
Sebaik-baiknya cinta adalah cinta kepada Allah. Namun, jika kamu mencintai seseorang, cinta dibentengi dengan iman. Selipkan namanya dalam doamu. Munajatkan cinta kepada-Nya. Hanya Sang penguasa hati yang akan menunjukkan jalan cinta.
***
"Audzubillahi minasy syaithonnirajim. Bismillahir rahmanir rahim. Ar-rahmaan. 'Allamal qur'aan. Kholaqol insaan. Allamahul bayaan. Asy syamsu wal qomaru bihusbaan. Wa najmu wasy syajaru yasjudaan. Was samaa 'a rofa'ahaa wa wadho'almizaan."
Usai mendirikan sholat tahajud, Henry selalu membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Dini hari, Henry sudah membaca Al-Qur'an satu juz. Hatinya merasa damai dan sejuk. Sejenak mata sipitnya melirik jam dinding sudah pukul satu pagi. Kemudian lirikan itu beralih ke dua sahabatnya sedang tertidur pulas.
Henry menyelesaikan bacaan Al-Qur'annya. Pelan-pelan ia tutup mushaf Al-Qur'an seraya diciumnya. Henry menaruh mushaf Al-Qur'an itu di atas nakas. Kemudian ia kembali duduk bersimpuh dan menengadahkan kedua tangannya. Henry mendongak ke langit-langit kamar. Terasa ada desiran lembut dalam sanubarinya. Sanubari yang terasa mewangi karena mencinta.
"Ya Allah, yang Maha pengasih lagi Maha penyayang. Ampunilah dosa hamba dan dosa kedua orangtua hamba. Sayangilah mereka, seperti mereka menyayangi hamba di waktu kecil. Jagalah mereka dari marabahaya. Sampaikan rindu kepada mereka dari anak laki-lakinya ini. Hamba sadar, belum bisa membahagiakan mereka. Ya Allah, Engkau penguasa hati. Bukakanlah pintu hati Ayahanda tercinta untuk menerima hamba kembali. Hamba ingin membuktikan bahwa hamba adalah anak yang berbakti bukan seperti yang dipikirkan Ayahanda." Tanpa terasa air matanya mengalir hingga ke pipi.
Henry mulai tersedu-sedu mengingat perselisihan antara dirinya dan Ayahanda. Tak jarang beradu mulut yang tak kunjung hening. Ironis, Henry pernah mendapat perlakuan kasar dari Ayahnya. Hingga Henry harus menerima pahitnya hidup karena diusir dari rumah sendiri.
Terakhir kalinya Henry melihat wajah ayu Ibunda yang sesenggukan menangisi dirinya kala itu. Setelah kejadian itu Henry berusaha hidup mandiri tanpa menggantungkan orang tua. Dengan adanya ujian ini, membuat Henry menjadi pribadi yang mandiri dan dewasa.
"Atas izin Engkau, hamba ingin bertemu kedua orangtua hamba. Meminta maaf dan bersimpuh kepada mereka. Hamba sangat merindukan mereka," ucap Henry sejenak mengatur napas.
"Ya Rabb, izinkan aku selipkan satu nama wanita yakni Maghfira Annisa. Jika ia jalan cinta untukku, dekati dan satukan kami dengan cara yang baik. Akan kujaga dan segera menikahinya. Hamba ingin merajut cinta dengannya karena-Mu. Membangun rumah tangga sakinah mawadah warahmah bersama Zayn dan Zema. Anak-anak itu sudah hamba anggap seperti anak sendiri. Namun, jika sebaliknya, jauhkan kami dengan cara yang baik pula. Lapangkan keikhlasan ini dalam sanubari hamba. Rabbana aatina fiidunya hasanah wa fiil aakhirati hasanah wa qina adzabannar. Walhamdulillahi rabbilalamin." Henry mengamini doa tersebut.
Usai berdoa, tiba-tiba terdengar suara bel dari luar flat Henry. Seketika Henry sedikit terkejut dengan suara bel yang menandakan bahwa ada tamu datang di flatnya.
"Siapa yang ke mari saat jam segini?" tanya Henry. Ia melirik ke arah pintu, kemudian beranjak dari tempat.
Henry melepas sarung dan peci. Ia masih memakai celana panjang. Ditaruhnya sarung dan peci di atas sajadah. Henry bergegas ke pintu kamar, hendak menemui seorang yang menekan tombol bel pintu flatnya.
Saat Henry membuka pintu, pertama kali yang dilihat Henry adalah seekor kucing anggora berbulu abu-abu. Matanya hitam dan bulat berbinar. Henry terkesima dan tersenyum merekah karena gemas dengan kucing anggora imut itu. Kucing anggora itu digendong oleh pemiliknya. Tidak lain adalah tetangganya yang tinggal di sebelah flat.
"Hey, Brother Andrew!" sapa Henry.
"Eh, hey too, Brother Henry. Oh, iya aku bisa minta tolong sesuatu ke kamukah?" ujar Andrew.
