Energy Of Love

Energy Of Love
Sahabat



Salah satu tanda syukur kita kepada Allah adalah memiliki sahabat karena Allah. Apabila persahabatan yang di dalamnya ada kasih sayang karena Allah. Maka sahabat akan turut mendoakan kebaikkan untuk kita.


***


Sudah dua hari ini Fira berada di rumah Khalifah. Karena yang tinggal di sana hanya Khalifah dan Velia saja. Rumah mewah itu sebagai tempat tinggal sementara, selama Khalifah dan Velia merantau di Jakarta.


Dua wanita itu berasal dari Karawang. Khalifah adalah dokter kandungan di Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi dan Rumah Sakit Brawijaya. Sedangkan Velia adalah pemilik toko roti, masih di daerah Cakung. Velia meneruskan usaha kedua orangtuanya. Cabang toko rotinya pun memiliki beberapa cabang di Jakarta.


Pagi ini, mereka sedang bermasak ria di dapur. Khalifah memasak sayur. Velia memasak daging. Sementara Fira meracik bumbu-bumbu. Mereka juga berasyik ria mencurahkan isi hati. Dari ruang tengah, Medina datang sembari membawa sebuah kereta dorong dengan dua kursi bermuatan dua balita kembar perempuan.


Si kembar itu berusia selisih dua bulan dari usia Zema. Medina sudah terbiasa masuk ke rumah Khalifah. Karena Khalifah meminta anggap seperti rumah sendiri. Kala itu Medina tak hanya membawa si kembar saja. Ia juga membawa dua wadah besar tertutup dengan rapat. Acara makan-makan ini hanya kalangan mereka saja. Langka sekali mereka bisa berkumpul.


"Assalamu'alaikum, Ateu-ateu," sapa Medina. (Ateu \= Tante)


"Eh, wa'alaikumsalam, Ummah twins," ucap Fira, Khalifah dan Velia secara serentak.


"By the way, aku bawa rendang dan es dawet loh. Maaf, ya, aku enggak bisa bantu masak. Tahu sendirilah, aku punya dua anak kembar, hehehe. Jadinya, aku bawa ini dari rumah saja, itupun yang masak ART," ujar Medina.


"Enggak apa-apa, kami maklum kok," kata Fira menghampiri si kembar. "Ah, jadi kangen Zema kalau lihat Maysha dan Mikayla ini. Gemas sekali! Sudah bisa apa, sayang?" geram Fira. Ia seraya mencubit lembut pipi si kembar.


"Sudah bisa jalan dan lari kecil, Ateu. Sekarang kalau bicara pun mereka saling sahut-sahutan, hihihi," timpal Medina.


"MasyaAllah, lucu banget. Suka gemas kalau lihat bayi perempuan pakai gamis dan jilbab begini. Ada bunga-bunganya lagi," puji Fira.


"Makanya bikin anak perempuan lagi dong!" sindir Khalifah kepada Fira.


"Hust! Harus ada suami dulu dong!" hardik Fira dengan nada canda.


"Iya, itu maksudnya, kamu menikah lagi biar bisa bikin anak perempuan selucu dan seimut itu. Nikah woi nikah!"


"Yang bilang nikah woi nikah itu biasanya belum nikah juga," cibir Fira cengar-cengir.


"Gue mah santai, ya. Sebentar lagi A' Hariz melamar gue gitu loh, hahaha," kelakar Khalifah dengan gerak-gerik centil sembari memasak.


"Jangan ngomong nikah, ih! Aku sedih belum ada kepastian dari Mas Nicko, huhuhu," keluh Velia. Ia duduk di kursi sembari mengunyah ayam goreng.


"Sudahlah! Kalau waktunya tepat, akan menikah dengan indahnya," ucap Medina sembari menaruh wadah rendang dan es dawet di atas meja makan. "Ngomong-ngomong, si Ibuk Fira ini dalam rangka apa ke Jakarta?"


"Dia mengambek dan cemburu tuh, si Henry ternyata punya pacar, hahaha," celetuk Khalifah cukup menohok.


"Bukan itu euy! Bukan! Aku memang sensitif dengan laki-laki pacaran. Ya, aku juga enggak pantas jadi rebutan Abang Rafi dan Henry," sanggah Fira.


Fira mengambil sebuah gelas di dekat kulkas. Dibukanya kulkas untuk mengambil bongkahan es batu. Begitu semilir saat ia membuka kulkas besar itu.


"Ah, yang benar, cemburu mah bilang aja. Kamu sepertinya mulai menyukai Henry, ya, Fir. Cuma belum kelihatan," canda Medina menggoda Fira.


"Ih, kalian ini jangan begitu, ah! Aku sulit di posisi seperti ini. Kalau nanti anak-anakku sudah memutuskan pilihan yang tepat. Aku harus bersikap bagaimana? Maksudnya, aku tidak ingin menyakiti di antara Abang Rafi atau Henry. Misal yang terpilih si A. Nah, ngomong menolak secara halus ke si B supaya tidak sakit hati ini bagaimana?" Fira berdalih.


