Energy Of Love

Energy Of Love
Perasaan yang Tersampaikan



Kalau Allah sudah memberi rezeki untuk hamba-Nya tidak akan salah alamat. Fira mengemudi mobil Eonda sambil menikmati perjalanan Kota Singapura. Ia bahagia sekali mendapat mobil dari bosnya sore tadi. Meski hanya mobil untuk bekerja, karena selama satu bulan kinerja Fira terkesan mengagumkan.


Fira kembali membayangkan kejadian sore tadi. Soal persentasenya diterima oleh Sandi, Rafi dan pegawai lainnya, sehingga mendapat apresiasi berupa mobil saat itu juga.


Telunjuk kirinya menyalakan radio yang tersambung ke ponsel, mendengarkan lantunan salawat. Wanita berkerudung segitiga itu melanjutkan perjalanan pulang ke apartemen di tengah kota.


"Alhamdulillah, ya Allah. Tanpa Engkau, mungkin aku tidak akan seperti ini. InsyaAllah, setelah ini, aku ingin mengirimkan rezeki sepenuhnya untuk anak-anak, Bapak dan Ibu," ujar Fira penuh semangat.


Tiba-tiba ada sesuatu yang tidak diduga. Ada sebuah mobil Erenza hitam nyaris menyelip dan berhasil menghadang mobil Fira. Wanita berkerudung segitiga itu tersentak hingga menginjak rem mendadak. Dahi Fira jadi terbentur setir mobil dan pandangannya menjadi berkunang-kunang.


"Astaghfirullah! Siapa yang sengaja menghadangku? Eerrgg, kurang ajar!" gertak Fira.


Amarah Fira memuncak lantas turun dari mobil. Walau Fira masih merasakan pusing yang luar biasa sebab terbentur setir mobil, ia bergegas menghampiri mobil Erenza hitam yang menghadang mobilnya. Marah dan geramnya semakin menyala bagai api unggun. Fira persetan menggedor jendela mobil supaya si empunya turun dari mobil itu.


"Hey you, get out of the car!" teriak Fira. (Hei kamu, keluarlah dari mobil!)


Si empunya mobil itu langsung keluar dari dalam mobil. Tatapannya bagai serigala yang hendak menerkam mangsanya. Ia hendak membelai kepala Fira tapi Fira sontak menangkisnya. "Hallo, baby. Sakit, ya, kepalamu? Sini Abang Sultan obati dengan kasih sayang."


Fira tercengang dan menjauh dari Sultan. "Astaghfirullah! Dasar laki-laki gila!"


"Iya, Abang memang gila. Tergila-gila oleh janda cantik sepertimu, hahaha," kelakar Sultan.


Sultan lancang menyahut tangan Fira. Pusing karena terbentur setir mobil tadi belum sembuh, ditambah Sultan mencengkeram tangan Fira. Tangan Fira terasa ingin patah. Wanita itu berusaha memberontak dan berteriak minta tolong.


Sultan makin agresif hendak membawa Fira ke dalam mobil. Di jalan raya memang ramai kendaraan dan ada beberapa orang berjalan di trotoar, tapi tak satupun yang peduli dengan peristiwa menegangkan itu. Fira menghadapi serigala berhidung belang itu sendirian diri.


Fira sekuat tenaga menendang area sensitif Sultan begitu keras. Pria beringas itu merintih kesakitan yang luar biasa. Fira berhasil lolos dari cengkeraman Sultan. Wanita itu lari menuju ke mobilnya.


Sikap bejat Sultan menggelapkan hati karena terobsesi dengan Fira. Sultan lagi-lagi berhasil meraih tangan Fira dan dicengkeramnya. Sikap arogan Sultan kepada Fira bagai serigala yang akan berpesta mendapat mangsa.


Fira terbelalak. Wajah ayunya seketika berubah pucat pasi seraya memekik, "Help me, please!"


"Sila, teriak saja! Kat sini takkan ada seorangpun yang nak tolongkan awak tahu, hahaha. So, baby, come on with me. Kita rayakan berdua saja," hardik Sultan sambil mengedipkan mata kepada Fira.


Tidak jauh tempat kejadian Fira dan Sultan, Henry mendadak berhenti dan turun dari motor. Ia cekatan mengambil sebuah bola dari dalam tas. Melihat Fira yang tersiksa oleh sikap Sultan, pemuda itu tidak bisa membendung amarah. Tidak ada kata ampun lagi untuk Sultan. Henry langsung menendang bola sangat kencang ke arah dada Sultan.


