
Suara pecahan cangkir yang berasal dari seorang pelanggan restoran menjadi pusat perhatian banyak orang. Seorang pria berambut pirang sedang memaki pelayan yang tidak sengaja menumpahkan teh hangat, yang menyebabkan celana pria itu basah.
Pelayan itu seorang gadis dengan balutan seragam batik restoran yang panjang dipadukan dengan kerudung segiempat yang menjuntai. Ia tidak dapat berkutik saat dimaki-maki pria bule itu. Kejadian menegangkan itu membuat beberapa orang berusaha melerai keduanya.
"Calm down, Sir," ucap seorang laki-laki dan perempuan yang berusaha melerai seorang pelanggan dan pelanggan. (Tenang, Pak.)
"Call your manager now!" bentaknya kepada pelayan wanita itu. (Panggil manajermu sekarang!)
Ketika pelayan hendak ke ruang manajer restoran,ternyata Fira tanggap atas kejadian yang tidak sengaja itu. Karena teriakan pria bule tadi terdengar hingga ke telinga Fira. Wanita dengan balutan gamis itu hadir di tengah-tengah pria berambut pirang dan pelayan restoran supaya dapat menyelesaikan akar permasalahan.
"We're sorry about this, Sir. Sorry, if it makes you uncomfortable for service at the restaurant," tutur Fira. Ia setengah membungkuk sebagai bentuk permohonan maaf. (Kami minta maaf atas kejadian ini, Pak. Maaf, jika membuat Anda tidak nyaman untuk pelayanan di restoran.)
Pria bule bertumbuh kekar itu mendelik ke Fira. "I want compensation for this incident. I was harmed because hot tea spilled on my thigh until I was bruised. And please rebuke your restaurant waitress to be more careful." (Saya ingin ganti rugi atas kejadian ini. Saya terluka karena teh panas tumpah di paha saya hingga lebam. Dan mohon tegurlah pelayan Anda agar tidak sembarangan lagi.)
"Okay, we'll follow what you say. Wait a minute, I'll take the loss money for you." Fira begitu sabar menghadapi pria berambut pirang itu. Ia lantas membawa pelayan restoran itu ke ruangannya. (Oke, kami akan mengikuti apa yang Anda katakan. Tunggu sebentar, saya akan ambil uang kerugian untuk Anda.)
Ketika di ruang manajer restoran, Fira mempersilahkan gadis itu duduk di sofa. Pelayan restoran itu duduk perlahan dan gemetaran. Raut wajahnya terlihat pucat. Fira pun mengambil segelas air minum untuk gadis yang tampak tidak sehat. Ia merangkul gadis itu seraya memberi ketenangan kepada gadis yang dilanda ketakutan.
"Kamu yang tenang, ya, Ina. InsyaAllah, bakal baik-baik aja. Kamu perbanyak istighfar, ya," tutur Fira.
"Maafkan saya, Bu Fira. Saya enggak sengaja menumpahkan teh hangat tadi karena saya sedang kurang sehat," lirih Ina.
"Enggak apa-apa. Kamu istirahat sekarang. Saya mau berhadapan dengan bule itu untuk ganti kerugian."
Fira beranjak meninggalkan Ina sendirian di ruangannya. Ia tidak lupa membawa sejumlah uang tunai dan dimasukkan ke dalam amplop. Uang tunai bernilai dolar Singapura itu jumlahnya cukup banyak. Fira ingin menyelesaikan masalah itu sekarang juga.
***
Tatkala Fira hendak menemui pria berambut pirang, ternyata Rafi sedang mengobrol dengan pria bule itu. Percakapan dua pria itu tampak serius dan terjadi perdebatan, kemudian pria berkulit putih itu pergi meninggalkan restoran. Pria bule itu jalan sempoyongan sebab geli karena celananya basah kuyup.
"Loh, dia sudah pergi? Kok bisa?" tanya Fira keheranan.
Rafi menjawab, "Abang baru saja datang dan dapat info soal masalah tadi. Bule itu enggak sabar menunggumu. Jadinya, Abang saja yang bayar ganti ruginya. Dan tenang saja, dia sudah enggak mempermasalahkan lagi kok."
"Syukurlah kalau gitu." Fira membalikkan badan dan bergegas kembali ke ruangan.
