
Barangkali cintamu untukku yang dulu, masih ada walau setitik. Barangkali bisa kembali. Datang dengan cinta di awal yang baru. Aku sedang berbicara tentang kita tanpa ada yang lain. - Rafi Jensen -
***
Dua hari kemudian
Rafi bersemayam di sudut restoran dekat jendela. Ia memperhatikan jam tangan yang tersemat di kotak kecil. Jam tangan itu berlapisan perak dengan butiran berlian di tepi jam tangan. Kelap-kelipnya membuat jam tangan itu terkesan mewah dan elegan.
Kemudian tangan kanan Rafi meraih salah satu foto gadis kecil cantik. Rambutnya sebahu. Di foto itu adalah Fira kecil. Senyumnya yang manis membuat cinta Rafi berkobar. Sahabat kecilnya itu adalah cinta pandangan pertamanya. Selama ini Rafi menjaga cintanya dalam diam. Namun kini Fira mengetahui perasaannya melalui cerita Rahline. Bukan hanya senyum dan kecantikan yang dimiliki Fira. Rafi mencintai Fira karena terbiasa bersama. Sedari kecil mereka selalu berbagi cerita suka dan duka.
Rafi mengingat masa kecil mereka saat berusia sepuluh tahun. Memang, mereka jarang bersama. Fira hanya datang ke Lumajang saat berlibur bersama keluarganya. Waktu itu adalah liburan keempat Fira dan keluarganya. Sedangkan Rafi adalah penduduk asli Lumajang. Tempat tinggalnya tidak jauh dengan Pantai Dampar.
Senja itu keduanya berlari-lari di tepi pantai sembari bermain air laut. Fira tertawa lepas menikmati keindahan pantai. Lengkap dengan desiran angin yang bersahabat. Rafi tersenyum melihat gadis yang didambakannya itu. Rafi duduk di atas pasir yang berbuih lautan itu. Ia keluarkan seutas benang dan sebuah gunting dari tas kecil. Rafi fokus merangkai kerang-kerang kecil dengan benang. Sementara Fira duduk sembari bermain ombak kecil di tepi pantai. Tidak jauh dari tempat Rafi, ketiga teman sebaya Rafi yang semuanya laki-laki. Mereka melambaikan tangan kepada Rafi. Rafi melirik sapaan ketiga teman yang masih satu desa ini.
"Hoi, Raf! Yuk dolan!" teriak salah satu temannya.
"Kapan-kapan, yo! Aku lagi nemenin cah ayu tuh hehe." Rafi membalas teriak temannya sembari melirik ke arah Fira.
"Wuuu pacaran terus, ye! Nek ana cah wedok kota iku, hahaha!" kelakar salah satunya lagi.
"Terserah koe waelah, haha!" teriak Rafi lagi.
"Jangan malam-malam, nanti dicari Mbokmu!"
"Yo!"
Rangkaian kerang yang dibuat Rafi sudah selesai. Membuahkan hasil yaitu sebuah gelang. Rafi berlari menyusul Fira yang masih bermain ombak kecil. Rambut panjang Fira yang terurai berkibar ditiup angin. Sehingga terlihat anggun dan imut. Sementara Rafi berdiri seraya menyembunyikan kedua tangan di punggungnya. Ia masih menggenggam gelang kerang. Mata Fira yang bulat hitam itu menatap sosok sahabatnya. Yang selalu menemani dirinya selama berlibur di Lumajang.
"Abang!" sapa Fira tersenyum manis.
Rafi duduk di samping Fira. "Kamu enggak masuk angin, ya? Kalau berendam di situ terus?"
"Enggak hehehe. Matahari terbenamnya indah, ya, Bang."
"Iya," ucap Rafi mengeluarkan gelang kerang dari genggaman tangannya, "emm, Fir. Abang mau kasih ini ke kamu hehehe. Kamu suka enggak?"
"Wow, cantik banget kerang-kerangnya. Aku suka!" Seru Fira terkesima.
"Nih, pakai sendiri, ya," ujar Rafi sembari menyodorkan gelang kerang itu kepada Fira.
"Ih, lucu! Abang yang buat, ya? Terima kasih," ujar Fira tersenyum bahagia.
"Iya, Abang sendiri yang buat. Dijaga dan disimpan baik-baik, ya. Kitakan best friend forever."
"Iya-iya hehehe."
"Pulang yuk! Nanti Bundaku dan Ibumu mencari kita. Mau magrib juga." Rafi beranjak berdiri seraya menggandeng tangan Fira.