Suara hantaman bola itu mengenai dada Sultan sampai tersungkur di atas aspal. Ia merasakan sesak di dada hingga batuk-batuk. Sultan tercengang dengan kehadiran Henry yang tidak diundang itu.


"Badebah kau! Masa lelaki berani kasar terhadap perempuan?" gertak Henry menyeringai.


"F*ck you!" geram Sultan beranjak.


Sultan berusaha menendang bola sekencang mungkin ke arah Henry. Namun, yang didapat adalah Henry mampu mengendalikan bola. Pemuda bermata sipit itu sangat piawai bermain bola.


"Hahaha, segini doang tendangan Anda? Gini-gini saya itu kapten bola loh!" angkuh Henry mengambil bolanya lantas memutar bola dengan jari telunjuknya.


Sultan bergegas menghampiri Henry. Amarah Sultan memuncak lantas menyerang Henry. Pria kekar itu adu kekuatan dengan Henry. Alih-alih piawai bermain bola, Henry ternyata juga lihai dalam perkelahian.


Henry berkali-kali menghantam Sultan dengan kepalan tangannya. Pemuda bertubuh atletis itu tidak terima jika Fira diganggu oleh laki-laki jahat seperti Sultan. Wajah Sultan seketika menjadi merah lebam. Darah segar mengalir dari sudut mulut Sultan.


Peristiwa pertengkaran Henry dan Sultan seketika jadi pusat perhatian orang-orang. Ada yang panik dan ada pula yang menjerit ketakutan. Beberapa orang terlihat sedang menelepon bantuan dari polisi.


"Sebenarnya rasa cemburu ini sudah tidak bisa aku kendalikan, karena aku mencintai Mbak Fira," gumam Henry seraya menghantam Sultan dengan kakinya.


"Enyahlah kau, laki-laki bejat!" teriak Henry.


Energi Henry makin menjadi sampai Sultan terlempar jauh dan kembali tersungkur di aspal. Namun saat Henry belum puas menghajar Sultan, Rafi berlari menghampiri Henry. Pria berkulit kuning langsat itu berhasil mencengkeram kuat pundak Henry.


"Cukup Henry, cukup! Sultan ini orangnya bahaya!" sergah Rafi.


"Cukup? Kau lihat Mbak Fira diperlakuan seperti itu. Masih bisa bilang cukup dan hanya diam saja? Dasar g*blok!" gertak Henry seraya menarik kerah baju Rafi.


"Aku tahu, Hen! Aku juga sakit melihat Fira diperlakukan seperti itu. Tapi kalau kamu melawan Sultan begitu sadisnya, nanti kamu juga kena getahnya. Kita boleh melawannya tapi jangan sampai mematikannya. Bisa panjang urusannya!" tegas Rafi.


"Sudah-sudah, kalian malah debat! Sepertinya Sultan sudah menyerah," tegur Fira.


"Ada yang terluka, Fir?" tanya Henry dan Rafi secara bersamaan.


Fira merintih kesakitan seraya menjawab, "hanya tanganku yang kayaknya keseleo."


"Kurang ajar!" geram Rafi nanar menatap Sultan yang masih tersungkur di aspal.


Rafi mengepal tangan dengan erat hingga uratnya terlihat. Ia menghampiri Sultan dan duduk jongkok melihat kondisi rekan kerjanya itu. "Mulai saat ini aku putus kerjasama dengan kau!"


Sultan mendapatkan pukulan dari Rafi tepat di perutnya hingga Sultan memuntahkan isi perut. Setelah puas memukul Sultan, Rafi mengambil cairan pembersih tangan dari dalam saku jaketnya. Pria dengan balutan blazer hitam itu mengusap tangan dengan cairan pembersih tangan. Rafi berlagak angkuh bagai pahlawan karena berhasil mengalahkan Sultan.


"Bang Rafi!" pekik Fira terbelalak.


"Hahaha, Mas Rafi lucu, tadi bilangnya cukup. Sekarang dia sendiri ingin membunuh orang itu," ejek Henry tersengal-sengal.


Sultan menyerah dan tergopoh-gopoh masuk ke dalam mobilnya lantas pergi berlalu. Terdengar suara sirene dari dua mobil polisi yang baru datang. Rafi beranjak dari sana dan melaporkan kejadian tersebut kepada tim polisi. Sempat terjadi obrolan yang serius dan panjang sampai polisi itu mengejar Sultan. Setelah itu, Rafi bergegas kembali menghampiri Fira dan Henry.