Rafi lantas menyergah, "Fira, kenapa kamu masuk kerja hari ini? Abang sudah bilang enggak usah masuk kerja dulu. Bukannya kamu masih sakit dan shock?"
"Aku sudah sehat, Bang. Sudah ya, aku izin ke ruangan dulu," dalih Fira terlihat cuek.
"Ada apa dengan Fira hari ini?" gumam Rafi keheranan.
Fira hendak masuk ke ruang manajer restoran, pintu ruangan ternyata dibuka oleh Ina. Ia jadi berhadapan dengan Ina. Tampaknya, Ina semakin terlihat kurang sehat dan pucat.
"Bu Fira, saya izin supaya pulang awal ini, karena tubuh saya semakin meriang dan keringat dingin," keluh Ina.
"Oh, iya, kamu sangat perlu istirahat yang cukup biar fit kembali. Apa perlu saya antar ke tempatmu?" ujar Fira merangkul pundak Ina.
"Tidak usah repot-repot, Bu. Saya sudah dijemput Kakak saya di depan sana. Barusan saya telepon dia, dan terima kasih sudah membantu saya. Sekali lagi, saya minta maaf atas kecerobohan saya." Ina seketika menunduk malu.
"Sudah. Jangan bahas itu lagi. Semua sudah selesai. Yang penting sekarang kamu harus berobat dan istirahat, ya. Oh, ini ada uang untuk kamu berobat." Fira lantas menyodorkan sejumlah uang tunai kepada Ina.
Ina menolak secara halus. "Terima kasih banyak, Bu. Maaf saya enggak ingin uang itu. Ditolong Bu Fira saja, saya sudah bersyukur. Kalau enggak ada Bu Fira, entah apa jadinya saya tadi?"
"Itu sudah tanggung jawab saya sebagai manajer. Berterima kasih juga sama Pak Rafi. Karena beliau juga membayar ganti rugi kejadian tadi. Ya sudah, hati-hati di jalan dan lekas sembuh, ya."
"Baik, Bu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
***
Fira berkutat di hadapan laptop sedang mengerjakan data-data restoran. Wanita itu seperti biasa menikmati secangkir kopi susu hangat dan biskuit. Disela-sela itu, Fira jadi memikirkan cerita Rahline tentang perasaan Rafi untuk dirinya. Sungguh, ia tidak menyangka Rafi juga diam-diam mencintainya sedari kecil.
"Kalau saja dari dulu aku tahu-- berarti aku yang pernah mencintai Bang Rafi jadi terbalaskan dong? Berarti aku dan Bang Rafi saling mencintai dalam diam?" gumamnya seraya bersandar di bangku lantas berkata, "ah, tapi aku sekarang masih trauma mencintai laki-laki. Yang dulu biar berlalu. Yang sekarang, aku ingin Abang mengungkapkanperasaannya langsung. Eh, tapi nanti aku harus jawab gimana? Aku enggak ada rasa apapun sama Bang Rafi. Ah, entahlah, lihat saja nanti."
"Assalamu'alaikum, Bu Fira," sapa Nadia membuyarkan lamunan Fira saat memasuki ruang manajer restoran.
"Wa'alaikumsalam, Nad. Silakan duduk," ujar Fira.
"Maaf Bu Fira, saya terlambat masuk kerja, karena saya sedari pagi menemani adik saya latihan bola di ****National Stadium**** untuk persiapan ajang pertandingan bola mewakili Indonesia," jelas asisten manajernya.
Fira mengangguk sambil tersenyum. "Oh iya, enggak apa-apa, Nad."
"Oh iya, Bu. To the point saja. Ketika saya di National Stadium, saya melihat Henry bermain bola juga. Ternyata adik saya masih teman sama Henry. Saya tahu Henry karena lihat postingan di akun Enstagram Bu Fira dan Henry yang sempat viral itu," ungkap Nadia.
Fira melihat Nadia sedang merogoh tas dan mengambil sebuah buku harian yang tertulis 'This is Henry's' pada sampul buku itu. Fira dibuat penasaran dengan buku yang dibawa oleh Nadia.
