
Sore ini pekerjaan Fira sudah selesai. Wanita berparas ayu itu merebahkan sejenak punggungnya di kursi. Pandangan Fira menoleh ke arah jendela. Di luar sana langit mulai terlihat jingga. Sudah berbulan-bulan ia menetap di Singapura. Rutinitas seperti biasanya yaitu bekerja di restoran.
Setelah sakit yang telah dilampaui, Fira kembali menyibukkan diri. Ia harus fokus ke karir dan membangun masa depan untuk anak-anaknya. Saat ini pula Fira sedang menjalani masa istikharah. Mengingat masa Iddahnya telah lama usai. Namun, rasanya biasa saja dan petunjuk juga tak kunjung hadir. Apa karena hati itu masih ada rasa ketakutan untuk menikah lagi? Entahlah! Batinnya.
Anyway, dengan adanya keputusan masa istikharah yang Fira buat ini. Antara dirinya, Henry dan Rafi menjaga jarak. Meski Fira satu pekerjaan dengan Rafi, namun selama ini ia sengaja tidak menyapa Rafi atau sekadar mengobrol basa-basi dengannya. Kecuali ada kepentingan dalam urusan pekerjaan.
Lucunya, dengan sikap dingin dan judes Fira kepada Rafi, membuat Rafi semakin ingin dekat dengan Fira. Namun Fira tidak akan menggubris karena ia dan Rafi bukan anak kecil yang terus dekat.
Melihat gelagat Rafi rasanya tergelitik sendiri. Dari raut wajah lelaki berparas rupawan dengan alis tebal itu penuh kesabaran menghadapi jaga jarak ini. Walau terkesan gregetan. Semenjak jaga jarak ini, Fira diam-diam memperhatikan jika Rafi sudah tak lagi berpihak pada video Narutonya. Justru berpihak, seakan ingin mengobrol dengan Fira. Sekali lagi, Fira tak menghiraukannya.
"Hebatnya seorang jika sudah cinta, yang menjadi kegemarannya pun lantas ditinggalkan. Demi mendekati pujaan hatinya. Pikirku sih seperti itu, hahaha. Eits---cinta, sih, cinta tapi perlu di rem juga dong. Kan belum halal sih! Entahlah, apakah Abang Rafi telah menjalankan ikhtiar untuk dekat dengan anak-anakku atau belum? Kalau cinta sama Ibunya. Cinta juga sama anaknya dong. Betul apa betul?" ucap Fira berbicara dengan dirinya sendiri.
"Sedangkan Henry, aku tidak tahu kabarnya. Setelah aku sakit lampau itu, Henry benar-benar menjaga jarak denganku, hingga tak ada lagi batang hidungnya. Mungkin di sana dia sibuk dengan pekerjaannya. Padahal aku sering melewati apartemen Lucky Plaza tapi aku tak pernah menjumpainya. Astaghfirullah, dasar Fira tukang kepo! Jujur saja, fotoku yang ada perasaan tertulisnya, masih aku simpan. Ya, iyalah masa fotoku sendiri mau aku buang?" imbuh Fira.
Kalau melihat perasaan tertulis dari Henry, Fira jadi bergidik. Pasalnya pria yang tiga tahun lebih muda darinya itu bukan kriteria Fira. Masa sama brondong? Dari dulu Fira geli soal ini. Pun mengingat kata orang-orang, kalau punya suami yang usainya terpaut lebih muda dari istrinya itu tidak bakalan langgeng.
Terkesan kekanak-kanakan dan tidak bisa membimbing. Justru condong memanfaatkan istrinya saja bahkan malah yang bimbing istrinya. Nah loh kan? Itu membuat Fira semakin horor saja.
"Ah, tapi mau dewasa atau brondong pun tergantung orangnya juga sih. Oh, iya, by the way, kira-kira Henry sudah menjalani ikhtiar dekat dengan anak-anakku atau belum, ya? Sejauh ini aku belum pernah tahu ikhtiar mereka berdua mendekati anak-anakku. Ya, aku berdoa semoga Allah gerakan anak-anakku untuk memilih Papa baru yang tepat. Tapi, kalau tiap telepon anak-anak sih pembahasan seperti biasanya. Enggak ada pembahasan tentang Bang Rafi ataupun Henry." Fira menimpali.
