Energy Of Love

Energy Of Love
Perseteruan



Jika di antara kita terhalang ruang dan waktu, tapi, cintaku kepadamu tidak terhalang oleh siapapun. - Henry Lee -


***


Henry menghentikan motor di tempat parkir restoran Halal Food Indonesia Singapura. Ia membuka helm dan turun dari motor, kemudian berlari menuju ke restoran. Lelaki itu membuka pintu masuk restoran, tempat Fira bekerja. Henry sangat memperhatikan penampilannya, hingga kemeja panjang di rapikan dahulu. Cara berpakaian pun tidak lepas dari warna kesukaannya, yaitu abu-abu. Ia tidak lupa merapikan rambut yang terlihat acak-acakan.


Siang ini, Henry berniat hendak menemui Fira, menjelaskan kejadian di Taman Nasional Anggrek waktu itu. Ia merasa bersalah, jika Fira menyimpulkan dirinya mempunyai pacar. Henry ingin segera meluruskan kesalahpahaman ini, supaya hatinya pun tenang.


"Fira, asal kamu tahu, wanita yang aku cintai setelah Ibuku adalah kamu," lirih Henry.


Baru saja tiba di restoran, seketika Henry terpaku di tempat. Seorang pria dengan tinggi 175 sentimeter itu langsung menghadang Henry. Mata Rafi berpijar ditujukan kepada Henry, seperti ada kegusaran yang dipendam Rafi.


Henry mengurungkan niat untuk melanjutkan langkahnya. Melihat sikap kaku Rafi, Henry sangat malas berseteru dengan pria itu. Wajah oriental itu lantas melengos. Namun, tiba-tiba Rafi menepuk bahu Henry dengan kasar.


Suara tepukan yang dilakukan Rafi terhadap Henry menimbulkan suara. Henry bungkam dan meringis dalam hati. Keduanya saling menatap dengan sinis. Seakan mata mereka yang sedang berkelahi.


Henry sangat malas untuk berkelahi dengan Rafi secara fisik. Baginya, itu hanya akan membuang waktu dan tenaga. Sebisa mungkin Henry tetap bersikap tenang supaya tidak menimbulkan ricuh di restoran.


"Mau menemui Fira? Percuma saja!" gertak Rafi dengan tatapan mendelik.


Henry tercengang mendengar ucapan Rafi. Ia berpikir, ucapan Rafi bisa jadi mencegah dirinya untuk bertemu dengan Fira. Henry masih terngiang sikap Rafi yang terlalu protektif terhadap Fira, ketika mereka sedang berkunjung di Taman Nasional Anggrek.


"Maksudnya?" tanya Henry mengernyitkan dahi.


"Fira tidak ada di sini. Dia pergi entah ke mana. Dia butuh waktu untuk merenungkan diri. Itu pesannya di surat," jawab Rafi dengan ketus.


"Bagaimana ini? Aku merasa bersalah telah membuat Mbak Fira salah paham," ucap Henry.


"Hahaha, saat dia menangis itu, ya? Itu karena dia tidak pantas diperebutkan oleh kita. Apalagi waktu itu di depan umum!" Rafi menyeringai.


"Kita, katamu? Ngaca dulu dong! Yang buat masalah duluan kan Mas Rafi! Mas Rafi datang begitu saja di antara aku dan Mbak Fira. Kalau saja Mas Rafi tidak ada di sana, tidak akan terjadi kericuhan," geram Henry hingga mengapit giginya.


"Ah, sudahlah! Jika hadirmu mengundang tangisnya, sebaiknya kau mundur dan biarkan aku yang menjadi pemenangnya. Kau menyerahlah! Ikhlaskan Fira untukku," geram Rafi.


Henry memberi kecaman pada Rafi. "Aku enggak akan menyerah, sebelum Mbak Fira dan anak-anaknya menjatuhkan pilihan yang tepat. Jika Mbak Fira dan anak-anaknya memilih Mas Rafi, aku ikhlas dan akan pergi dari kehidupan kalian. Tapi, jika Mbak Fira dan anak-anaknya memilih aku, Mas Rafi harus ikhlas dan menerima kenyataan."


