
Kini, dia hadir di kehidupanku. Masih sama dengan penampilannya yang sederhana. Tuturnya yang lembut menyentuh hatiku. Senyumnya yang manis hingga terbayang dalam mimpiku.
***
Di tengah hiruk-pikuk kendaraan, sebuah motor matik hitam berhenti di halaman depan restoran Jadi Singgah jalan Pandaran Kota Semarang. Dua pengendara motor itu tampaknya sedang berdebat. Salah satunya wanita yang sedang melepaskan helm sembari merapikan jilbab abu-abu yang menjuntai hingga punggungnya.
Wanita itu turun dari motor sembari menjinjing gamis, masih berbicara dengan seorang laki-laki yang memboncengnya. Orang-orang yang sedang berkunjung ke restoran, heran melihat perdebatan pemuda dan wanita itu . Sadar akan dilihat orang sekitarnya, akhirnya si wanita merasa malu dan menyudahi perdebatan dengan seorang laki-laki itu.
"Ah, besok-besok dicek lagi dong bensinnya! Kakak jadi berkeringat gara-gara mendorong motor mogok tadi," keluh Fira sembari mengusap wajahnya dengan tisu.
"Yang punya motor Kak Fira. Aku pula yang dimarahi!" keluh Bryan, seketika wajahnya masam.
"Ya, sudahlah! Kakak sudah telat kerja. Jaga baik-baik ya, Bry! Motor satu-satunya itu."
"Ya, ya, biasanya juga aku yang bawa ke bengkel. Ya, sudah aku ke kampus dulu. Assalamu'alaikum, Kak." Bryan bersalaman dengan sang Kakak.
"Ya, hati-hati. Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
***
Fira berlari menuju ke dalam restoran. Jantungnya berpacu kencang hingga napasnya tersengal-sengal. Khawatir, jika hari ini kena teguran, ia sadar betul kalau datang terlambat. Sesekali ia menyeka keringat yang menetes di dahi. Di dalam restoran juga sudah dikunjungi oleh banyak orang. Fira berjalan melewati di tengah keramaian orang. Yang ia pikirkan saat ini ingin bertemu seseorang dan segera meminta maaf atas keterlambatannya.
"Ya Allah, enggak enak sudah telat lima belas menit begini. Pasti aku akan kena sanksi ini! Hari ini ada-ada saja, mendorong motor mogoklah, kehabisan bensinlah. Huuufff," keluh Fira.
"Fira!" pekik seorang wanita berbusana muslimah lengkap dengan jilbab segitiga. Wanita yang genap berusia tiga puluh tahunan itu menatap sinis ke asistennya.
Fira tertegun seraya bergumam, "M*mp*s aku!" Ia berusaha tersenyum ramah meski dahinya bercucuran keringat karena gugup dan berkata, "Sa-saya, Mbak Ani, hehehe."
"Tumben hari ini kamu telat," tegur Stefani memasang wajah angkuh. Kedua tangannya lantas disilangkan.
"Ee, i-iya, Mbak, tadi motorku sempat mogok. Aku dan adikku mendorong motor sampai ke POM bensin," jelas Fira.
"Oh, begitu. Emm, bye the way, ada yang mau aku bicarakan padamu."
Stefani menarik Fira hingga di depan ruangan manajer, karena obrolan ini sangat penting. Hanya ranah pekerja restoran saja yang tahu. Fira menatap heran kepada Stefani. Di sisi lain, Stefani menghela napas untuk mempersiapkan pembicaraannya.
"Bicara soal apa, ya, Mbak?" tanya Fira.
"Aku diutus Bos Lukman untuk menyampaikan ini padamu. Hari ini dan seterusnya kamu tidak bekerja di restoran ini lagi, ya," jawab Stefani.
"Loh, kenapa, Mbak? Apa ada kinerjaku yang kurang? Kalau ada kurangnya, aku mohon maaf. Insyaallah, aku akan memperbaikinya," ucap Fira kemudian menunduk lesu.
"Kinerjamu sudah cukup bagus kok. Namun sudah saatnya kamu naik kelas," ujar Stefani memuji sembari menepuk bahu Fira. Ia ikut menunduk, memberikan senyuman pada Fira.
Fira mendongak. "Maksudnya apa, ya?"
"Hahaha, begini deh. Ada sebuah restoran Indonesia tapi ternama di Singapura sedang membutuhkan manajer. Nah, Bos Lukman dan aku melihat kamu sudah memenuhi kriterianya," jelas Stefani sembari menegakkan badan yang langsing. "Ya, tinggal keputusanmu saja, bagaimana?"
"Masyaallah, alhamdulillah, Mbak. Aku berterima kasih sekali, adanya pekerjaan di luar negeri. Tapi ..."
"Tapi, kenapa?"
"Kalau bekerja di sana, apa boleh bawa anak-anakku, Mbak?"
