
Malam hari, Fira di dalam kamar memainkan gawai. Kamar yang luas nan mewah terasa sejuk karena AC sengaja dinyalakan. Fira menunggu kehadiran Bryan yang akan menyusulnya. Ia getar-getir menjaga rumah Khalifah yang besar, walau Khalifah berkata aman-aman saja, tetap buat Fira bergidik ngeri.
Seraya menunggu kabar Bryan, ia membuka akun Instagramnya. Fira sudah lama tidak membuka akun Instagramnya. Fira melihat unggahan foto dua cangkir kopi lampau itu. Jumlah menyukai unggahan foto itu terbilang fantastis dan pengikut baru di Instagram Fira semakin bertambah. Kini pengikut di akun Instagram Fira menjadi tujuh ratus ribu. Komentar netizen juga masih nangkring di kolom komentar pada unggahan fotonya. Sebagian netizen ada yang berkomentar baik dan ada pula berkomentar buruk.
@abcdakuorangbiasa
[@firannis07 siapanya @hey.lee7 sih? Aku ketinggalan info nih.]
@sesemaknyaputra
[@firannis07 itu janda anak dua, ya? Saya pernah dengar dari tetangganya. Ish, mana cocok sama @hey.lee7! Beda kelas, cyin!]
@epipansgariskesasar
[@hey.lee7 Oppa kejedot apa sih? Seleranya kok perempuan yang sudah tuwir dan menurutku dia biasa saja. Beranak dua lagi.]
@ululuhalu
[Enggak rela Oppa Henry sama dia @firannis07. Kayak enggak ada cewek lain aja!]
@belalikepembela
[Eh, ini pada kenapa, ya? Mbak-mbak dan Emak-emak ngurusin amat hidup @hey.lee7. Mau Herny sama Mbak @firannis07 itu bukan urusan anda semua! Kalau mereka ditakdirkan berjodoh. Lo semua bisa apa, hah? Lagi pula Mbak @firannis07 orangnya cantik dan baik. Lihatlah postingan dia sebelumnya, memotivasi banget. Aku suka kata-kata motivasinya.]
@kukupadamu
[Edan lo pada! Mengaku fans setia @hey.lee7 tapi kagak dukung @hey.lee7 berjodoh sama @firannis07. Gue selaku fans setia tetap dukung. Apapun yang menjadi keputusan @hey.lee7 kok. Ayo Bang @hey.lee7 dan Mbak @firannis07 kalian pasti bersatu dan bahagia! Gue selalu doakan yang terbaik untuk kalian.]
"Memang Henry ini siapa sih? Kok banyak banget fansnya dia? Haahh! Cuma bisa istighfar lihat komentar seperti ini," ujar Fira menghela napas.
Fira berusaha menelusuri akun Instagram Henry. Jika dilihat dari akun Instagram Henry sederhana karena unggahan foto hanya sesuatu yang estetik. Namun, jumlah pengikut Henry ada tiga juta. Fira penasaran dengan sosok Henry di Instagram.
Padahal Fira mengenal Henry sebagai pemuda yang sederhana jauh dari kata kepopuleran. Namun, Fira jadi ingat waktu di Garden by the Bay, beberapa gadis remaja meminta foto bersama Henry. Di antara gadis remaja itu selalu memanggil Henry dengan sebutan Oppa. Fira berpikir sebutan Oppa itu dari bahasa Korea yang artinya kakak laki-laki. Fira tahu sedikit tentang Korea, karena dua adik perempuannya menyukai nuansa Korea Selatan.
"Henry ini seperti bukan orang biasa deh. Pengikut Instagramnya aja ada tiga juta gitu. Tapi setiap postingannya biasa saja seputar bola, kopi dan foto candidnya," pikirnya.
Saat Fira hendak mencari tahu tentang Henry di setiap komentar pada unggahan foto Henr, terdengar bel rumah berbunyi, Fira terkejut dan bangkit dari duduk. Ia segera merapikan jilbab dan piyama panjang. Ditaruh gawai miliknya di atas nakas, kemudian Fira bergegas menuju ke ruang depan.
Bulu kuduk Fira merinding karena merasa takut--- malam-malam begini ada tamu yang datang. Sebisa mungkin ia menepis dengan menyebut asma Allah. Berdoa dalam hati meminta perlindungan kepada Allah. Fira berusaha mencairkan suasana dengan berpikir positif.
Sebelum membuka pintu, Fira membawa sapu yang berada di ruang tamu. Ia hanya ingin berjaga-jaga dari marabahaya dan menyembunyikan sapu itu di belakang punggung. Pelan-pelan ia membuka pintu rumah, ternyata tamu yang datang adalah Bryan mengenakan jaket coklat dengan membawa koper. Seketika Fira bernapas lega dan tidak merasa ketakutan lagi.
"Assalamu'alaikum, Kak," sapa Bryan.
"Wa'alaikumsalam, ah, kamu! Kirain siapa? Bikin Kakak deg-degan ketakutan saja. Kamu kok lama banget? Daritadi Kakak menunggumu loh," omel Fira mengelus dada.