"Nah, saat Henry buru-buru pulang, tasnya enggak di resleting, Bu. Buku hariamiliknya jatuh. Saya sudah panggil Henry tapi enggak dengar karena dia pakai earphone. Akhirnya, saya memutuskan supaya buku harian ini dikembalikan ke Bu Fira saja." Nadia menyodorkan buku harian itu kepada Fira.
"This is Henry's, emm," gumam Fira membaca sampul di depan buku harian Henry.
Ketika Fira mengangkat buku harian itu, tiba-tiba sebuah foto Fira terjatuh dari dalam buku. Wanita itu mengambil fotonya sendiri sembari terperangah. Ternyata buku harian Henry tidak ada kuncinya. Setahu Fira, setiap buku harian pasti ada kuncinya supaya privasi terjaga. Namun tidak dengan buku harian Henry.
"Loh, kenapa ada fotoku di sini?" tanya Fira melongo memegang fotonya sendiri.
"Iya Bu, saya juga kaget. Heran, ada foto Bu Fira di situ. Jangan-jangan, Henry pengagum rahasia Bu Fira, hehehe," canda Nadia tertawa kecil.
"Ah, ada-ada saja kamu. Ya sudah, kamu kembali kerja saja. InsyaAllah, saya kembalikan buku harian punya Henry. Terima kasih, ya," kilah Fira tapi jadi tersipu malu.
"Baik, Bu Fira. Tapi sebaiknya, Bu Fira baca deh di balik foto Bu Fira itu ada kata-kata romantis dari Henry. Permisi Bu." Nadia menimpali sembari menahan senyum dan keluar dari ruangan.
Mendengar saran dari Nadia barusan, membuat Fira sigap membalikkan foto. Di belakang fotonya terukir tulisan begitu rapi. Jika dilihat tulisan tangan Henry ini justru indah daripada tulisan tangannya. Tulisan tangan Fira bisa dibilang bagai cacing kepanasan.
_____________________________________________
Untuk nama dan kamu yang terindah, Maghfira Annisa.
Memohon kepada Allah supaya suatu saat kita menjadi satu yang diridhoi. Kulabuhkan cinta ini karena Dia dan untukmu. Ya, kamu sosok wanita yang aku cintai dalam doa. Dan inilah perasaan yang tertulis dariku, Henry.
Semarang, 7 Desember 20** pada jam 00.00 dini hari.
_____________________________________________
Fira tertegun melihat tulisan indah dari Henry, terasa ada desiran hangat dalam aliran darah. Ia seketika menjadi berdebar-debar. Bulu kuduk di balik gamisnya turut merinding. Menyentuh fotonya sendiri begini jadi gemetaran.
"Ya Allah, apalagi ini?" batin Fira menyangka hanya mimpi di siang bolong. Ia kemudian berpikir, "tujuh Desember kan hari kelahiranku. Tahunnya di sini tertulis beriringan dengan usia Zema yang mau menginjak satu tahun. Karena tahun depannya, tepat satu tahunnya Zema. Berarti Henry menulis ini pas hari ulang tahunku?"
"Kira-kira aku sopan enggak, ya? Lancang sekali aku buka buku harian Henry. Eh, tapi inikan ada fotoku. Aku punya hak 'kan? Sekarang aku jadi tahu, selama ini-- Henry mencintaiku dalam doa. Ya Allah, Rafi dan Henry mencintaiku? Aku ini hanya siapa? Semua ini di luar nalarku." Fira lantas menutup wajah dengan dua telapak tangan karena sadar diri.
"Hei, Fir! Kenapa seperti orang pusing begitu sih?" Ucapan Rafi yang tiba-tiba masuk ruangan mengejutkan Fira.
Fira melihat Rafi sedang membawa sebuah kardus yang berlapiskan sampul cokelat. Rafi menaruh kardus tepat di meja kerja Fira. Sementara Fira bergegas taruh buku harian Henry dan foto itu ke dalam tasnya. Jangan sampai Rafi tahu soal ini.
Fira mendadak jadi gugup. "Eh, eng-nggak ada apa-apa, Bang."
"Dasar perempuan! Jelas tadi seperti ada masalah. Selalu jawabnya enggak ada apa-apa," kelakar Rafi sembari meniru logat perempuan. "Oh iya, ini ada paket untukmu. Paketan dari Semarang. Tentunya dari Ibu Ratih. Ibumu."
