
Kalau cinta tidak cukup tulisan saja. Siapapun bisa menulis dan mengatakan cinta. Namun, langka sekali untuk membuktikan dan menjaga fitrahnya cinta. - Maghfira Annisa -
***
Fira melepas penat selepas bekerja dengan duduk bersandar di penyangga kasur. Wanita berbalut piyama panjang berwarna merah muda terlihat begitu ramping. Ia pijat dahi yang agak pusing karena menghitung sesuatu. Matanya mulai sayup-sayup melirik jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam.
Fira melihat sebentar Theolona yang sudah tidur melingkar di kandang. Ia kembali fokus mencatat utang dalam buku catatan khusus.
Sepeninggal Kirsandi, Fira masih menanggung utang. Ketika Kirsandi masih ada, hidupnya memang mapan, tapi saat itu pula ujian datang bertubi-tubi. Ditambah lagi Kirsandi telah memiliki istri kedua. Fira makin pusing dibuatnya.
Selama menikah dengan Kirsandi, Fira bukan tipe wanita yang suka menuntut dan menghamburkan uang. Justru Fira punya usaha kecil-kecilan yaitu berjualan pakaian melalui jejaring sosial. Ia jarang meminta uang kepada Kirsandi. Mengingat Kirsandi pernah menghardik Fira adalah beban hidupnya. Sejak saat itu, Fira tidak ingin bergantung kepada Kirsandi. Padahal waktu awal menikah, Kirsandi suka memberi uang kepada Fira tanpa merasa beban.
Fira menghela napas dengan kasar dan membenarkan posisi duduk bersandar di bantal. Diambilnya foto berama Kirsandi dan dua anaknya. Di dalam foto itu mereka memancarkan rona kebahagiaan. Mereka mengenakan pakaian keluarga bercorak batik dengan warna merah marun. Senyum merekah terpancar dari bibir Fira dan Kirsandi. Tawa yang menggemaskan terpancar dari Zayn dan Zema. Foto itu waktu lebaran di studio foto bapaknya. Fira tiba-tiba diselimuti rasa rindu yang menggebu-gebu kepada dua putranya.
"MasyaAllah, Mama kangen kalian, Nak. Robbi habli minash sholihin," gumam Fira memejamkan mata seraya memeluk foto tersebut.
"Ujung-ujungnya aku yang menanggung semua. Siapa sih, wanita yang menjadi istri kedua Mas Kirsandi? Teganya morotin Mas Kirsandi. Utang-utang begini malah sepenuhnya karena wanita itu. Harusnya dia yang menanggungnya!" gerutu Fira jengkel.
Bryan hadir seraya melepaskan sepatu. "Assalamu'alaikum, Kak, aku pulang!"
"Wa'alaikumsalam, gimana kuliahmu?" kata Fira agak malas-malasan.
"InsyaAllah, tinggal nunggu hasil, Kak. Sambil nunggu keputusan dari kampus, aku menyempatkan diri dulu jalan-jalan keliling Singapura, hehehe," jelas Bryan sambil menutup pintu.
"Subhanallah, kamu ini. Kamu menuntut ilmu yang sungguh-sungguh, ya. Main boleh, tapi harus pandai atur waktu."
"Iya, Kak. Aku juga mulai mengurangi main gim kok. Akukan ingin sekali jadi pengusaha gitu. Supaya bisa menaikkan derajat keluarga kita lagi."
Fira geleng-geleng kepala. "Ya Allah! Ada-ada saja."
"Aku ngantuk mau tidur di sofa. Besok aku harus bangun pagi juga. Kakak juga jangan larut malam tidurnya. Daaahh."
Usai percakapan kakak-adik, Fira mengintip Bryan dari kejauhan. Ternyata Bryan sudah tidur lelap berbalut selimut di sofa. Yang terdengar hanya suara dengkuran Bryan.
Flat apartemen Fira cukup luas, tapi, jika ada Zayn, Zema dan keluarganya di sini, tidak akan cukup. Maka dari itu, Fira menyisihkan sebagian uang supaya bisa menyewa flat satu lagi untuk keluarganya.
