
Seandainya rindu itu terlihat seperti dedaunan berjatuhan. Pasti kamu akan tahu, berapa banyak aku merindukanmu selama ini. - Henry Lee -
***
Setelah berfoto dengan lima gadis remaja, Rafi meninggalkan Fira bersama Henry, karena ia hendak ke toilet. Tidak lama, Henry pergi meninggalkan Fira. Akhirnya tinggallah Fira sendiri, duduk sembari menikmati pemandangan sekitar Garden by The Bay.
Begitu banyaknya pengunjung di Garden by The Bay. Sementara Fira hanya menatap tumbuh-tumbuhan yang menyejukkan matanya, kemudian merenung mengingat Zayn dan Zema. Fira rindu kepada dua buah hatinya.
"Rasanya enggak adil, ya. Aku di sini liburan ke wisata sebagus ini. Di sana anak-anak sedang apa, ya?" desis Fira menghela napas.
Ketika Fira hendak menelepon dua putranya, tiba-tiba di layar gawai ada panggilan video masuk dari Khalifah melalui WhatsApp. Fira lantas mengangkat panggilan video dari Khalifah, lalu memasang kamera depan tepat pada wajahnya. Begitu pun Khalifah terlihat jelas wajahnya yang putih, cantik dan bermata sipit. Kini mereka saling bertatap muka.
"Assalamu'alaikum, Jeng Fira," sapa Khalifah semringah seraya melambai tangan.
"Wa'alaikumsalam, masyaallah, manggilnya Jeng. Seperti konglomerat saja, tahu enggak? Hehehe," ujar Fira.
"Ih, enggak apa-apa atuh. Aku rindu tahu sama kamu. Kamu apa kabar? Ciye, lagi di mana itu? Sudah di Singapura, ya? Ah, ikut senang."
"Apaan sih? Hahaha. Aku juga rindu sahabat dan anak-anak. Alhamdulillah baik dan---ya, lagi di Garden by The Bay ini."
"Sama siapa? Sendiri doang?" tanya Khalifah.
Fira membenarkan posisi duduk seraya menjawab, "Enggak sendiri sih. Ada Abang Rafi, saudara sepupunya si Rahline. Terus, Henry dan kawan-kawan."
"Uh, ehem sepertinya ..."
"Sepertinya apa coba? Pikiranmu ke mana-mana deh."
"Eh, apa-apa yang ehem-ehem? Sini-sini, Velia kepo dong. Suka reflek kalau dengar kata ehem-ehem." Tiba-tiba Velia menyahut ponsel Khalifah, supaya ia terlihat pada video panggilan yang tersambung dengan Fira.
"Mulai deh. Ehem apaan? Biasa saja ini, enggak ada ehem-ehem, Velia. Aduh!" sanggah Fira mengkerutkan dahi.
"Tadi aku dengar nama Henry? Henry yang facenya seperti orang Korea itu, ya? Wuih, kamu ketemu lagi sama dia di sana?" Velia melontarkan beberapa pertanyaan, membuat Fira menggaruk kepala yang berbalut hijab itu.
"Terus, kalau ketemu Henry lagi, kenapa?" Fira berbalik tanya.
"Terakhir kamu ketemu Henry di sekolahnya kan? Terus, kamu memutuskan buat enggak ingin ketemu dia lagi. Karena kamu bilang dia enggak bisa bantu kamu? Kamukan cerita itu sama kita," imbuh Velia.
Dari balik layar gawai itu, Khalifah lantas menjewer telinga Velia. Khalifah dan Velia tahu betul kehidupan Fira. Seringkali tiga bersahabat ini mencurahkan isi hati melalui komunikasi.
"Velia, itu masa lalu Fira, woi! Kenapa diungkit lagi?" tegur Khalifah bersuara lantang.
"Eh, aduh Khalifah," rintih Velia seraya menyesali perbuatannya. "Uuppss, kelepasan hehehe. Maaf, ya, Fira."
Fira mengangguk. "Iya, Velia, aku maafin. Jangan diungkit yang itu, ya. Aku malu."
"Iya-iya maaf, ya, Fira. Tapi, kalau kamu ketemu dia lagi tandanya ..."
Khalifah lantas menyela pembicaraan. "Velia mendadak jadi cocoklogi, hahaha. Efek kebanyakan main Instagram."
"Daripada kamu kejam banget memberi suntikan ke istri mantanmu, huh!" elak Velia kepada Khalifah.
"Eh, apa? Khalifah suntik istri mantannya? Hahaha. Kok bisa?" Fira yang mulanya sedih, tiba-tiba terkekeh mendengar cerita Velia.