"Ayo! Setelah itu kita pergi mengaji ke TPA kan, Bang?"
"Iya, kamu sudah berapa juz?"
"Baru sampai surah Al-Maidah, Bang hehehe."
"Hebat! Teruskan mengajinya biar jadi anak perempuan sholihah."
Mereka berjalan untuk pulang ke rumah. Mega merah pun seakan ingin pamit. Karena waktu sebentar lagi akan berganti malam. Burung-burung di langit berterbangan melewati segumpalan awan jingga.
Sepanjang tepi pantai, Rafi terus mengusap rambut hitam Fira. Ia meringis kala mengingat kata orang-orang sekitar soal persahabatannya dengan Fira. Termasuk teman-temannya selalu menganggap mereka sepasang kekasih. Bundanya Rafi pun begitu, pernah menceritakan soal kedekatan Rafi dan Fira. Mereka menjadi buah bibir Ibu-ibu desa. Menganggap Rafi dijodohkan Fira oleh orangtua masing-masing. Padahal Rafi dan Fira murni sebatas sahabat. Walaupun di dalam hati Rafi sudah tumbuh benih cinta untuk Fira sejak pandangan pertama. Saat ia berusia tujuh tahun.
***
Bunyi dering gawai membuyarkan lamunan Rafi. Ia tergagap dan segera memasukkan jam tangan ke dalam tasnya. Sejenak ia mengusap wajah yang sayu itu. Diraihnya gawai. Kemudian membuka sebuah pesan dari Pak Sandi.
[Pak Rafi, nanti siang insyaAllah, asisten manajer baru untuk Bu Fira jadi hadir. Saya enggak bisa interview karena istri saya sedang sakit.]
Dengan cekatan, Rafi memainkan jemarinya untuk membalas pesan dari Pak Sandi.
[Ya Pak, siap! Biar saya dan Bu Fira yang meng-interview dia.]
Pesan itu terkirim tapi belum dibaca oleh Pak Sandi. Rafi kembali fokus ke laptopnya. Ternyata tugas kuliah masih belum rampung. Ia harus pandai-pandai mengatur waktu antara kerja dan kuliah. Sementara foto-foto masa kecilnya dengan Fira dibiarkan bertebaran di atas meja.
"Aduh, yang kelihatan sibuk banget ini!" canda Fira tambah mengejutkan Rafi.
"Eh, apaan sih? Biasa aja kok, enggak sibuk," kata Rafi salah tingkah.
"Memang Abang enggak repot apa? Antara kerja dan kuliah?" tanya Fira sembari duduk berlawanan arah dengan Rafi.
"Enggak. Abang kuliah begini karena mengejar cita-cita Abang yang ingin jadi pengusaha. Dan kalau kuliah juga bisa setara sama kamu. Biar sama-sama strata satu hehe," jelas Rafi menggaruk rambutnya.
"Oh, iya?" Fira cuek.
Pandangannya mengarah ke foto-foto masa kecilnya dengan Rafi di atas meja. Fira senyum-senyum sendiri. Ia gemas dengan foto kecilnya dulu. Raut wajah Fira nyaris mirip dengan Zayn. Hanya saja Zayn itu anak lelakinya. Ibarat Zayn adalah Fira versi lelaki.
"So sweetnya masih menyimpan foto-foto masa kecil kita, ya, hmm," canda Fira.
"Ya, iya dong! Eh, Abang mau tanya, kamu masih menyimpan gelang kerang itukah?" tanya Rafi.
"Hmm? Di mana, ya? Mungkin aku simpan barang-barang jaman dulu di gudang sih," pikir Fira.
"Tega banget sih, ditaruh dalam gudang! Huh!"
"Kenapa enggak dipakai?"
"Gimana mau dipakai? Tanganku besar sudah dewasa. Gelang itu sudah tidak muat!"
Setelah berdebat. Keduanya bungkam. Fira terpaku melihat foto-foto masa kecil. Sementara Rafi menatap datar wajah Fira. Ada hasrat ingin meraih tangan Fira tapi Rafi mengurungkan niatnya. Ia menyadari, di antara mereka bukan anak kecil lagi. Rafi juga berpegang teguh, ia mencintai Fira tapi tidak berani untuk menyentuhnya. Bagi Rafi, Fira adalah wanita yang sangat menjaga kehormatannya. Apalagi dengan status Fira yang sekarang. Rafi menghargai itu.
"Fir," lirih Rafi.
"Hmm, iya, Bang," ucap Fira singkat.
