Energy Of Love

Energy Of Love
Aku Percaya Karena Aku Cinta



Walaupun orang lain berbicara apapun tentangmu, aku tetap percaya padamu. Aku percaya karena aku cinta. Aku yakin kepada Allah. Kutitipkan cinta ini kepada-Nya. Kelak cinta ini akan tahu ke mana harus berlabuh. - Henry Lee -


***


Bryan dan Rafi mengetuk pintu kamar apartemen yang di tempati Henry dan kawan-kawan. Fira dan Rahline berada di belakang Rafi dan Bryan. Fira gelisah dan berdebar tak menentu. Manakala hari ini ia harus memutuskan pilihan yang tepat. Pikirannya kalang kabut. Ia juga harus bersikap menolak secara halus kepada Rafi. Karena Rafi bukan pilihan yang tepat. Fira tidak ingin, hanya karena cinta, persahabatan dirinya dengan Rafi renggang. Namun, Fira sudah menyangka keputusan ini pasti ada resiko. Akan ada hati yang sakit karena keputusan ini. Fira pasrah dan berdoa. Semoga akan ada hati yang ikhlas untuk menerima kenyataan.


Pintu kamar apartemen terbuka. Namun, kali ini bukan Henry yang muncul. Melainkan yang menyambut mereka adalah Hardi. Sontak membuat mereka terkesiap. Begitu pun dengan Fira. Sepintas ia punya firasat jika Henry tidak ada di sini.


"Assalamu'alaikum, Hardi, ada Henrykah?" ucap Rafi.


"Wa'alaikumsalam, Mas Rafi. Loh, kalian pada enggak tahukah?" kata Hardi sembari berbalik tanya.


"Tahu apa, ya? To the point saja, Har!" ujar Fira mendesak.


"Henry pulang ke Semarang. Papinya mendadak sakit jantung. Sepertinya dia tidak akan kembali ke Singapura," jelas Hardi.


"What?" Celetuk Bryan.


"Papi? Tunggu-tunggu, sebenarnya Henry ini siapa? Bukankah dia orang sederhana?" tanya Fira semakin penasaran.


"Loh, aku pikir Mbak Fira tahu juga kehidupan Henry yang sebenarnya." Hardi menimpali.


Fira menggelengkan kepala. Pertanda ketidaktahuannya tentang jati diri Henry. Karena dirinya selama ini hanya tahu Henry pemuda sederhana. Dan jauh dari kata kemewahan.


"Aduh, Gusti Allah! Dari namanya Henry Lee aja kelihatan bahwa Henry dari keluarga terhormat di Korea Selatan sana," ujar Hardi seraya menepuk jidatnya. "Henry juga punya nama Korea, Lee apa gitu? Aku lupa. Intinya Henry anak lelaki satu-satunya dari seorang pengusaha sukses bernama Lee Hyun Joong. Nah, itu nama Papinya. Papinya pengusaha di Korea dan Semarang. Perusahaannya banyak. Pokoknya kaya tujuh turunan deh si Henry itu."


"Dia berasal dari Korea Selatan?" tanya Fira mendelik.


"Papinya aja yang berasal dari Korea Selatan, Mbak. Kalau Maminya berasal dari Semarang. Jadi, Henry blasteran," jawab Hardi.


"Kenapa dia menyembunyikan jati dirinya selama ini?"


"Wah, kalau itu panjang untuk diceritakan, Mbak. Henry punya masalah dengan Papinya. Hingga dia memilih hidup mandiri sampai saat ini. Sejak SMA itu dia nabung sendiri dari hasil menang pertandingan bola gitu. Ya, walaupun sebagian ada dibantu Maminya. Selain itu, dia juga hanya ingin dipandang sederhana oleh orang-orang. Katanya, jika kita hidup sederhana. Kita akan tahu mana orang yang tulus dan mana yang tidak tulus," jelas Hardi.


"Aku kira nama Henry Lee nama kekinian saja," duga Rafi.


"Main-main deh ke akun Instagram Henry. Banyakkan followersnya? Memang Henry enggak pernah posting kehidupan mewah dirinya. Dia juga tidak menampakkan jati dirinya tapi orang-orang tahu kalau dia anak pengusaha terkenal. Pokoknya panjang kalau diceritakan!" timpal Hardi.


"Kita malah enggak tahu tuh." Celetuk Bryan.