Fira membuka buku tabungan. Gaji yang diterimanya selama ini sudah cukup banyak. Namun ia juga harus menanggung utang semasa hidup Kirsandi. Meski dua bulan lagi akan lunas, harus diberikan kepada beberapa orang melalui transfer bank. Fira pun ada tanggungan membayar flat apartemen dan lain-lain. Tidak lupa mengirim uang untuk Zayn, Zema dan orangtuanya. Fira benar-benar harus bisa mengatur keuangan. Sungguh, ia merasakan jadi seorang ibu sekaligus ayah.
Ketika menaruh buku tabungan dan catatan khusus utang-- di antara tumpukan buku-buku yang berserakan, ada buku harian Henry. Fira ingin membaca semua isi buku harian tapi kesibukan yang menghalangi. Matanya sudah mengantuk tapi masih penasaran dengan isi buku harian Henry. Sedikit demi sedikit ia baca tulisan Henry walau enggan mencernanya.
"Kalau cinta tidak cukup hanya tulisan saja. Siapapun bisa menulis dan mengatakan cinta. Namun, langka sekali untuk membuktikan dan menjaga fitrahnya cinta," ujar Fira.
"Henry, kalau boleh jujur, aku masih ragu dengan perasaanmu. Kamu pergi begini seolah menggantungkanku. Padahal aku ingin mengungkapkan pilihan yang tepat. Tapi aku enggak terbiasa mengungkapkan soal ini. Aku pemalu," imbuhnya.
"Aku hargai tulisanmu ini. Tapi semua ini tidak cukup bagiku. Menurutku, pria sejati, kalau ingin mendapatkan cinta sejati dari wanitanya, buktikanlah dengan pernikahan. Enggak cukup sampai situ, pernikahan punya perjalanan yang panjang. Awal pernikahan ada kebahagiaan dan memadu kasih berdua, serasa dunia milik berdua. Menikah enggak melulu soal cinta, tapi juga ibadah. Berjalannya waktu akan ada ujian tanpa diduga. Gejolak dan goncangan itu ada. Jika tanpa energi cinta akan runtuh tidak tersisa. Maka dua sejoli yang sudah ditakdirkan, bangun energi cinta dengan cinta Illahi dan amal ibadah."
Dering gawai Fira berbunyi dan layar memancarkan cahaya. Ia ambil gawai, jemarinya berselancar membuka sebuah pesan masuk. Pesan itu dari Sandi, bos restoran. Mata Fira mulai mengantuk sehingga membaca pesan tampak samar-samar. Sesekali ia mengusap mata kanan. Fira juga menguap kemudian ditutupi dengan telapak tangan.
[Assalamu'alaikum, Bu Fira. Maaf, malam-malam mengganggu. Besok lusa akan kedatangan asisten manajer untuk Bu Fira. Dimohon pagi-pagi stand by saja di ruangan Anda. Di sana Pak Rafi akan menemani Anda supaya bisa interview dengan asisten baru.]
Fira memainkan jari-jari lentik untuk mengetik dan membalas pesan dari Sandi.
[Wa'alaikumsalam, baik, Pak.]
Balasan pesan itu langsung terkirim ke Sandi. Perlahan Fira berbaring membenahi bantal dan memeluk guling. Matanya yang sayu perlahan jadi terpejam. Buku-buku, laptop dan gawai dibiarkan berserakan di kasur. Firatidak menghiraukan lagi jika ia masih mengenakan jilbab. Rasa kantuk yang tidak tahan lagi, membuatnya lemas dan hendak pergi ke dunia mimpi.
***
Jam dinding di dalam restoran menunjukkan pukul 11.00 siang waktu Singapura. Fira mengatur pegawai supaya dapat melayani pelanggan dengan baik. Ia keliling untuk memperhatikan kinerja pegawai. Khawatir jika di antara mereka ada yang kurang sehat hari ini.
Di sisi lain, mengingat jika ada data laba dan omzet yang belum dikerjakan. Fira akui nyaris keteteran jika mengerjakan semuabsendiri. Ia berharap yang akan menjadi asistennya itu segera datang. Jika ada teman, Fira merasa ringan menjalankan pekerjaan.
Ketika Fira sedang sibuk memperhatikan para karyawan, seorang wanita berpakaian seksi, rambutnya cokelat dibiarkan terurai itu lantas menarik bahu kanan Fira. Fira terkesiap dan nyaris terjatuh. Untung saja ia masih kuat untuk berdiri.