"Terima kasih, Bang," singkat Fira sembari menerima paketan itu.
"Kamu lagi melamun, ya? Melamun soal apa?" tanya Rafi penasaran.
Fira justru berbalik tanya, "Abang, aku boleh minta sesuatu?"
"Minta apa? Katakan saja!" ucap Rafi masih berdiri. Raut wajahnya seolah menunggu jawaban dari Fira.
"Bang, aku ingin di antara kita jaga jarak saja, ya!" tegas Fira.
Rafi mendengus sambil melengos. "Maaf, untuk sesuatu yang ini, Abang enggak bisa melakukannya."
"Kenapa, Bang?"
"Kamu enggak perlu tahu itu. Intinya kamu itu sahabat kecil Abang yang ingin Abang jaga. Kamu pasti ingat kata-kata ini. Sudah ya, Abang pergi dulu."
Rafi beranjak pergi dari ruangan itu. Namun Fira tidak menghiraukan kepergian Rafi. Tidak ingin membuang-buang waktu, Fira segera membuka paketan kardus dari ibunya. Di dalam kardus yang berisi rengginang, kripik tempe, roti dan wingko babat khas Semarang.
Fira semringah dikirimi makanan kesukaan dari Ratih. Bagai anak kecil yang bahagia mendapat hadiah dari orangtuanya, di sana pula ada sepucuk surat dari Ratih.
[Assalamu'alaikum, anak wedok Ibu. Ibu kirimi jajanan kesukaan kamu nih, biar kamu semakin semangat kerja. Jangan suka telat makan, ya, Nduk! Zayn yang mengingatkan Ibu supaya kirimi cemilan buat Mama. Zema sudah mulai berbicara tahap demi tahap. Kami di sini merindukanmu. Kalau paketannya sudah sampai, segera kirim pesan ke Ibu melalui WhetsApp.]
Air mata Fira berlinang membaca surat dari Ratih. Menjadi perantauan di negeri Singa, membuatnya selalu merindukan keluarga nan jauh di sana. Ingin rasanya segera pulang-- memeluk dan bermain bersama dengan dua putranya. Namun, masa awal kerja selama dua atau tiga bulan yang menahan Fira untuk menetap di Singapura.
Untuk sementara waktu, Fira belum bisa pulang ke Semarang. Bahkan memboyong keluarganya di Singapura pun belum bisa. Fira lantas mengambil ponsel. Jemarinya cekatan mengirim pesan kepada ibunya melalui WhetsApp.
[Terima kasih Ibu, Zayn dan Zema sayang. Alhamdulillah, paketannya sudah sampai. Maafkan Mama, ya, Zayn dan Zema sayang. Mama belum bisa berkumpul dengan kalian. I love you more.]
"Oh iya, aku mesti kembalikan buku harian ini ke Henry. Aku sudah tahu semuanya. Aku harus segera mengambil keputusan. Henry sekalian dikasih jajanan kali, ya? Hitung-hitung sebagai tanda terima kasihku padanya, karena Henry juga sudah menolongku dari jeratan Sultan. Aku tahu pasti Henry menolongku karena dia mencintaiku." Ketika Fira mengucap kalimat cinta, hatinya menjadi berdegup kencang.
***
Fira menjadi gugup dan gemetaran saat di depan flat apartemen Henry. Ia berusaha mengendalikan diri dan ingin terlihat biasa saja. Namun tetap saja, perasaan yang tertulis dari Henry di fotonya menghantui pikiran Fira. Wanita itu mengembuskan napas lantas menekan bel flat apartemen Henry.
"Tujuanku mengembalikan buku harian dan berterima kasih ke Henry saja. Fokus Fira, harus fokus! Tulisan cinta tadi anggap saja angin lalu," gerutu Fira dengan mata terpejam.
"Ada apa Mbak Fira ke sini?" tanya Henry yang mengenakan kaos oblong putih sedang berdiri tepat di hadapan Fira.
"Ya Allah, kenapa aku jadi salah tingkah begini sih? Kendalikan diri, Fira. Bersikap biasa saja, oke!" batin Fira sembari menarik napas dalam-dalam.
Henry melambai tangan di depan wajah Fira. "Mbak Fira, halo! Ada perlu apa, ya?"