"Pantas aja postinganku yang dua cangkir kopi itu dikomentari Henry. Dan langsung viral begitu saja," pikir Fira.


"Nah, itu Mbak. Pengaruhnya kuat karena bukan orang Indonesia aja tapi orang Korea juga. Mungkin, kalau Mbak Fira dan Henry ada hubungan spesial akan jadi sorotan media," ujar Hardi.


"Astaghfirullah!" Fira terkesiap.


***


Suasana menjadi hening. Kini Fira tahu Henry yang sebenarnya. Namun, ia masih tidak percaya jika Henry dari kalangan keluarga konglomerat. Hatinya masih sama, menganggap Henry pemuda sederhana, baik dan mulai meluluhkan hatinya. Sementara Rafi masih tidak menyangka sosok Henry. Rafi pernah menganggap Henry hanya laki-laki biasa. Ia meminta Henry untuk tidak berharap mendapatkan Fira dan dua anak Fira. Namun, itu tidak membuat Rafi merasa bersalah. Rafi hanya ingin tahu siapa yang menjadi pilihan yang tepat. Rafi bertekad, ia juga tidak ingin kalah sukses dengan Henry.


Mendengar cerita dari Hardi, rasa penasaran Fira sudah terjawab. Fira juga jadi teringat kembali. Cerita dari seorang Ibu yang duduk bersebelahan dengannya di kereta. Ibu itu juga pernah menceritakan jika anaknya punya masalah dengan Ayahnya. Kerja di Singapura dan jatuh cinta pada wanita lebih dewasa. Cerita itu jadi mengarah pada dirinya. Fira menduga seorang Ibu itu tak lain adalah Ibu kandung Henry.


"Jangan-jangan, Ibu, itu? Ibunya Henry? Aku pernah mendengar cerita ini dari seorang Ibu. Beliau pernah aku temui waktu di kereta. Ya, waktu aku hendak berangkat ke Cakung," duga Fira.


"Wah, iyakah? Beruntung sekali pernah ketemu Tante Intan," kata Hardi.


"Benar, nama beliau Ibu Intan."


"Ya, itulah Maminya Henry, Mbak." Hardi menimpali.


Fira juga ingat atas ucapannya sendiri. Jika wanita yang menjadi tambatan hati anak Ibu itu. Beruntung sekali memiliki Ibu mertua seperti beliau. Ucapan Fira yang tidak sengaja jadi tepat sasaran pada dirinya. Ya, Fira wanita yang beruntung itu. Namun, Fira tidak ingin berangan terlalu jauh.


"Terus bagaimana ini? Menentukan pilihannya, apakah mau disampaikan saat ini juga?" tanya Bryan yang sudah gemas dengan keadaan ini.


"Menentukan pilihan apa to?" tanya Hardi penasaran.


"Apakah aku harus memilih Bang Rafi saja, ya? Karena Bang Rafi memberi kepastian. Daripada Henry sepertinya sudah tidak ada harapan," gumam Fira.


Dari belakang, seorang pria sedang mengejar anak kecil. Pria tersebut tidak sengaja menabrak bahu Fira. Hingga Fira tersungkur di lantai. Pun tiga buku milik Henry ikut terjatuh di lantai. Melihat kejadian seperti itu, Rafi kesal tapi Fira melarang Rafi untuk membalas pria itu. Walaupun pria itu persetan dengan Fira. Ia terus mengejar anak kecil.


Ketika Fira hendak berdiri, buku harian milik Henry terbuka di pertengahan halaman. Fira tidak sengaja membaca tulisan Henry. Hati Fira kian berdegup kencang saat membaca tulisan dari Henry. Yang pastinya isi buku itu tentang dirinya.


Walaupun orang lain berbicara apapun tentangmu, aku tetap percaya padamu. Aku percaya karena aku cinta. Aku yakin kepada Allah. Kutitipkan cinta ini kepada-Nya. Kelak cinta ini akan tahu ke mana harus berlabuh.


Bagai bunga bermekaran setelah di sirami air sejuk. Begitulah suasana hati Fira. Tadinya ingin memutuskan pilihan beralih kepada Rafi. Namun, setelah melihat tulisan dari Henry. Ia mengurungkan niatnya untuk memilih Rafi, berpikir panjang, memilih pendamping hidup itu tidak sembarangan. Ia juga ingat, yang memilih Henry adalah keluarga Fira terutama Zayn. Fira ingin menjaga amanah pilihan keluarganya. Dan sepertinya Henry percaya padanya. Namun lagi-lagi, Fira masih meragukan perasaannya terhadap Henry.


