Energy Of Love

Energy Of Love
Firasat



[Aku melewati lorong suram. Berjalan tak tahu arah. Tiada lagi tujuan untuk berlabuh. Pupus sudah impian bersama kepingan patah hati. Hati ini sulit menerima kenyataan pahit.]


[Kalau sudah begini, aku ingin pergi ke Kuala lumpur, Malaysia. Supaya happy! Hahaha.]


Rafi update dua postingan itu di status WhatsApp. Ke mana lagi ia harus bercerita? Hanya dapat menulis di status WhatsApp miliknya ini. Jangan ditanya lagi seberapa sakitnya hati Rafi? Sakit sekali. Remuk sekali. Rafi tidak kuat lagi. Air mata itu terus mengalir deras di pipinya. Rafi terus menggenggam erat gawai. Di dalam kamar, ia meradang sendirian. Tiada seorang pun mengetahui suramnya hati Rafi. Padam sudah impian bersama Fira. Fira redupkan semua harapan Rafi.


"Aku mendapatkan mimpi buruk bahkan ini lebih buruk! Dunia begitu kejam! Kenapa takdir tidak memihakku dengan dirinya?" keluhnya hingga geram dengan keadaan.


Lelaki yang masih berdarah Filipina dan Indonesia itu menghempaskan gawai hingga terjatuh di lantai. Persetan, jika layar gawai itu pecah dan mati. Diibaratkan seperti hatinya yang telah remuk. Sesak napas tiada henti. Rafi menangis sejadi-jadinya. Ia dekati nakas yang berisikan foto-foto kecil hingga remajanya bersama Fira. Secara kasar, Rafi mengambil foto-foto itu. Dadanya sesak, penuh luka. Gadis kecil cantik, berhidung mancung dan pemalu yang selalu ia dambakan.


Cinta pandangan pertama Rafi saat usianya tujuh tahun. Rafi tidak bisa mencintai perempuan lain selain dirinya. Hatinya sudah terpatri oleh dirinya. Nahasnya, Fira memilih terpatri dengan cinta yang lain.


"Bodoh! Selama delapan belas tahun, kusisakan hanya dengan menanti dirimu. Aku lemah karena mencintaimu! Tuhan, aku tidak kuat lagi menghadapi kenyataan ini?" keluhnya lagi.


Rafi meremas kuat rambutnya. Tubuhnya yang jenjang 178 sentimeter itu tersungkur di lantai tidak berdaya. Sangat menderita. Sangat marah. Rafi terbayang wajah Henry. Pemuda itu membawa sial di kehidupannya. Semenjak kedatangannya di Singapura, Rafi sudah menduga, Henry menaruh hati pada Fira.


"Herny, nama sial itu menghancurkan hidupku! Meleburkan cintaku pada Fira. Aku akan beri perhitungan padamu suatu saat nanti. Cam kan itu Henry!" Rafi berteriak dalam flatnya.


***


Benar-benar kelabu suasana hati Rafi. Frustasi setelah mengetahui cintanya bertepuk sebelah tangan oleh Fira. Wanita yang ia dambakan itu justru memilih Henry. Seorang pemuda yang menjadi rivalnya. Selama ini Rafi diam-diam menyimpan kebencian terhadap Henry. Akan tetapi, Rafi pandai sekali menyembunyikan kebencian itu. Supaya dapat menarik perhatian Fira.


Merasa terpuruk membayangkan sosok Henry. Ia memvonis Henrylah yang menjadi biang kerok kisah cintanya dengan Fira. Tangan Rafi memeluk erat kedua kakinya. Hingga tubuhnya terlekuk di atas lantai. Hampa dan dingin menusuk relung hati. Teringat kembali masa kecil yang telah lampau saat pertama kali berjumpa Fira. Pada saat usia mereka tujuh tahun.


Tok ... Tok ... Tok ...


