Energy Of Love

Energy Of Love
Cemburu



Walaupun cemburu bersembunyi di balik wajah baik-baik saja. Terkadang cemburu melupakan sesuatu, yaitu sadar diri. - Rafi Jensen -


***


Raut wajah masam seorang laki-laki itu terpampang nyata di hadapan Fira. Namun, Fira bersikap biasa saja karena pikirannya fokus mengatur data restoran. Ketika Fira berusaha melewati Rafi dengan raut wajahnya seperti kesal. Tanpa basa-basi lagi, Rafi langsung menghadang langkah Fira. Wajah mereka pun menjadi saling bertemu. Sepasang mata mereka saling bertatapan. Fira mengangkat kedua alisnya sebagai penasaran apa yang terjadi.


"Enggak peka ya, kamu," bisik Rafi dengan ketus.


Sontak Fira dikejutkan dengan sikap Rafi yang ketus seperti itu dan bertanya, "maksudnya apa, ya, Bang?"


"Ada hubungan apa kamu dengan Henry? Abang sudah melihat kalian di beranda Instagram. Banyak yang bersorak kecocokan kalian. Sebagian ada mem-bully kamu dan Henry karena perbedaan usia kalian!" hardik Rafi. Ia lantas melengos.


Fira semakin heran bukan kepalang. Ia sulit menalar ucapan Rafi, kemudian tanpa berpikir panjang, Fira langsung merogoh tasnya untuk mengambil gawai. Ia membuka pola pada gawainya. Jemarinya berselancar di akun Instagramnya. Sontak sepasang mata Fira terbuka lebar. Sangat mengejutkan! Bagaimana tidak? Unggahan foto dua cangkir kopi yang diperbarui oleh dirinya kemarin itu menjadi unggul. Unggahan tersebut menjadi unggul 700.000 menyukai dengan 37.000 komentar.


"Sebenarnya siapa Henry itu? Hanya komentar darinya, postinganku mendadak ramai sekali," gumam Fira bertanya-tanya.


"Enggak bisa jawab, ya?"


"Enggak, ma-maksudku, aku hanya terkejut aja dengan postinganku yang ini. Tapi, jujur aku dengan Henry enggak ada hubungan apa-apa! Lagi pula Abang tahu aku enggak suka pacaran," jelas Fira. Ia berusaha mengklarifikasi.


"Abang bisa percaya padamu tapi belum tentu pada Henry! Abang tahu kamu enggak suka pacaran, tapi Henry bisa saja menggangapmu berbeda." Rafi menukas seraya melangkah pergi dengan pandangan yang berpijar.


***


Fira menoleh ke arah Rafi. Jujur saja, pikiran Fira merasa kacau setelah unggahan fotonya jadi terkenal. Ia ingin menghapus unggahan foto itu. Namun, Fira membayangkan kembali percakapannya dengan Henry saat di kafe kemarin.


"Kamu, kalau komentar jangan kelewatan dong, Hen! Jadi ramai nih! Mereka kira kita ada apa-apa. Lebih baik aku hapus saja," tegas Fira. Dirinya pun merasa tidak percaya diri.


"Kalau Mbak menghapus postingan itu. Orang-orang mengira bahwa kita memang ada hubungan spesial. Jadi, biarkan aja. Toh, aku hanya komentar seperti itu. Mbak enggak perlu balas komentarku juga enggak masalah," dalih Henry santai.


"Kamu lihat ini!" geram Fira. Ia menyodorkan gawainya kepada Henry dan memperlihatkan isi komentar diunggahan fotonya.


"Enggak usah pedulikan kata netizen, ah!" ucap Henry. Ia menyandarkan diri di bangku. Dua tangannya dilipat bersila ke belakang.


"Bisa-bisanya kamu sesantai itu!" geram Fira. Ia menjadi tidak selera menikmati kopi latte di hadapannya.


Fira cepat tersadar dari bayangan percakapan Henry dengan dirinya waktu itu. Ia masuk dalam ruangan. Fira berpikir unggahan foto tersebut tidak akan berpengaruh sebesar ini. Sudah pasti orang-orang menilai dirinya dengan Henry ada hubungan spesial. Pelan-pelan, ia duduk di kursi kerja. Rasanya yang tadinya fokus ingin mengatur data restoran, kini mendadak menjadi tidak konsetrasi. Fira bingung tidak karuan. Memandang laptopnya pun tidak ada gairah.