"Sepertinya sih, enggak boleh dulu deh. Kan di sana kamu menjalani masa training dulu minimal dua atau tiga bulan. Mungkin, setelah masa training, kamu bisa ajak anak-anakmu ke sana," imbuh Stefani.
"Emm, begitu, ya. Kenapa harus aku, Mbak? Kenapa enggak Mbak Ani saja?"
"Dengar, ya, Fir. Ini rezeki kamu dan perlu disyukuri. Kalau aku, maaf, sudah punya suami jadi masih bisa terpenuhi. Kamu itu single parent, aku tahu rasanya jadi single parent. Karena Mamaku juga seperti kamu. Antara menjadi Ibu dan Ayah bagi anak-anak. Nah, ini kesempatan kamu untuk menggapai masa depan. Toh, masa depan untuk anak-anakmu juga kan?"
"Iya sih, Mbak. Tapi aku enggak tega meninggalkan dua anakku begitu jauh. Wong, bekerja di sini saja, aku rasanya ingin cepat pulang. Sudah rindu aja sama dua anakku. Ya, lihat nanti bagaimana keputusan Bapak dan Ibuku? Aku bakal musyawarah dahulu."
"Oke-oke, kami memberi waktu kamu untuk mengambil keputusan selama dua puluh empat jam. Karena lusa nanti, sebenarnya kamu sudah dipesankan tiket pesawat ke Singapura. Jadi, langsung berangkat ke sana."
"Lah? Secepat itukah?" Fira tercengang sembari mulutnya menganga.
"Kalau kamu menerima kerja ke sana. Langsung berangkat saja. Kamu enggak perlu khawatir. Di sana kamu sudah difasilitasi apartemen dan mobil untuk bekerja. Namun, kalau kamu menolaknya, ya, tidak apa-apa. Kami tidak bisa memaksamu," jelas Stefani.
"Insyaallah, aku musyawarahkan dahulu ke Bapak dan Ibuku, ya, Mbak," ucap Fira.
"Ya, sudah, sekarang kamu pulang ke rumah untuk musyawarahkan soal ini."
"Dua puluh empat jam, ya?"
"Ya, kamu harus memberikan jawaban ke kami setelah dua puluh empat jam dari sekarang."
***
Semakin berjalannya waktu, betapa banyaknya pengunjung restoran hari itu. Sebagian dari mereka ada yang menikmati makanan dari restoran dan sebagian lainnya hanya membeli makanan untuk dibawa sebagai oleh-oleh. Pengunjung restoran bukan hanya dari orang setempat saja, ada pula orang dari luar kota bahkan mancanegara.
"Mas-masnya ingin pesan apa?" tanya pelayan mempersiapkan jarinya untuk menulis pesanan.
"Kalian pesan apa, Har, Tom?" tanya Henry menatap dua sahabatnya.
"Apa, ya? Enak-enak sih, ini makanan dan minumannya," jawab Hardi kebingungan.
"Kamu apa sih yang enggak enak? Di matamu makanan dan minuman selalu enak," sindir Tommy kepada Hardi.
Mereka sudah memutuskan pesan makanan dan minuman, kemudian pelayan pun meminta kepada mereka untuk menunggu sebentar. Pelayan tadi segera ke dapur untuk menyampaikan pesanan pelanggannya kepada koki. Sementara tiga pemuda itu mengobrol basa-basi, melepas penat karena mereka sehabis di interview.
"Tumben Henry ngajak kita ke restoran mahal begini. Kesambet apa kamu?" kata Hardi terheran-heran dan menyenggol siku Tommy.
"Karena hari ini kita diterima kerja di Singapura. Aku sebagai pramuniaga di supermarket, kamu sebagai cleaning service di kantor dan Tommy sebagai pelayan di rumah makan. Kita perlu bersyukur bisa bekerja di luar negeri supaya menjadi laki-laki yang mandiri. Betul?" jelas Henry menunjukkan sikap optimisnya.
"Subhanallah, betul itu. Dan sepertinya yang membayar semua ini pasti kamu, ya, Hen. Baik sekali, ya, kamu," ujar Tommy bersemangat sambil mengangkat dua alisnya.
"Oh, tentu aku baik. Lebih baiknya lagi--- kalau kita iuran makan di sini. Sebagai bentuk rasa syukur kita. Iya kan?"
"Kami lupa bawa dompet, Brother Henry, hehehe," kata Tommy dan Hardi. Keduanya saling bertatapan.
"Oh, no problem. Pakai saja uangku dulu. Eits, nanti sampai di kost, kalian ganti, ya. Enak saja aku terus yang bayarin! Katanya laki-laki mandiri!"
"Iya, ya."
