
Fira berdiskusi dengan Naomi di sofa. Naomi mengangguk, mulai paham penjelasan Fira. Wanita berkerudung krem itu menunjukkan data-data tentang laba, omzet dan target pasar restoran di sosial media maupun lapangan.
Naomi terpukau dengan penjelasan Fira mengenai target yang tepat untuk restoran ini. Wanita bermata sipit itu saksama mendengar celotehan Fira. Ia mengubah duduk menjadi menyandarkan punggung di sofa, karena merasa pegal-- duduk terlalu lama.
Naomi sejenak jam dinding di ruangan kerja, karena dari pukul 7.00 hingga 8.30 malam, Fira berceloteh tentang tugas asisten manajer. Ternyata tugas sebagai asisten manajer bukan hanya mengatur data-data, melainkan menemani Fira mengawasi dapur, seisi restoran beserta karyawan.
Ditambah, jika sewaktu-waktu ada konsumen yang komplain atas pelayanan restoran. Manajer dan asistennya juga harus menyiapkan mental yang kuat. Sebagai manajer tetap ramah, sabar, meminta maaf dan mengalah saat menghadapi konsumen yang tidak puas dengan pelayanan restoran.
"Saya ini orangnya gampang terpancing emosi, Bu," ungkap Naomi.
"Eh, kamu kira saya enggak apa? Saya juga gampang emosi, hahaha. By the way, jangan panggil Ibu dong. Panggil saja Fira. Umur kita sebaya to?" ujar Fira.
"Wah, saya kira kamu itu orangnya penyabar loh. Dari wajahmu kelihatan kalem. Emm, iya deh, Fira," ucap Naomi.
Fira mengacungkan jempol kepada Naomi. "Nah gitu dong, Naomi, hehehe."
Fira melirik jam tangan pemberian Rafi. Tidak terasa sudah menunjukkan jam sembilan malam, pertanda sudah waktunya pulang kerja. Ia langsung mengemasi barang-barang pada tempatnya. Tidak tanggung-tanggung, Naomi juga turut membantu Fira mengemasi barang-barang.
"Naomi, kalau boleh jujur. Wajahmu itu mirip seseorang yang aku kenal," kata Fira sembari menaruh buku-buku di lemari.
Naomi tertegun dan pura-pura membenarkan kacamatanya. Wanita berparas judes itu menahan kemudian mengembuskan napas. Sebisa mungkin, ia tepis dengan membereskan berkas-berkas yang berantakan.
"Naomi?" Fira terheran-heran karena tidak ada jawaban dari Naomi.
"Eh, anu, memangnya siapa? Sahabatmu? Atau saudaramu? Haha, wajahku ini pasaran, ya? Sampai ada seseorang yang wajahnya mirip sama aku," canda Naomi sambil memborong pertanyaan.
"Henry Lee. Dia temanku. Aku kenal dia dari medsos," jawab Fira.
Fira mendekati meja kerja seraya meraih tas selempang. Wanita bermata bulat itu menatap datar wajah Naomi yang menegangkan. Ia menilik cucuran keringat yang menetes di kening Naomi. Fira menyodorkan sebuah kotak tisu di hadapan Naomi.
"Bersihkan dulu itu keringatmu, hehehe," ucap Fira sembari mendengus. "Soalnya matamu sipit seperti dia. Terus, raut wajahmu persis dia. Entahlah, apa cuma perasaanku saja? Mungkin semenjak Henry pergi, aku jadi membayangkan orang lain seperti dia."
Usai membereskan ruangan kerja, Fira keluar dari ruangan kerja. Naomi mengikuti Fira dari belakang dan cuek atas ucapan Fira. Wanita berkerudung hitam itu bersiap diri untuk pulang kerja. Jemarinya memegang ponsel hendak memesan taksi di sebuah aplikasi khusus taksi.
"Fira, Naomi!" pekik Rafi dari belakang.
Rafi berlari kecil menghampiri dua wanita itu. Ia melambai tangan supaya mencegah langkah mereka. Otomatis kedua wanita itu menoleh ke Rafi secara bersamaan.
"Ada apa, Bang?" tanya Fira mengkerut kening.
"Besok kalian siap-siap, ya. Maaf, kalau mendadak kasih tahu ini. Pak Sandi juga mendadak kasih infonya," jawab Rafi.
"Memang, ada apa, Pak Rafi?" tanya Naomi.
"Jangan panggil Pak dong. Aku ini masih bujang!" tegur Rafi menatap sinis Naomi.
"Eh, ini cowok nyebelin banget," gumam Naomi kesal.
"To the point saja, Bang," sela Fira.
"Besok, jam tujuh pagi. Kita bertiga harus berangkat ke bandara. Kita harus menghadiri seminar para pengusaha di Surabaya. Pak Sandi enggak bisa hadir karena istrinya sakit. Acaranya di mulai jam tiga sore," jelas Rafi.
"Yeay, aku semangat nih, kalau urusan berpergian!" ujar Fira seraya tepuk tangan, bagai anak kecil yang kegirangan diajak jalan-jalan.