Fira membalikkan badan dan berhadapan dengan wanita berdandan nyentrik itu. Bibirnya menyolok dengan lipstik merah. Pandangannya tajam seakan hendak menyambar Fira. Ada gurat kegusaran yang tidak bisa terbendung lagi. Namun Fira bingung dengan sosok wanita yang di hadapannya saat ini.
Tangan kanan wanita tadi mendarat di pipi kiri Fira. Suara tamparan itu keras sekali, membuat orang-orang yang berada di restoran terkesiap. Sudut bibir Fira mengalir darah segar. Matanya berpijar karena gusar yang mendalam pada dirinya. Air matanya sedikit mengalir merintih kesakitan.
Tubuh Fira mendidih, darahnya mulai menaik. Fira tanpa ampun menjambak rambut wanita itu. Wanita berwajah galak itu menggeliat kesakitan. Rambutnya yang terurai ditarik kasar oleh Fira. Seketika rambut wanita itu jadi acak-acakan.
"Kamu siapa? Lancangnya tiba-tiba menyerang saya!" gertak Fira memelototi wanita tersebut.
"Kamu itu yang tidak tahu diri. Semenjak ada kamu, Rafi jadi menjauh dari saya!" bentak wanita itu.
Perlahan Rafi menyingkirkan tangan Fira, agar melepas jambakan di rambut wanita itu. Guratan wajah Rafi memerah, emosinya sedang memuncak. Pria itu melindungi Fira dengan membelakangi sahabat kecilnya. Wanita yang dipanggil Lisa tadi melotot, tidak menyangka jika Rafi memilih membela Fira dibanding dirinya.
"Aku benci dengan wanita gila seperti dirimu, Lisa! Kamu wanita yang suka ngejar-ngejar dan mengemis cinta laki-laki. Aku tahu kamu dari teman-teman kampus," tegas Rafi.
"Raf! Aku sungguh mencintaimu, Raf! Kenapa kamu memilih dia, hah? Aku dengar-dengar wanita itu janda anak dua, ya? Hahaha, seleramu rendah, Raf!" cerca Lisa.
"Aku laki-laki. Seandainya aku boleh menamparmu, aku tampar kamu lebih sakit dari tamparan kamu ke Fira. Fira memang janda tapi dia wanita yang sangat menjaga kehormatannya! Daripada kamu yang menggadaikan kehormatan jadi menodai cinta. Aku tahu pacarmu banyak kan? Kamu cantik tapi murahan. Jadi, lebih rendah siapa?" hardik Rafi.
"Abang, jangan diteruskan!" bisik Fira.
"Abang enggak bisa lihat kamu disakiti, Fir!" geram Rafi.
Fira menunduk dan melangkah pergi ke ruangan kerja. Ia berjalan sempoyongan usai ditampar oleh Lisa. Sementara Rafi masih berdiri tegap berhadapan dengan Lisa. Ada ketakutan pada diri Lisa karena melihat kemarahan dari Rafi.
"Kamu pergi atau aku yang akan menyiksamu? Karena kamu telah menyakiti pujaan hatiku, Fira." Rafi mengecam wanita itu dengan mata mendelik.
"Jahat kamu, Raf! Aku menyesal mencintaimu. Kamu laki-laki arogan!" bentak Lisa pergi berlalu. Ia jalan meronta-ronta tapi masih memandangi Rafi.
"Dan satu lagi, ya, aku enggak mencintaimu. Aku hanya mencintai Fira. Camkan itu!" teriak Rafi lantas mengedipkan satu mata.
Di sudut restoran, ada kursi yang hanya di tempati dua orang saja. Seorang pria bertubuh gempal mengenakan jaket kulit. Separuh wajahnya tertutup oleh masker hitam. Sepasang matanya ditutupi oleh kacamata hitam dan ada topi yang menutupi kepala.
Sosok ini diam-diam memperhatikan kejadian menegangkan tadi, kemudian mengambil gawai dari dalam saku jaket. Jarinya menekan salah satu nomor telepon untuk menghubungi seseorang. Ia menunggu jawaban telepon dari seseorang. Dalam waktu sekejap saja, telepon itu diangkat.
"Nyonya Fira ditampar, Bos!" bisiknya kepada seseorang di balik telepon.
"Bodoh! Kenapa kau enggak melindunginya? Apa aku harus ke sana?" kata seseorang yang dipanggil bos itu.