***
Di dekat lesehan yang di tempati Henry, Fira rupanya duduk di lesehan membelakangi Henry. Ia membuka tas kemudian mengambil bekal makanan dan minuman dari rumah. Bekalnya kali ini adalah bubur ayam buatan ibunya dan coffee latte buatannya sendiri. Tidak lupa pula, setiap kali hendak makan, Fira ambil gawai. Ia sempatkan untuk memotret makanan dan minuman tadi dan dibagi ke cerita media sosial. Fira menuliskan keterangan foto tersebut, selamat sarapan telat hari ini disertai gambar emoji tertawa. Sebelum makan, ia juga menyempatkan berdoa terlebih dahulu.
"Ya Allah, bagaimana aku mengatakan soal ini kepada Bapak dan Ibu, ya? Aduh, aku pusing sekali!" keluh Fira memegang kepalanya. Suaranya yang lembut itu terdengar hingga ke lesehan Henry.
"Seperti kenal suaranya," gumam Henry berbalik arah. Ia berdiri menghampiri Fira seraya berkata, "Loh, Mbak cantik! Eh, maksudku Mbak Fira!"
"Emm?" Fira menatap heran kepada pemuda yang menyapanya. Sepertinya ia agak lupa dengan sosok Henry.
"Masih ingat aku? Si mata sipit, hehehe. Mentang-mentang sudah berapa tahun tidak komunikasi lagi," imbuh Henry duduk berlawanan arah dengan Fira.
"Oh, iya-iya. Henry, ya! Aku jadi pangling sama kamu. Kamu beda sekali sekarang."
"Hahaha, aku makin tampan, ya? Jelas dong!"
"Ih, percaya dirimu ini tidak hilang-hilang, ya!" canda Fira geleng-geleng kepala.
"Apa kabar, Mbak? Lama loh enggak berjumpa. Mbak ke mana saja? Kenapa putus kontak denganku? Sekarang lagi di Semarang, ya?" Henry memborong banyak pertanyaan kepada Fira, bak wartawan sedang mewancarai narasumbernya.
"Satu-satu kali bertanyanya," tutur Fira tertawa kecil, "alhamdulillah, aku sehat. Aku ingin menjalani hidupku sendiri. Maaf, waktu dulu aku sempat ganti nomor telepon dan tidak punya kontakmu. Aku memang tinggal di Semarang. Serta aku bekerja di sini."
"Jawabannya juga borongan, hahaha. It's oke. Oh, pantas saja nomor Mbak sulit dihubungi. Tinggal di Semarang? Wah, aku baru tahu nih, kalau Mbak ada di sini. Bekerja? Memangnya Mas Kirsandi ke mana?"
"Huuff!" Fira menarik napas kemudian mengembuskannya. Ia tersenyum supaya tidak menampakkan kesedihannya dan berkata, "Mas Kirsandi lima bulan yang lalu meninggal di Jogja karena kecelakaan dalam perjalanan."
"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un, maafkan aku, Mbak. Aku enggak tahu."
"Enggak apa-apa, biasa saja. Makanya aku tinggal di Semarang lagi, karena rumahku di Jogja sudah aku jual untuk kebutuhan ekonomi."
"Kini, dia hadir kembali di kehidupanku. Masih sama dengan penampilannya yang sederhana. Tuturnya yang lembut menyentuh hatiku. Senyumnya yang manis hingga terbayang dalam mimpiku," batin Henry hingga pipinya merah merona. Mata sipitnya fokus menatap wajah ayu Fira.
Fira melambaikan tangannya di hadapan Henry hingga membuyarkan lamunan Henry. "Hen! Kenapa menatapku seperti itu?"
Henry salah tingkah sembari cengengesan. "Oh, enggak ada apa-apa, hehehe."
"Kamu sekarang kuliah atau kerja?" tanya Fira yang acuh tak acuh sambil menyantap makanannya.
Henry menjawab namun canggung. "Alhamdulillah, hari ini diterima kerja ke Singapura."
"Wah, iyakah? Sama dong!"
"Benarkah? Kerja di mana, Mbak? Sebagai apa?"
"Di restoran sebagai manajer. Kalau kamu?"
"Oh, hehehe, aku hanya pramuniaga di supermarket yang ada di plaza gitu, Mbak," lirih Henry menunduk sembari memainkan jemarinya. Hatinya berdebar saat di dekat Fira.
"Yang penting pekerjaan yang halal, disyukuri saja. Kalau kamu selalu bersyukur, Allah akan tambahkan nikmat dan rezeki. Jika orang itu mau sukses, berjuang dan berusaha dari nol dulu. Pastinya dengan tekad dan optimis. Dan yang utama itu lebih mendekatkan diri kepada Allah," jelas Fira merekahkan senyuman.
"Entah mengapa melihatmu hatiku terasa sejuk? Memandang wajahmu adalah penawar rindu yang selama ini terpendam. Hari ini adalah hari keberuntungan bagiku. Pertama, aku punya pekerjaan di Singapura dan kedua pertemuan denganmu, cantik." Henry masih menunduk seraya tersenyum.