Energy Of Love

Energy Of Love
Akhir Yang Memilukan (?)



Alat pendeteksi jantung terus berbunyi. Alat itu terpasang pada dada Fira, menandakan jantungnya masih stabil. Wanita itu di dalam ruangan operasi yang cukup dingin. Tubuhnya terbujur kaku di kasur operasi. Darah bercucuran sampai jatuh ke lantai. Kedua mata Fira tertutup rapat dan bibirnya jadi pucat.


Di ruang nyaris gelap tapi masih ada satu sorotan lampu besar. Tim dokter melakukan operasi untuk Fira dengan hati-hati dan teliti. Tubuh Fira ditutupi sehelai selimut. Alat-alat medis terpasang di beberapa bagian tubuhnya. Beberapa perawat sigap membantu dokter dan menyiapkan peralatan untuk operasi.


Darah terus mengalir dari kepala Fira hingga kasur operasi nyaris berwarna merah. Tim dokter jadi kalut dengan kondisi Fira. Beberapa perawat berusaha menyediakan wadah guna menampung darah yang tercucur itu. Perawat juga terkejut dan khawatir melihat keadaan Fira. Darah yang bercucuran bisa mengancam nyawa Fira.


"Macam mana ini, Dok? Darah Puan ini banyak sangat, sedangkan persediaan golongan darah O di hospital ni sikit je. Kita butuh seseorang guna penderma darah untuk Puan ini," usul salah satu dokter bedah pertama.


"Iya, Tuan. Nasib baik, jika ada yang berkenan jadi penderma darah untuk dia. Mesti benturan keras menyebabkan kepala kirinya banyak keluarkan darah," ujar dokter bedah kedua yang memakai kacamata bening.


"Apa perlu saya sampaikan persoalan ini kepada sanak familinya, Dok?"


"Sila saja. Itu lebih baik," perintah dokter, "kawan-kawan, kita selesaikan operasi Puan ini dengan baik!"


Tim dokter beserta perawat melakukan tindakan operasi pada Fira dengan sebaik mungkin. Dimulai dari kepala kiri Fira yang bocor hingga darah masih mengalir. Tim dokter panik tapi tetap tenang dan profesional, sewaktu-waktu nyawa Fira bakal terancam. Mereka berusaha melakukan yang terbaik untuk keselamatan Fira. Jemari mereka piawai melakukan pembedahan di bagian kepala kiri Fira. Salah satu dokter selalu siaga melihat alat pendeteksi jantung. Salah satu perawat juga was-was menyentuh nadi Fira.


***


Rafi meringkuk seraya menangis di depan ruang operasi untuk menunggu kabar keadaan Fira. Tubuhnya yang gagah seketika terkulai lemas. Ia meratapi cintanya yang terbaring di ruang operasi. Rafi pilu sampai meremas kuat rambutnya. Tangisan itu pecah hingga membasahi pipinya.


Pria berkulit kuning langsat itu sangat terpukul dan menyesal karena mengingat ucapannya yang menyakiti Fira. Meski Rafi patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan, ia masih ada perasaan dalam kondisi genting.


Jika Fira terluka, Rafi juga ikut terluka. Ia tidak ingin kehilangan sahabat kecilnya itu. Tidak seharusnya-- Rafi melukai Fira karena ucapan yang terlalu keras. Rafi memandangi pintu ruang operasi, belum ada tanda dokter yang keluar dari situ. Ia berharap ada keajaiban yang menyelamatkan nyawa Fira. Harapan itu sedikit meredakan ratapannya saat seorang perawat keluar dari ruang operasi. Rafi menyeka air mata lantas berdiri tegap dan menggenggam bahu perawat-- seolah tidak sabar mendengar kondisi Fira.


Pria bermata bulat itu berharap ada keajaiban dari Sang Maha Kuasa yang akan menyelamatkan Fira. Namun lain halnya dengan tanggapan perawat itu menunjukkan ekspresi sedih dan berat untuk mengatakan. Rafi berusaha membaca jalan pikiran perawat. Ia sabar menunggu sepatah kata dari perawat yang mengetahui kondisi Fira saat ini.