Terdengar suara ketukan pintu dari rumah Rafi. Pertanda ada kunjungan dari tamu. Rafi kecil berusia tujuh tahun itu sedang asyik bermain bersama saudaranya. Ceria dan penuh tawa dengan permainan sederhana ala anak desa. Begitu ramai dan damai mengisi ruang tengah di rumah Rafi. Ayahnya Rafi sedang sibuk dengan memperbaiki sepeda itu tidak dapat membuka pintu.


"Rafi, tolong buka pintu, Nak!" perintah Ayahnya.


"Baik, Ayah." Rafi menuruti perintah Ayahnya. Ia bergegas menuju ruang depan untuk membuka pintu rumahnya.


Pintu itu sudah dibuka oleh dirinya. Rafi berdiri mematung saat matanya tertuju pada gadis kecil berkulit kuning langsat dan bermata bulat. Gadis cantik dengan rambut panjang terurai itu tersenyum pada Rafi. Rafi tak bisa berkedip lagi memandang gadis itu.


"Cantik sekali peri kecil ini," gumam Rafi terkesima memandang gadis kecil itu.


"Assalamu'alaikum, Dik. Apa benar ini rumahnya Pak Firman?" ujar seorang pria dewasa berpakaian kemeja batik menepuk bahu Rafi.


Rafi sadar dari lamunannya seraya menjawab, "Eh, wa'alaikumsalam. Iya, benar Pak, ini rumahnya Ayah saya."


"Boleh saya bertemu dengan Ayahmu?"


"Silakan masuk dulu, Pak. Saya akan panggil Ayah saya."


Pria dewasa dengan istri dan dua anaknya itu masuk ke dalam rumah Rafi. Rafi mempersilakan mereka duduk di ruang tamu. Ia juga curi-curi pandang ke arah gadis kecil itu. Kemudian berlari menghampiri Ayahnya.


Tidak butuh waktu yang lama untuk memanggil Firman, Ayahnya Rafi. Firman duduk berseberangan dengan tamu-tamunya itu. Tamunya ini berasal dari luar daerah Lumajang. Di sana Rafi turut duduk di samping Ayahnya. Ia diam-diam tidak mau melewatkan kesempatan ini. Firman bersalaman dengan pria dewasa yang usianya sepantaran dengan dirinya. Usia Ayah Rafi sekitar tiga puluh lima tahun. Firman melebarkan senyum kepada tamunya. Kemudian ia merapikan baju kaos yang melekat di tubuhnya.


"Assalamu'alaikum, Pak Firman. Maaf, mengganggu waktu anda," ucap pria itu.


"Wa'alaikumsalam, tidak masalah, Pak. Saya sedang santai. Maaf, Bapak dan keluarga ini siapa, ya?" ujar Firman.


"Perkenalkan, nama saya Fatih Faturrahman. Ini istri saya Ratih dan dua anak saya. Fira dan Bryan. Kami berasal dari Semarang. Kedatangan saya ke mari untuk mencari kontrakan yang tetap. Keluarga kami suka berlibur ke mana-mana. Di Lumajang ini kami juga akan berlibur. Kata orang-orang sini, pemilik beberapa rumah kontrakan itu Anda, Pak Firman," jelas Fatih secara gamblang.


"Ya, benar saya. Saya ada kontrakan rumah sih. Kalau boleh tahu untuk berapa lama?"


"Kalau bisa untuk setiap kami berlibur di sini saja. Saya juga seorang fotografer yang suka berpetualang."


"Wah, kalau begitu membingungkan juga, ya. Soal menentukan harga kontrakannya," ucap Firman berpikir keras.


Firman menoleh kepada putra ketiganya itu. Mata Rafi juga melirik ke Ayahnya. Seolah mereka sedang berunding secara empat mata.


