Energy Of Love

Energy Of Love
Ujian Baru



Suara air mengalir terdengar dari keran kamar mandi di flat apartemen Fira. Di sana Zayn dan Zema sedang bermain air hangat dalam bathtub. Mereka tampak ceria. Ditambah dengan mainan yang mengampung di atas air. Setelah subuh, Fira sengaja membangunkan dua anaknya. Ia ingin menjalankan tugas sebagaimana seorang Ibu.


Pagi buta seperti ini, Fira sudah memandikan mereka. Karena pukul enam pagi nanti, Fira hendak berangkat ke bandara. Fira bergegas membuka lemari. Ia mengambil sabun mandi, shampo, sikat dan pasta gigi untuk dua putranya. Ketika disibukkan dengan mengurus anak-anak. Fira mengenakan daster panjang dengan jilbab biasa. Wajahnya setelah bangun tidur itu terlihat polos dan alami. Belum sempat dibersihkan dengan sabun wajah. Hanya dibasuh air wudu saat hendak sholat subuh tadi. Memancarkan kecantikannya yang paripurna. Aura keibuannya pun tak kalah memesona.


"Eh, astaghfirullah apa itu?" tanya Fira berlari kecil menuju kamar mandi.


Saat di kamar mandi, tak ditemukan kejadian buruk apapun. Zayn dan Zema tersenyum melihat Mamanya yang cemas.


"Enggak ada apa-apa, Mama. Mobilku itu jatuh," jawab Zayn dengan santai. Ia menunjukkan mainannya yang terjatuh di lantai.


"Astaghfirullah, bikin Mama deg-degan, tahu!" Fira mengelus dada. Kemudian ia mengambil mobil Zayn dan ditaruhnya kembali ke dalam bathtub.


"Ayo anak-anak keramas dan sabunan dulu! Mandinya jangan lama-lama, ya. Karena Mama mau mandi juga. Mama mau pergi ke Surabaya dan Jakarta," imbuh Fira.


"Mama kok pergi sih? Zayn dan Zema ingin sama Mama terus," ucap Zayn mengerucut. Matanya berkaca-kaca.


"Enggak lama, sayang. InsyaAllah, setelah Mama pulang dari Surabaya dan Jakarta. Kita liburan keliling kota Singapura, ya. Sekalian mencari sekolah yang tepat untuk kamu, Tante Ressa dan Nina juga," jelas Fira berusaha memberikan pengertian kepada Zayn.


Sementara Zayn mengangguk dan melanjutkan mandinya. Fira juga mengingat pada dini hari tadi ada pesan WhatsApp masuk dari Medina dan Citra. Medina dan Citra mengirimkan undangan bridal shower. Acara bridal shower adalah kejutan untuk Khalifah dan Velia. Bridal shower biasa dilakukan jauh sebelum hari pernikahan. Karena sebulan lagi, hari pernikahan Khalifah dengan Hariz dan Velia dengan Nicko dilaksanakan kompak.


Setelah Fira ke Surabaya itulah, keesokan harinya harus terbang ke Jakarta dengan pesawat. Jujur saja, dalam hatinya juga rindu berkumpul lagi dengan sahabatnya. Rasanya tidak sabar menghadiri acara bridal shower tersebut. Pikiran Fira pun sudah berencana untuk membeli kado spesial untuk Khalifah dan Velia.


Memandikan Zayn dan Zema sudah biasa ditanganinya. Fira mengambil dua handuk yang bergelantungan di gantungan kamar mandi. Dengan cekatan Fira melilitkan dua handuk ke tubuh Zayn dan Zema. Fira menuntun dua putranya untuk gosok gigi di westafel. Zayn dan Zema memegang ganggang sikat gigi. Sementara Fira menekan pasta gigi ke sikat gigi Zayn dan Zema. Dua bocah lucu itu mulai sikat gigi. Zema terus memperhatikan Kakaknya. Ia mengikuti gerak-gerik Kakaknya yang sedang gosok gigi itu. Mereka gosok gigi sambil bercermin. Fira tersenyum lebar melihatnya.


***


Fira sudah membersihkan diri. Penampilannya kini lebih santai dengan tunik selutut berwarna krem. Begitu juga dengan celana kulot warnanya selaras dengan tuniknya. Kali ini Fira juga mengenakan kerudung scraf bercorak bunga. Di depan cermin ia sedang bersolek supaya wajahnya tampak segar. Wajahnya yang cerah dengan sedikit polesan sunscreen dan alas bedak. Eyeliner tipis terukir di dua kelopak matanya. Tak lupa, ia juga memakai pelembab bibir supaya tidak kering.