"Masa ini, Puan itu sangat butuh darah banyak, sedangkan persediaan golongan darah O di hospital ini sikit sangat. Ada pendarahan di kepala Puan itu. Apa Anda sanak familinya?" ujar seorang perawat wanita.


"Tak perlu banyak tanya ke saya! Saya nak jadi penderma darah untuk Fira. Nyawa Fira lebih penting. Apapun itu, saya lakukan untuk Fira. Saya dan Fira punya golongan darah O. Ambillah darah saya!" Rafi mendesak perawat sampai napasnya tersengal-sengal.


"Baiklah, saya panggil dokter dahulu untuk bermusyawarah dengan Anda, supaya kami segera melakukan test darah Anda dan ambil darah Anda untuk Puan."


Perawat wanita itu kembali masuk ke ruang operasi. Tidak butuh waktu yang lama, ia keluar bersama dokter. Dokter mempersilakan Rafi untuk mengikutinya. Rafi seperti hidup kembali-- hendak mendonorkan darah untuk cinta dalam diamnya itu. Dokter dan Rafi berjalan di sepanjang koridor rumah sakit sembari berbincang tentang kondisi Fira yang tengah kritis.


Naomi dan Rahline berusaha mengejar Rafi tanpa mengenal lelah. Dua gadis itu melihat Rafi sedang bersama dokter dan perawat. Orang-orang sekitar rumah sakit melihat keheranan saat keduanya berlarian. Namun, Rahline dan Naomi tidak menghiraukan sekitar. Keduanya hanya ingin tahu kondisi Fira dari Rafi.


Naomi dan Rahline sangat berharap Fira masih diberi kesempatan hidup oleh Allah. Rahline seketika menarik bahu Rafi yang hampir saja terombang-ambing. Rafi sendu menatap adik sepupunya. Rahline mengatur napas yang tersengal-sengal dengan tubuh setengah membungkuk.


"Kak Fira gimana, Bang?" tanya Rahline penuh cemas.


"Fira pendarahan di kepala dan butuh donor darah. Sekarang juga-- Abang akan donorkan darah untuk Fira. Nyawa Fira lebih penting. Anak-anaknya masih butuh Ibunya. Fira segera mungkin harus bisa diselamatkan," jelas Rafi lesu.


"Lantas, gimana dengan Abang?" tanya Rahline lagi dengan reaksi tercengang.


"Sudahlah, enggak perlu pikirkan Abang. Doakan aja yang terbaik. Abang menyesal atas ucapan Abang sendiri ke Fira di menara tadi. Di sisi lain, Abang enggak ingin kehilangan dia," tutur Rafi pilu tapi masih bisa tersenyum simpul.


"Ya Allah, Abang." Rahline seketika lunglai seraya menitikkan air mata.


Rafi berjalan tegap masuk ke dalam laboratorium rumah sakit. Ia yakin dengan keputusan mendonorkan darah untuk Fira. Naomi dan Rahline termangu dan khawatir. Lisan mereka senantiasa bergumam mendoakan keselamatan bagi Rafi dan Fira. Hanya Allah yang melindungi dua manusia yang sedang bertaruh nyawa di ruang operasi.


***


Rahline dan Naomi duduk di bangku seraya menunggu dan mencemaskan keadaan Fira dan Rafi. Lisan dua gadis itu selalu mengucap doa dan dzikir kepada Allah. Naomi merangkul dan memeluk Rahline yang makin lemas dan pasrah.


Keluarga Fira dan Rafi datang secara bersamaan. Ratih tergopoh-gopoh menghampiri Rahline dan Naomi sembari menggendong Zema. Sementara Catherine menggandeng Zayn berlari karena menangis mendengar kondisi sang mama. Sepanjang koridor rumah sakit, Zayn dan Zema menangis tersedu-sedu. Ikatan batin dua anak dengan mamanya tentu sangat kuat. Malam ini, mama tercinta mengalami masa kritis di ruang operasi.


