Energy Of Love

Energy Of Love
Perasaan yang Di Istikharahkan



Aku tidak bisa terus-terusan diambang oleh perasaan sendiri. Sebisa mungkin kutepis rasa trauma yang menghantui. Perasaan yang di istikharahkan, dengan inilah aku memantapkan hati. Untuk memilih salah satu insan atas ridho Illahi. - Maghfira Annisa -


***


Setelah kepergian Henry dan usai membaca buku harian tersebut, malam yang ditemani oleh sinar rembulan. Gemerlap bintang seakan menerangi jiwa wanita berparas ayu, seperti ada sesuatu yang mengusik hati Fira.


Sebelum Fira membaca buku harian Henry, ia terlebih dahulu menelepon Hardi. Niat Fira ingin mengembalikan tiga buku ini esok hari, tapi, apa yang dikatakan Hardi malam ini?


"Tiga buku termasuk buku harian Henry adalah bagian dari Mbak Fira. Henry pernah bilang padaku, kalau buku hariannya juga buku harian Mbak Fira."


Fira kian bergidik dan mengira desiran hangat yang dirasakannya bersifat sementara tapi makin ke sini kian mengusiknya. Malam ini Fira lekas tidur di awal waktu, karena bertekad bangun pada keheningan sepertiga malam. Perlahan ia rebahkan tubuh berbalut piyama panjang itu di kasur. Wanita bermata bulat itu mulai terpejam. Dipeluknya buku harian Henry dengan hati berbunga-bunga


"Aku tidak bisa terus-terusan diambang oleh perasaan sendiri. Sebisa mungkin kutepis rasa trauma yang menghantui. Perasaan yang di istikharahkan, dengan inilah aku memantapkan hati. Untuk memilih salah satu insan atas ridho Illahi," batin Fira.


Atas izin Allah membangunkan Fira untuk salat tahajud dan istikharah. Karena dengan salat akan dapat ketenangan dan petunjuk dari Allah. Dini hari nan sejuk ini, Fira berusaha menepis rasa trauma di masa lalu walaupun mustahil sepenuhnya pulih.


Fira sungguh-sungguh menaruh harapan sepenuhnya kepada Allah. Ia dengan khusyuk bersimpuh di hadapan Sang Maha Esa. Kurang lebih setengah jam menunaikan salat tahajud dan istikharah, ia menangis tersedu-sedu. Meluapkan seluruh isi hatinya kepada Allah. Lisannya mulai berdoa dengan sepenuh jiwa dan raga.


"Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim. Berikanlah kemantapan hati ini untuk memilih pendamping hidup. Bukan untuk hamba saja, melainkan juga untuk anak-anak hamba. Hamba dan anak-anak yang ketika bersama dia-- terciptanya suasana cinta dan agama. Bersama dia pula, dapat membawa kami hingga ke surga-Mu. Hamba mengharap ridho-Mu. Hamba serahkan pada-Mu. Sosok yang berjodoh dengan diri hamba yang bengkok ini. Yang menurut Engkau terbaik untuk dunia dan akhirat. Bagi hamba dan anak-anak," ucap Fira merinding hingga menitikkan air mata.


Hanya kepada Allah-lah, Fira bisa sedekat ini. Dari ujung kepala hingga ujung jari kakinya jadi gemeteran. Apalagi saat bibirnya menyebut asma Allah penuh khidmat.


Wanita berparas teduh itu merasa ada angin berembus seolah memberinya energi. Energi yang membuat raga dan jiwa ini damai dan tentram. Flat apartemennya memang sudah sejuk dengan adanya AC. Namun, malam ini, sejuknya terasa berbeda. Bukan sejuk dari AC. Fira mempunyai firasat Allah sedang menenangkan raga dan jiwanya.


Salat tahajud dan istikharah yang telah tertunaikan, Fira jadi tenang dan sejuk. Namun, mata bulat itu mulai sayup-sayup-- rasa kantuk sudah tak tertahan-- membuat Fira hendak merebahkan diri ke kasur. Padahal ia sudah berniat membaca Al-Qur'an sembari menunggu waktu subuh tiba. Mungkin lelah itu baru terasa, hingga tak dipedulikan lagi, mukena masih membalut seluruh tubuhnya.


***


Fajar menyingsing, cahayanya sampai menembus jendela berlapis korden. Fira bersiap diri sebelum bekerja, terlebih dahulu bercermin untuk membenahi jilbab pashmina yang dirasa kurang rapi. Namun hari ini ada yang lain dari dirinya, berkaca diri, duduk terpaku di cermin.