Sejenak Fira melirik jam dinding di ruangannya. Sudah hampir jam tiga sore waktu Singapura. Fira bergegas mengemasi barang-barang terlebih dahulu. Hari ini ia pulang sore karena ingin belanja. Punya keinginan membelikan mainan untuk Zayn dan Zema di Lucky plaza.
Semua sudah beres. Waktunya Fira pulang. Wanita dengan tinggi 160 sentimeter itu bergegas ke luar ruangan.
***
Fira keluar dari ruangan dan menutup pintu ruangan. Saat ia membalikkan badan, sontak ia terkejut dengan Rafi. Berdiri tepat di hadapannya. Rafi nanar menatap Fira. Fira lantas jadi tergugu, sebab Rafi semakin berpas-pasan dengannya. Selangkah Fira mundur. Punggungnya tertopang daun pintu. Di sisi lain, Fira mengepal kuat tangan kanannya. Jaga-jaga, jika sewaktu-waktu Rafi berbuat aneh padanya.
"Awas saja kalau Abang macam-macam denganku. Tangan ini siap baku hantam!" gumam Fira.
"Kamu telah menyiksaku," lirih Rafi.
Fira tercengang bukan kepalang. Ia mengernyit dahi. Bingung dengan ucapan Rafi sembari bertanya-tanya, "menyiksa bagaimana?"
"Dari kecil kita selalu bersama. Sekarang, dewasa ini, kamu ingin jaga jarak dengan Abang? Abang rasa Abang enggak bisa!" protes Rafi.
"Bang, masa kecil dan dewasa ini berbeda. Aku ingat kata Abang, jika Abang melihatku sebagai wanita dewasa bukan gadis kecil lagi. Begitu pun denganku, aku melihat Abang sebagai pria dewasa bukan anak laki-laki lagi. Oleh karena itu, aku menjaga jarak dengan Abang supaya tidak timbul fitnah. Apalagi statusku janda ini," jelas Fira secara lugas.
"Abang tidak peduli dengan statusmu!" elak Rafi.
"Abang jangan berpikir sepintas saja. Aku juga seorang Ibu. Aku punya dua anak. Aku harus menjaga kehormatan diri sebagai Ibu. Paham enggak maksudku?" Fira dengan santainya meninggalkan Rafi. Alih-alih ada celah untuk menghindari Rafi.
Fira berlari kecil menuju pintu keluar restoran. Namun lagi-lagi Rafi dapat menghadang Fira secepat kilat. Fira mendadak berhenti sembari menghentakkan kakinya. Kelakuan Rafi membuat Fira kesal. Fira melengos. Sementara Rafi meringis melihat kekesalan Fira.
"Tunggu dulu," sergah Rafi.
"Tunggu melulu, memang enggak bosan apa, ya?" gerutu Fira kesal. "Kenapa Abang betah menungguku? Sampai rela melajang begitu lamanya."
"Karena cinta pandangan pertama tidak tergantikan oleh siapapun," jawab Rafi.
"Oh, begitu. Ya, sudah dekati saja cinta pertama itu," ucap Fira berlagak manis.
"Benarkah? Boleh dekat denganmu nih? Kamu kasih kesempatan Abang?" Rafi semakin optimis.
"Nah itu, sudah adzan Ashar kan? Dekati cinta pertama yaitu Allah subhanahu wa ta'ala. Permisi, aku mau dekati cinta pertamaku, assalamu'alaikum."
Fira langsung keluar dari restoran. Ia berlari menenteng tasnya. Di sisi lain, Rafi bengong. Ia melongo karena ucapan Fira menusuk relung hatinya. Seketika pipi Rafi memerah bak kepiting rebus.
