Energy Of Love

Energy Of Love
Munajat Cinta



Bagai bintang yang merindukan bulan. Malam yang hening tanpa bersua. Langit berselimut awan kelabu. Titipkan rindu yang mengusik di dalam doa. Barangkali doamu sampai kepada seorang yang diidamkan. Atas kehendak-Nya, doamu akan tahu kemana harus bermuara.


***


Suara gemercik air pada tengah malam begini berasal dari kamar mandi di sebuah flat apartemen Henry. Suhu dingin di Singapura malam itu pun dingin sekali. Namun tidak membuat Henry lalai mendirikan sholat tahajud. Usai berwudu, Henry beranjak ke ruang tengah. Ia menelentangkan sajadah. Kemudian mengenakan sarung melingkari pinggang hingga menutupi di atas mata kaki. Dadanya yang bidang terbalut koko, membuat ia terlihat gagah. Ia tidak lupa memakai songkok di kepalanya.


Dengan penuh kekhusyukan, Henry mengangkat kedua tangannya melakukan takbiratul ihram. Lantunan surah-surah Al-Qur'an terdengar merdu dari lisannya. Di keheningan malam ini juga dihiasi oleh sinar rembulan. Saat orang-orang sedang terbuai dalam bunga mimpi. Sosok manusia ini memilih bangun larut malam begini untuk dekat dengan Rabb-Nya. Sujud sebagai wujud cinta dan kerendahan diri terhadap Rabb-Nya. Pun mengharapkan ampunan dan ridho Illahi.


Lima menit sholat tahajud telah ditunaikan. Henry mengambil tasbihnya di sampingnya. Lisannya tidak henti berdzikir menyebut kalam Illahi. Kemudian ia menengadahkan kepala dan kedua tangannya untuk memanjatkan doa.


"Ya Allah, hanya kepada Engkau hamba mencurahkan isi hati hamba. Jagalah hati hamba dari noda yang mengatasnamakan cinta. Sebaik-baiknya penjagaan adalah Engkau sang penguasa hati. Untuk sementara hamba hanya sanggup mencintai dia dalam doa. Hamba selalu menyebutkan namanya dalam doa. Dan hamba yakin jika suatu saat dia akan menjadi pendamping hidup hamba. Dia Maghfira Annisa. Rabbahablana min adzwajina wa dzurriyyatina qurrota'ayun wa jal'na lil muttaqina imama. Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fiil aakhirati hasanah wa qina adzabannar. Aamiin yaa rabbal alamin," ujar Henry sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


Seringkali Henry doa seperti itu. Setiap kali menyebut nama Fira. Hati Henry selalu berdebar dan terasa pilu. Ia juga tersenyum sendiri jika mengingat sosok wanita cantik yang dicintai dalam doanya.


"Hanya doa yang bisa aku lakukan. Suatu saat takdir cinta itu nyata adanya," lirih Henry seraya melipat sajadah dan beranjak dari tempatnya.


Usai sholat tahajud, dirinya tidak langsung tidur. Ia bergegas mengambil sebuah bola di sudut kursi. Kakinya yang jenjang perlahan menendang bola hingga ke dapur. Wajah oriental itu tampak semringah setelah melaksanakan shalat tahajud.


"By the way, aku sudah lama tidak bermain bola," kata Henry tersenyum hingga menampakkan giginya yang putih. "Ya, bermain bola yang pada waktu itu, aku pernah dimarahi oleh Mbak cantik."


***


"Astaghfirullah, hampir jam tujuh!" pekik Fira tergopoh-gopoh memakai kaos kaki. Ia juga kewalahan menenteng tas selempang, "ini gara-gara mimpi aneh itu! Jadi, aku bangun kesiangan. Untung saja, aku sedang datang bulan."


Agak terburu-buru, Fira menuju ke dapur. Kemudian ia duduk di kursi sembari mengambil roti diolesi selai strawberi. Ia menguyah secepat mungkin. Kemudian minum air putih yang telah tersedia di atas meja makan.


Fira langsung menenteng sepatunya sambil dipakainya. Dengan gesitnya keluar kamar. Tidak lupa pula, ia mengunci pintu flat apartemennya. Ia bergegas menuju ke luar dari apartemen. Tidak butuh waktu lama untuk tiba di halaman luar apartemen. Fira celingak-celinguk berharap ada taksi yang lewat. Ditunggunya dengan sabar. Namun, sepertinya tidak ada satupun taksi yang lewat di situ.