"Lah, enggak bisa gitu dong, Bang! Keputusan keluarga kami itu adalah ..." Bryan mengelak hendak melanjutkan ucapannya. Namun, tangan Fira sigap membungkam mulut Bryan.


"Keputusan keluargaku termasuk anakku adalah amanah yang harus dijaga. Aku tidak dapat merubahnya dan tidak bisa diganggu gugat. Tapi, hari ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan keputusan ini," jelas Fira secara gamblang dengan wajah yang semringah.


"Loh, kok gitu sih, Kak?" geram Bryan.


"Tunggu saja tanggal mainnya. Aku butuh waktu untuk membenahi hati. Ya, sudah yuk, kita pulang ke apartemen masing-masing," ujar Fira.


"Ah, enggak asyik, Kak!" keluh Bryan.


"Istirahat saja dulu. Aku sudah cukup lega mengetahui tentang Henry," ucap Fira menenangkan Bryan, "maaf, telah merepotkanmu, Hardi. Terima kasih sudah bercerita tentang Henry. Kami pamit, assalamu'alaikum."


"Eh, tunggu, Mbak. Theolona ada di sini loh. Selama Mbak Fira pergi kemarin, Henrylah yang merawat Theo," sergah Hardi seraya masuk ke dalam kamar. Ia bergegas mengambil Theolona.


"Eh, iya, soalnya aku juga enggak bisa mengurus kucing. Jadi, aku minta tolong kepada Henry untuk merawat kucing Kak Fira," ujar Rahline.


"Oh, iya enggak apa-apa," ucap Fira.


"Ini Mbak, Theolonanya." Hardi menyerahkan Theolona kepada Fira. Theolona tidur pulas di dalam kandang.


"Oke, terima kasih, Har."


"Berterima kasihlah kepada Henry, Mbak, hehe."


"Sampaikan saja padanya. Aku juga tidak ingin menghubungi dia dulu. Ya, sudah, kami pulang dulu, ya. Besok aku juga mau bekerja, assalamu'alaikum."


"Assalamu'alaikum, Hardi." Serentak mereka kemudian pergi meninggalkan Hardi.


"Wa'alaikumsalam semuanya." Hardi melambaikan tangan.


***


Sepanjang koridor, mereka berjalan menuju lobi apartemen. Fira dan Rahline berjalan di depan. Sedangkan Rafi dan Bryan berjalan di belakang. Hari kian sore, rasa lelah Fira kini telah sirna. Setelah senja akan tiba malam yang dihiasi sinar bulan purnama. Ia merasa ada energi yang jadi penyemangat hidupnya. Untuk sementara ini, ia rahasiakan dahulu, bersama siapa cintanya akan berlabuh?


"Kenapa kamu jadi gantung begini sih?" tanya Rafi kesal.


"Bersabarlah sedikit. Akan ada masanya aku mengungkapkan keputusan ini. Aku butuh berbenah hati," jawab Fira sembari tersenyum.


"Kak Fira aneh deh. Tadi nangis sekarang senyum-senyum sendiri. Kesambar apa sih? Enggak ada geledek juga." Bryan meledek kesal.


"Ada yang bilang, memutuskan pilihan yang tepat harus datang dari hati yang tulus bukan terpaksa."


Melihat sikap Fira, Rahline menahan tawanya. Dengan spontan, tangan Fira dengan tangan Rahline tos secara kompak. Tanpa terasa, mereka tiba di tempat parkir. Kemudian mereka masuk ke dalam mobil Rafi. Dan menuju pulang ke apartemen.


"Oh, iya, aku di antar ke rumah sahabatku aja, Bang. Kan Kak Fira sudah ada Bryan. Untuk barangku yang ada di kamar Kak Fira besok aku ambil," kata Rahline.


"Oke siap!" ucap Rafi.


"Terima kasih, ya, Lin. Sudah menemani Kakak selama ini. Kamu sudah seperti adik sendiri," ujar Fira memeluk Rahline.


"Hehehe, sama-sama, Kak. Rahline juga senang bisa saling berbagi cerita sama Kakak." Rahline membalas pelukan Fira.