***
Fira sengaja melaju kencang kemudinya karena ia hendak sholat di Masjid Sultan Singapura. Setibanya di sana, ia terburu-buru turun dari mobil sembari menenteng tas selempangnya. Ia angkat sedikit gamisnya supaya mudah berlari menuju tempat wudu.
Di tempat wudu, Fira melepaskan kaos kakinya, kemudian meletakkan kaos kaki dan tasnya di lantai bibir masjid. Fira berwudu sesuai urutannya. Ketika air wudu membasahi wajahnya, tampak cantik dan alami tanpa polesan kosmetik. Langsat dan bersih. Tetesan wudu itu bertengger di bulu matanya yang lentik. Kalau saja ada seorang Adam melihat wajah polos dan alami Fira pasti akan terpanah. Namun di sana hanya kerumunan wanita muslimah yang ingin salat dan sekadar istirahat.
Di sana bukan hanya Fira saja, banyak sekali orang-orang yang berkunjung di masjid itu. Masjid yang indah nan mewah ini terkenal di Singapura. Tak jarang orang-orang yang berkunjung di sana pun jadi betah. Ada yang sedang khusyuk melakukan amalan di masjid. Pun anak-anak juga berlarian riang di sekitar masjid.
Lima menit kemudian, Fira telah usai melaksanakan salat Ashar. Setelah dua kali salam bagian akhir salat, ia ambil tasbih di tas untuk beristighfar dan berdzikir kepada Allah. Ia pun bersholawat untuk Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
"Astaghfirullahal 'adzim," ucap Fira sebanyak tiga kali.
"Subhanallah," ucap Fira sebanyak tiga puluh tiga kali.
Fira melanjutkan dzikir selanjutnya sebanyak tiga puluh tiga kali. "Alhamdulillah."
Dan lagi dengan dzikir dengan bilangan yang sama. "Allahu Akbar."
"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala ali sayyidina Muhammad. Hasbi Rabbi jalallah. Maa fii qalbii ghairullah. Nur Muhammad shalallah. Laa Ilaha illallah."
Begitu dzikir yang tertutur dari lisan Fira. Ia tetap duduk bersimpuh seraya menundukkan kepala. Batinnya merasa tentram setelah berdzikrullah, kemudian Fira menengadahkan kedua tangan seraya berdoa disertai keyakinan yang kuat.
"Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim, ampunilah dosaku. Ampunilah dosa kedua orangtua hamba, sayangilah mereka seperti menyayangi hamba di waktu kecil. Jadikanlah Zayn Achmad Al Khoiri dan Zema Abian Achmad tumbuh menjadi anak sholih, sehat, cerdas dan berakhlak yang baik. Taat kepada-Mu dan Rasul-Mu. Hormat dan khidmat kepada orangtua. Serta bermanfaat bagi Agama, Nusa dan Bangsa," ucap Fira sembari memejamkan dua matanya.
"Ya Allah, hadirkanlah Papa baru untuk anak-anak hamba, yang otomatis akan menjadi pendamping hidup hamba. Sosok yang bisa menjadi imam keluarga dan membimbing keluarga di jalan Allah. Sosok yang mencintai keluarga karena-Mu. Hamba ingin yang terbaik bagi-Mu dan anak-anak hamba. Hanya Engkau yang Maha Mengetahui sedang hamba tidak mengetahui. Hanya Engkau yang Maha Kuasa. Sedang hamba mahluk tidak kuasa. Hanya Engkau yang Maha Sempurna. Sedang hamba mahluk penuh kekurangan. Rabbana hablana min azwajina wa dzuriyyatina qurrota a'yun waj'alna lil muttakina imamaa. Rabbana aatina fidunya hasanah wa fill aakhirati hasanah waqina adzabannar. Aamiin yaa rabbal alamin." Fira lantas mengusap wajah dengan dua tangan.
Kini Fira beranjak dari tempatnya, kemudian melipat mukena dengan rapi. Ia juga mengembalikan mukena di almari masjid.