"Kenapa sih---aku kalau berangkat kemana saja selalu telat? Ya Allah, ampuni hamba," keluh Fira.


Tiba-tiba sebuah mobil hitam menghampiri Fira dan berhenti di sana. Kaca jendela mobil itu terbuka oleh pengemudinya. Ternyata Rafi yang terlihat menawan saat kacamata hitam bertengger di kedua matanya.


"Ayo berangkat dengan Abang!" ajak Rafi.


"Eh, berdua aja gitu? Ah, enggak mau, mengerikan sekali!" tolak Fira tampak geli manakala hanya Rafi yang di mobil itu.


"Kamu pikir Abang ini setan atau gimana? Seperti sama siapa saja, tahu enggak? Sudah kenal lamakan?"


"Aku bisa menunggu taksi kok."


"Taksi ye ..." ucap Rafi tersungging, "mau menunggu taksi atau dipecat? Fine!"


"Astaghfirullah, iya-iya, main mengancam saja deh!" dalih Fira kesal. Ia bergegas masuk ke dalam mobil Rafi.


"Kalau mau naik taksi itu telepon dan pesan dulu. Bukan ditunggu, enggak akan datang!"


"Oh, begitu," kata Fira seraya memangku tasnya. "Rahline ke mana, Bang?"


"Ya, seperti biasa di rumah sahabatnya. Dan insyaAllah, nanti malam akan menemanimu."


"Oh, iya."


Rafi melanjutkan kemudinya menuju jalan Anson. Perjalanan dari apartemen ke restoran tempat kerja Rafi dan Fira cukup jauh. Maka dari itu, mereka harus berangkat seawal mungkin. Jarak tempuhnya kurang lebih satu jam. Sepanjang perjalanan, keduanya mengobrol tentang masa kecil hingga kabar anak-anak Fira.


***


Rafi dan Fira tiba di restoran. Pelan-pelan Fira turun dari mobil kemudian disusul oleh Rafi. Fira terkesima ternyata tempatnya bekerja itu cukup jauh. Ia jadi membayangkan bila tadi hanya menunggu taksi sudah pasti terlambat. Padahal hari ini pula hari pertamanya bekerja. Fira tersipu saat memandang Rafi. Untung saja, ada Rafi yang mengajaknya berangkat bersama.


"Apa? Sudah Abang bilangkan? Ngeyel sih!" ejek Rafi menggoda Fira dengan tatapan mendelik.


"Iya, hehehe, terima kasih loh," lirih Fira tersipu, "tapi, kok jauh banget, ya?"


"Memang kerjamu di sini. Ayo masuk ke restoran! Sekalian kenalan sama karyawan yang lain."


"Eh, kenapa masih diam disitu? Ayo!"


"Eh, iya-iya sabar!"


Tatkala Rafi dan Fira di dalam restoran. Semua karyawan menyambut ramah dan senyuman. Fira merasa tidak percaya diri dan berusaha membalas keramahan mereka. Di sana Fira juga bersalaman dengan karyawati seraya berkenalan. Namun, Fira menolak secara halus untuk bersalaman dengan karyawan pria. Ia tetap menunjukkan sikap ramah dan sopan santunnya.


Tidak lama kemudian, pemilik restoran hadir mengajak Fira ke ruangan rapat. Fira mengangguk dan bersikap hormat terhadap pemilik restoran itu. Saat tiba di ruangan rapat ternyata di sana ada founder, tim chef dan jajaran lainnya.


"Selamat pagi semua, perkenalkan ini adalah manajer baru di restoran ini. Namanya Ibu Maghfira Annisa dari Semarang," tutur pemilik restoran tampak antusias memperkenalkan Fira.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Maghfira Annisa, panggil saja Fira. Salam kenal semuanya," sapa Fira seraya mengatupkan kedua tangannya, "terima kasih, Pak ..." Fira mengalihkan pandangannya ke pemilik restoran yang berperawakan gagah dan tinggi itu.


"Oh iya, panggil saya Pak Sandi," kata Sandi.


"Oh, baiklah, Pak Sandi." Fira mengangguk santun.


"Suatu kehormatan bagi kami karena Bu Fira bisa bekerja di sini. Sebab, manajer sebelumnya telah mengundurkan diri. Kemudian saya bisa cepat menemukan manajer baru seperti Bu Fira. Kami harap Bu Fira bisa bekerja sama dengan kami," timpal Sandi.