Fira menggeret kopernya sembari menenteng tas selempang hingga ruang makan. Ratih dan Ressa tampak sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan. Fatih duduk di sofa seraya menonton berita pagi. Zayn dan Zema sedang bermain di ruang tengah. Nina sibuk menonton drama Korea di laptop sambil makan popcorn. Bryan berkutat dengan tugas kuliahnya di depan laptop. Jam dinding di kamar hampir menunjukkan pukul enam pagi. Secepat mungkin Fira duduk di kursi. Ia mengunyah roti dan minum teh hangat.


"Jangan buru-buru, Fir. Ibu masakin sayur tumis pare, sambel pete terasi dan tempe goreng kesukaanmu nih," ucap Ratih.


"Wah, alhamdulilah! Iya, Bu, kalau soal kesukaanku sih---aku makan," ungkap Fira bersemangat. Ia mengambil piring, sendok, nasi dan lauk.


"Fira, memang kita bakal lama tinggal di sini?"


Pertanyaan Ratih membuat Fira terdiam. Ia berhenti mengunyah tempe goreng yang dicolek sambel terasi tersebut.


"Ehm!" Fira berdehem. Cepat-cepat Fira menelan makanannya. Kemudian ia minum seteguk teh hangat.


"Iya, Bu. Kontrak kerja Fira itu tiga setengah tahun. Setelah tiga setengah tahun itu, kita bisa pulang ke Semarang lagi. Fira juga sudah punya tabungan. Fira ingin bangun usaha sendiri yaitu salon kecantikan. Salon kecantikan khusus muslimah," jelas Fira.


"Bagus kalau begitu. Ibu akan terus mendukungmu."


"Pokoknya Bapak dan Ibu cukup di rumah saja. Menikmati masa tua. Giliran Fira dan Bryanlah yang membahagiakan Bapak dan Ibu. Benarkan, Bry?"


"Doakan saja, Bu. Biar Bryan suatu saat jadi pengusaha besar. Bryan akan bersungguh-sungguh kuliah bisnis." Sahut Bryan membuat Ratih terenyuh dan tersenyum.


"Halah, kalau di rumah Semarang saja. Kerjaanmu main game terus, Bry!" sindir Fatih.


"Sekarang Bryan berubah dong, Pak, hehehe. Doakan to, Pak, anak-anaknya pada sukses," ucap Bryan cengengesan.


"Iyo, yo."


"Bu, Henry enggak ada ngomong apa gitu soal Fira? Atau lainnya?" tanya Fira.


"Kebanyakan ngomong soal anak-anak sih. Menanyakan kabar anak-anak, Bapak dan Ibu. Ngobrol sama Zayn dan Zema. Biasalah, membacakan kisah Nabi dan para sahabat kepada Zayn dan Zema lewat video call. Kalau soal kamu nggak pernah deh," jawab Ratih.


"Oh, gitu, ya? Hmm, kalau sekarang? Kan dia pulang ke Semarang, Bu."


"Ya, cuma bilang kalau Fira perlu ditemani. Sebentar lagi Fira ulang tahun, jadi surprisenya kami bisa di sini. Seluruh biaya perjalanan ditanggung dia sebagai surprise dia untuk kamu. Baginya, berkumpul dengan keluarga itu penting. Apalagi Henry memikirkan anak-anakmu supaya bisa dekat dengan Mamanya," imbuh Ratih.


"Selain itu?"


"Selain itu dia sedang merawat Papinya yang lagi sakit gitu. Sudah gitu saja sih. Kamu sudah bilang ke Henry. Kalau dia adalah pilihan yang tepat belum?"


Fira geleng-geleng kepala. Memberi isyarat jika dirinya belum mengungkapkan pilihan yang tepat itu. Ia tetap melanjutkan makan sembari berbincang dengan Ibunya. Ratih terkejut dan menghela napasnya. Kemudian duduk di samping Fira. Beliau juga turut menikmati secangkir teh hangat.


"Tahu tuh, Kak Fira enggak ngomong ke Henrynya! Bryan jadi gemas deh!" Sahut Bryan kesal.


"Kenapa, Nak?" tanya Ratih mengelus punggung Fira.