Rahline memeluk erat Catherine. Air mata gadis manis sontak tumpah membasahi pundak budenya. Catherine membalas dekapan hangat dari keponakannya. Seorang ibu pasti merasakan sakit bila putranya sakit.


Naomi memeluk erat Ratih, kemudian memeluk Zema dan Zayn. Ratih membelai lembut kepala Naomi yang berbalut hijab. Mereka menumpahkan air mata dalam pelukan. Sementara Fatih terkulai lemas di dinding hingga meringkuk di lantai, tidak kuasa mendengar kondisi putri sulungnya saat ini.


Bryan dan Firman cekatan merangkul Fatih. Semua duka dirasakan bersama. Tidak ada waktu untuk saling menyalahkan. Semua kejadian ini sudah ada garisnya. Mereka menangis seraya tiada henti berdoa untuk Fira dan Rafi.


Langit malam terjadi kilatan petir sampai hujan mengguyur Kota Kuala Lumpur, Malaysia. Tiada bulan dan bintang yang menyinari angkasa malam, seketika lenyap ditelan awan hitam pekat. Sama seperti suasana kesedihan yang menyelimuti dua keluarga itu.


"Bude," ucap Rahline menyesakkan dada. Ia betah dalam dekapan Catherine, ibunda Rafi.


"Iya, Lin. Bude berdoa untuk Rafi dan Fira. Semoga operasinya berjalan lancar," ujar Catherine menyeka air mata Rahline.


"Mama, Mama! Zayn enggak mau kehilangan Mama. Nanti Zayn dan Zema sama siapa? Ayah udah pergi selamanya. Zayn enggak mau Mama pergi. Mama!" Tangis Zayn semakin jadi hingga matanya memerah.


"Zayn berdoa yang terbaik untuk Mama, ya, Nak. InsyaAllah, Allah mendengar doa anak sholih. Mama pasti sembuh dan kita bisa berkumpul kembali," tutur Ratih berusaha menenangkan cucu pertamanya sambil membelai lembut rambut Zayn.


"Gimana kalau kita salat Isya dulu? InsyaAllah, dengan salat dan doa, Allah mudahkan semuanya," ajak Fatih sesenggukan.


"Biar saya yang menjaga Zayn dan Zema. Nanti bisa bergantian salatnya," usul Naomi menawarkan diri menjaga dua anak Fira.


"Oh, iya, Bryan ikut jaga Zayn dan Zema sama Kakak ini. Barangkali nanti ada kabar dari dokter tentang kondisi Bang Rafi dan Kak Fira," usul Bryan.


Bryan memangku Zayn yang tertidur pulas. Begitu pula Naomi memangku Zema yang juga tertidur lelap. Keduanya tidak bisa tidur dan tetap berjaga di depan ruang operasi.


Rahline bersama orangtua Fira dan Rafi sedang melaksanakan salat di mushola rumah sakit. Dalam situasi yang menegangkan seperti ini, mereka sulit tidur, karena dua anggota keluarga sedang menghadapi antara hidup dan mati.


***


Waktu sudah berjam-jam tapi dokter tidak kunjung keluar dari ruang operasi. Ikatan kekeluargaan yang membuat mereka sabar menunggu kondisi Rafi dan Fira. Mereka yakin ada pertolongan dan keajaiban dari Allah. Oleh karena itu, mereka memperkuat doa untuk keselamatan Fira dan Rafi.


Dua keluarga kini berserah diri kepada Allah. Berharap masih ada titik terang untuk Fira dan Rafi yang sedang dilanda kerenggangan nyawa. Jam digital di gawai Bryan menunjukkan pukul 00.00 waktu Singapura. Mata mereka mulai tidak kuat menahan kantuk. Akan tetapi, hati masih ada harapan untuk keselamatan Fira dan Rafi.