"Velia bikin cerita dibesar-besarin deh! Jadinya out of the topic. Enggaklah, aku enggak sekejam itu, ya. Jadi, kemarin istri si J itu suntik KB di rumah sakit. Pas pula dengan jadwal praktekku. Sebenarnya aku males menyuntikkan dia. Kan ada bidan yang bisa suntik KB. Cuma rasa jengkel ini belum puas kalau enggak kasih suntikan ke dia. Ah, you know lah!" jelas Khalifah mencebik.
"Eh, tapi-tapi, Khalifah sekarang sudah ada penggantinya loh. Yang namanya Hariz itu seorang arsitektur. Masih tahap ta'aruf, ya, Fah," ujar Velia mengalihkan pembicaraan.
Khalifah terlihat masih kesal sebab pernah gagal lamaran. "Doakan saja, ya, Fir. Semoga sama yang ini benar-benar serius. Soalnya aku lelah dengan laki-laki yang main-main atau PHP!"
"Insyaallah, aku mendoakan juga dua sahabatku ini. Velia bagaimana? Hihihi," kata Fira lantas bergurau dengan Velia.
"Aku enggak tahu. Ada yang bilang Mas Nicko suka sama aku. Tapi, aku enggak percaya dulu, ah!" Velia tersipu seraya menutupi wajahnya dengan sehelai kain jilbab.
"Ya, bagus deh, enggak percaya dulu. Semua belajar dari pengalaman yang telah lalu. Sekarang fokus pada karir masing-masing saja dulu," sambung Fira.
Khalifah melambaikan tangan kepada Fira. "Ya, sudah, ya, Fir. Aku sama Velia mau hangout ke Mal dulu nih. Kemarin ada diskon besar dari pakaian brand ternama itu. Takutnya keburu sold out hahaha."
"Oke-oke. Selamat mendapatkan pakaian itu, ya, hahaha. Perasaan belanja pakaian terus."
"Namanya juga perempuan. Unik, ya---seperti saya. Assalamu'alaikum."
"Kepedean, ih! Oke, wa'alaikumsalam."
Fira menutup percakapan dengan Khalifah dan Velia. Sembari mengalihkan rasa sepi, Fira menepis itu dengan memotret berbagai macam tanaman di sana. Ia juga sangat menyukai warna-warni bunga cantik. Wanita itu sudah mendapatkan berbagai macam foto bunga-bunga cantik. Secara otomatis sudah tersimpan di album foto dalam gawai, supaya nanti dapat ia unggah di akun Instagram dan Facebook miliknya.
***
"Maaf, ya, Mbak, bikin menunggu lama," ucap Henry yang berada di belakang Fira. Laki-laki itu menyodorkan es krim dan snack kepada Fira.
Fira terkejut dengan kehadiran Henry. Ia mendongak seraya berkata, "Henry! Masyaallah, bikin aku kaget saja."
"Hehehe, maaf, Mbak. Oh, iya ini, ada es krim dan snack buat cemilan. Aku lama karena antrean ramai di toko tadi," sambung Henry.
"Terima kasih, Hen. Maaf, aku merepotkanmu."
"Aku enggak merasa direpotkan kok. Aku justru senang karena ..."
"Karena apa?" tanya Fira.
"E-eh anu, karena kita bisa ketemu lagi begitu. Kan selama beberapa tahun lamanya kita tidak pernah kontak kan?" jawab Henry gugup.
"Oh, itu. Ya, maaf, kalau dulu aku tidak ada kontak denganmu."
"Eh, enggak apa-apa kok. Aku enggak mempermasalahkan itu, hehehe. Ya, sudah kita duduk di sana, yuk. Keburu es krimnya meleleh," ujar Henry mengajak Fira duduk di bangku, kemudian Henry bergumam, "sebenarnya karena aku cinta. Hanya saja, belum saatnya aku mengungkapkan perasaan ini."
"Loh, Henry!" seru seorang gadis tiba-tiba datang di antara Henry dan Fira.
"Eh, Indria? Kamu ke sini?" kata Henry mendelik ke arah Indria.
"Loh, ada Mbak Fira juga?" Indria terheran-heran sambil menunjuk jari telunjuknya ke arah Fira.
"Indria! Kamu ada disini?" ucap Fira terkejut.
"Aku di Singapura sedang liburan. Kalian berdua di Singapura sedang liburan juga? By the way, kenapa hanya berdua doang? Atau kalian?" Indria menilik sembari menerka-nerka Fira dengan Henry.
