
Kedatangan mereka di Karawang sudah dari subuh tadi. Siang itu, Fira, Rafi dan Naomi menyusuri Mall Karawang. Mereka melihat barang dari satu toko ke toko lainnya. Di antara banyaknya pengunjung Mall tersebut, Rafi berpisah diri dari Fira dan Naomi. Rafi tertarik pada sebuah toko pakaian pria dan sepatu. Ia melangkah untuk berkunjung ke sana. Sementara Fira dan Naomi terpikat dengan pakaian dan hijab yang terpampang di sebuah butik muslimah. Begitu semangatnya mereka masuk ke dalam butik itu. Mata mereka berbinar saat melihat warna-warni pakaian muslimah. Apalagi hijab warna pastel. Tentunya dengan brand masa kini.
Fira dan Naomi terpisah karena disibukkan melihat pakaian muslimah dan hijab. Mata Fira berbinar-binar melihat tunik-tunik yang tertata rapi di hanger. Masih dekat dengan koleksi tunik-tunik, ada gamis syar'i yang satu set dengan jilbabnya. Fira dibuat gembira melihat pakaian muslimah tersebut. Bak sang putri kerajaan di antara gaun-gaun cantik. Dengan cekatan, ia memilah satu per satu koleksi tunik. Ia terpikat dengan dua tunik dan mengambilnya. Kemudian Fira juga memilah satu per satu gamis syar'i dengan jilbabnya. Ia mantap memilih dua set gamis dan jilbab syar'i. Sebelum ke kasir, ia coba terlebih dahulu di kamar pas. Fira bergegas masuk ke dalam kamar pas untuk mencoba pakaian.
Tidak butuh waktu lama untuk berada di kamar pas. Fira keluar dari kamar pas. Sementara Naomi membawa gaun muslimah dengan bahan kain brokat merah muda. Dihiasi dengan kilaunya pernak-pernik berlian kecil. Fira terpesona. Namun ia heran dengan Naomi karena menunjukkan gaun itu. Naomi menyodorkan gaun itu kepada Fira. Fira menilik gaun itu dari atas hingga bawah. Saat melihat harga yang tercantum di label, ia tertegun. Mahal sekali.
"Gaunnya cantik sekali, sama seperti harganya hehehe," ucap Fira menggaruk kepala yang terbalut hijab itu.
"Kitakan mau ke acara bridal shower, agak glamor dikitlah. Aku juga sudah pilih gaunku sendiri kok," usul Naomi sembari menunjukkan gaun miliknya.
"Aku sudah memilih gamis dan jilbab ini untuk ke bridal shower." Fira menunjukkan satu set gamis dan jilbab.
"Sesekali saja pakai gaun yang aku pilih. Soal harga biar aku saja yang bayar. Aku ingin lihat calon adik iparku terpancar aura calon pengantinnya hahaha," kelakar Naomi.
"Calon adik ipar? Calon pengantin? Ih, Naomi jangan ngaco kamu!" elak Fira.
"Iya, benarkan? Kamu bilang sendiri, kalau pilihan yang tepat itu adalah Henry. Henry itu adikku. Kalau kamu jadi istrinya, ya otomatis jadi adik iparku," kelakar Naomi lagi.
"Sssttt! Henry juga belum melamarku," geram Fira mengacungkan jari telunjuk tepat di mulutnya.
"Mau dilamar cepat nih? Enggak apa-apa, nanti aku sampaikan kepadanya. Hen, Fira enggak bisa menunggumu lama! Hahaha."
"Naomi, please be quite!" geram Fira. Ia berhasil membungkam mulut Naomi dengan telapak tangannya.
***
Fira dan Naomi menaiki eskalator sembari mencari restoran untuk makan siang. Mereka sudah menenteng beberapa tas belanja. Lagi-lagi, Rafi tidak menampakkan batang hidungnya. Sementara Fira dan Naomi menikmati belanja tanpa memikirkan Rafi. Sesampainya di lantai tiga, seorang anak balita satu tahun berjenis kelamin perempuan itu menangis kencang. Banyaknya pengunjung di Mall tersebut. Namun, tidak ada satu pun orang yang peduli. Akhirnya Fira memutuskan menggendong balita itu. Sementara Naomi membantu Fira membawa belanjaannya. Fira dan Naomi celingukan mencari orangtua balita tersebut. Alhasil tiada yang menanggapi anak balita ini.
