
Fira menceritakan kisahnya dengan Kirsandi memakan waktu berjam-jam. Fira menghela napasnya, merasa sedikit lega. Rahline mengambil segelas air minum untuk Fira, meminum seteguk saja. Fira mengalihkan pandangannya di jendela. Rahline memijat halus punggung Fira. Jika mengingat masa-masa itu, hati Fira terasa nyeri. Rahline jadi merasakan kepiluan yang dirasakan oleh Fira.
"Kalau mendengar cerita Kakak begini. Rahline jadi tidak tega menjodohkan Kak Fira dengan Abang Rafi," kata Rahline.
"Hehehe, ada-ada saja kamu. Tapi, kisahku belum selesai," ucap Fira menjeda cerita. "Saat pikiranku diambang depresi. Aku sempat memecahkan piring di dapur. Rasanya ingin perang dengan Mas Kirsandi saat itu juga. Untung saja Zayn sudah tidur. Padahal hari itu Mas Kirsandi ingin mengantarkanku ke Semarang."
"Terus sampai ke Semarang. Kakak dan Mas Kirsandi sudah ke meja hijau?" tanya Rahline.
"Belum sampai ke meja hijau. Inginku waktu itu, ya, begitu. Setelah usai pertikaian itu, kami tiba di rumah orangtuaku di Semarang. Aku turun dari mobil sambil gendong Zayn. Pikiran dan batinku sudah lebur seperti debu. Aku menangis sesenggukan. Sudah tidak tahan lagi untuk menceritakan semuanya---soal aku dan Mas Kirsandi kepada Bapak dan Ibu," jelas Fira.
"Terus?" tanya Rahline lagi.
Fira menjawab, "Kami bermusyawarah secara kekeluargaan. Sebenarnya aku ingin langsung ke pengadilan tapi Bapak melarang. Mas Kirsandi pandai membalikkan fakta dan mengambil hati Bapak-Ibu. Saat itu aku semakin tertekan karena tidak ada yang mendukung. Percuma, aku menceritakan keseluruhan perselisihanku dengan Mas. Semua bisa bilang demi anak dan sebagainya. Aku jengkel dan meninggalkan rumah membawa mobil Bapak. Aku enggak tahu lagi harus ke mana. Sampai aku tiba di SMA-nya Henry."
"Henry? Kakak kenal Henry sudah lama, ya?" Rahline semakin serius dan penasaran.
"Iya, bisa dibilang sudah lama. Awalnya dia duluan yang mengajak kenalan kepadaku di WhatsApp. Karena dulu gencarnya teman kontak WhatsApp pada masukkan ke grup WhatsApp. Ada grup kucinglah, grup sharing ilmulah, grup ukhuwahlah dan sebagainya, hehehe," jelas Fira sembari menghitung beberapa grup WhatsApp.
Dari luar kamar inap, Rafi dan Henry hendak masuk ke kamar. Rafi mencegah Henry untuk masuk ke dalam kamar. Dua pria ini memilih untuk mengintip dari sela-sela pintu. Rafi ingin mendengar percakapan antara Fira dan Rahline dari balik pintu kamar. Rafi dan Henry mendekatkan telinganya di daun pintu kamar.
"Bicara apa sih mereka?" tanya Rafi. Ia menoleh ke Henry. Henry hanya mengangkat dua bahu pertanda tidak tahu menahu.
"Oke, lanjut yang Kak Fira tadi sempat ke SMA-nya Henry," ucap Rahline. Suara gadis ini hingga terdengar ke luar ruangan.
"Oh, Mbak Fira masih ingat waktu dia dan aku bertemu di SMA itu," gumam Henry tersipu.
Sejenak Fira mengembuskan napas sembari memejamkan mata. Rahline tampak antusias menjadi pendengar setia Fira kala itu. Fira mengingat kembali pertemuannya dengan Henry lampau itu. Walaupun ibu beranak dua ini malu jika membayangkan pertemuan itu, karena menurutnya wanita bersuami tidak pantas menemui laki-laki lain.