"Woi, apaan?" Henry sontak memekik.
Henry berdiri dan langsung menarik siku Indria. Ia membawa Indria pergi jauh dari Fira. Untung saja, Fira tidak mempermasalahkan hal itu. Fira tetap menikmati es krim yang diberikan Henry.
"Apaan dah? Akukan cuma tanya!" geram Indria melepaskan genggaman Henry.
"Tanya atau kepo, hah?" tanya Henry juga geram.
"Itu kenapa kamu berdua doang sama Mbak Fira? Aku tahu kamu suka kan sama Mbak Fira? Cuma, enggak etis saja mengajak istri orang ke luar negeri!" tegur Indria.
"Nah, gini nih, kalau enggak tabayyun dulu. Dengarkan aku, Indria! Aku sama Mbak Fira di Singapura sama-sama kerja di sini. Dan Mbak Fira itu single parent. Suaminya sudah meninggal setengah tahun yang lalu," jelas Henry.
"Oh, maaf, aku enggak tahu."
"Makanya, apa-apa cari tahu dulu kebenarannya. Aku tarik kamu ke sini, supaya enggak cari tahu ke Mbak Fira. Nanti dia jadi sedih, aku enggak mau dia sedih lagi."
"Uh, segitunya. Iya-iya, aku tahu kok. Jadi, Mbak Fira itu janda? Kamu yakin?"
"Memang apa salahnya? Kalau kami memang jodoh, siapa yang tahu?"
"Kepedean kamu, hahaha. Oke-oke, aku doakan kalian benar berjodoh. Omong-ngomong, kamu kerja di Singapura sendiri?"
"Enggak. Hardi dan Tommy juga kerja di sini."
"Oalah, oke deh. Ya, sudah aku balik, ya. Nanti keluargaku cari aku lagi. Selamat berjuang mendapatkan Mbak cantikmu, bye-bye."
"Oke, bye," ucap Henry berbalik arah menghampiri Fira. Sorotan matanya hanya tertuju pada Fira seraya bergumam, "apa salahnya mencintai seorang wanita yang menyandang status janda? Apakah segitu negatifnya status janda di mata orang lain? Enggak! Mbak Fira bagai ratu. Ratu yang memimpin anak-anaknya."
Seperti ada desiran hangat di dalam tubuhnya. Henry masih dalam diam saat memandangi Fira. Sementara Fira menawarkan es krim punya Henry akan segera meleleh.
Laki-laki bermata sipit itu masih tidak mendengarkan Fira. Fira jadi keheranan melihat tingkah Henry seperti itu. Karena tidak mau ambil pusing, Fira lanjut menikmati es krim dan snack yang diberikan Henry.
Seketika Henry membatin, "Seandainya rindu itu terlihat seperti dedaunan berjatuhan. Pasti kamu akan tahu, berapa banyak aku merindukanmu selama ini."
***
"Pasti Fira senang sekali, saat aku belikan dia makanan. Aku tahu Fira itu tidak boleh terlambat makan. Karena sekali saja terlambat makan, pasti penyakit asam lambungnya kambuh. Aku tidak ingin Fira sakit," ujar Rafi sambil berjalan penuh semangat dan menenteng paper bag yang berisi beberapa makanan dan minuman.
Tidak jauh dari tempat Fira duduk, seketika Rafi mengehentikan langkah. Pria itu melihat Fira dan Henry duduk berjarak sambil menikmati es krim dan snack. Keduanya terlihat begitu hangat dan akrab sekali.
Sontak sekujur tubuh jenjang Rafi kaku. Raut wajahnya mulai melukis cemburu. Tangan kanan yang menenteng paper bag ini, akhirnya dilepaskan begitu saja, hingga dibiarkannya jatuh.
"Aku terlambat! Padahal aku ingin dekat denganmu," gumam Rafi pilu seraya berbalik arah, kemudian ia berlari sejauh mungkin.
Di tempat yang berbeda, tidak jauh dari Rafi berdiri tadi, Rahline menyaksikan kecemburuan Rafi. Langkahnya perlahan seraya memandangi kebersamaan Henry dengan Fira. Diam-diam Rahline mengambil paper bag yang ditinggal oleh Rafi tadi. Rahline merasa tidak tega, jika melihat abang sepupunya itu cemburu. Rahline paham betul tentang perasaan Rafi kepada Fira selama ini.
Rahline membatin sembari membawa pergi paper bag itu. "Aku harus berusaha supaya Kak Fira dekat dengan Abang Rafi. Pasti perasaan Bang Rafi sedang kacau sekali."