"Sudah, Yah. Terima saja mereka di sini. Mengontrak di sini. Dengan begitu, wisatawan lain akan berkunjung ke Lumajang. Di Lumajang juga wisatanya bagus-bagus. Siapa tahu Pak Fatih berkenan memberi rekomendasi kepada orang-orang luar Lumajang dari fotonya. Atau dari mulut ke mulut. Benarkan, Pak?" usul Ibundanya Rafi.


Beliau datang ditengah-tengah mereka. Wajahnya ayu dan lembut. Kulitnya putih bersih berbalut daster batik. Wanita ini memiliki darah Filipina. Logat bicaranya pun masih ada logat Filipina meski beliau fasih berbahasa Indonesia. Guratan wajah masih ciri khas orang Filipina.


"Bunda!" Sontak Rafi berdiri riang. Matanya berbinar. Kemudian memeluk Bundanya itu.


"Benar sekali. InsyaAllah, Bu. Terima kasih atas usulannya," ujar Fatih.


"Baiklah kalau begitu. Saya setuju dengan usulan Catherine, istri saya. Kita buat kesepakatan saja khusus keluarga Pak Fatih, ya "


Catherine dan Ratih saling bertemu. Keduanya bersalaman hingga berpelukan. Mereka saling mengenal satu sama lain. Rafi beralih ke pangkuan Ibundanya. Ia sengaja dekat dengan Bundanya supaya lebih leluasa memandang gadis kecil yang di samping Ratih itu.


"Rafi bisa main sama siapa nih namanya?" tanya Catherine kepada Ratih.


"Ini namanya Maghfira Annisa. Dan ini namanya Bryan Muhammad," jawab Ratih.


Paras Ratih tak kalah ayu dan teduh dipandang. Ditambah dengan pakaian muslimah yang melekat di tubuhnya. Beliau memperkenalkan dua anaknya kepada Rafi. Rafi mendahului bersalaman dengan Fira dan Bryan. Fira dan Bryan menanggapi dengan baik dan ramah. Lagi-lagi, gadis kecil bernama Fira itu tersenyum manis. Membuat Rafi tertunduk malu melihatnya.


"AARRGGHH! AKU MENCINTAIMU, FIRA!" Rafi meraung keras di dalam kamarnya.


Mengingat masa lalu, pertama kali bertemu dengan Fira. Rafi semakin terpuruk. Cintanya untuk Fira belum mati. Namun, impian hidup bersama Fira sudah lenyap karena kehadiran Henry. Ia berontak dengan dirinya sendiri. Saking berontaknya, ia melemparkan barang-barang yang berada di dalam kamarnya. Persetan dan kasar. Belum puas dengan melempari barang, Rafi berlari ke luar flatnya. Pintu flat dibanting sangat kasar tanpa di kunci. Ia terus berlari kencang tanpa menoleh sekitarnya. Bayang-bayangnya pergi meninggalkan apartemen tersebut.


***


Fira sudah bersiap diri untuk berangkat kerja kembali. Ratih dibantu oleh Ressa memasak makanan untuk sarapan. Fira lebih dulu menyempatkan diri untuk menyuapi dua anaknya dengan roti dan susu. Mereka duduk bersama di ruang tengah. Rasanya masih rindu berkumpul dengan anak-anak. Sejenak ia melirik ke arah jam dinding yang bertengger di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Dilihat dari jendela flat sudah hampir cerah dengan sinar matahari.


Sebelum Fira beranjak dari sana, ia ciumi dulu pipi gemas Zayn dan Zema. Zayn pun bersalam dengan Mamanya. Fira juga menuntun Zema untuk menyalami dirinya. Ressa sigap menggantikan posisi untuk menjaga dua keponakannya itu. Ressa turut bersalaman dengan Fira. Fira berdiri dan mengambil tas serta sepatunya. Ratih bergegas menghampiri Fira sembari membawa rantang untuk bekal makan Fira di tempat kerja.


"Fir, apa sebaiknya kamu libur kerja lagi, satu hari saja? Sepertinya kamu masih kecapaian," ucap Ratih.