"Kan anak-anakmu yang memilih. Insyaallah, pasti di antara mereka akan legowo kok," ucap Medina.


"Istikharahmu gimana, Fir? Sudah menemukan petunjuknya?" tanya Khalifah.


Fira mencebik. "Aku diambang kebingungan."


"Firasatku itu si Henry, ya. Kan kalian nge-ship banget waktu di lapangan bola dan halaman sekolah lampau itu," ucap Khalifah.


"Aduh Khalifah yang lampau, jangan diingat dong. Aku malu!" Fira tersipu.


Niat Fira ingin menyicipi es dawet dari Medina. Ia mengambil sendok sayur yang sudah tersedia di meja. Namun Fira hanyut dalam lamunannya. Tatapannya tampak kosong. Dua wadah itu masih tertutup dengan rapat. Pikiran Fira ke mana-mana. Ia tidak fokus menuang rendang ke dalam gelas yang berisikan es batu.


"Eh, anu Ibuk Fira maaf-maaf, ya, itu ..." Khalifah ingin memberi peringatan namun disela oleh Fira.


"Iya, Fah, aku sudah memaafkanmu," lirih Fira.


"Ya Allah, Fira itukan ..." ujar Velia tampak geli melihatnya.


"Iya, Velia, aku juga sudah memaafkanmu," imbuh Fira.


"Fira, kenapa sih melamun begitu? Tolong dong fokus ke ..." Medina terlihat cemas.


"Iya, Medina terima kasih, ya. Es dawet buatan kamu pasti enak kok," ucap Fira tersenyum.


Fira duduk di kursi makan. Mimik wajahnya tampak suntuk seakan banyak pikiran. Bak orang yang kehilangan arah. Pandangannya fokus pada meja makan. Pelan-pelan Fira minum rendang dengan es batu tadi.


"Wleekkk, es apaan nih? Kok rasa rendang?" Sontak Fira terkejut kemudian memuntahkannya.


"Pffttt, idih, hahaha. Aku sudah mengingatkan, melamun terus sih!" kelakar Khalifah.


"Auk ih, dari tadi omongan kita dipotong terus," ujar Velia menahan tawa.


"Kamu melamun apa sih? Kamu banyak pikiran, ya? Hiii, rasanya seperti apa itu es campur rendang, hahaha," kelakar Medina.


"Enggak tahu, pikiranku lagi suntuk banget!" keluh Fira. Ia sembari membersihkan meja.


Mereka tak jarang saling bertukar pikiran, jika membahas soal dunia bisnis. Fira berencana membuka salon muslimah. Medina berencana membuka butik pakaian anak-anak. Khalifah memiliki hasrat untuk mendirikan rumah sehat, terkhusus orang tidak mampu, ibu dan anak dengan fasilitas lengkap. Sedangkan Velia tetap mengembangkan toko rotinya. Namun, hanya menambahkan menu baru di tokonya.


***


Seorang pria berkulit sawo matang itu memberi tanda kehadirannya dengan mengetuk pintu rumah. Pintu rumah itu dibiarkan terbuka lebar. Ia memanggil Medina dan menunggu Medina di depan rumah. Medina cepat tanggap. Ia segera membereskan diri dan anak kembarnya.


Acara silahturahim mereka telah usai. Fira tengah menyuci piring sembari bernyanyi. Velia sedang membersihkan meja makan. Sementara Khalifah berada di kamar untuk mengambil gawai yang sedari tadi berbunyi. Saat itu pula Medina pamit kepada para sahabatnya.


"Aku pulang, ya. Suamiku sudah di depan," ucap Medina. Ia sambil memeluk satu per satu sahabatnya.


"Hati-hati, ya, Medina. Kamu enggak bawa makanan dari sini?" kata Velia.


"Eh, enggak usah, hehehe. Untuk kalian saja, oke!"


"Bakal kangen nih. Soalnya aku cuma sebentar di Jakarta. Sehat terus, ya, Medina, Maysha dan Mikayla," ujar Fira.


"Kalau kangen video call aja. Kamu semangat menggapai masa depan, ya. Kamu, Zayn dan Zema juga jaga diri baik-baik," ungkap Medina.


"Okay, see you next time."


"Assalamu'alaikum." Medina beranjak pergi seraya mendorong kereta bayi.


"Wa'alaikumsalam." Serentak Velia dan Fira.


Begitu Medina sudah pergi dari rumah Khalifah, Khalifah baru muncul di tengah-tengah mereka. Setiap langkahnya, ia selalu menggaruk-garuk kepala. Ia juga terkejut saat Medina tidak ada di sana lagi.


"Loh, Medina sudah pulang?" tanya Khalifah.