"Terima kasih atas sambutan dan dapat menjadi bagian dari restoran ini," ujar Fira mulai percaya diri.


"Untuk hari ini, ikuti saja rapat. Namun, Bu Fira cukup menyimak saja dulu. Nanti ada Pak Rafi yang akan mengajari. Mari, silahkan duduk."


"Terima kasih."


Selama rapat, Fira menyimak sambil berusaha mengikuti pembahasan rapat restoran. Supaya ia juga dapat memahami isi rapat itu. Namun, disela-sela merenggangkan posisi duduknya. Fira yang duduk dekat dengan Rafi itu menoleh ke Rafi sedang menonton film kartun Naruto. Ia berusaha menegur Rafi dengan berdehem. Namun, tidak digubris oleh Rafi. Sepertinya Rafi sudah larut dalam dunianya sendiri.


"Sedang rapat begini masih sempatnya menonton film Naruto? Apa tidak mendapat teguran?" gumam Fira kesal.


Setelah rapat telah usai. Cukup memakan waktu hampir satu jam. Orang-orang yang mengikuti rapat itu berhamburan keluar dari ruangan. Terkecuali Fira dan Rafi yang masih ada di sana. Namun, Rafi masih saja serius menonton film kartun Naruto.


"Astaghfirullah, orang ini kelakuan masih seperti anak remaja aja. Masih suka nonton Naruto," gerutu Fira yang dari tadi tampak kesal melihat sikap Rafi yang seolah mengabaikan rapat. "Seperti ini mau mengajariku? Oh, iya, sepertinya aku punya sesuatu di dalam tas."


Fira merogoh tasnya mengambil seekor kecoa mainan milik Zayn anaknya. Tanpa permisi, Fira melemparkan seekor kecoa mainan itu tepat di paha Rafi. Sontak Rafi terperanjat hingga melompat di atas meja.


"KUCHIYOSE NO JUTSU!" teriak Rafi.


"Hahaha, kuchi kuchi apaan itu? Hahaha," kelakar Fira.


"FIRA!" gertak Rafi perlahan turun dari meja kemudian mendekati Fira.


"Laki-laki sama kecoa doang takut? Hahaha. Makanya Bang, jangan nonton Naruto terus kalau sedang rapat!"


"Abang gelitik mau? Awas kamu!" canda Rafi.


"Eh, apaan? Awas, ya, berani macam-macam! Ku tendang kau!" hardik Fira seraya mengepalkan tangannya, "hahaha, geli lihatnya. Ternyata Bang Rafi masih takut kecoa hahaha."


"Yang mulai duluan siapa? Risiko mengacau Abang nonton---jadi akan Abang balas!" Ucap Rafi yang semakin mendekati Fira.


"Eh, jangan! Enggak boleh sentuh, ya! Awas! Ingat kita bukan anak kecil seperti dulu lagi," elak Fira berusaha menghindari Rafi.


"Nah, itu paham. Dengar dan tatap Abang! Abang melihat Fira bukan seperti gadis kecil lagi. Abang melihat Fira seperti wanita dewasa. Jadi, bedakan bercandanya anak kecil dengan bercandanya orang dewasa. Apalagi seorang pria dengan wanita," tegur Rafi menatap lekat-lekat ke Fira.


Rafi pergi melewati Fira begitu saja. Sesekali Rafi mendengus sembari mengatur napasnya. Posisi Rafi dan Fira saling membelakangi punggung.


Fira terlihat menyesal. "Ta-tapi, tadi hanya bercanda biasa? A-aku minta maaf kalau bercandaku salah. Soalnya aku geram melihat Abang terlalu sibuk dengan film Naruto daripada rapat."


"Bercanda dan menegur tidak salah. Hanya saja, jika keterusan bercanda seperti tadi akan semakin ..." Rafi menjeda ucapannya, "ah, suatu saat kamu akan tahu. Abang mau pergi kuliah sebentar. InsyaAllah, Abang nanti ajari kamu tentang kerja di sini, assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, maksudnya Abang apa, ya? Aku enggak paham? Ah, entahlah, lebih baik aku ingin tahu ruanganku saja." Fira keheranan. Ia keluar dari ruang rapat. Langkahnya menuju ke ruang kerjanya.