"Bukan urusan traveling loh, Fir," sindir Rafi.
Fira mengangguk. "Iya, tahu kok, Bang. Aku juga senang ikut seminar, siapa tahu ketularan jadi pengusaha."
"Aamiin." Rafi tersenyum sambil melihat wajah semringah Fira.
Naomi tersenyum simpul sembari membatin, "seminar para pengusaha, ya? Momen yang pas ini."
***
Tiga insan itu keluar dari restoran secara bersamaan. Sebuah taksi sudah menunggu di depan restoran untuk menjemput Naomi. Rafi cekatan menyalakan remote untuk membuka kunci mobil. Di sisi lain, Fira hanya termangu dengan bibir mengerucut karena tidak membawa mobil hari ini. Fira berselancar di aplikasi taksi dalam ponsel, hendak memesan taksi agar bisa pulang ke apartemen.
"Fira, Rafi. Aku duluan pulang, ya. Daahh," ucap Naomi melambai tangan dari balik jendela taksi.
"Daahh, Naomi. Hati-hati!" teriak Fira seraya membalas lambaian Naomi.
"Mobilmu mana?" tanya Rafi.
"Di bengkel, Bang. Mobilku sempat mogok pas mau dinyalain. Aku pagi tadi berangkat kerja pakai taksi," jawab Fira.
"Ya sudah, pulang sama Abang saja. Takutnya, malam begini jarang ada taksi."
"Aku enggak biasa kalau semobil terus sama laki-laki yang bukan mahram."
"Oh, gitu. Ya sudah, Abang pulang dululah. Tapi, kalau ada perampok atau penjahat atau hantu malam-malam gini. Abang enggak mau menolongmu loh!" kelakar Rafi.
Fira sontak merinding dan melototi Rafi. "Eh-eh, enggak mau, ah! Oke, ini darurat. Aku ikut pulang sama Abang. Tapi, jangan macam-macam loh."
Fira terpaksa ikut Rafi dalam satu mobil. Rafi tertawa gemas melihat tingkah wanita pujaannya. Ada ingin mencubit pipi Fira. Namun Rafi masih tahu batasan.
Fira agak risih duduk di bangku depan bersama Rafi. Tatapan Fira datar melihat jalan raya Kota Singapura. Sementara Rafi tertawa kecil karena senang bisa pulang bersama Fira.
"Jangan macam-macam, ya, Bang. Ingat, dosa!" tegur Fira.
"Iya-iya, kecuali kalau memang ada sesuatu yang enggak disengaja, jangan salahkan Abang!" canda Rafi menyengir.
"Pokoknya awas saja!" geram Fira sembari mengepal tangan di hadapan Rafi.
Rafi mulai mengemudi mobil, kemudian menyalakan radio yang memutar lagu-lagu. Fira hanya memandang gedung-gedung perkotaan yang dihiasi gemerlap lampu di sepanjang jalan.
***
Rafi mengantar Fira hingga ke depan flat apartemen. Fira hendak masuk ke dalam flat, tapi Rafi masih nyaman di dekat Fira. Bagi Rafi, malam ini sesuatu yang indah bersama Fira.
"Terima kasih, Bang," ujar Fira, "ya sudah, sana pulang! Enggak enak nanti dilihat orang-orang."
Fira mengibas-ngibas kedua tangan supaya Rafi beranjak pergi dari sana. Ia juga celingak-celinguk melihat sekitar, karena di hanya ada mereka berdua saja. Suasana sepi sekali.
"Kirain disuruh mampir dulu. Minum teh dulu. Malah diusir. Padahal Abang haus ingin minum gitu," kata Rafi.
"Flat apartemen Abangkan dekat. Ya, sana kalau mau minum. Jangan macam-macam, ya, sama aku! Ada Bryan, adikku di dalam," tegas Fira bersiap diri mengepal tangan di hadapan Rafi.
"Haha, bercanda kok. Oke, Abang pulang. Besok bangun pagi-pagi, ya. Kita harus berangkat jam tujuh. Ingat jam tujuh pagi!" Rafi mendelik tepat di hadapan Fira.
"Iya, bawel amat!" hardik Fira.
Rafi membalikkan badan dan pergi. Fira was-was memandangi Rafi yang sudah pergi, kemudian celingak-celinguk untuk memastikan tidak ada orang melihat mereka berdua. Walaupun tidak ada seorangpun yang melihat, Fira sangat hati-hati.
Fira membatin, "seberapa usaha kamu mengingatkanku pada masa kita yang dulu. Itu enggak akan mengubah perasaanku. Perasaanku enggak bisa dipaksakan untuk mencintaimu. Maafkan aku, Bang."
***
Fira masuk ke dalam flat apartemen, seketika dibuat tercengang. Matanya membulat karena melihat sesuatu di luar dugaan. Fatih, Ratih, Zayn, Zema, Ressa dan Nina berkumpul di ruang tengah. Fira terenyuh dan berkaca-kaca karena keluarganya datang di Singapura.