"Tugasku hanya mengawasi 'kan? Bukan melindungi. Lagi pula ada lelaki yang sangat mencintainya telah melindunginya. Yang dia sebut Abang itu."
"Please, jangan membakar cemburuku!"
"Hahaha, Bos ini bucin juga, ya, kalau lagi cemburu."
Sosok pria itu mengakhiri percakapannya dengan bos melalui telepon. Menaruh gawai kembali di saku jaketnya dan kembali mengaduk kopi yang dipesannya tadi.
***
Fira duduk bersandar di sofa dalam ruangan kerja. Dua tangannya sedang memeras kain yang basah dengan air hangat. Perasan air hangat tersebut mengucur hingga ke baskom. Fira menempelkan kain basah itu di pipi kiri. Darah yang mengalir di sudut bibirnya sudah reda. Namun memar di pipi kirinya masih membekas dan agak bengkak.
Rafi masuk di ruangan kerja Fira. Ia tampak cemas jika wanita yang sekian lama didambakannya ini terluka parah. Tanpa persetujuan dari Fira, Rafi duduk di samping Fira jadi risih hingga harus menjaga jarak duduk. Fira merintih kesakitan karena tamparan Lisa begitu kasar. Air matanya mengalir dengan sendirinya.
"Abang, aku ini enggak pantas untuk dicintai. Benar, aku ini janda yang tidak tahu diri!" ucap Fira merendah diri.
"Eh, enggak boleh ngomong gitu. Kamu itu wanita baik. Abang kenal kamu dari kecil," tutur Rafi.
Fira dan Rafi saling bertatapan. Jika melihat Fira yang sedang sakit begini, mengingatkan Rafi pada masa kecil mereka. Masa kecil saat keduanya berusia tujuh tahun. Sewaktu Fira berlibur di Lumajang untuk ketiga kalinya.
Fira pernah dicerca oleh beberapa anak perempuan sampai Fira terjatuh di tanah. Kakinya pun terluka hingga berdarah. Rafi yang melihat kejadian itu jadi tidak terima Fira disakiti oleh siapapun. Beberapa anak perempuan tadi memutuskan untuk berlari. Rafi bisa saja membalas mereka tapi ia ingat pesan Bundanya.
"Laki-laki jantan itu tidak bergulat dengan perempuan. Kalau laki-laki yang bergulat dan menyiksa perempuan itu namanya banci!" tutur Catherine. Ibunda Rafi.
Rafi mendekati Fira yang sedang jongkok, kemudian melihat kaki Fira berdarah dan terluka. Fira tidak henti-henti menangis karena dorongan kasar itu membuatnya takut.
"Eh, anak perempuan enggak boleh nangis. Harus kuat!" seru Rafi seraya merapikan rambut Fira yang panjang dan diikat ekor kuda.
"Mereka jahat, Bang! Dorong aku sampai kakiku berdarah. Huuwwaa!" protes Fira semakin terisak-isak.
"Abang enggak bisa lihat kamu nangis dan sakit gini. Kalau ada yang menyakitimu bilang Abang aja. Nanti Abang hadapi mereka. Senyum dong, jambu manis." Rafi mengusap pipi Fira yang berderai air mata.
"Ih, Abang juga jahat! Aku lagi sakit begini malah diejek jambu manis. Cubit nih!" geram Fira lantas mencubit pergelangan tangan Rafi.
"Auw! Hidungmu kan mancung seperti jambu. Terus, Abang kan cuma menghibur kamu, biar kamu ketawa wlek, hahaha." Rafi menjulurkan lidah untuk meledek Fira.
Dua insan itu tersadar dari lamunan. Fira dan Rafi saling memalingkan wajah ke arah dinding. Ternyata Fira juga mengingat masa kecil bersama Rafi dahulu. Rafi jadi salah tingkah. Cintanya kian bertambah jika mengingat masa kecil dengan Fira. Rafi sebisa mungkin menahan diri agar tidak terjadi hal negatif. Sementara Fira hanya dapat menundukkan kepala, bungkam seraya mengompres pipi.
"Senyum dong, jambu manis," ucap Rafi. Ia beranjak pergi dari ruangan.
"Abang Rafi masih ingat masa itu," gumam Fira.
Dari luar ruang kerja, Rafi membatin, "Siapa tahu dengan mengingat masa kecil kita. Kamu bisa mencintaiku lagi, Fir."