"Ya Allah, kenapa jadi kepikiran seperti ini?" keluh Fira. Ia lantas menunduk dan menyandarkan dahinya di sisi meja.


Suara dering telepon masuk berbunyi dari gawai Fira. Ia segera terbangun melihat gawai. Dilihatnya ternyata telepon dari Bryan dan ia sigap mengangkat telepon dari Bryan. Tidak seperti biasanya Bryan menelepon dirinya.


"Assalamu'alaikum, Bryan," sapa Fira


"Wa'alaikumsalam, ini Bapak," jawab Fatih dari balik telepon.


"Ya Allah, kali ini apa lagi?" gumam Fira terpaksa menelan ludah. Ia takut pasti bapaknya tahu tentang unggahan foto itu.


"Siapa Henry yang berkomentar lancang di-postingan-mu? Soalnya Bryan menunjukkan itu kepada Bapak."


"Astaghfirullah!" ucap Fira menghela napas sejenak. "Henry temanku, Pak."


"Ingat Fira, kamu punya dua anak. Sebenarnya Bapak tidak ingin mencampuri urusanmu. Kamu sudah dewasa dan seorang Ibu juga. Bapak juga ingin menjagamu dan sadarlah dengan statusmu saat ini," timpal Fatih.


"Iya Pak, Fira sadar itu," kata Fira.


"Sepertinya kamu sedang diajak minum kopi bersama si Henry. Pesan Bapak, lain kali jangan mudah diajak berduaan seperti itu, ya. Kalau memang kamu mau menikah lagi, juga enggak masalah sih. Tapi, laki-laki sejati, jika ingin serius padamu tetap harus berhadapan dengan Bapak."


"Iya, Pak, maafkan Fira, tapi bukan berarti Fira ingin menikah lagi. Ya Allah, Fira tidak ada pikiran seperti itu. Lagi pula kata Henry dia hanya berkomentar biasa," sanggah Fira.


"Lisannya berbicara berkomentar biasa tapi hati berbicara luar biasa. Bapakmu ini pengalaman soal cinta apalagi tingkah laki-laki. Sudah begitu dulu dari Bapak, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, Pak," ujar Fira. Ia mengakhiri percakapan melalui telepon dengan bapaknya. Hati-hati ia menaruh ponselnya diatas meja kerjanya. "Ya Allah Gusti, paringi kulo sabar lan kulo nyuwun pertolongan." (Ya Allah Gusti, berikan saya sabar dan saya minta pertolongan.)


***


"Terkesan menggelikan, cemburu tidak terkendali. Melihat kamu dan dia semakin hari kian dekat. Walaupun cemburu bersembunyi di balik wajah baik-baik saja. Terkadang cemburu melupakan sesuatu, yaitu sadar diri," gumam Rafi membuka sedikit pintu ruangan Fira. Ia mengucap lirih, "ya, sadar diri aku hanya sahabat kecil Firakan? Hahaha, Rafi bodoh!"


"Abang Rafi!" panggil Fira. Ia sedang berkutat mengerjakan dokumen restoran di laptop. Fira melihat Rafi sedang berdiri di depannya.


"Maaf, ya, atas kelakuanku tadi," ujar Rafi menyesal.


"Iya, enggak apa-apa. Aku juga tidak ingin memikirkan postingan itu. Karena memang tidak ada apa-apa," imbuh Fira.


"Abang percaya padamu, Fir," ucap Rafi melihat Fira begitu konsentrasi mengerjakan tugasnya. "Oh, iya, di luar ada tamu, katanya ingin berkenalan denganmu."


"Oh, iya, sebentar, aku simpan data restoran dulu."


"Abang tunggu di ruang tengah, ya."


Fira mengangguk. Jemarinya cekatan menata barang yang bersangkutan dengan pekerjaannya, supaya terlihat rapi di atas meja kerja. Hanya selang berapa menit saja, Fira keluar dari ruangannya. Ia segera menyusul Rafi ke ruang tengah untuk menemui tamu.