Mereka hanya bisa menunggu di bangku walaupun terkantuk-kantuk. Fatih dan Ratih perlahan menghampiri Naomi yang sedang memangku Zema. Kedua orangtua Fira berdiri di hadapan Naomi yang sedang duduk di bangku. Gadis berkacamata bening mendongak ketakutan melihat raut wajah Fatih. Takut-- jika Fatih akan menyalahkan Naomi.


"Naomi, tolong sampaikan ke Henry, Ibu dan Ayahmu bahwa saya merestui Henry dengan Fira," ungkap Fatih.


"Om!" Seketika ketakutan Naomi sirna berubah menjadi haru. "Serius ini, Om-Tante?" Naomi tercengang-- tidak menyangka dengan ucapan Fatih, kemudian menyeka air mata yang membasahi pipinya.


"Saya serius. Saya bernazar kepada Allah, kalau Fira bisa melewati masa kritis, saya akan merestui hubungan Henry dengan Fira-- iya 'kan, Bu?" ungkap Fatih sembari menatap Ratih.


"Kebahagiaan Fira dan cucu kami begitu berharga. Mereka pantas bersatu dan bahagia," tutur Ratih dengan mata berkaca-kaca.


Naomi bersujud syukur kepada Allah dan di hadapan orangtua Fira. Zema yang tertidur lelap itu masih dalam gendongan Naomi. Fatih dan Ratih mencegah Naomi bersujud di hadapan mereka. Naomi lantas menciumi punggung tangan Fatih dan Ratih sebagai rasa hormat dan terima kasih.


"Terima kasih atas restunya, Om dan Tante," tutur Naomi sangat terharu.


"Tapi, kapan Henry bisa pulang?" tanya Fatih.


"InsyaAllah, setelah lima tahun, Henry berencana mempersunting Fira. Soalnya begini Om-Tante, Henry menjaga amanah Papi untuk meneruskan perusahaan yang mulai surut dan sambil kuliah di Amerika," jawab Naomi


"Wah, lama sekali, ya," ucap Ratih.


"Saya pastikan Henry benar-benar serius. Henry juga bilang ke saya, ada keinginan untuk menikahi Fira. Maafkan Henry yang membuat Fira harus menunggu selama itu."


"Itu tinggal Fira sendiri, sanggupkah Fira menunggu Henry selama lima tahun kedepan?"


"InsyaAllah, saya segera sampaikan ini kepada Henry dan orangtua saya." Naomi tampak semangat karena restu Fatih sudah berpihak kepada adiknya dengan Fira. Ia terenyuh karena di balik musibah pasti ada hikmah.


Di tengah obrolan Naomi, Fatih dan Ratih, orangtua Rafi hadir di sana. Catherine dan Firman mendengar percakapan tentang restu untuk Henry dan Fira. Namun, tidak sedikitpun keduanya mencerca. Justru Catherine dan Firman turut bahagia dengan kabar baik ini.


Firman bersalaman dengan Fatih sebagai bentuk selamat atas restu yang diberikan kepada Fira dan Henry. Catherine juga bersalaman dengan Ratih sekaligus mengucap selamat. Keluarga Rafi dan Fira sudah seperti keluarga sendiri.


"Saya tahu Rafi dan Fira tidak ditakdirkan berjodoh. Saya enggak mau memaksakan takdir Allah. Jika takdir Fira bersama Henry, kami menerima lapang dada. Bahkan kami ikut bahagia. Yang penting keluarga kita tetap menjalin silaturahmi, ya, Pak-Bu," ungkap Firman seraya merangkul Fatih.


"InsyaAllah, pasti itu, Pak Firman. Kita membentuk keakraban sudah lama. Jangan sampai hanya gara-gara ini hubungan silaturahmi kita renggang," ucap Fatih.


"Kami minta maaf, kalau selama ini ada khilaf dan salah ke jenengan. Minta maaf sebesar-besarnya, kalau Fira menolak cintanya Rafi," ungkap Ratih sambil mengatup kedua tangan.