Entah kenapa kali ini ucapan Ratih menunjukkan kecemasan yang mendalam pada Fira. Ada firasat yang mengganjal di hati Ratih. Kecemasan yang berlebihan pada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada putri sulungnya.


"Fira enggak enak sama Pak Sandi, Bu. Masa libur lagi? Fira sudah segar dan fit kok, Bu," ujar Fira menenangkan Ibunya.


"Perasaan Ibu tidak enak sekali, Nduk."


"Berdoa yang baik untuk Fira, Bu. Dan berprasangka baik kepada Allah. InsyaAllah, hari ini baik-baik saja," imbuh Fira.


"Semenjak kejadian kamu menolak Nak Rafi dan Adnan. Ibu jadi terlalu kepikiran, Fir." Ratih menimpali.


"Sudah, enggak akan ada apa-apa, Bu. Baiklah, Fira juga berangkat kerja bersama Naomi naik mobil. Ibu percaya sama Fira. Fira ada teman juga."


"Hati-hati, ya, Nak. Banyak dzikir dan doa."


"InsyaAllah, Bu. Fira berangkat kerja dulu, assalamu'alaikum." ucap Fira menciumi punggung tangan Ibunya.


"Wa'alaikumsalam."


Ratih bergeming. Tetap berdiri di tempatnya sembari memandangi kepergian Fira. Beliau melirik dua cucunya yang sedang bermain. Ratih tidak ingin terjadi sesuatu pada Fira yang membuat dua anaknya menangis. Firasat seorang Ibu sangat tajam pada putri sulungnya itu. Perasaannya kian membuncah. Rasanya tidak bisa diam saja. Ratih punya inisiatif menyusul Fira. Beliau bergegas ke kamar Bryan.


"Bryan, apa kamu ada jadwal kuliah hari ini?" tanya Ratih.


"Enggak ada, Bu. Dosennya lagi liburan. Ada yang bisa Bryan bantu?" ujar Bryan menghentikan tugas ketiknya di laptop.


"Antarkan Ibu ke restoran yuk! Tempat Kakakmu kerja. Perasaan Ibu dari tadi tidak nyaman."


"Kak Firakan kerja, Bu? Nanti malam juga pulang."


"Firasat Ibu bilang berbeda, Bry. Ayolah!" pinta Ratih membujuk putranya.


"Bapak juga mau ikut dong!" sahut Fatih.


Bryan mengangguk setuju. Ratih menyiapkan diri dengan mengambil tas. Fatih juga bersiap diri mengikuti permintaan istrinya. Zayn dan Zema diajak ke restoran juga. Ratih memerintahkan Ressa dan Nina untuk membawa kereta dorong supaya Zema bisa naik di situ. Tak lupa, Zayn membawa mobil mainnya. Dengan penampilan ala kadarnya, mereka pun hendak berangkat ke restoran Halal Indonesia Food. Dan segera menyusul Fira.


***


Baru saja masuk di pintu restoran. Fira dan Naomi tengah mengobrol itu disambut tangisan Rahline yang tepat dihadapannya. Fira dan Naomi mendadak bergeming. Rahline bertekuk lutut dihadapan Fira. Seketika Fira tercengang dan meringkuk. Ia menggenggam erat dua pundak Rahline.


Mata Rahline memerah dan raganya terkulai lemas. Fira jadi ingat sosok Rafi. Tanpa diminta, Rahline memeluk erat Fira. Tangisnya tumpah membuat pakaian Fira basah. Untung saja, belum ada pengunjung yang datang di restoran. Sandi juga berdiri di sana. Raut wajahnya turut bersedih. Seluruh staf dan karyawan restoran juga bergeming. Fira mengedarkan pandangannya. Ia bertanya-tanya ada apa dengan hari ini?


"Bang Rafi, Kak!" teriak Rahline.


"Ada apa ini?" tanya Fira keheranan.