"Emm, anu, ini. Pas ada kamu, ya. Aku kira kamu masih kerja," gagap Fira sembari menggaruk kerudung, padahal tidak ada yang gatal di kepala.
Henry mengernyit karena penasaran dengan tingkah Fira. "Aku pulang ke flat sebentar sih. Setelah ini, balik kerja lagi. Anu, ini, maksudnya?"
Fira menunduk malu sembari menjawab, "ini, ada oleh-oleh khas Semarang dari Ibuku. Ya, sebenarnya untukku tapi aku kasih sebagian untukmu, sebagai tanda terima kasihku sudah menolongku dari Sultan. Dan maaf, waktu itu aku membuatmu kecewa."
"Oh, hahaha. Jangan diambil hati. Aku sedang sensitif saja waktu itu. Aku terlalu mengkhawatirkan Mbak Fira."
"Oh iya, aku kembalikan buku harianmu. Kata asistenku, bukumu jatuh dari tasmu waktu di National Stadium tadi pagi. Asistenku yang menemukannya." Fira lantas memberikan buku harian itu kepada si empunya.
"Oh iya, terima kasih loh, Mbak."
"Aku enggak baca semua isi buku harianmu kok. Hanya satu yang aku baca karena di situ ada foto aku. Dan satu lagi, tolong jaga jarak denganku. Sudah, itu saja dariku, assalamu'alaikum." Fira berbalik arah lantas berlari meninggalkan Henry, walaupun ia masih salah tingkah sejak membaca perasaan yang tertulis dari pemuda itu.
"Eh, maksudnya apa, ya?" pikir Henry, "masyaAllah, buku harianku ini! Jangan-jangan? Sebentar-sebentar."
Henry langsung menyadari dan membuka buku hariannya dan mengacak-acak setiap lembaran, sudah tidak lagi foto Fira yang bertuliskan perasaan cinta darinya.
"Astaghfirullah, Mbak Fira sudah tahu perasaan yang tertulis dariku. Fotonya sudah diambil. Pantas saja dia bersikap seperti itu. Gimana, ya, selanjutnya? Apa aku langsung melamar Mbak Fira saja? Tapi? Aduh Henry, kenapa jadi secepat ini? Kenapa buku harian ini harus sampai ke tangan Mbak Fira? Ah, bagaimana ini? Tentang cinta dalam doaku ke Mbak Fira sudah ketahuan," gerutu Henry sambil meremas rambut.
"Ono opo to, Hen? Ndumel dewe koyo wong edan," kata Hardi. (Ada apa, sih, Hen? Gerutu sendiri seperti orang gila.)
"Mbak Fira, Har! Mbak Fira, gawat!" pekik Henry seketika menggoyangkan bahu Hardi.
"Gawat apa sih?" tanya Hardi penasaran.
"Mbak Fira menemukan buku harianku lewat asistennya. Aku yang teledor ini. Buku harianku bisa jatuh gitu di National Stadium tadi. Dankamu tahu? Di buku harian ini ada fotonya Mbak Fira. Nah, itu juga sudah diambil sama dia. Di balik fotonya ada perasaan yang tertulis dariku. Mbak Fira tahu kalau selama ini aku mencintainya dalam doa. Aduh, gawat!" jawab Henry.
"Hahaha, akhirnya terungkap juga. Sudah kuduga pasti kamu ada rasa cinta, to, sama Mbak Fira. Hayoloh, Hen! Kalau Mbak Fira sudah tahu, lebih baik segera dihalalkan, eh, maksudnya dinikahi," kelakar Hardi.
"Inginku seperti itu, Har! Tapi, ada perjuangan lain yang harus aku lakukan. Kamu tahu sendirikan, aku ingin menunjukkan kesuksesan dan baktiku dulu untuk orangtuaku, karena selama ini aku di cap anak yang enggak berguna." Henry kebingungan sambil mengigit bibir.
Hardi menepuk pundak Henry dan memberikan dukungan kepada sahabat karibnya itu. "Kamu pasti bisa memperjuangkan keduanya. Antara orangtua dan wanita pujaan hatimu. Bismillah Hen, berjuanglah! Optimis, yakin dan serahkan kepada Allah. Kalau sudah jalan dan takdirnya, pasti Allah mudahkan semuanya."