"Iya, Maaf, aku kan biasa mampir makan dulu di rumah makan. Ngomong-ngomong, malam gini Kakak menyapu, ya?"
"Ini bukan lagi menyapu! Tapi Kakak jaga-jaga aja dari kejahatan yang mengintai," ujar Fira ketus.
"Oalah, hahaha, Kak Fira, Kak Fira," kelakar Bryan geleng-geleng kepala.
"Ya, sudah, yuk masuk. Kamu istirahat di kamar tamu sana! Kakak sudah minta izin sama Khalifah kok. Besok berangkat dari sini jam sepuluh siang dan jam dua siang, kita sudah ontime di Bandara Soekarno-Hatta," imbuh Fira.
"Oke, siap!"
"Kamu tidurnya jangan lelap-lelap banget, ya. Jagain rumah ini loh! Kamukan laki-laki."
"Iya-iya, aku juga akan jaga Kakak kok."
Mereka pun berpisah arah karena kamar yang disediakan untuk Fira dan Bryan berbeda. Bryan menuju ke kamar tamu sembari menggeret koper dan Fira akhirnya bisa istirahat dengan tenang karena sudah ada Bryan.
***
Pukul 10.00 siang waktu Indonesia barat, Fira dan Bryan sudah mempersiapkan diri, barang-barang pun sudah tertata untuk berangkat ke Singapura. Khalifah dan Velia sudah kembali ke rumah sedari pagi tadi.
Taksi yang dipesan oleh Fira sudah menunggu di depan rumah Khalifah. Sementara Bryan sibuk dengan gawai guna bermain gim. Wanita bergamis krem itu berpamitan kepada dua sahabatnya. Mereka saling berpelukan, rasa sedih dan berat untuk berjauhan lagi. Namun, Fira harus kembali kerja di Singapura.
"Selamat untuk kalian berdua karena sudah dilamar calon masing-masing," kata Fira, "maaf, kalau aku banyak merepotkan kalian."
"Kita seperti saudara enggak merasa direpotkan. Justru aku dan Velia yang minta maaf, meninggalkan kamu di rumah sendirian. Aku enggak tahu, pas sampai di Karawang ternyata ada lamaran mendadak dari Aa' Hariz. Surprise banget deh," jelas Khalifah.
"Iya, aku kira juga acara keluarga apa? Ternyata pas aku sampai di rumah sana, Mas Nicko juga melamar aku. Alhamdulillah, ya Allah, kepastian ada di depan mata," jelas Velia.
"Aku ikut bahagia kalau dua sahabat aku ini bahagia. Kalian sebentar lagi akan bergelar istri. Semoga lancar sampai hari H. Jangan lupa undangan nikah kalian," kata Fira.
"Ah, tenang saja. Kalau undangan pernikahan untuk kamu mah pasti didahulukan. Kamu harus datang loh, di pernikahan aku dan A' Hariz," ujar Khalifah.
"Kamu juga harus datang di pernikahan aku dan Mas Nicko, loh, hehehe," ucap Velia.
"Kamu juga Fir. Buruan menyusul nikah gitu. Segera tentukan pilihanmu yang tepat!" tegas Khalifah.
"Doakan, ya. InsyaAllah, hehehe," ujar Fira sembari memperbaiki posisi tas selempang. "Ya, sudah, kalau begitu aku pamit, ya. Aku sayang kalian semua. Salam buat Medina juga. Assalamu'alaikum." Fira melambaikan tangan kepada Khalifah dan Velia.
"Wa'alaikumsalam kami sayang kamu juga. Fii amanillah, Fira dan Bryan." Khalifah dan Velia juga membalas lambaian tangan ke Fira.
Fira dan Bryan pergi meninggalkan rumah Khalifah dan Velia. Dua saudara itu sudah menaiki taksi. Sopir taksi turut membantu memasukkan barang-barang. Fira duduk di belakang sembari melambaikan tangan lagi dari balik jendela taksi. Ia menebar senyum kepada dua sahabatnya itu.
***
Bandara Internasional Changi Singapura
Fira dan Bryan sudah tiba pada sore ini dan berjalan seraya menggeret koper masing-masing. Penampilan Bryan tampak maskulin memakai kacamata hitam, berlagak seperti model terkenal. Fira hanya menghela napas melihat tingkah adik kandungnya itu.
Di tengah kerumunan orang, Bryan berlari hingga mendapatkan salah satu taksi. Keduanya bergegas menaiki taksi. Namun, kali ini Bryan duduk di belakang bersama Fira, merasa kelelahan sekali. Kepalanya bersandar di bahu sang kakak. Fira.
"Where are you going, Madam?" tanya sopir taksi. (Anda ingin ke mana, Nyonya?)
Fira menjawab, "Would you please take me to The RC apartement." (Tolong bawa saya ke apartemen RC)
"Oh, okay."