"Insyaallah, minta tolong apa?"
"Aku titipkan Isver, kucingku ini bersamamu dalam waktu seminggu atau dua minggulah. Soalnya aku dan istriku mau pulang ke Seoul, Korea Selatan. Ibuku sedang sakit di sana," jelas Andrew. Pria itu seraya menyerahkan Isver kepada Henry.
"Wah, dengan senang hati. Aku akan menjaga dan merawat Isver karena aku suka kucing. Dan lekas sembuh untuk Ibumu," kata Henry. Ia antusias menggendong Isver.
"Puji syukur. Thanks, Henry."
"You are welcome, Andrew."
"By the way, kamu mau titip sesuatu untuk Ayahmu? Kan kita masih tetangga di Korea," imbuh Andrew.
"Ya, jika kamu bertemu dengan beliau di Korea. Sampaikan saja, jika aku di Singapura baik-baik saja. Aku bekerja keras dan mandiri untuk membuktikan bahwa aku adalah anak laki-laki yang berguna. Mungkin itu saja dariku," timpal Henry.
"Baiklah kalau begitu. Semoga aku bisa bertemu dengan beliau. Aku nge-fans sama beliau karena kesuksesan darinya. Semoga kamu dapat menular kesuksesan seperti beliau."
"Ah, ada-ada aja kamu. Terima kasih, ya."
"Aku juga terima kasih. Ya, sudah, kalau begitu, maaf, menganggu sepagi ini. See you again." Andrew beranjak pergi kemudian melambaikan tangannya.
"Oke, semoga selamat sampai tujuan." Henry membalas lambaian.
Di dalam kamar, Henry bermain dengan Isver. Barang-barang Isver begitu banyak. Mulai dari kandang, peralatan mandi, makanan, obat khusus kucing hingga mainan kucing. Sembari menunggu waktu subuh, Henry menggoda Isver dengan bola kecil. Kucing imut itu terlihat aktif memainkan bola.
"Apa kamu suka bermain bola sepertiku? Kalau suka, pagi nanti aku ajak kamu ke taman anggrek nasional, ya," ucap Henry bersemangat.
"Meong." Isver mengaung sembari menjilati bulu kakinya.
***
Hari minggu pagi, Fira berkunjung di taman anggrek nasional Singapura. Ia membawa Theolona dengan tas ransel khusus kucing. Ada saluran udara di tengah tas tersebut. Kucing anggora yang ditemukannya waktu itu, kini menjadi bersih, terurus dan lucu. Fira benar-benar merawat Theolona dengan baik. Ia beristirahat di tempat duduk dekat bunga anggrek. Theolona termangu dan mengaung di dalam ransel, kemudian Fira mengambil cemilan kucing dari tas selempang.
"Theolona sumpek, ya. Ayo sini, kamu keluar. Di sini pemandangannya bagus loh," kata Fira. Ia menggendong Theolona kemudian memangkunya.
"MasyaAllah, segar juga di taman ini. Oh, kamu diam dulu di kursi ini. Makan dulu yuk! Aku juga mau menelepon Zayn dan Zema. Pasti mereka suka kamu," lanjutnya.
Fira merogoh tas selempang untuk mengambil gawai. Jemarinya berselancar di kontak WhatsApp Ratih untuk menghubungi panggilan video. Ditunggunya dengan sabar sambil memberi Theolona cemilan. Tak lama kemudian, ternyata yang mengangkat panggilan video itu adalah Zayn. Fira langsung mengarahkan wajahnya tepat di kamera depan gawai.
"Assalamu'alaikum, Zayn, anak Mama." sapa Fira semringah.
"Wa'alaikumsalam Mama! Hoorree! Mama video call!" seru Zayn.
"MasyaAllah, adik Zema sudah bisa berjalan dan berbicara Mama, ya, sayang. Ih, kangen banget sama kalian," geram Fira bahagia.
"Iya, Ma. Adik Zema memang pintar. Zayn yang mengajari adik berbicara Mama supaya ingat Mama," ucap Zayn.
"Wah, Mama video call, ya. Alhamdulillah senangnya," ucap Ratih dari balik panggilan video. Zayn menyerahkan gawai itu kepada Neneknya.
"Assalamu'alaikum, Ibu," sapa Fira.
"Wa'alaikumsalam, Nduk. Gimana kabarmu?" kata Ratih. Beliau seraya memangku Zema yang terlihat gemuk dan menggemaskan.
"Alhamdulillah, sehat dan baik-baik saja, Bu. Bagaimana juga dengan di sana?"
"Alhamdulillah sama juga, Nduk. Itu kamu sama siapa? Kucing siapa itu? Lucu sekali," ujar Ratih. Beliau justru melirik ke arah Theolona.
"Wah, mana meongnya, Nek? Zayn mau lihat," kata Zayn antusias.
"Meong, meong, meong, hehe," ucap Zema spontan mengikuti ucapan Zayn.
"Mama punya kucing namanya Theolona. Mama menemukannya di bawah mobil. Terus Mama rawat deh," ujar Fira.