Rafi menyeka keringat yang mulai membasahi pelipis. "Fira pulangnya sama Abang saja, ya. Mobilmu nanti dibawa derek mobil saja."


"Sama aku saja! Biar cepat kalau naik motor," ajak Henry setengah memaksa.


"Fira itu masih tinggal apartemen yang sama denganku. Paham enggak? Lagi pula Fira masih kelihatan pusing, masa dia boncengan sama kamu?" tegas Rafi.


"Aku kecewa sama kamu, Mbak!" bentak Henry pergi berlalu membawa bola.


"Astaghfirullah, apa aku salah bicara seperti itu? Ada apa dengan Henry?" Fira bertanya-tanya. Ia masih pusing hingga terhuyung-huyung.


"Enggak usah mikirin Henry. Mungkin dia lagi sensitif. Ayo pulang!" Rafi mengajak Fira untuk pergi dari jalan raya dan mempersilakan Fira masuk ke dalam mobilnya.


***


Fira membuka pintu flat apartemen dan disusul oleh Rafi yang mengikutinya dari belakang. Flat apartemen Fira tidak terkunci karena ada Rahline. Melihat kondisi Fira terhuyung-huyung, Rahline tanggap membopong Fira.


Rahline hati-hati menuntun Fira duduk di sofa. Gadis berparas manis itu beranjak ke dapur untuk merebus air hangat dan mengambil kain bersih guna mengompres dahi dan pergelangan tangan Fira yang terlihat memar. Ia tidak lupa membuat minuman hangat untuk Fira. Sementara Fira bersandar di sofa dan kakinya diselonjorkan supaya bisa bernafas lega.


"Abang pulang ke kamar, ya. Kamu istirahat saja. Besok enggak usah masuk kerja. Yang penting kamu pulih dulu," usul Rafi.


"Iya, Bang, terima kasih, ya," tutur Fira.


"Kamu enggak perlu terima kasih sama Abang. Ini semua karena inisiatif Henry, assalamu'alaikum," ucap Rafi berlalu meninggalkan Fira.


Rafi jalan sempoyongan sebab kelelahan berkelahi dengan Sultan. Pria itu menutup pintu kamar Fira dengan kasar. Di sisi lain, Fira hanya terpaku dengan ucapan Rafi barusan. Pusing sebab terbentur setir mobil itu belum kunjung sembuh. Fira tetap memegang kepalanya. Entah kenapa mendengar nama Henry, hati Fira mulai berdebar.


"Inisiatif Henry? Ya Allah, aku jadi merasa bersalah sama dia tadi. Aku harus minta maaf ke Henry," lirih Fira.


"Apa yang terjadi, Kak?" tanya Rahline panik dan duduk di samping Fira. Ia membawa sebaskom air hangat dan secangkir minuman hangat.


"Ada kecelakaan sedikit. Kakak pusing untuk bercerita. Kalau kamu ingin tahu ceritanya biar Bang Rafi yang jelasin," jawab Fira.


"Emm, baiklah. Oh, iya Kak, ini kompresannya dan ini teh hangat untuk Kakak."


"MasyaAllah, terima kasih, ya, Line." Fira lantas mengompres dahi dan pergelangan tangannya dengan kain basah.


Rahline makin dekat duduk bersama Fira. Ia menilik Fira dari ujung kepala hingga kaki. Rahline tidak tega Fira merintih kesakitan. Gadis berkerudung segitiga merah muda itu punya ide untuk berbicara sesuatu kepada Fira, sesuatu penting yang perlu dibicarakan.


"Kak Fira, aku boleh bicara sesuatu?" tanya Rahline agak sungkan.


Fira menjawab, "boleh saja. Bicara tentang apa?"


"Sebenarnya Bang Rafi itu ..." Rahline sengaja belum menyelesaikan pembicaraan.


"Kenapa sama Bang Rafi?" tanya Fira masih mengompres tangannya.


Rahline menjawab, "Bang Rafi mencintai Kakak sejak kecil."


"Kamu lagi bercanda ya?" Fira tertawa kecil mendengar ucapan Rahline.


"Serius! Enggak ada gunanya dalam urusan hati sebercanda ini, Kak!" geram Rahline.


"Gimana, ya? Waktu Kakak datang ke SMA Bang Rafi, dengar-dengar dia sudah punya kekasih gitu."