Saat berada di teras masjid, Fira memasang kaos kaki terlebih dahulu di dua kakinya yang jenjang. Setelah itu memakai sepatu flat berwarna hitam praktis menutupi seluruh kakinya. Fira beranjak keluar dari halaman Masjid Sultan menuju ke mobil yang ia parkir di sebrang jalan.
Hati-hati sekali Fira menyebrang jalan. Dari kejauhan ia melihat ada mahluk kecil berbulu putih kecoklatan di bawah mobilnya. Fira bergegas menghampiri mahluk kecil berbulu malang itu. Sesampainya disana, Fira jongkok dan mengelus kucing mungil yang jinak itu.
"Meong," lirih kucing kecil sejenis anggora. Kurus terlihat tak terurus dan matanya sayu seolah mengiba kepada Fira.
"Ya Allah, mpus kamu sakit, ya? Lapar, ya? Yuk, sini ikut aku," kata Fira. Ia menggendong kucing itu. "Pasti kamu tidak punya pemilik dan keluarga, ya. Sampai kelihatan enggak terurus begini. Insyaallah, aku akan merawatmu, ya."
Fira memutuskan membawa kucing anggora kecil itu ke apartemennya untuk dirawat. Ia masuk ke dalam mobil. Mengambil bantal kecil di mobil untuk tempat tidur kucing mungil itu. Kucing mungil itu pun berbaring menikmati kehangatan bantal yang diberikan Fira. Kini Fira mengemudikan mobilnya ke arah jalan Orchard, Singapura.
***
Lucky plaza adalah tempat perbelanjaan yang terletak di jalan Orchard, Singapura. Di sana juga, Henry menetap di flat apartemen. Fira meletakkan mobil di tempat parkir. Ia melihat kucingnya sedang tertidur pulas. Dibukanya sedikit jendela mobil supaya ada udara masuk di dalam mobil, karena Fira meninggalkan kucing mungil itu di mobilnya.
Sementara Fira ingin berbelanja di plaza itu, tentunya juga belanja makanan dan perawatan untuk kucing yang baru saja ditemukannya. Fira bergegas masuk ke dalam plaza. Ia celingak-celinguk mencari supermarket. Ketika Fira setengah perjalanan dalam plaza tersebut, tampak dari belakang Henry bergegas menyusul Fira.
"Assalamu'alaikum, Mbak Fir," sapa Henry.
"Wa'alaikumsalam, hei Henry, kamu di sini juga," ucap Fira dengan ramah.
"Aku memang kerja sekaligus tinggal di apartemen, gimana sih, Mbak? Satu paket, hahaha. Mbak Fira di sini sedang mencari apa?"
"Oh, iya, ya. Anu, aku mau ke supermarket nih. Ya, biasalah belanja kebutuhan, mainan Zayn dan Zema."
"Oh, ya sudah, aku antarkan saja. Kebetulan aku kerja di supermarket. Tinggal pilih supermarket apa? Mau yang lokal atau Korea? Tapi aku di supermarket Korea sih," jelas Henry.
"Ya sudah, terserah deh, aku ikut saja, hehe. Aku enggak bisa berlama-lama karena di mobil, aku meninggalkan Theolona teman baruku," kata Fira.
"Theolona? Siapa itu? Teman baru? Cowok?" Henry tercengang dan bertanya-tanya.
"Bukanlah! Hahaha, kamu pikir aku ini wanita apa? Theolona itu kucing yang baru aku temukan tadi. Setelah salat Ashar di Masjid Sultan. Nasibnya malang sekali di bawah mobilku. Ya, aku putuskan untuk merawatnya," timpal Fira.
"Oke, izinkan aku membantu belanja, ya."
"Ya sudah deh, terima kasih, ya, Hen. Maaf, merepotkanmu."
"Aku enggak merasa direpotkan hehehe," ujar Henry cengengesan.
Henry bergumam sembari tersenyum. Mata sipitnya terpaku memandang wajah Fira. "Waktu membantu kucing begini. Fira jadi lupa, kalau kami sedang jaga jarak. Tak apalah, sekali-kali membantumu, Fira."