"Bryan kasih tahunya mendadak sih. Coba pas Bryan kasih tahunya begitu sampai di rumah Khalifah. Firakan jadi ada persiapan. Kalau mendadak pas di Singapura, Fira kaget dan belum siap. Fira juga masih ragu sama Henry. Tapi jawaban istikharah Fira adalah Henry," jawab Fira sambil mengunyah makanannya.


"Lewat telepon atau chatkan bisa?"


"Jangan gantung begitu, Fir. Nanti Nak Rafi jadi terus berharap sama kamu. Seolah kamu memberi kesempatan dan harapan sama dia. Malah tambah menyakitkan. Segeralah memberi keputusan. Tapi ..."


"Tapi apa, Bu?"


"Sebenarnya Bapakmu tidak merestui kamu dengan Henry. Ibu berusaha meyakinkan Bapakmu supaya mau menerima Henry." Ratih berbisik di telinga Fira.


Mata Fira terbelalak setelah mendengar ucapan Ibunya. Ada rasa nyeri dalam hati. Ia menelan makanannya dengan terpaksa. Fira jadi tidak selera makan. Ditaruhnya sendok di atas piring.


Ujian apalagi ini? Memang benar, cinta itu butuh perjuangan. Perjuang untuk mendapatkan restu dari orangtua. Meskipun Fira berstatuskan janda. Ia berhak mengambil keputusan menikah lagi dan memilih calon suami yang tepat. Namun bagi Fira, lebih berkah lagi ada restu dari kedua orangtua. Fira melihat Bapaknya dari kejauhan. Fatih fokus menonton berita. Akan ada ujian baru yang akan ditempuhnya. Yakni berusaha meyakinkan Fatih. Namun sebelum itu, Fira juga berusaha meyakinkan dirinya. Jika pilihan yang tepat adalah Henry.


***


Di lobi apartemen. Fira menggandeng Zayn dan Zema menuju teras apartemen. Sementara Bryan membawa tas dan koper milik Kakaknya. Ratih dan Fatih mengikuti dari belakang. Sesampainya di teras apartemen, Rafi dan Naomi sudah menunggu. Kehadiran Ratih dan Fatih membuat Rafi segera bersalaman dengan santun. Kemudian disusul oleh Naomi bersalaman dengan Ratih dan Fatih penuh hormat. Mobil travel sudah tiba. Bryan menyerahkan tas selempang kepada Fira. Kemudian Bryan memasukkan koper milik Fira ke dalam bagasi mobil.


Sebelum pergi, Fira menyempatkan diri untuk berpelukan dengan Zayn dan Zema. Dua bocah itu hampir menangis karena sang Mama harus pergi jauh lagi. Sebisa mungkin, Ibu Ratih menepisnya dengan mengusap punggung dua cucunya itu. Lalu mengelus rambut dua cucunya.


"InsyaAllah, dua hari doang. Setelah itu, Mama pulang, ya. Jangan menangis, ok! InsyaAllah, Mama bawa oleh-oleh untuk kalian," rayu Fira sembari tersenyum.


"Oleh-oleh mobil remote control, ya, Ma!" Celetuk Zayn sembari meringik.


"InsyaAllah, Allah pasti kasih rezeki untuk kita. Zayn dan Zema berdoa, ya. Ya, sudah, Mama berangkat. Assalamu'alaikum semua!" Fira mengelus rambut dua anaknya.


"Assalamu'alaikum Om dan Tante. Kami pergi dulu." Serentak Rafi dan Naomi menunduk hormat.


Belum sempat Fira, Rafi dan Naomi masuk ke mobil travel. Adnan dan Carissa hadir bersama seorang wanita muda di tengah-tengah mereka. Wanita muda berkulit putih dan tinggi semampai. Berbusana gamis warna hijau lumut senada dengan hijab syar'i layer dua. Adnan melihat Fira hingga ke semua orang sekitarnya. Fira menghentikan langkahnya. Menyempatkan diri untuk menyapa tetangganya itu. Langkah duda anak satu itu kian dekat dihadapan Fira.


"Mau ke mana, Fir?" tanya Adnan.


"Saya mau ke Surabaya dan Jakarta, Mas. Ada acara penting," jawab Fira.


"Mereka siapa?" tanya Adnan lagi saat melihat keluarga Fira.


"Oh, ini Bapak, Ibu, adik dan anak-anak saya, Mas."


"Jadi, kamu sudah punya anak?"


"Tepatnya saya single parent, Mas."