"Ah, sudahlah. Kamu ke mana saja dari tadi?" kata Fira.


"Barusan Abah menyuruhku pulang ke Karawang. Kata beliau ada urusan penting. Oh, iya, gawai kamu sama Velia juga ada pesan nih dari tadi bunyi terus," jelas Khalifah seraya menyodorkan gawai milik kedua sahabatnya.


Fira menyalakan layar gawainya. Ternyata benar, ada pemberitahuan pesan masuk melalui WhatsApp dari Rafi di layar menu. Segera mungkin jemarinya berselancar membuka pesan dari Rafi.


Rafi Jensen


[Assalamu'alaikum Fira, kapan kamu kembali ke Singapura? Abang sudah mengizinkan kamu ke Pak Sandi. Andai restoran ini milik Abang, Abang izinkan kamu cuti berhari-hari. Tapi, ini milik Pak Sandi. Abang enggak enak dengan beliau. Kembalilah! Nadia, asistenmu sudah mengundurkan diri. Sebab orangtuanya menyuruhnya pulang ke Indonesia. Jadi, kami butuh kamu dan kami ingin cari asisten manajer baru. Maaf, jika Abang menganggu waktumu.]


"Ya Allah, betul juga. Aku harus kembali kerja. Aku egois sekali!" gumam Fira seraya membalas pesan dari Rafi.


Maghfira Anissa


[Wa'alaikumsalam. Insyaallah, besok aku berangkat ke Singapura. Maafkan aku. Aku akan kembali kerja.]


Rafi Jensen


[Di tunggu :) Abang juga kangen kamu.]


"Oalah Bang, masih sempat-sempatnya gombal, basi!" gerutu Fira kesal. Ia enggan membalas pesan dari Rafi lagi.


"Sepertinya hari ini aku juga pulang ke Karawang deh. Pulang bareng saja yuk, Fah. Papaku juga bilang ada acara keluarga gitu. Entah kenapa mendadak begini?" jelas Velia setelah melihat pesan dari Papanya.


"Ya, sudah yuk, Vel! Kita siap-siap," ajak Khalifah kepada Velia. "Fira, maaf merepotkanmu. Aku minta tolong untuk hari ini saja jaga rumahku. Di sini, Insyaallah aman. Atau nanti aku minta tolong Fatimah temanku. Dia juga dokter biar ada teman. Insyaallah, aku dan Velia segera pulang."


"Sungguh, besok kalian pulang ke sini? Soalnya besok siang aku hendak berangkat ke Singapura," ujar Fira.


"Oh, iya, pasti. Kita sudah pulang ke sini kok. Insyaallah, kita usahakan," imbuh Khalifah.


"Ya, sudah. Kalian hati-hati di jalan."


Khalifah gemas dengan mencubit pipi Fira. "Terima kasih, ya, Fir. Benar-benar sahabat baik dah, hehehe."


"Sudah, Fah. Gih sana, kamu dan Velia lekas berkemas!"


Khalifah dan Velia sibuk berkemas. Sementara gawai Fira kembali berbunyi. Ada dua pesan WhatsApp masuk. Fira langsung membuka WhatsApp. Pesan pertama dari Henry dan pesan kedua dari Bryan. Fira membaca pesan dari Henry terlebih dahulu. Namun, ia tidak ingin membalasnya. Justru membuat Fira berdebar saat membaca pesan tersebut.


Henry Lee


[Assalamu'alaikum, Fira. Maafkan atas kesalahpahaman kemarin-kemarin itu. Sungguh, aku tidak pernah ingin pacaran. Kalau kamu kembali ke Singapura, temui aku untuk sekali ini saja.]


Betapa mengejutkan Fira saat itu. Pesan dari Henry ini tidak biasanya. Sebelumnya Henry menyebut Fira dengan sebutan mbak. Namun, hari ini Henry tidak ada menyebut mbak di depan namanya. Tampaknya Henry sudah menganggap Fira sebaya atau ada sesuatu yang lain? Fira tidak bisa berkutik lagi. Ia melanjutkan bacaannya ke pesan dari adik kandungnya. Bryan.


Bryan Muhammad


[Kak Fira masih ada di rumah Kak Khalifah kan? Aku sudah di Jakarta dan sedang menuju ke sana. Kak, tolong pesankan tiket pesawat satu lagi untukku. Aku ingin ikut Kak Fira ke Singapura. Aku mau kuliah bisnis di sana. Bapak dan Ibu merestui. Sekalian menjaga Kak Fira di sana. Soal dana, aku punya tabungan sendiri. Thanks Kakakku yang cantik, muuaacchh, hahaha.]


Fira sigap mengetik pesan untuk membalas pesan dari Bryan. Betapa beruntungnya, Fira ada teman berjaga di rumah Khalifah. Sebenarnya Fira takut jika ia sendirian jaga rumah.


Maghfira Annisa


[Segera ke mari! Kakak menunggumu.]