Waktu itu, pikiran Fira kalut bak benang kusut yang tidak ada ujungnya. Fira merasa sia-sia, kalau hasilnya gini-gini saja, walaupun ia tidak ada rencana untuk ke SMA 3 Semarang. Wanita rapuh ini hanya ingin ada seorang yang bisa menenangkan hati dan mendukung dirinya.
Kala itu hidup Fira tertekan, tidak peduli lagi siapa yang ia temui. Ya, hanya Henry. Fira sudah tidak kuat menghadapi hidup ini. Jiwanya sudah getar-getir. Sepasang matanya tak mampu membendung tangis pilu. Fira minta tolong kepada Henry untuk memberi nasihat kepadanya, agar mendapat ketenangan hati, tapi nyatanya Henry menolak. Henry sadar diri akan posisinya yang hanya sebatas teman dengan Fira. Pemuda itu tidak mau ikut campur dalam konflik rumah tangga Fira dan Kirsandi.
"Aku mana sadar maksud Henry menolak. Seiring berjalannya waktu aku mulai sadar. Henry tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga orang. Itu sangat di luar ranahnya. Sebenarnya juga aku memutuskan putus komunikasi dengan Henry, karena aku sangat malu dengan sikapku kepada Henry. Soalnya aku sudah membeberkan masalah rumah tangga kepadanya," jelas Fira.
"Oh, begitu," ucap Rahline singkat.
Fira kembali bercerita dan mengingat kejadian lampau yang membuat mentalnya turun.
Lagi-lagi nihil, tidak ada yang mendukung dan mengerti dirinya. Dengan keadaan basah kuyup, Fira masuk ke dalam mobil. Namun saat di pertengahan perjalanan, ibunya menelpon, mengabarkan bahwa jantung Fatih mendadak sakit dan dilarikan ke rumah sakit. Fira memutuskan untuk ke rumah sakit. Ia tambah berdosa mendengar bapak sakit.
Setibanya di rumah sakit, hati Fira nyeri melihat bapaknya terbaring di kasur. Fatih berbicara dengan suara parau, beliau ingin sembuh kalau Fira dan Kirsandi memperbaiki hubungan. Herannya, secepat itu Kirsandi mengurungkan niatnya untuk menikah lagi di depan Fatih. Fira sontak tercengang melihat Kirsandi.
Fatih memberi kesempatan kedua untuk Kirsandi. Lagi-lagi Fira hanya bisa pasrah. Fira gontai pergi ke masjid untuk salat Ashar. Wanita berwajah lemas itu hanya bisa berserah diri kepada Allah. Doa yang selalu terucap dalam batinnya memohon keadilan kepada Allah.
Usai peristiwa menegangkan itu, Fira mulai memperbaiki biduk rumah tangga bersama Kirsandi. Meski Fira masih sulit mencintai Kirsandi lagi. Takut pula untuk menaruh hati lagi kepada pria berkepala tiga itu. Namun Fira berusaha jadi istri yang baik untuk Kirsandi.
Berjalannya waktu, dari tahun ke tahun keluarga mereka kembali harmonis. Fatih selalu memantau dari jauh melalui komunikasi telepon. Kirsandi mulai berubah baik meski masih disibukkan dengan pekerjaannya. Sampai saatnya Allah memberi amanah lagi kepada Fira dan Kirsandi, berupa lahirnya Zema.
Saat usia pernikahan keduanya di tahun keempat, mengandung hingga melahirkan Zema, ada kedamaian dalam rumah tangganya. Fira sudah tidak sedih dan merana lagi. Yang perlu ia jalani adalah syukuri nikmat yang Allah berikan. Dari situ Fira mulai bangkit, kuat dan mengambil hikmah setelah badai terlewatkan. Ia berusaha menyibukkan diri di majelis agama, mengurus suami dan dua anak hingga menyelesaikan kuliah.
Fira sadar dari ingatannya. "Tapi ..."
"Tapi, apa Kak?" tanya Rahline mengernyit dahi.
Fira mendongak ke langit-langit kamar. Untuk kesekian kalinya ia merasakan pilu di hatinya. Namun dengan mengungkapkan ini, lambat laun akan terasa ringan beban yang dipikulnya.