Pandangannya datar pada cermin-- bukan sedang memperhatikan penampilannya. Fira jadi terbayang mimpi, saat tertidur pulas usai salat tahajud dan istikharah dini hari tadi. Ia sedikit mengingat kembali mimpi, karena sebagian mimpi ada yang tidak bisa diingatnya kembali.


"Mimpi itu ada seorang Ibu berbaju putih lengkap dengan jilbabnya. Aku hanya ingat sepenggal ucapan beliau. Beliau berkata untuk saat ini, lelaki itu memantaskan diri sebelum mempersunting kamu, Nak. Apa jawaban istikharahku adalah ..." Fira mendesis sembari menyentuh pipi nan ranum.


"Kak, pagi ini aku mau daftar kuliah di Universitas Singapura," ujar Bryan dengan penampilan sekeren mungkin.


Fira tidak menghiraukan ucapan Bryan. Ia masih terpaku di depan cermin. Pikirannya masih melekat oleh mimpi dan berusaha mengingat kembali. Melihat sikap diamnya Fira, Bryan menepuk pundak sang kakak.


"Makanya, aku bilang juga apa? Segeralah ungkapkan pilihan yang tepat itu. Supaya enggak menjadi beban pikiran. Kalau aku sih bisa saja bilang ke Henry dan Bang Rafi langsung soal ini. Tapi lebih afdolnya, Kak Firalah yang menyatakannya." Bryan memberi saran dan senyuman kepada Fira dari cermin.


"Kakak sudah menemukan pilihan yang tepat juga kok. Tunggu saja, Kakak akan menyatakan ini segera," ucap Fira.


"Aku enggak sabar ingin melihat Kak Fira, Zayn dan Zema bahagia," ucap Bryan memberi jeda, "ya, sudah kalau begitu, aku berangkat ke kampus dulu, ya, Kak. Doakan, semoga aku diterima. Assalamu'alaikum." Bryan menarik tangan kanan Fira untuk bersalaman.


"Wa'alaikumsalam good luck, Bryan." Fira tersenyum melihat adiknya menuntut ilmu di universitas ternama di Singapura.


***


Ketika Fira berada di lobi apartemen, berlari terburu-buru sembari membawa tas selempang dan sebungkus roti. Wanita berbalut blazer krem sontak melihat seorang gadis kecil duduk di sisi kolam renang. Fira terbelalak dan langsung menghampiri gadis kecil itu.


Rasa was-wasnya tidak tertahan lagi. Khawatir jika terjadi sesuatu pada gadis kecil yang berada di pinggir kolam renang. Padahal Fira ingin segera berangkat ke restoran karena ada rapat penting. Namun menolong nyawa anak kecil jauh lebih penting. Fira sigap menggendong gadis kecil berkulit putih. Gadis kecil nan cantik, lengkap dengan busana muslim merah jambu.


"Astaghfirullah, Adik kecil, kenapa kamu di dekat kolam renang? Bahaya sayang," kata Fira cemas.


"Rotiku hanyut di kolam renang, Tante," ucap gadis kecil mengerucut. Ia mengacungkan jari telunjuk ke roti yang mengapung di tengah kolam renang.


"Tante ada roti untukmu. Biarkan saja roti yang hanyut itu. Yang penting kamu selamat, kolam renangnya cukup dangkal."


Fira membawa gadis kecil itu ke lobi apartemen. Ada sebuah kursi sehingga Fira bisa menaruh gadis kecil itu duduk. Roti yang dibawa Fira jadi diberikan kepada gadis kecil imut. Raut wajah gadis kecil itu jadi semringah dan ceria. Fira mengelus pipinya penuh kasih sayang. Ia merasa lega karena berhasil membujuk gadis kecil yang bisa diselamatkan.


Di belakang Fira, datang seorang pria berperawakan gagah dan tinggi. Pria bertubuh atletis yang berbalut kemeja putih. Ada kacamata bening yang bertengger di mata sayunya.


Jika dilihat dari perawakan pria ini, nampaknya sudah berkepala tiga. Gadis kecil itu tambah gembira saat melihat pria yang hadir di antara mereka. Ia lekas turun dari kursi. Gadis berbalut gamis lantas memeluk pria itu seraya membawa roti yang digenggamnya.


"Papa!" seru gadis kecil itu.


"Carissa, kamu ke mana saja?" tanya pria itu seraya bersimpuh di hadapan putrinya.