"Jangan berharap tinggi untuk mendapatkan cinta Fira dan anak-anaknya. Kamu hanya laki-laki biasa. Sedangkan aku laki-laki sudah mapan. Pasti Fira mencari suami sekaligus Ayah yang mapan," ejek Rafi.


"Terserah Mas Rafi mau bicara seperti apa. Aku santai, tidak terlalu berharap kepada manusia. Aku hanya berharap kepada Allah. Aku percaya pada energi cinta dalam doa. Jika energi cinta bersemai, doa itu akan menjadi nyata."


Rafi tercengang lantas membalikkan badan meninggalkan Henry sendiri. Perseteruan antara Rafi dan Henry menjadi sorotan pengunjung di restoran. Henry memutuskan duduk di dekat jendela. Ia memanggil seorang pelayan restoran dengan mengisyaratkan tangan.


Untuk meredakan suasana, ia sekalian memesan secangkir kopi latte. Pelayan restoran itu memintanya untuk bersabar menunggu pesanan. Henry pun mengangguk. Mata sipitnya menjadi sayu memandang suasana luar restoran. Henry galau saat mengetahui Fira pergi. Namun, keyakinannya tidak pudar dan yakin suatu saat Fira bisa ditemuinya.


***


Sembari menunggu pesanan kopinya datang, Henry masih memandangi suasana luar restoran. Sesekali pemuda itu mendengus, hingga hanyut dalam lamunannya. Teringat peristiwa beberapa tahun silam, ketika Henry masih di bangku sekolah menengah awal. Sewaktu ia dan timnya sedang ada pelatihan bola di Stadion Jatidiri Semarang.


Yang paling berkesan bagi Henry adalah Fira memarahinya sebab ia menendang bola kepada Zayn yang masih balita. Tendangan bola itu menimbulkan perdebatan di antara Henry dan Fira.


Henry semakin kalut karena tidak sengaja menendang bola ke arah balita. Pemuda itu berlari kencang menghampiri Zayn. Ia melihat luka lebam membiru pada lutut bocah lucu itu. Sudah dipastikan sakit sekali, apalagi untuk seumuran Zayn.


Henry berusaha menggendong dan menenangkan Zayn. Namun, di tengah-tengah kebingungan Henry, seorang wanita berlari secepat kilat menuju putranya. Henry terkejut bukan kepalang karena wanita itu tak lain adalah Fira. Wanita itu sangat cemas, seolah firasat ibu begitu peka dan tajam terhadap anak balita ini. Henry membisu hingga dahinya mengernyit bercucuran keringat.


"Ya Allah, Zayn. Apa yang terjadi?" tanya Fira bernada tinggi dengan spontan menggendong Zayn.


"Eh, a-anu, M-mbak Fi-Fira," gagap Henry sampai ketakutan.


"Lah, ini kok bisa lebam biru itu kenapa? Henry! Kamu apakan anak saya?" bentak Fira.


"Anak?" gumam Henry terkejut, lantas berkata, "eh, maaf, saya tidak sengaja menendang bola ke arah anak Mbak."


"Makanya lain kali kalau main bola itu hati-hati!" hardik Fira.


"Mbak Fira juga jaga anaknya dong! Mbak Fira ke mana saja? Di sinikan lapangan bola. Anak balita kok diajak ke mari."


"Kamu enggak perlu mengajari saya. Tadi saya ke toilet sebentar. Saya di sini menemani sepupu saya sedang latihan bola. Kamunya saja yang enggak bisa hati-hati!"


"Iya-iya, saya salah dan saya minta maaf." Henry mengalah karena tidak ingin memperpanjang masalah.


Henry lagi-lagi bergumam, "Mbak Fira sudah punya anak? Aku pikir dia masih lajang."