Zayn dan Zema tampan nan menggemaskan itu berlari ke arah mamanya. Fira langsung meringkuk-- menyambut pelukan dua putranya. Kerinduan mereka bertiga menggebu-gebu. Fira terharu dan menangis dipelukan Zayn dan Zema. Hangat sekali. Rasanya sulit untuk berkata-kata. Hanya bahasa cinta antara Ibu dan anak yang dapat berbicara.
"Assalamu'alaikum, anak-anak Mama. Kenapa enggak kasih kabar ke Mama, kalau kalian mau ke sini? Ah, Mama kangen, Nak!" ucap Fira penuh bahagia.
"Wa'alaikumsalam, Mama. Zayn dan Adik Zema juga kangen Mama. Kata Nenek dan Kakek, ini surprise untuk Mama. Selamat ulang tahun Mama. Zayn dan Adik Zema bakal jaga Mama," jelas Zayn.
"Mam, Mam, Mama." Suara imut itu keluar dari lisan Zema.
"Terima kasih ucapannya, sayang. MasyaAllah, gemasnya Adik Ze ini, ya. Sudah bisa bicara Mama, ya, Nak." Fira melepaskan pelukan dan mengusap lembut pipi dua putranya.
"Barakallah fii umrik, ya, Nduk," ucap Fatih dan Ratih menghampiri Fira.
Fira mendekati dua orang yang telah merawat, membimbing dan membesarkannya. Rindu Fira kepada orang tuanya tiada tara. Ia langsung memeluk erat bapak ibunya. Momen yang menyentuh hati, saat orang tua memeluk hangat putri sulung yang kini tumbuh kian dewasa.
Fatih dan Ratih jadi ingat momen Fira kecil merayakan ulang tahun memakai dress pesta berwarna merah muda dengan aksesoris cantik. Ia meniup lilin di atas roti ulang tahun. Fatih dan Ratih mencium pipi putri sulungnya. Keluarga yang bahagia di hari spesial penuh makna.
Mereka lantas melepaskan pelukan. Pandangan Fira beralih ke Bryan, Ressa dan Nina yang menghampiri dirinya.
"Barakallah fii umrik, Kakak," ucap Bryan, Ressa dan Nina membawa kado-kado untuk Fira.
"MasyaAllah, alhamdulilah, kejutan spesial yang tiada duanya. Terima kasih, ya Allah," ungkap Fira penuh bahagia.
Empat bersaudara itu saling berpelukan dan melepas kerinduan. Momen kerukunan antar saudara. Fira yang sibuk bekerja. Bryan yang sibuk kuliah. Ressa dan Nina yang sibuk sekolah sekaligus jadi aktifis sekolah.
Pemandangan malam ini, menyejukkan mata dan menentramkan hati. Energi cinta terdapat pada keluarga yang menjaga keharmonisan.
Empat bersaudara itu melepaskan pelukan. Fira menerima beberapa kado yang dibawa oleh adik-adiknya.
"Ada satu lagi kejutan yang belum kamu ketahui, Fir," tutur Ibu Ratih mengusap kepala Fira yang berbalut hijab.
"Kejutan apa lagi, Bu?" tanya Fira penasaran seraya menyeka air matanya dengan tisu.
Ratih menjawab, "kami bisa di sini karena Nak Henry yang membiayai perjalanan kami. Nak Henry ingin kamu berkumpul kembali dengan keluarga, terutama anak-anakmu."
"Iya, Ma. Om Henry juga bilang Zayn harus menjaga Mama," ungkap Zayn.
Jantung Fira seketika merasa bergedup kencang, kemudian seperti ada yang mengalir hangat dari dalam tubuhnya, seolah benih cinta mulai bersemi. Wanita berparas ayu itu bergeming. Pipinya hangat menjadi merah merona seperti tomat.
Henry lagi dan lagi, membuat keraguannya kepada sosok pemuda itu pudar. Fira tidak bisa mengelak saat hati mulai berbunga-bunga. Gurat wajah gembiranya tidak bisa disembunyikan lagi. Fira melebarkan senyuman. Ingin rasanya loncat-loncat bahagia tapi ada keluarganya di ruang apartemen.
"Ma? Kenapa Mama senyum-senyum sendiri gitu?" tanya Zayn heran menilik Mamanya.
Fira semringah sambil menjawab, "emm, kita harus bahagia dan bersyukur malam ini. Mama yang tadi lesu dan capek, sekarang berasa terisi penuh baterai semangatnya."
"Ya, iyalah! Gimana enggak bahagia banget, kalau ide kejutan ini dari Henry juga. Ciiiyyyeee ..." kelakar Bryan.
Hati Fira bagai bunga yang mulai bermekaran indah. Ia lantas membatin, "aku bahagia, ternyata Henry juga turut memberi kejutan spesial buat aku. Henry tahu hari kelahiranku. Henry juga sayang sama keluargaku. Apa aku mulai merasakan energy of love?"