"Kamu pernah jatuh cinta denganku sejak remaja. Eh, maksudnya SMP kan?" tanya Rafi.
"Iya, benar. Lantas?" Mendengar ucapan Rafi seperti itu, spontan Fira bertatapan dengan Rafi.
"Barangkali cintamu untukku yang dulu, masih ada walau setitik. Barangkali bisa kembali. Datang dengan cinta di awal yang baru. Aku sedang berbicara tentang kita tanpa ada yang lain," ungkap Rafi.
"Bagaimana, ya? Aku bingung!"
"Lalu, pilihan yang tepat itu siapa? Jangan menggantung seperti ini!"
"InsyaAllah, secepatnya aku akan menjawabnya."
"Kamu sudah tahu Abang mencintaimu. Andai, waktu lampau itu bisa diputar ulang kembali. Jika Abang tahu kamu mencintaiku juga. Abang akan menjagamu. Bisa jadi kita akan menikah setelah lulus sekolah. Aku sungguh mencintaimu, Fir!" Rafi menimpali.
"Abang jangan bilang seperti itu. Jalannya seperti ini sudah ditulis yang Maha Kuasa."
"Fira ..."
Rafi mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah yang berisi jam tangan. Kemudian menyodorkan kotak kecil dihadapan Fira. Keduanya saling menatap.
"Abang enggak tahu pilihan yang tepat itu siapa? Kalau pilihan yang tepat itu adalah Abang. Abang akan memberi kejutan spesial untukmu. Hari ini kamu ulang tahunkan? Happy birthday to you. Semoga Allah memberkahimu. Abang cuma bisa kasih kejutan sederhana ini," ungkap Rafi.
Fira terkesima. "Abang ..."
"Bukalah! Tapi di ruangan kerjamu saja," perintah Rafi. Kemudian bergegas membereskan laptop dan foto-foto.
"Terima kasih atas kejutannya," ucap Fira terenyuh.
"Dipakai dan jaga baik-baik itu. Jika kamu enggan menganggapku lebih dari sahabat. Anggap sebatas sahabat saja, Abang enggak apa-apa. Oh, iya, nanti siang siap-siap interview dengan asisten barumu, ya."
Rafi pergi berlalu meninggalkan Fira sendirian. Fira berkaca-kaca melihat kotak kecil merah yang diberikan Rafi. Perlahan Fira membuka sedikit kotak kecil merah itu. Dilihatnya ada sebuah jam tangan cantik nan mewah. Sontak Fira terenyuh. Ia merasa Rafi bersungguh-sungguh mencintainya. Bukan soal barang pemberian Rafi tapi kesungguhan Rafi dari hati.
"Aku juga ingin mengungkapkan pilihan yang tepat itu. Namun pilihan yang tepat itu jatuh pada Henry. Jawaban istikharahku juga selama ini adalah Henry. Aku enggak sanggup jika harus menyakiti perasaanmu, Bang! Karena Abang juga baik dan selalu buat aku bahagia sejak kecil. Maafkan aku, Bang. Aku tidak bisa mencintaimu lagi." Fira pilu seraya memejamkan mata.
***
Fira hanya di ruangan kerjanya. Ia duduk di kursi seraya menatap fotonya bersama Kirsandi. Dalam benaknya ada sekelumit rindu akan sosok mendiang suaminya. Foto itu hanya Fira dan Kirsandi saja. Dalam foto tersebut, keduanya bahagia merayakan hari kelahiran di sebuah restoran mewah. Bulan kelahiran Fira dan Kirsan sama. Hanya saja, tanggalnya selisih satu hari. Kirsandi lahir tanggal 6 Desember. Genap berusia 35 tahun. Sedangkan Fira lahir 7 Desember. Genap berusia 24 tahun. Foto keduanya itu sebelum kepergian Kirsandi untuk selamanya. Pun di sana terukir tulisan.
Happy birthday to both of us! Bahagia selalu untuk kita. 06 & 07 Desember. Kirsandi and Fira's birthday.
"Barakallah fii umrik, Mas. Kemarin adalah hari kelahiran Mas. Kalau Mas masih ada, sekarang berusia tiga puluh enam tahun, ya. Aku di sini selalu mendoakanmu. Semoga Mas diberi tempat yang terbaik di sisi Allah. Aku kangen saat kita bersama. Mas di sana lagi ngapain? Mas bisa lihat aku di sini kan?" Sejenak Fira merebahkan tubuhnya di kursi.