"Yang dimaksud Abang kekasih itu Kak Firalah! Hanya Kak Fira, Bang Rafi rela melajang sampai sekarang buat nunggu Kak Fira," imbuh Rahline.


"Pantas saja dia bersikap aneh saat postinganku jadi ramai karena Henry."


Saking geramnya ingin mengungkapkan semua tentang perasaan Rafi, Rahline mengalihkan posisi duduk. Ia duduk dengan kedua kaki yang bersila. Fira tetap bersikap biasa saja. Tidak ada reaksi terenyuh sedikit pun dari Fira setelah mendengar pernyataan Rahline.


"Kak Fira enggak peka, ya? Waktu di Garden by the Bay. Bang Rafi beli makanan buat Kakak. Tapi Henry sudah mendahuluinya. Bang Rafi jatuhin makanan, lari dan cemburu," jelas Rahline.


Fira terdiam. Sejenak dijeda dahulu mengompres dahi dan tangannya. Ia memalingkan wajah ke arah balkon apartemen. Bingung seribu bahasa, bagaimana cara mengatakannya? Dirinya juga pusing sekali untuk membahas soal cinta. Terlebih, Fira punya rasa trauma soal masa lalu dan cinta.


"Dulu, Kakak pernah mencintai Bang Rafi waktu masih remaja. Mulainya SMP dan benar-benar merasakannya itu SMA," ucap Fira, "tapi Kakak patah hati saat Bang Rafi bilang dia sudah punya kekasih. Kakak lihat seorang gadis menyatakan perasaan tapi ditolak sama Bang Rafi. Kakak takut, kalau menyatakan perasaan ke dia, pasti juga ditolaknya."


"Itu berarti kalian pernah saling mencintai tapi enggak pernah saling mengungkapkan. Padahal yang dimaksud kekasih oleh Bang Rafi itu, ya, Kak Fira!"


"Tapi itu dulu. Sekarang Kakak enggak bisa mencintai Bang Rafi. Kakak sudah ikhlas dan move on setelah itu juga. Dan sudah menganggap Bang Rafi sebatas sahabat."


"Apa enggak mencoba mencintai Bang Rafi lagi, Kak? Aku harap sih kalau bisa kalian menikah," pinta Rahline mengiba.


"Dengar, ya, Rahline! Kalaulah suatu saat nanti jalannya Kakak harus menikah lagi, semua keputusan bukan di tangan Kakak. Tapi keputusan ada di tangan Zayn dan Zema, dua anak Kakak. Merekalah yang ingin sosok Papa baru," jelas Fira.


"Aku bakal ikhtiar supaya Bang Rafi dekat dengan anak-anak Kak Fira, layaknya anaknya sendiri," ucap Rahline bersikukuh atas pendiriannya.


"Silakan saja. Tapi dalam urusan perasaan cinta, Kakak tidak bisa menjawab, karena untuk saat ini Kakak menutup hati untuk laki-laki," dalih Fira sembari meneguk secangkir teh hangat.


Fira membuka ponsel. Rahline jadi terdiam. Seketika suasana menjadi hening tanpa kata. Rahline menatap langit-langit sambil memikirkan Fira dan Rafi supaya bisa bersatu. Di satu sisi, Fira masih pusing dan tidak ingin berpikir apapun.


"Menjadi seorang Ayah untuk anak-anak Kakak itu gimana?" tanya Rahline.


Fira membuka satu per satu status WhetsApp orang-orang yang ada di kontaknya. "Ya, banyak. Yang terpenting itu murni, tulus, mencintai dan menyayangi anak-anak. Menganggap anaknya sendiri. Laki-laki itu jangan hanya bisanya mencintai aku, masa enggak bisa mencintai anak-anakku?" jawab Fira.


Fira dikejutkan oleh status WhetsApp milik Bryan yang diunggah tiga puluh menit yang lalu. Bryan mengunggah tangkapan layar panggilan video antara Henry dengan Zayn dan Zema. Bryan juga menyertakan keterangan pada status WhetsAppnya.


[Terima kasih Om Henry sudah dibacakan kisah para sahabat Nabi. Next time, baca kisah para Nabi, ya, Om. Zayn dan Zema senang sekali!]


Fira bertanya-tanya dan mulai mencurigai Henry. "Ada apa dengan Henry dan anak-anak? Sejak kapan mereka jadi dekat seperti itu? Jangan-jangan Henry ..."