Fira membawa pergi Zayn tanpa mempedulikan Henry. Bayang-bayang Fira dan putranya tidak terlihat lagi. Henry masih terpaku di tempat, terdiam membayangkan ucapan Indria. Indria adalah teman sekelas Henry di SMA Negeri Kota Semarang, sekaligus sahabat Fira, karena Indria bertemu dengan Fira di komunitas hijrah Semarang.


Pada saat di kelas, Indria sudah menjelaskan kepada Henry tentang status Fira. Namun, Henry menyangkal ucapan Indria tentang Fira. Bagi Henry, Fira masih terlihat muda dan lajang.


"Aku peringatkan ke kamu, ya! Mbak Fira itu sudah berumah tangga dan punya anak satu. Jadi, buang jauh-jauh deh, rasa suka kamu ke Mbak Fira," tegur Indria.


"Ah, masa sih? Aku enggak percaya. Mbak Fira itu terlihat muda dan belum cocoklah jadi seorang Ibu," sangkal Henry.


"Eh, buset bocah ini. Terserah kamu dah! Asal kamu tahu saja, Mbak Fira kelihatan masih muda karena dia menikah muda. Setelah lulus SMA, dia sudah dilamar suaminya itu. Dia melanjutkan kuliahnya di Jogja sambil jadi istri sekaligus ibu rumah tangga. Sudahlah, mau kamu percaya atau enggak, aku sudah memperingatkan!" geram Indria dan pergi berlalu meninggalkan Henry.


Setelah mengingat ucapan Indria dan melihat kenyataannya, bahwa benar adanya, Fira sudah berumah tangga membuat Henry sadar. Henry bertekad untuk membatasi pertemanan dengan Fira. Ia mundur pelan-pelan karena menyadari hanya sebatas teman biasa. Namun, tidak pada perasaannya, ia masih menaruh hati pada Fira dan berusaha merahasiakan dalam hati saja. Sejak saat itu Henry tidak pernah jatuh cinta lagi kepada perempuan lain. Perempuan yang dicintai hanya Fira seorang. Sebisa mungkin Henry menepis itu dengan fokus terhadap prestasinya.


***


Henry sadar dari lamunan. Pelayan restoran itu memanggil dirinya berkali-kali, lalu pelayan restoran menyuguhkan secangkir kopi untuknya di atas meja. Henry mengusap wajah dengan telapak tangannya dan mengucap terima kasih kepada pelayan restoran telah menyajikan kopi pesanannya. Pelayan restoran mengangguk ramah dan meninggalkan Henry sendiri.


Tanpa berpikir panjang, Henry minum seteguk kopi, rasanya begitu hangat setelah meminum kopi, apalagi jika dibumbui rasa rindu kepada sang pujaan hati. Henry menaruh kembali secangkir kopi di meja dan menyandarkan punggungnya di kursi.


"Haahh!" desahnya seraya mengibas rambutnya yang hitam.


"Jika di antara kita terhalang oleh ruang dan waktu, tapi, cintaku kepadamu tidak terhalang oleh siapapun. Aku yakin pada Sang Maha Cinta, suatu saat nanti cinta ini menjadi nyata." Henry menggerutu seraya memejamkan mata sipitnya.


Getaran suara dari gawai Henry berbunyi. Layar gawai itu berdenyar. Henry tanggap dengan deringan gawai. Ia membuka sebuah pesan di WhatsApp dari nomor asing yang belum dikenalnya. Begitu tahu isi pesan tersebut, Henry jadi mengenali pengirim pesan itu dari bahasa pesannya. Henry gemetaran saat membaca isi pesan yang mencengangkan.


[Hen, aku minta nomormu dari Hardi. Kapan kamu pulang ke Semarang? Beliau tiba-tiba jatuh sakit. Beliau rindu dan membutuhkan kamu. Sudah saatnya kamu dan beliau berdamai. Kesempatan emas tidak akan terulang lagi. Pulanglah!]