"Mas, meskipun kita pernah tidak sejalan. Mas pernah meluangkan waktu untuk mendengarkan curahanku. Walau kita tak jarang berselisih. Namun, Mas menyempatkan waktu untuk memberi momen yang indah. Saat Mas bilang Mas ikhlas jika aku menikah dengan lelaki lain. Aku pilu. Kini, aku mengalami posisi sulit. Memang traumaku sedikit demi sedikit memudar. Dahulu hanya kamu yang jadi pilihan. Sekarang aku diambang dua pilihan, Mas! Dan sampai saat ini aku masih bertanya-tanya. Kenapa Mas menginginkan aku menikah lagi? Sepertinya bukan karena menembus rasa bersalah. Ah entahlah, biar waktu yang akan menjawab." Fira menimpali.
"Fir, asisten manajer baru sudah datang," ujar Rafi tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kerja Fira.
"Hmm, iya Bang. Aku bersiap diri dulu." Fira merapikan jilbab dan gamisnya. Kemudian bergegas memakai jam tangan yang diberikan Rafi.
"Mari, silakan masuk," perintah Rafi kepada seseorang yang akan jadi asisten manajer.
Fira menduduki kursi tunggal yang cukup tinggi. Rafi menyusul. Ia juga menduduki kursi tunggal. Mereka berdua duduk bersampingan. Sekejap Rafi dan Fira saling bertatapan. Fira menunjukkan pergelangan tangan kanannya. Ada jam tangan yang melingkar di sana. Ia melemparkan senyuman manis kepada Rafi. Rafi tersipu dibuatnya. Mata Rafi berbinar saat Fira telah mengenakan jam tangan pemberiannya.
"Thank you so much, Abang bawel! Hihihi," ucap Fira tersipu. Ia menutupi mulutnya dengan telapak tangan.
"You are welcome. Abang kira sosok Fira ini mau mengatakan I love you, Abang Rafi hehehe," canda Rafi.
"Hahaha, masih ingat palu milik salah satu tetangga di Lumajang enggak, Bang? Palu punyanya Pak Yanto kalau enggak salah, ya," kelakar Fira.
"Heh! Kamu masih ingat palu itu juga to? Hahaha."
"Ingat dong! Abang mau melindungiku dari geng remaja nakal itu. Sambil mengacungkan palu. Sekarang mau aku ketok palu juga, enggak?"
"Ya, jangan dong! Kamu sudah panah hati Abang. Jangan ketok pula pakai palu, bee!"
Rafi dan Fira hanyut dalam keseruan mengingat masa kecil hingga remaja. Mereka tidak sadar. Jika seseorang wanita yang usianya sebaya dengan mereka sudah di dalam ruangan. Wanita itu tingginya semampai. Kacamata bening bertengger di dua matanya yang sipit. Tubuh yang langsing itu berbalut blouse merah marun. Dengan lengan panjang. Ia juga mema.kai celana kulot warna coklat muda. Wanita itu santun berhijab pashmina. Ia melihat keseruan obrolan Rafi dan Fira. Membuatnya menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Assalamu'alaikum, permisi Bapak dan Ibu," sapanya.
Mendengar sapaan wanita itu, Fira langsung menoleh ke arah wanita itu. Mulutnya ternganga melihat wajah wanita tersebut. Fira tercengang. Kemudian wanita itu duduk berlawanan arah dengan Rafi dan Fira. Rafi menyambut rekan kerja baru dengan ramah. Namun, lain halnya dengan Fira. Ia terus menilik wanita itu dari ujung kepala hingga ujung sepatunya.
"Fir, perkenalkan, dia Naomi yang akan menjadi asisten manajer kamu," ucap Rafi menyodorkan tangannya. Sebagai isyarat supaya Fira berjabat tangan dengan Naomi.
"Naomi? Wajahnya sekilas mirip dengan Henry. Apa cuma perasaanku saja?" gumam Fira.
"Perkenalkan nama saya Naomi Adiba. Saya dari Semarang. Semoga saya dengan Ibu Fira jadi rekan kerja yang baik. Tolong bantu saya tentang dunia kerja. Saya masih minim ilmu kerja," jelas Naomi mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Fira.
"Semarang? Oh, sama dengan saya. Saya Maghfira Annisa dari Semarang juga. Salam kenal. Selamat bergabung menjadi bagian dari restoran HIF. InsyaAllah, kita akan menjadi rekan kerja yang baik." Fira ramah menyambut jabatan tangan Naomi.
"Maghfira Annisa, nama yang cantik seperti orangnya. Tidak salah lagi ..." Naomi bergumam.