"Huft---pada saat usia pernikahan kami jalan enam tahun. Kami hendak berlibur ke Jakarta bersama keluarga. Tapi Mas Kirsandi menelepon tidak jadi berlibur karena dia ..." Sejenak Fira memejamkan mata kemudian berkata lagi. "Mas Kirsandi ternyata akan bercerai dengan istri lain. Aku kaget, bagaimana bisa dia menikah lagi tanpa sepengetahuanku? Jadi Mas Kirsandi ternyata diam-diam menikah lagi. Aku sakit hati lagi, bak disambar petir di siang bolong walau tanpa hujan."
Rahline terkesiap. "Ya Allah."
"Singkat cerita, terjadilah kecelakaan yang dialami Mas Kirsandi. Rasa sakit hati yang aku rasakan berubah menjadi rasa takut kehilangannya. Dipikiranku hanya ingin minta maaf kepada Mas Kirsandi. Selama ini belum jadi istri yang sempurna untuknya. Ingin marah tidak bisa, ingin menyalahkan pun tidak ada gunanya. Ingin berselisih pun bukan waktunya. Karena waktunya datangi cintamu, cintamu memanggilmu. Walaupun pada akhirnya Allah lebih sayang kepada Mas Kirsandi," jelas Fira.
Bola mata Rahline yang mengembun hingga tidak tertahan air mata menetes di pipi. Ia menyeka pipinya yang basah dengan jilbabnya.
"Kenapa Rahline menangis?" tanya Fira.
"Maafkan Rahline, Kak. Kalau tahu seperti ini, Rahline tidak jadi menjodohkan Kakak dengan Bang Rafi. Rahline khawatir, Bang Rafi belum tentu yang terbaik untuk Kakak," jawab Rahline. Ia seketika memeluk Fira. "Kakak fokus bahagiain anak-anak aja, ya. Dengan cerita seperti ini, aku bisa ambil hikmahnya juga. Aku bingung mulai dari mana. Tapi, bisa jadi pelajaranku kedepannya kelak, jika aku menikah."
"Kakak doakan kamu mendapatkan jodoh yang baik dan sholih, ya. Yang mencintai kamu karena Allah." Fira mengukir senyum di sudut bibirnya.
***
"Kenapa kamu enggak cerita ke Abang juga tentang ini?" tanya Rafi.
Rafi sontak membuka pintu dengan kasar. Mendengar kisah Fira dengan Kirsandi yang diucapkan tadi, membuat Rafi gemetar. Ia paling tidak bisa melihat sahabat kecilnya terluka. Sepasang mata Rafi nanar menatap Fira.
"Bang Rafi---Henry! Sejak kapan kalian ...?" Fira tercengang lantas menoleh ke arah Rafi dan Henry.
"Kamu tahu, Abang paling enggak bisa melihat kamu sakit," ucap Rafi menampilkan kecemasannya.
"Kalian sudah tahu masa laluku sampai membuatku trauma dan sulit percaya cinta. Sekarang aku ingin berbicara serius kepada kalian," tegas Fira. Wanita berbaju rumah sakit itu memutar kursi roda dengan kedua tangan.
"Tentang?" tanya Henry.
"Abang enggak peduli dengan masa lalumu, Fir. Abang yakin kamu bisa pulih dari traumamu," ujar Rafi.
"Enggak semudah itu, Bang!" hardik Fira, "aku sudah tahu kalian berdua mencintai aku. Pertama, Abang diam-diam mencintai aku sejak kecil kan? Kedua, Henry mencintai aku dalam doa, sejak kapan kamu mencintai aku?" Fira lantas nanar menatap Henry.
"Sejak aku berkenalan dengan Mbak Fira di grup WhatsApp. Mulanya, aku kira Mbak Fira masih lajang. Makin hari aku kagum kepada Mbak Fira, karena sharing ilmu agama dan motivasi di grup WA kumpulan motivator itu. Aku jadi terenyuh. Jujur saja, Mbak Fira itu kriteria jodoh impianku. Dulu, Indria selalu mengingatkanku, kalau Mbak Fira itu sudah berkeluarga tapi aku enggak percaya. Suatu hari, kita pernah bertemu di stadion bola Semarang. Mbak Fira marah besar gara-gara aku tidak sengaja menendang bola ke Zayn hingga jatuh. Dari situ aku percaya dan sadar diri. Terakhir, Mbak datang ke SMA. Jujur saja, aku tidak sanggup melihat Mbak Fira terluka," ungkap Henry secara gamblang.