"Emm, maaf, tadi saya lihat putri Anda berada di dekat kolam renang. Saya khawatir dan langsung menggendongnya. Karena rotinya hanyut di kolam renang," jelas Fira mengangkat pembicaraan.


Pria berwibawa itu lantas berdiri saat memandang Fira. Ia terpana dengan paras ayu Fira. Wajah Fira membuatnya seakan melihat sosok istrinya yang telah berpulang ke Rahmatullah. Apalagi saat Fira bersikap ramah kepada dirinya.


Fira hanya menunduk dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.10 pagi waktu Singapura. Fira merasa cemas karena terlambat datang ke restoran.


"Terima kasih, ya, Nona ..." Ucapan pria itu menggantung. Ia mengulurkan tangan hendak berjabat tangan dengan Fira.


"Saya Fira. Maaf, kita bukan mahram," jawab Fira santun. Ia mengatupkan dua telapak tangan sebagai isyarat salam tanpa bersentuhan.


"Oh, maaf. Perkenalkan saya Adnan Syarif. Oh, iya, saya baru melihat Anda di sini. Padahal saya sudah lama sekali tinggal di sini. Apakah anda penghuni apartemen baru?" ucap Adnan turut mengatupkan dua telapak tangan.


"Oh, begitu, berarti kita tetangga di apartemen ini."


"Ya, sudah, kalau begitu saya pamit dulu. Karena saya ada rapat di restoran tempat saya bekerja. Assalamu'alaikum."


Fira berlalu meninggalkan Adnan dan Carissa. Adnan masih terkesima-- menduga ini hanyalah mimpi saat berjumpa dengan Fira. Sementara Carissa tengah asyik memakan roti yang diberikan oleh Fira.


Adnan spontan membatin, "Kenapa di dunia ini, ada wanita yang mirip denganmu, Renata?"


***


Fira masuk ke dalam restoran HIF. Ternyata di dalam restoran masih sepi pengunjung. Fira mengumpulkan tenaga untuk berlari menuju ke ruangan rapat. Di depan ruangan rapat, tampaknya rapat sudah dimulai. Ia menyentuh dada yang berdebar-- khawatir sudah terlambat untuk mengikuti rapat. Namun di sisi lain, ia harus bersikap profesional.


Fira bertekad meminta maaf karena sudah terlambat mengikuti rapat sekaligus menjelaskan penyebab dirinya terlambat. Wanita itu hati-hati membuka pintu ruangan rapat. Bola matanya membulat saat melihat hanya ada Rafi, Sandi dan dua orang yang belum pernah dikenalinya.


"Ini rapat atau apa sih? Kok segini orangnya?" gumam Fira masih bersembunyi di balik pintu.


"Oh, Bu Fira sudah datang, ya. Ayo Bu, kita langsungkan rapat ini," ujar Rafi yang peka dengan kehadiran Fira. Rafi tanggap melihat Fira mengintip di balik pintu.


"Assalamu'alaikum, apa saya sudah terlambat? Maaf, kalau saya terlambat. Soalnya tadi saya menolong anak kecil dulu di apartemen," jelas Fira menunduk malu saat mengakui penyebab dirinya terlambat.


"Haha, Anda tidak terlambat kok, Bu. Justru kami baru saja ingin memulai," kata Sandi, "mari Bu, silakan duduk. Perkenalkan ini dari pihak interior. Kita akan rapat soal perubahan interior restoran. Demi kenyamanan pelanggan juga."


"I'm Maghfira Annisa, manager of this restaurant," ucap Fira ramah seraya mengatupkan dua telapak tangan, kemudian duduk bersebelahan dengan Rafi. (Saya Maghfira Annisa, manajer di restoran ini.)


"We're from the interior service. Hope we can work together well," ucap salah seorang dari pihak interior. (Kami dari jasa interior. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik.)


Rapat soal desain interior dimulai. Selama rapat berlangsung, pandangan Rafi hanya tertuju pada sang pujaan hati. Dibenaknya merasa menang, karena tiada lagi yang bisa menghalangi cintanya kepada Fira.


Rafi punya rencana segera mempersunting sahabat yang dicintainya sejak kecil. Ia tidak peduli lagi soal menentukan pilihan. Toh, Rafi sudah menyimpulkan bahwa Henry sudah pergi. Apalagi mengingat ucapan Hardi yang mengatakan Henry tidak akan kembali ke Singapura. Inilah yang membuat Rafi memanfaatkan kesempatan untuk mendekati Fira.