"Oh, begitu. Saya pikir kamu masih gadis."


Adnan segera bersalaman dengan kedua orangtua Fira. Kemudian menuntun Carissa supaya bersalaman dengan Fatih, Ratih, Zayn dan Zema. Tanggapan Zayn dan Zema sangat baik saat berkenalan dengan Carissa. Adnan langsung memperkenalkan diri dihadapan Fatih. Respon Fatih semringah begitu kenal dengan Adnan. Fira senang melihatnya. Namun terasa ada mengganjal atas sikap Adnan.


Di sisi lain, Rafi meradang dalam batin. Ia merasa tersaingi, jika Adnan dekat dengan Ayahanda Fira. Ada rasa ingin mencegah duda beranak satu itu supaya tidak perlu sok kenal dengan Fatih. Rafi juga tidak terima, jika Adnan semakin dekat dengan Fira. Namun, sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak terjadi kericuhan.


"Oh, iya sekalian ini. Perkenalkan adik kandung saya, Sarah dari Bandung. Tantenya Carissa," ucap Adnan seraya merangkul bahu adiknya.


"Perkenalkan saya Maghfira Annisa. Cantiknya adik Mas Adnan hehehe," sapa Fira ramah seraya berjabat tangan.


"Saya Sarah Elena Thalita, adiknya Kak Adnan. Kakak juga cantik. Ternyata benar, ya, yang dibilang Kak Adnan. Wajah Kakak ini mirip dengan Kak Renata. Kakak ipar saya. Mendiang istrinya Kak Adnan," ujar Sarah dengan senang hati membalas jabatan tangan Fira.


"Eh? Hehehe bisa saja." Fira tersipu.


"Jika tidak keberatan. Kapan-kapan Carissa bisa main bersama dua anakmu kan, Fir?" pinta Adnan.


Antara tidak enak dan bingung. Ia terkejut saat Adnan berkata demikian. Fira merasa ada sesuatu pada diri Adnan. Seolah Adnan ada rasa dengan dirinya. Namun, Fira menepisnya dengan berbaik sangka. Barangkali Carissa butuh teman bermain dengan Zayn dan Zema. Semoga saja begitu. Batinnya.


"Boleh kok, Mas. Biar Carissa tidak sendirian lagi," ucap Fira seraya memandang dua putranya. "Zayn dan Zema nanti bisa main sama Kak Carissa, ya?"


Zayn dan Zema bergeming. Karena keduanya belum saling kenal. Perlahan Zayn hanya mengangguk. Zayn paham dengan tatapan mata Mamanya supaya bersikap baik kepada orang lain. Zayn jadi punya teman baru.


"Ayo kapan mau berangkat ini? Ngobrol terus enggak akan ada habisnya!" keluh Rafi yang sudah di dalam mobil travel.


"Ya, sudah kami berangkat dulu. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh semua!" Fira melambaikan tangan. Kemudian ia masuk ke dalam mobil travel disusul oleh Naomi.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Hati-hati di jalan!" Serentak mereka.


Sedangkan di dalam mobil travel, Fira gelisah tak menentu. Ucapan Ibunya terngiang-ngiang bahwa Bapaknya tidak merestui dirinya dengan Henry. Antara senang bercampur sedih. Senang, jika Zayn, Ibu dan adik-adiknya setuju dirinya bersama Henry. Sedih, dirinya harus berpikir keras dan memantapkan hati supaya dapat meyakinkan Bapaknya. Belum lagi soal Adnan. Fira ingat betul nasihat Fatih tentang gerak-gerik laki-laki yang mendekati wanita pujaannya. Fira membuang jauh-jauh prasangkanya dengan Adnan. Namun, dilihat gelagat Adnan apalagi ucapan Sarah tadi membuatnya tercengang. Fira merasa akan ada ujian baru yang mungkin menggoyahkan hatinya.


"Ya Allah, aku tidak tahu kedepannya seperti apa? Jika saja ada ujian baru. Kuatkan diriku dan tambahkan sabarku untuk melewati semuanya. Laa haula wala quwwata illa billah. Hasbunallah wa ni'mal wakil ni'mal maula wa ni'man nashir," gumam Fira sembari memejamkan mata.


"Aku tidak akan membiarkan Fira didekati oleh siapapun! Aku harus bertindak sesuatu supaya Fira mantap dengan satu hati saja." Naomi bergumam. Diam-diam ia juga memperhatikan tingkah Fira.