kepalanya.


Fira keluar dari ruangan. Jalannya sempoyongan sembari menyandarkan bahunya di dinding. Matanya berkunang-kunang. Melihat sekitarnya menjadi samar-samar. Ketika ia hendak ke kamar mandi, saat itu juga Henry datang dan menghampiri Fira. Henry terkejut dan cemas melihat kondisi Fira kian pucat.


"Mbak Fira sakit, ya?" tanya Henry cemas.


"A-a-aku se-hat ..." Fira belum selesai berbicara. Ia pingsan dan tubuhnya tersungkur di lantai.


"Mbak Fira!" pekik Henry. Tanpa berpikir panjang lagi, mau tidak mau Henry menggendong Fira karena kondisi darurat.


Pemandangan Henry menggendong Fira itu menjadi pusat perhatian semua orang dalam restoran, hingga Rafi muncul di sana. Melihat seperti itu, Rafi berlari menyusul Henry dan Fira. Rasa cemburunya tidak bisa disembunyikan lagi. Rafi berusaha menghadang Henry.


"Lihat ini! Mbak Fira sakit, pucat dan pingsan. Jangan diam saja! Ayo bawa ke rumah sakit." Henry mendesak Rafi.


"Oh, pingsan. Oke-oke, aku siapkan mobil dulu." Rafi lantas bergegas menyiapkan mobil ke tempat parkir.


Henry menatap lekat wajah Fira yang kian pucat pasi seraya bergumam, "ada apa dengan Mbak Fira? Apa dia terlalu memikirkan tulisanku? Ya Allah, kenapa begini? Padahal hari ini aku ingin menjelaskan sesuatu padanya."


Rafi menghentikan mobil di depan Henry. Ternyata di sana juga ada Rahline. Perlahan Henry memasukkan Fira ke dalam mobil Rafi. Rahline-lah yang memangku Fira. Sementara Henry duduk di dalam mobil bersebelahan dengan Rafi. Kemudian Rafi melaju kencang menuju ke rumah sakit Mount Elizabeth Singapura.