"Di restoran ini kebanyakan pelanggan perempuan. Apalagi di zaman sekarang, perempuan tak lepas dari eksis di depan kamera. Nah, saya ingin menciptakan restoran selain untuk menikmati hidangan, juga menikmati foto indah di restoran ini. Mereka juga bisa menandai restoran ini di media sosial mereka. Restoran ini juga dapat feedback dan dikenal setiap orang. Cuma saya bingung, suasana yang pas itu seperti apa?" jelas Sandi.


"Kalau saya sukanya yang bernuansa tahun delapan puluhan atau sembilan puluhan. Suasana vintage tapi konsep kekinian di zaman sekarang. Dihiasi dengan rumput atau dedaunan kecokelatan. Jadi, kesannya autumn gitu. Terasa enak dipandang," cakap Fira mengutarakan pendapat. Ia membayangkan suasana saat dirinya bersama Henry pernah minum kopi bersama di kafe.


"Waw, good idea," kata salah seorang desain interior yang bernama Cristian. Namanya tersemat di kartu tanda pengenal.


"Bagaimana Pak Rafi? Apa Anda setuju?" tanya Sandi membuyarkan lamunan Rafi.


Rafi terkesiap spontan menjawab, "Se-setuju, kalau konsep pernikahan saya dengan Fira seperti itu."


"Apa? Ngelantur nih, Abang!" hardik Fira.


"Wah, ada hubungan apa antara Pak Rafi dengan Bu Fira? Jangan-jangan, kalian hendak melangsungkan pernikahan, ya?" canda Sandi.


"Saya dan Pak Rafi enggak ada hubungan spesial kok. Sejak kecil kami sebatas sahabat saja." Fira lekas membantah ucapan Sandi.


Mendengar ucapan Fira barusan, Rafi seakan tersambar petir di pagi hari. Ia berekspestasi ucapan Fira akan menjawab pilihan yang tepat. Nyatanya di luar dugaan. Rafi tersentak dari kursi dan melirik Fira dengan tajam. Sementara Fira tetap bersikap santai seolah hal ini biasa saja.


***


Rafi dan Fira keluar dari ruangan rapat. Sebelum Fira memasuki ruangan kerja, ia memesan sarapan terlebih dahulu pada seorang pelayan. Sebab pagi ini, ia belum sempat sarapan. Rafi mengikutinya dari belakang. Sementara Fira persetan dengan tingkah laku Rafi. Ia terus menyibukkan diri memantau keadaan restoran.


"Maksudmu apa sebatas sahabat saja? Kamu lagi bercanda 'kan, Fir?" tanya Rafi.


"Memang kenyataannya begitukan, Bang? Kok Abang seperti enggak terima gitu?" Fira berbalik tanya dengan tatapan mendelik.


"Jadi, Abang enggak terpilih menjadi ...?"


Belum selesai pembicaraan, tak disangka Adnan hadir di antara Rafi dan Fira. Wanita itu menyambut tamu dengan ramah. Adnan datang bersama Carissa, gadis kecil yang ditolong oleh Fira pagi tadi. Carissa dididik sopan santun kepada Adnan, jika Carissa bertemu dengan yang lebih tua, ia bersalaman.


Fira begitu senang melihat gadis kecil yang memakai gamis lengkap dengan jilbabnya. Dari dulu ia mendambakan anak perempuan cantik. Namun di sisi lain, Rafi dibuat kesal dengan kehadiran Adnan.


"Ada perlu apa Pak duda pengacara itu? Kenapa bisa kenal dengan Fira?" gerutu Rafi.


"Fira, saya ke mari ingin memberikan roti untukmu. Saya mengganti rotimu tadi pagi yang diberikan ke anak saya, Carissa," ucap Adnan mengulurkan tangan yang sedang membawa paper bag.


"MasyaAllah, Pak Adnan. Saya enggak ingin balasan apapun. Saya ikhlas memberi roti itu ke Carissa. Lagi pula saya juga senang melihat anak perempuan. Apalagi secantik Carissa ini," kata Fira.


"Terima saja roti pemberian dari saya. Bisa jadi roti itu untuk sarapanmu. Rezeki tidak boleh ditolak, ya."


"Jazakallahu khoir, Pak. Maksudnya, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikkan."


"Aamiin. Kalau begitu saya dan Carissa pamit. Selamat bekerja, ya, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Henry pergi. Datang Adnan, Pak duda itu. Ergh! Kapan cintaku kepada Fira tidak dihalangi pria lain?" Rafi menggerutu kesal seraya mengentakkan kaki yang memakai sepatu formal.