"Ya, sudah bawa saja anak itu ke bagian informasi. Barangkali Ibunya sekarang sedang mencari," usul Naomi.
Fira mengiyakan. Keduanya berbagi tugas. Fira bergegas mencari ruang informasi. Sedangkan Naomi berinisiatif untuk membeli susu dan kue di supermarket. Supaya menenangkan balita itu.
Selama berjalan mencari ruang informasi di Mall ini. Fira menilik paras balita perempuan yang manis nan lucu ini. Praktis seperti Zema. Bedanya hanya di mata saja. Balita ini memiliki mata coklat muda murni. Seperti blasteran dari orangtuanya. Fira heran dengan parasnya persis seperti Zema. Apalagi saat menangis seperti ini. Mengingatkannya pada Zema sedang menangis.
Fira berusaha membuang prasangka macam-macam di hatinya. Ia tetap bersikap tenang dan sabar. Ia tepis dengan bertanya kepada orang-orang sekitar tentang ruangan informasi. Setelah menemukan jawaban letak ruangan informasi. Fira mempercepat langkahnya. Jaraknya tidak jauh dari ia tuju. Tak butuh waktu lama untuk ke ruangan informasi. Dengan napas yang berkecamuk. Fira mendesak satpam untuk segera memberitahu bahwa ada anak yang kehilangan orangtuanya.
"Tolong cepat beritahu informasi anak ini! Kasihan anak ini. Dia butuh orangtuanya," ujar Fira mendesak.
"Di mana Ibu menemukan anak ini?" tanya Pak satpam.
"Di atas. Di lantai tiga. Pokoknya segera umumkan! Pasti Ibunya juga resah mencarinya." Fira mengotot hingga Pak satpam melaksanakan perintahnya.
"Baik, Bu." Pak satpam itu mengangguk.
Balita itu semakin menangis dan berontak. Fira hampir kewalahan. Untung saja, Naomi segera menghampirinya. Naomi langsung memberi susu dan kue untuk balita itu. Mereda juga tangisan balita tersebut. Fira dan Naomi agak lega.
Sepuluh menit kemudian, setelah pengumuman itu. Usaha mereka berbuahkan hasil. Datang seorang wanita berpakaian blouse berlengan pendek dengan celana panjang. Rambutnya coklat diikat seperti ekor kuda. Parasnya bak orang ketimuran itu menghampiri Fira yang sedang menggendong balita. Wanita itu tampak khawatir dan langsung menggendong balita imut itu. Balita perempuan itu sedang asyik meminum susu dan kue. Fira merasa lega melihat pertemuan Ibu dan anak itu.
"Terima kasih ya, Mbak, sudah menemukan putri saya," ucap wanita itu terharu.
"Sama-sama, Mbak. Kok bisa anaknya berkeliaran di Mall? Bahaya loh Mbak! Bersyukur saya dan teman saya yang menemukan. Bagaimana kalau orang jahat?" ujar Fira penuh perhatian.
"Maaf, Mbak. Tadi saya tinggal ke toilet sebentar. Saya sedang buang air. Jadi, anak saya tinggal diluar. Saya pikir dia tidak akan ke mana-mana. Sekali lagi terima kasih!" Wanita itu menunduk hormat.
"Sepertinya adik ini lagi senang jalan. Wajar saja dia bisa ke mana-mana. Lain kali lebih hati-hati lagi ya, Mbak," imbuh Fira.
"Pasti saya akan lebih menjaganya. Terima kasih banyak, ya."
"Kalau begitu saya dan teman saya pergi dulu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Fira dan Naomi berlalu. Sementara wanita tadi mematung sedang memikirkan sesuatu. Ia tercengang saat melihat wajah Fira. Seperti pernah melihat di lain tempat. Wanita itu berusaha mengingatnya. Dan benar, ia pernah sosok Fira di foto.