"Henry ..." Fira hanya bergeming lantas memalingkan muka dan bergumam, "aku pernah memotivasi orang lain tapi aku enggak bisa memotivasi diriku."
"Apa!" pekik Rafi hingga membuat Fira, Henry dan Rahline terperanjat.
"Baiklah, kalau begitu, aku bicara serius kali ini!" tegas Fira, "maafkan aku, aku tidak bisa memilih di antara kalian berdua. Aku juga masih trauma mencintai. Tapi ..."
Fira belum menyelesaikan pembicaraan, Rahline justru menyela pembicaraan Fira. "Rahline enggak berpihak kepada Bang Rafi maupun Henry. Rahline berpihak kepada Kak Fira saja."
"Kalian enggak perlu dekati aku tapi dekati saja Zayn dan Zema. Aku serahkan pilihan ada di tangan Zayn dan Zema, karena hati mereka masih jujur, bersih dan polos. Dan merekalah yang ingin Papa baru." Ucapan Fira ini mampu membuat Rafi dan Henry bungkam.
"Betul sekali," kata Rahline mendukung Fira.
"Jika memang jalannya dari Allah, aku menikah lagi, aku juga berusaha menjalani masa istikharah. Tapi, pilihan tetap di tangan anak-anakku," ujar Fira, "jika Zayn dan Zema sudah memilih salah satu di antara kalian. Aku ingin seorang serius ke jenjang berikutnya. Walau aku masih sulit mencintai. Jika sudah ada pilihan tepat dari Zayn dan Zema, aku terima dan hargai pilihan mereka. Sebisa mungkin aku buka hati untuk pilihan anak-anakku. Mungkin, aku akan belajar mencintai Papa baru anak-anak."
"Insyaallah, aku setuju!" tegas Henry.
"Tapi kalian juga menjalani masa istikharah. Jaga jarak denganku. Biarkan aku fokus ke karir, keluarga dan istikharah saja."
Fira menjalankan kursi roda sendirian. Ia hendak keluar dari kamar. Di sana Rafi sigap menghampiri Fira, kemudian bersimpuh di hadapan Fira. Tatapan Rafi memelas saat menatap Fira. Namun Fira justru melengos dari wajah Rafi.
"Kamu sudah tahu Abang mencintaimu. Izinkan Abang melamarmu. Abang ingin menghalalkan cinta ini dengan pernikahan," pinta Rafi.
Henry menarik baju Rafi hingga Rafi berdiri di hadapannya. Henry sontak tidak bisa menahan rasa cemburu dan geram. Rafi terperanjat atas perlakuan Henry. Dua pria itu saling menatap sinis.
"Eh, apaan? Mas Rafi jangan main curang dong! Harus bersaing secara sehat dan jantan. Memangnya yang mencintai Mbak Fira itu Mas Rafi saja? Aku juga!" kilah Henry hingga giginya gemetar.
"Namun sayangnya, aku tidak mencintai kalian berdua! Assalamu'alaikum, aku pamit mau ke taman. Aku jenuh di kamar terus. Ayo Rahline kita ke taman rumah sakit!" ujar Fira mengajak Rahline pergi meninggalkan Rafi dan Henry.
"Mas Rafi enggak dengar apa yang dijelaskan Mbak Fira tadi? Jaga jarak dengan Mbak Fira. Dekati anak-anaknya. Kuncinya adalah anak-anaknya, paham? Sudah peka belum?" tegur Henry.
"Entah!" hardik Rafi meninggalkan Henry dengan wajah yang kesal. Ia jalan sembari menghentakkan kaki dengan kasar, seakan hatinya tidak menerima keputusan dari Fira, ditambah Henry yang kini jadi saingannya.