Tibanya di sana, Fira menyapa ramah kepada tamu itu. Tamu itu pria berparas sangar. Lirikan tajam saat memandang Fira. Di sisi lain, Rafi masih berdiri sembari memperkenalkan Fira kepada tamu itu.


"Perkenalkan ini manajer baru restoran kami namanya Bu Fira," ujar Rafi,. "by the way, Fira, ini adalah Sultan, dia rekan kerjaku. Bisa dibilang restoran ini ada kerja sama dengan restoran dia."


Sultan beranjak dari duduk. Tubuhnya yang gagah itu berbalut kemeja panjang. Sultan mengulurkan tangannya yang kekar untuk bersalaman dengan Fira.


"Oh, sorry, Sir. Kita bukan mahram," ujar Fira. Ia seketika mengapit dua telapak tangan. Itulah isyarat bersalaman tanpa bersentuhan.


"Mari silakan duduk," ajak Rafi. Ia mempersilahkan dua orang itu.


"Rafi cakap, Fira ini pernah tinggal di Yogyakarta ke?" tanya Sultan dengan logat Melayu. Rupanya pria berwajah tegas ini berasal dari Negeri Jiran Malaysia.


"Yogyakarta itu asal suami saya, Pak," jawab Fira.


"Oh, dah ada husband, ye."


"Namun, suami saya sudah di sisi Allah. Insyaallah," lanjut Fira.


"Oh, sorry saya tak tahu pasal itu. Eh, tak payah panggil saya Pak. Usia kita sama kan? Panggil saja Sultan, je, nampak okay," kata Sultan. Ia seraya mengangkat kedua alisnya.


"Maksud Sultan apa bicara seperti itu?" gumam Rafi mulai cemburu. Kala itu ada panggilan masuk dari Rahline pada gawai Rafi. "Eh, ada telepon dari Rahline. Hmm, Fira dan Sultan, aku tinggal sekejap, ye, ada telepon dari adik sepupu."


"Okay, Raf, enjoy, je," kata Sultan dengan senyuman yang membuat lesung pipinya terlihat jelas.


"Ya Allah, perasaanku jadi enggak enak ini," batin Fira gelisah.


"Fira ada timing ke? Bila ada free time, saya mahu kamu dating dengan saya. Kencan perkenalan kawanlah nih," ajak Sultan mulai bernada genit.


"Maaf, saya enggak suka yang namanya kencan. Apalagi pacaran tanpa ikatan."


"Heh, tak payah jual mahal macam tuh! Saya akan sediakan fasilitas mewah untuk kamu. Pasti kamu akan berminat," rayu Sultan setengah memaksa.


"Mau apapun Anda tawarkan kemewahan dan silaunya dunia kepada saya. Itu enggak akan berpengaruh bagi saya!" hardik Fira. Ia lantas beranjak dari duduk. Sontak membuat orang-orang sekitar terkejut mendengarnya.


"Jomlah Fira cantik! Tak boleh menolak rezeki tuh. Mesti janda cantik sepertimu mahukan berkencan dengan bujang handsome macam saya?" Sultan meraih tangan Fira dan menggenggam erat siku Fira.


"ASTAGHFIRULLAH! STOP! JANGAN PAKSA SAYA!" teriak Fira. Ia sontak mendelik. Fira merintih kesakitan saat sikunya digenggam erat oleh Sultan. "Saya memang janda tapi tidak semurah yang Anda pikirkan!" Fira menangkis untuk melepaskan genggaman dari tangan Sultan.


"BERANINYA KAU!" bentak Sultan. Ia endak melayangkan tangannya untuk menampar Fira.


"HEI, BRENGSEK! JANGAN PERNAH SENTUH FIRA SEDIKITPUN!" gertak Rafi yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah Fira. Rafi sigap menangkis kedua tangan Sultan. "Kau lekas hengkang dari sini! Atau aku harus panggilkan polisi untukmu."


"Baik, aku hendak pergi. Tapi ingat, aku akan berusaha mendapatkan Fira!" sentak Sultan. Ia sembari merapikan kemeja dan mengentakkan kaki dengan kasar, kemudian pergi dari restoran itu.


"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah," ucap Fira ketakutan sembari menyentuh dada.


"Kamu enggak apa-apa kan? Dia macam-macamkah sama kamu?" tanya Rafi sangat cemas.