"Enggak apa-apa, Bu Ratih. Memang jalannya sudah seperti ini. InsyaAllah, Rafi bakal menemukan jodohnya sendiri, kelak. Fira dan anak-anaknya pantas bahagia. Fira juga seperti putri saya sendiri," ujar Catherine.


"Oh, iya, saya mau menyampaikan bahwa setelah Rafi pulih, kami akan pindah ke Toronto, Kanada. Usaha yang dibangun Rafi selama satu setengah tahun di sana-- udah maju. Rafi akan meneruskan usahan di Kanada. Semoga dengan kesibukan Rafi pada bisnis, dia bisa move on dari Fira," jelas Firman.


Meski masih diterpa badai hujan, suasana jadi damai dan harmonis. Tiada saling menyalahkan dan pertikaian di antara dua keluarga. Semua berlapang dada dengan jalannya masing-masing.


Di tengah perbincangan mereka, dua dokter menghampiri dua keluarga pada waktu dini hari. Dokter bersahaja itu memancarkan senyum. Dua dokter yang menangani Fira dan Rafi saling menatap seraya menghela napas. Fatih dan Firman membuka mata lebar berharap ada kabar baik dari putri-putranya. Mereka menunggu dua dokter itu berbicara terlebih dahulu.


"Derma darah Tuan Rafi untuk Puan Fira dan operasi Puan Fira berjalan dengan baik. Puan Fira telah melewati masa kritis dan hampir menjumpai maut tapi Tuhan masih berikan kesempatan hidup kepada Puan Fira. Hanya saja, kondisi Tuan Rafi istirahat total dan Puan Fira mengalami koma. Namun, segera mungkin mereka akan pulih," jelas seorang dokter ahli bedah.


"Namun, Puan Fira yang mengalami luka serius dan perlu operasi mata sebab mata kirinya kena jalani terapi. Ada beberapa luka di mata kiri Puan Fira yang akan menyebabkan kebutaan." Seorang dokter spesialis mata menjelaskan kondisi mata Fira kepada keluarga Fira.


Dua keluarga itu bersyukur Rafi dan Fira diberi keselamatan oleh Allah. Suasana sedih nan duka berubah menjadi terharu dan bahagia. Doa mereka untuk Fira dan Rafi didengar oleh Allah.


Doa yang disertai dengan keyakinan kepada Allah. Doa yang disertai mengucap asma Allah, memuji dan mengagungkan Allah. Memohon pertolongan hanya kepada Allah. Dengan perantara dokter, nyawa Fira dan Rafi bisa terselamatkan. Dua keluarga itu tinggal menunggu Fira dan Rafi pulih, hingga kembali menjalani kehidupan masing-masing.


- Tamat di season satu -


Sampai jumpa lagi di novel Energy Of Love season 2. Perjalanan kehidupan dan kisah cinta ini masih berlanjut ke musim berikutnya. Terima kasih untuk teman-teman yang berkenan membaca kisah Henry, Fira dan Rafi.


Saya bersyukur, bisa sejauh ini menulis kisah Energy Of Love sejak pertengahan bulan Mei 2019. Alhamdulilah, berakhir pada pertengahan bulan Desember 2019. Semua tuntas dengan baik.


Tanpa Allah, mungkin saya tidak bisa menulis kisah sepanjang ini. MasyaAllah, terharu dan senang. Semoga teman-teman bisa memetik hikmah dan makna dari novel Energy Of Love.


Tokoh-tokoh Energy Of Love juga terinspirasi dari orang-orang terdekat maupun publik figur. Alur kisahnya beberapa persen terinspirasi dari dunia nyata penulis maupun orang-orang terdekat. Saya minta maaf kalau ada kesalahan dan kekeliruan dalam kepenulisan serta alur cerita.


Info tentang Energy Of Love juga ada Instagram, Tik-Tok dan Halaman Facebook @energyoflovebyfml.


Salam energi cinta dari saya Famala Dewi.