"Mama, Zayn mau dong ke sana. Zayn mau main sama Theolona. Zema juga, iyakan?"
"Oh, iya Nak, pas sekali, ya. Masa tiga bulan Mama kerja sudah terlampaui. InsyaAllah, nanti Mama akan bicarakan ini dengan Bos," ungkap Fira.
"Hore! Asyik!" seru Zayn melompat-lompat. "Oh, iya Ma. Om Rafi banyak sekali beliin Zayn dan Zema mainan."
"Iya, Ibu sampai bingung, kalau Nak Rafi pas silahturahmi ke sini. Selalu memberi macam-macam untuk keluarga ini. Katanya pendekatan antara calon menantu dengan calon anak dan mertua," jelas Ratih.
Fira tertegun. Pantas saja, akhir-akhir ini Rafi jarang kelihatan. Bisa jadi bukan karena Rafi sedang kuliah, melainkan menyempatkan diri mengunjungi rumah Fira di Semarang. Itu berarti Rafi bolak-balik dari Singapura ke Semarang.
"Kok kalian baru cerita sih? Selama ini Mama penasaran tahu, dengan pendekatan Om Rafi dan Om Henry dengan kalian," ujar Fira.
"Sebenarnya kita enggak mau cerita ke Mamamu dulu, ya, Zayn, hihihi. Biar kami yang menilai siapa yang pantas jadi Papa baru Zayn dan Zema," canda Ratih.
"Hehehe, betul kata Nenek, Ma. Tapi kalau Om Henry enggak kasih apa-apa sih," ucap Zayn.
"Terus?"
"Tapi semenjak Om Henry sudah lama kenal dengan Om Bryan, terus pas Mama ke Singapura, Mama kan sudah enggak pernah membacakan kisah Nabi dan sahabat ke Zayn dan Zema. Terus Zayn cerita ke Om Henry, kalau Zayn kangen dibacakan kisah Nabi dan Sahabat. Eh, Om Henry mau deh bacakan untuk Zayn dan Zema sebelum tidur. Sampai sekarang kami masih video call kok sama Om Henry," jelas Zayn.
Seketika hati Fira berdegup kencang mendengar Zayn cerita tentang Henry. Fira termangu dan tidak berkutik lagi. Walau Henry tidak memberi barang apapun kepada Zayn dan Zema, namun Henry memberi perhatian kepada dua anak laki-laki Fira. Ia tersipu karena Henry masih sempat meluangkan waktu untuk Zayn dan Zema.
"Fir, kamu kok diam saja? Ada apa?" tanya Ratih membuyarkan lamunan putrinya.
"Oh, eh, enggak apa-apa, Bu," kilah Fira, "kalau begitu Fira mau beli makanan, hehehe. Sudah lapar. InsyaAllah, Fira akan kabari lagi soal kalian supaya bisa ke sini."
"Oke, jaga diri baik-baik, ya, Nduk. Kamu enggak perlu terlalu memikirkan Nak Rafi dan Henry. Kami sudah memantau yang pantas untuk anak-anakmu, juga untukmu. InsyaAllah, Allah beri petunjuk yang terbaik kita semua," imbuh Ratih.
"Aamiin. Terima kasih, Bu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Fira menutup panggilan video di gawainya dan kembali merenung. Sementara Theolona membersihkan diri dengan menjilati bulu-bulunya. Fira terbuai dalam lamunannya. Ia tidak sadar, jika pengunjung taman yang melewati Fira itu memperhatikan Theolona yang lucu.
"Theolona kalau disuruh memilih, kamu pilih Bang Rafi atau Henry?" lirih Fira.
"Meong." Theolona lompat dari pangkuan Fira, kemudian kucing itu lari meninggalkan Fira
"Eh-eh, Theo mau ke mana? Mpus, mpus, come here!" pekik Fira. Ia terburu-buru mengejar Theolona sembari membawa tas.
***
Orang-orang di sekitar taman keheranan melihat Fira sedang mengejar kucingnya. Fira sudah sayang dengan Theolona. Maka dari itu, ia khawatir jika Theolona hilang dan diambil orang lain. Fira tidak mempedulikan siapa yang di hadapannya. Ia hanya terus mencari celah dan berlari mengejar Theolona.
Hingga tibalah di taman yang terdapat danau kecil. Di sana Theolona baru mau berhenti. Ia dekat dengan kucing anggora berbulu abu-abu yaitu Isver. Sontak Fira terkejut karena di sana pula Henry yang sedang duduk santai bersama kucing di sampingnya.
"Eh, kok ada kucing cantik? Bulunya putih dan coklat pula," puji Henry mengelus Theolona, kemudian Theolona terbaring di atas rumput dengan manjanya.
"Apa-apaan ini? Kenapa Henry? Masa sih, ini jawaban dari Theolona?" batin Fira. Hatinya kian berdegup kencang tak menentu. Apalagi Henry juga berada di taman anggrek itu.