"Hanya sikuku saja yang digenggam tapi laki-laki itu menyeramkan sekali," jawab Fira merintih.


"Ya, sudah, kamu istirahat di ruangan, ya. Enggak usah kerja dulu," usul Rafi penuh perhatian. Rafi kemudian menoleh ke arah Nadia. "Nadia! Temani Bu Fira di ruangannya, ya."


Nadia, asisten manajer itu bergegas menghampiri Fira. Untung saja, Nadia tepat di tempat yang dekat dengan keberadaan Fira dan Rafi.


"Baik, Pak Rafi," ujar Nadia, "mari Bu Fira, saya antarkan ke ruangan."


Fira mengangguk. Nadia hati-hati merangkul Fira menuju ke ruang kerja Fira, supaya Fira tenang dan bisa istirahat.


***


Malam pun tiba, jam dinding di restoran sudah menunjukkan pukul 20.30 malam. Waktunya untuk pulang kerja dari restoran. Beberapa karyawan restoran ada yang sedang membereskan restoran. Ada pula yang sedang mempersiapkan kepulangan. Sementara Rafi berdiri menunggu Fira di dekat pintu restoran. Beruntung, Fira yang ditunggunya itu telah datang.


"Pulang bersama Abang saja, ya," ajak Rafi.


"Akukan sudah ada mobil dari Pak Sandi. Taarraa, jadi aku enggak perlu naik taksi apalagi menumpang di mobil Abang," ujar Fira. Ia sembari menunjukkan kunci mobilnya.


"Ya, tapi kalau Sultan di tengah jalan mengganggumu, bagaimana?"


"Enggak perlu khawatir! Insyaallah, tidak akan terjadi hal yang buruk padaku, assalamu'alaikum."


"Ini anak terlalu berpikir positif atau naif sih?" gumam Rafi kemudian berkata, "ya, wa'alaikumsalam."


Lima belas menit sepeninggal Fira pulang dari restoran. Rafi sambil menunggu karyawan pulang ke tempat masing-masing, supaya Rafi dapat menutup restoran tersebut. Karena kali ini, jadwal Rafi yang membawa kunci restoran. Namun tiba-tiba Henry datang, masuk ke restoran tersebut kemudian menemui Rafi. Wajah Henry menampakkan rasa cemas yang tidak biasa.


"Mas Rafi, di mana Mbak Fira?" tanya Henry. Napasnya ngos-ngosan.


"Lima belas menit yang lalu dia sudah pulang. Aku sempat tawari untuk pulang bersama. Akan tetapi, dia menolak karena merasa sudah punya mobil dari restoran. Padahal aku sangat khawatir padanya, karena tadi siang dia digoda oleh Sultan, laki-laki brengsek itu. Aku khawatir kalau di tengah jalan Sultan mengganggunya lagi." Rafi menjelaskan tapi sikapnya santai.


Ucapan Rafi tersebut justru membangkitkan emosi Henry, kemudian Henry langsung menarik kerah baju Rafi. Tanpa memandang usia, Henry meluapkan emosi. "Apa? Kalau sudah tahu khawatir dan diganggu oleh laki-laki brengsek itu. Kenapa kau masih di sini, Mas Raf? Pekalah sedikit!"


Mata sipit Henry menyorot tajam kepada Rafi, kemudian Henry mengempaskan Rafi nyaris tersungkur. Ia mulai mengatur napas yang sedang dilanda kecemasan pada wanita pujaannya itu.


"Fira itu enggak suka dipaksa! Jadi, kalau dia menolak, ya, sudah mau gimana lagi?"


"Gimana lagi, katamu? Aku akan menyusulnya. Paling tidak, ada inisiatif untuk melindunginya. Firasatku sangat tidak nyaman. Bukan seperti dirimu yang hanya diam saja!" sentak Henry. Ia beranjak pergi meninggalkan restoran.


Melihat tingkah Henry, Rafi jadi tergerak untuk menyusul dan berniat melindungi Fira seraya bergumam, "kenapa Firasat Henry justru peka daripada aku? Padahal dia tidak tahu, kalau Fira diganggu oleh laki-laki brengsek itu. Sedangkan akulah mengetahuinya langsung."