"Itukan Mbak Fira. Istri pertama Mas Kirsandi. Aku pernah melihat fotonya di dalam dompet Mas Kirsandi," tuturnya.
"Benar yang Mas Kirsandi katakan, Fira adalah sosok wanita yang baik. Sekarang kami sama-sama menjadi janda. Mungkin ini keadilan dari Allah. Suatu saat nanti aku akan menemui Fira." Wanita itu menimpali.
***
Tibalah Malam yang dinanti oleh Fira. Di hotel Resinda, acara bridal shower untuk dua sahabatnya dilaksanakan. Rafi mempersilakan Fira dan Naomi untuk jalan terlebih dahulu. Kali ini penampilan mereka terkesan gemerlap. Fira dan Naomi sama-sama mengenakan gaun muslimah dengan gemerlap pernak-pernik. Bedanya Fira berbalut hijab scraf bercorak. Sementara Naomi berbalut hijab segitiga.
Pesona Fira dan Naomi tampak bersinar tersentuh oleh kosmetik. Membuat mereka bak putri kerajaan dalam semalam. Naomilah yang berinisiatif memoles Fira dengan riasan kosmetik. Tak lupa pula, mereka membawa kado untuk Khalifah dan Velia. Sedangkan tubuh Rafi yang tegap itu berbalut kemeja hitam dengan celana panjang. Kacamata hitam selalu bertengger di dua matanya. Alasannya supaya lebih leluasa memandang kemolekan sang pujaan hati. Tanpa sepengetahuan Fira.
"Abang dari kemarin sikapnya dingin, are you okay?" ujar Fira menoleh ke belakang sembari melirik Rafi.
"I'm okay. Ya, Abang hanya kelelahan aja. Sudah, jangan dipikirkan, ya! Kamu dan Naomi bersenang-senang di acara. Biar Abang menunggu di luar," jelas Rafi.
"Tapi kamu sering menghilang loh, Raf! Semenjak di acara para pengusaha kemarin dan di Mall tadi," kata Naomi turut menoleh ke Rafi.
"Perasaan kalian aja. Aku juga butuh piknik kali! Hehehe. Sudah, kalian lekas ke sana, pasti sudah ditunggu-tunggu."
***
Benar, acara bridal shower sudah terlaksana. Ketika Fira dan Naomi masuk ke ruangan istimewa itu merasa sudah terlambat. Akan tetapi, di sana keduanya disambut baik oleh Medina dan Citra. Fira dan Naomi berjalan dirangkul oleh Medina dan Citra. Ternyata di sana sudah ada Khalifah dan Velia sedang menikmati hidangan yang lezat.
Fira antusias memeluk Khalifah dan Velia. Dua sahabat yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan dengan calon suami masing-masing. Di sana tak hanya Fira, Khalifah, Velia, Naomi, Medina dan Citra saja. Ada pula sanak saudara wanita dari keluarga Khalifah dan Velia. Dalam ruangan itu hanya ada kumpulan wanita. Konsep bridal shower kali ini bertema glittering charm of princess. Maka dari itu, mulai dari ruangan hingga gaunnya serba gemerlap. Mewah sekali bak di negeri kerajaan.
"MasyaAllah, dua calon pengantin cantik sekali. Aku pangling loh! Kalian nikahnya bareng nih?" ujar Fira merenggangkan pelukan dua sahabatnya.
"Kita sengaja memilih konsep pernikahan secara bersamaan. Akad nikah yang tempatnya sama tapi tempat resepsinya berbeda di hari yang sama gitu," jelas Khalifah.
Fira menyerahkan kado untuk dua sahabatnya itu. Dua kado yang besar tentunya isinya juga istimewa. Khalifah dan Velia tampak berbinar-binar melihat dua kado besar nan indah itu.
"Iya, biar jadi kenangan aja gitu. Eh, apa sih, ya? Hehehe. Jazakillah khoir, ya, kadonya," ucap Velia.
"Jazakillah khoir, kadonya Buk Fira hehehe," ucap Khalifah.