Sopir taksi itu mengatur kemudi menuju ke apartemen Fira. Wanita berkulit kuning langsat itu menikmati megahnya Kota Singapura. Jemari dan lisannya tak henti-henti berdzikir. Ia kembali ke Singapura bukan hanya bekerja, pun memikirkan Zayn dan Zema akan tinggal di Singapura selama Fira bekerja di sini. Pekerjaan Fira terikat oleh kontrak yang sudah disetujui.
Fira juga memikirkan jawaban yang tepat untuk memilih salah satu di antara Rafi dan Henry. Dalam benak Fira ingin bertanya kepada Bryan. Apakah Zayn, Zema dan dua orangtuanya sudah ada pilihan yang tepat atau belum? Namun sayangnya, Bryan masih tertidur pulas di bahunya.
***
Taksi itu berhenti di depan apartemen RC di jalan Cairnhill Singapura. Fira dan Bryan turun dari taksi. Sopir taksi bergegas turun dari mobil kemudian membantu mengeluarkan koper milik Fira dan Bryan dari bagasi. Wanita berjilbab segitiga itu membayar ongkos taksi. Sopir taksi berterima kasih kepada Fira dan pergi berlalu.
Tatkala Fira hendak masuk ke gerbang apartemen, Bryan menahan kakaknya, siku Fira dicengkramnya dengan erat. Fira terkejut dengan sikap Bryan.
"Zayn, Ibu dan Bapak sudah memutuskan pilihan yang tepat!" tegas Bryan.
"Lantas, siapa yang menjadi pilihan yang tepat?" tanya Fira penasaran.
"Assalamu'alaikum, Fira," sapa Henry yang tiba-tiba datang di antara Fira dan Bryan.
"Wa'alaikumsalam, Henry," jawab Fira terkesima dengan kehadiran Henry.
Selangkah demi selangkah, Bryan mendekati Fira lantas mencolek bahu kakaknya. Fira melirik Bryan dengan tatapan serius. Pemuda bermata bulat itu hendak memberitahu sesuatu kepada Fira dengan berbisik-bisik.
"MasyaAllah, pilihan yang tepat itu sudah hadir," bisik Bryan.
"Maksudnya apa, Bry?" tanya Fira berdesis.
"Ya, Henry menjadi pilihan yang tepat dari Zayn, Ibu dan Bapak," bisik Bryan lagi dengan senyuman. Dua alisnya berayun-ayun saat memberitahu kabar baik.
Sontak Fira jadi salah tingkah setelah mendengar bisikan Bryan. Wajahnya merah bagai stroberi karena malu-malu sampai melengos sebab tak kuasa melihat Henry. Bryan memberi isyarat ke kakaknya dengan mencubit siku Fira, agar segera mengungkapkan pilihan yang tepat.
"Aku harus bagaimana? Kenapa Henry? Kenapa Bryan mendadak memberi tahuku? Aku belum siap mengungkapkan ini!" gumam Fira.
"Emm, maaf, kalau aku lancang memanggilmu Fira. Aku tahu kamu kembali ke Singapura. Bryan yang mengirim pesan melalui WhatsApp kepadaku. Aku ingin sekali ini saja bertemu denganmu," jelas Henry.
"Terus?" tanya Fira.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Lebih baik kamu tidak usah memilihku," jawab Henry.
Jawaban Henry barusan nyaris membuat Fira dan Bryan tercengang. Fira yang tadinya ingin mengungkapkan pilihan yang tepat, seketika ia mengurungkan niat untuk mengungkapkan itu.
"Loh, kok gitu sih, Hen? Kamu jangan bercanda dong!" hardik Bryan.
"Aku serius," kata Henry tidak enak hati saat melirik Fira. "Fira, lupakan aku. Aku pergi dari kehidupanmu saja. Kamu berbahagialah dengan Rafi."
"Kak, kenapa Kakak diam daja? Ngomong sesuatu ke Henry cepat!" Bryan mendesak agar Fira langsung mengungkapkan pilihan yang tepat itu.
"Haaahh!" desah Fira dengan sekuat tenaga menahan pilunya hati. "Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu lagi, Henry!" gertak Fira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kak! Apaan sih? Kok jadi begini? Argh!" geram Bryan seraya menjambak rambutnya.
Fira berlari kencang menuju ke gerbang apartemen. Ia tidak bisa menahan tangisan setelah mendengar ucapan Henry. Sementara Henry pergi berlalu seraya membawa tas dan koper. Namun, tiga buku Henry terjatuh di tanah termasuk buku harian. Sayangnya, Henry justru tidak peka jika bukunya jatuh di tanah. Pemuda itu terus berjalan tanpa mempedulikan sekitar.
Saat itu pula Bryan dilanda kebingungan, antara ingin mengejar Fira atau Henry. Akhirnya Bryan memutuskan untuk membawa tiga buku milik Henry, kemudian mengejar Fira seraya membawa dua tas koper.
Bryan pun menggerutu, "Mengembalikan buku milik Henry nanti sajalah. Sekarang Kak Fira dulu yang harus aku urus."