"Menurut informasi dari Rahline. Pak Rafi tidak ada di flat apartemennya. Pak Rafi kabur," jawab Sandi.


"Astaghfirullah!" Mata Fira terbuka lebar. Terkejut sekaligus gemetaran.


Rahline melepaskan pelukannya kepada Fira. "Ka-kamar Bang Rafi berantakan, Kak. Bang Rafi melempari semua barang-barang di kamarnya. Aku sempat melihat status WhatsAppnya. Dia sedang patah hati. Statusnya tentang suram kemudian statusnya lagi, ia ingin pergi ke Kuala Lumpur, Malaysia. Maka dari itu, aku langsung memastikan ke flatnya. Yang aku dapat Abang tidak ada di flat. Flatnya dibiarkan tidak terkunci," jelas Rahline terisak-isak.


"Aku sudah mengungkapkan pilihan yang tepat itu, Lin. Aku telah memilih Henry bukan dirinya. Bisa jadi itu penyebab Bang Rafi pergi dari sana. Aku tahu pasti kejadian ini ada risikonya," ungkap Fira.


"Aku minta tolong sama Kak Fira untuk membujuk Bang Rafi kembali. Siapa tahu Bang Rafi bisa luluh dengan Kak Fira," pinta Rahline.


"Mustahil, Lin!" elak Fira.


"Aku mohon, Kak!" Rahline memelas.


Dengan berat hati, Fira terpaksa menerima permintaan Rahline. Fira melirik ke arah Naomi. Naomi hanya bisa pasrah mengangkat kedua bahunya. Memberi isyarat kepada Fira, seolah keputusan berhak di tangan Fira. Akhirnya Fira menyanggupi permintaan Rahline. Rahline terharu permintaannya diterima oleh Fira. Saking harunya, Rahline memeluk kembali Fira. Fira melepaskan pelukan Rahline. Menyeka air mata Rahline di pipinya.


"Hubungi keluarga Bang Rafi untuk ke Malaysia sekarang juga! Keluarganya juga kekuatan untuk membujuknya," perintah Fira.


"Baik, Kak. Kebetulan keluargaku dan Bang Rafi berada di Singapura juga."


Buru-buru Rahline mengambil gawai di saku gamisnya. Jemarinya cekatan mengetik pesan melalui WhatsApp kepada Pak Firman. Beliau adalah Paman Rahline sekaligus Ayahnya Rafi. Pesan itu berisikan supaya keluarga datang ke Malaysia hari ini. Kemudian membujuk Rafi untuk kembali pulang. Tak lama setelah itu pesan Rahline langsung dibaca Pak Firman. Rahline merasa lega.


Kemudian jemari Rahline meluncur ke aplikasi pembelian tiket pesawat. Beruntung, hari ini masih ada tiket pesawat dan jadwal pesawat yang masih menerima penumpang. Ada beberapa jadwal di daftar itu. Rahline menekan jadwal siang dan tiga tiket untuk terbang ke Kuala lumpur, Malaysia. Pembayaran dilakukan langsung dari mobile banking milik Rahline.


"Alhamdulillah, Kak. Kita dapat tiket pesawat. Berangkatnya siang ini setelah dzuhur. Ayo Kak, kita masih banyak waktu! Aku juga akan menghubungi teman Bang Rafi yang ada di Kuala lumpur. Siapa tahu dia tahu info keberadaan Bang Rafi," ujar Rahline begitu antusias.


"Alhamdulillah, kalau begitu," kata Fira sekadarnya.


"Ya, sudah yuk! Biar aku yang mengemudi mobil." Naomi mengajak mereka sembari bersedia untuk mengemudi mobil.


Mereka bertiga pergi berlalu meninggalkan restoran. Fira selalu berdoa supaya hari ini selalu baik-baik saja. Memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allah. Lisannya bergumam, tak lepas dari menyebut asma Allah. Walaupun hatinya diselimuti gundah gulana.