"Wa jazakillahu khoir. Enggak terasa, ya, dua sahabat aku ini sudah menemukan calon suami masing-masing. Kalau jodoh pasti urusan pernikahan akan dimudahkan dan dilancarkan, insyaAllah." Fira terenyuh.
"Jangan lupa datang di pernikahan aku dengan Aa' Hariz loh, Fir," kata Khalifah mencubit pipi Fira.
"Iya, loh, Mommynya Zayn juga harus datang di pernikahan aku dengan Mas Nicko." Velia turut mencubit pipi Fira.
"Iya, insyaAllah tapi enggak gini juga kali! Sampai cubit pipiku," geram Fira.
"Habisnya kamu sekarang tembem banget pipinya. By the way, ini siapa?" ujar Khalifah saat melihat Naomi yang ada di samping Fira.
"Oh, ini ..." Belum selesai bicara. Mulut Fira ditutupi oleh telapak tangan Naomi.
"Perkenalkan, saya Naomi Adiba Lee. InsyaAllah, calon kakak ipar Fira," tutur Naomi mengulurkan tangannya kepada Khalifah dan Velia.
"Waw, sepertinya ada yang mau menyusul menikah nih. Duh, enggak sabar!" Sindir Velia.
"Eh, apaan sih, Naomi! Dilamar juga belum." Fira tersipu.
"Tuh kan, guys! Lihat respon sahabat kalian satu ini. Dia ingin cepat-cepat dilamar haha. Kemarin Fira juga sudah melihat Henry di acara para pengusaha," kelakar Naomi.
"Ciye-ciye, senang sekali deh, kalau sahabat kita ini sudah menemukan jodohnya sekaligus kakak iparnya. Kakak iparnya juga cantik kok. Duh, so sweetnya!" canda Khalifah.
"Ayo teman-teman kita makan dulu!" ajak Medina.
Mereka duduk di kursi yang telah disediakan. Makanan dan minuman juga tersaji di atas meja. Fira, Naomi, Khalifah, Velia, Medina dan Citra duduk di satu tempat. Kursinya berjejer melingkar dengan meja yang melingkar lebar juga. Kebersamaan dengan sahabat jarang terjadi. Kini terlihat hangat dan harmonis. Sanak saudara juga menikmati acara bridal shower tersebut.
"Kamu masih ingat akukan, Fir?" tanya Citra.
"Ingat dong sama Kak Citra. Apa kabar Kak? Sudah lama kita enggak berjumpa. Masih tinggal di Makassar, ya?" ucap Fira sejenak memeluk Citra.
"Alhamdulillah, baik. Iya, aku baru datang hari ini dan berkumpul bersama kalian lagi. Aku rindu sekali. Aku masih tinggal di Makassar bersama suami dan anakku. Mungkin, sebulan atau dua bulan lagi, aku dan keluarga akan pindah ke Kanada. Karena suamiku dipercaya jadi pengacara di Kanada," jelas Citra.
"Alhamdulillah, ikut senang, Kak. Makin sukses untuk Kak Citra dan keluarga."
"Aamiin. Begitu juga denganmu, ya. Kamu harus jadi wanita tangguh!"
"Kalian ini sepertinya berteman jarak jauh, ya. Seperti sahabat pena begitu. Memangnya, awal kenal dari mana? Maaf, kalau aku kepo hehehe," ucap Naomi.
"Kami ini bersahabat, awalnya dari majlis ta'lim dan tabligh akbar di Jakarta gitu. Kami hadir dan bertemu. Dulu ada anggotanya banyak, ya. Lama kelamaan hanya kami berlima ini yang masih erat silahturahminya," jelas Medina.
"MasyaAllah, hebat, ya. Semoga persahabatan kalian hingga surga-Nya," imbuh Naomi.
"Naomi juga boleh kok bergabung jadi sahabat kami," ujar Khalifah.
"Terima kasih semuanya. Enggak sia-sia saya kenal Fira, jadi tambah silahturahmi juga."
Mereka melanjutkan makan bersama. Suasana jadi penuh dengan kebahagiaan. Obrolan begitu akrab yang belum tentu bisa terulang kembali. Karena persahabatan mereka terhalang oleh jarak. Namun, insyaAllah, selalu dekat dengan doa.