Ecstasy

Ecstasy
Part 54



Sudah lebih dua hari dari perpanjangan waktu yang diminta oleh Brandon, tapi pria itu tak kunjung menunjukkan batang hidung di mansion keluarga Brooks. Tentu saja membuat hati Selena menjadi gelisah tak keruan. Dia sulit tidur akhir-akhir ini karena memikirkan bagaimana kondisi sang suami yang tak kunjung membalas pesan, telepon juga tidak diangkat.


Hedwig selalu menangis setiap hari, memang bayi kerjaannya seperti itu. Tapi, berbeda, biasanya hanya menangis ketika haus atau ingin digendong saja. Tapi, anak itu terlalu sering rewel. Hingga membuat Selena kuwalahan dan akhirnya diurus oleh Nyonya Brooks, mertuanya.


“Brandon, kenapa kau tak kunjung pulang,” gumam Selena. Dia sudah seperti penjaga jendela saja, selalu berdiri di sana melihat ke arah luar, siapa tahu mobil suaminya kembali.


Tidak peduli sekarang tengah malam, Selena tetap cemas. Dalam hati selalu menggumamkan doa supaya orang yang dicintai selamat saat melakukan misi.


Pukul satu dini hari, mata Selena langsung berbinar ketika menyaksikan ada kendaraan roda empat yang sangat dikenal mulai masuk ke dalam area mansion. “Brandon,” ucapnya begitu antusias.


Selena segera keluar kamar, menuruni anak tangga untuk menyambut kepulangan suaminya yang sangat dirindukan. Dengan hati gembira, ia berdiri dalam jarak dua meter dari pintu.


Kedua tangan Selena langsung merentang dan memeluk sang pria saat Brandon membuka pintu. “Akhirnya kau pulang, aku sangat merindukanmu.” Perasaannya sekarang sangat lega, tak bisa lagi didefinisikan dengan kata-kata kecuali rasa syukur yang tak terhingga.


Brandon juga mendekap erat Selena. “Tentu saja aku pulang, Sayang, ada anak dan istri yang menantiku kembali.” Mendaratkan kecupan di puncak kepala yang begitu harum.


Selena masih enggan melepaskan pelukannya. Seperti tak ingin Brandon pergi lagi melakukan hal-hal yang berbahaya.


“Sampai kapan kau mau berpelukan seperti ini terus?” tanya Brandon.


“Hingga aku puas.”


“Aku menantikan janjimu, ketika aku pulang dengan selamat, kau sudah siap untuk melakukan malam pertama kita setelah pernikahan,” tagih Brandon seraya tangan mulai membelai lembut punggung sang wanita.


Selena menganggukkan kepala. Selama ini dia telah mempersiapkan diri untuk melakukan penyatuan bersama sang suami. “Mau sekarang?” tanyanya sembari menatap lekat wajah tampan di hadapannya.


“Tentu saja, sudah lama aku menginginkan bercinta denganmu.” Brandon mengurai pelukan. Dia segera menggendong Selena seperti pengantin baru.


Tangan wanita itu juga melingkar di leher Brandon dengan bibir terus mengulas senyum. Hentakan kaki sang pria juga terasa bersemangat dengan langkah lebar supaya lekas sampai ke kamar.


“Hedwig di kamar?” tanya Brandon memastikan supaya ia tidak membuat suara gaduh yang mengganggu tidur anaknya.


Selena menggelengkan kepala lagi. “Bersama Mommymu.” Ia menjawab sembari menarikkan handle pintu ke bawah dan sedikit mendorong supaya Brandon bisa mudah membuka pitu.


Senyum Brandon semakin merekah ketika tubuh telah berada di dalam kamar. “Baguslah, berarti malam ini kita bisa mendesahh.” Ia merebahkan tubuh Selena secara perlahan, lalu mencium bibir yang sangat dirindukan dengan sangat lembut sebagai permulaan.


Brandon tidak langsung polos seperti saat pertama, kali ini ia melakukan mulai dari memantikkan rangsangan. Mencumbu mesra diawali dari ciuman, meninggalkan jejak merah di leher dan beberapa bagian lain. Barulah ketika memastikan Selena mulai terbuai dan bisa menerima apa yang tengah ia lakukan, Brandon meloloskan satu demi satu kain yang membalut tubuh indah sang istri.


Selena sudah mempersiapkan untuk malam pertama mereka. Jadi, dia tidak ketakutan lagi dengan Brandon. Menyingkirkan segala kenangan menakutkan yang pernah dilakukan suaminya di masa lalu.


Justru Selena berubah posisi menjadi duduk untuk membantu melepaskan kemeja yang membalut tubuh kekar suaminya. Tapi, pandangan terjatuh pada jahitan yang menyita perhatian. “Lenganmu kenapa?” tanyanya sembari menyentuh daerah sekitar luka.


“Terkena tembakan dari Alex, untung tak terkena organ vital,” jelas Brandon sembari meloloskan seluruh pakaian hingga kini ia juga sama polos.


Selena menatap sedih wajah suaminya. “Apa kau pulang terlambat karena ini?”


“Ya, aku harus mengobati luka tembaknya dan membuat banyak sekali laporan di kantor kepolisian,” jelas Brandon seraya duduk di hadapan Selena.


Kepala Selena terdorong ke arah luka. Ia mencium bekas tembakan tersebut dengan segenap cinta serta kasih. “Apakah sakit?”


“Tidak, karena penawarnya ada di hadapanku.” Brandon mendorong pelan tubuh sang istri sampai tertidur kembali. Ia mengungkung Selena dan langsung melakukan pemanasan yang sesungguhnya.


Semakin turun ke bawah hingga berhenti pada bagian utama permainan, Brandon melihat sejenak apakah bekas jahitan akibat ulahnya masih tersisa atau tidak. Sudah samar, ia pun mencium area sensitif tersebut. “Maaf jika dahulu aku pernah menyakitimu, membuatmu sampai terluka.” Bibirnya mengucapkan itu setelah mengecup.


Sebelum melakukan penyatuan, Brandon ingin menanyakan kesiapan sang wanita terlebih dahulu. “Boleh ku lakukan sekarang?”


Mengangguk yakin tanpa keraguan sedikit pun. “Boleh,” jawab Selena.


Memang Brandon sangat bersemangat, tapi dia tetap melalukan secara perlahan supaya tidak memberikan ingatan buruk lagi pada istrinya. Hentakan yang diberikan sangat lembut hingga Selena bisa terlihat kenikmatan. Begitu juga dengan dirinya.


“I love you, Selena. Semoga kita bisa hidup bersama selamanya.” Brandon membisikkan kata-kata cinta tersebut di telinga sang istri saat proses bercinta. Itu memang dari hatinya, setelah dia menyadari kalau wanita itu berharga dan sangat berarti dalam kehidupannya.


“Aku jauh lebih dahulu mencintaimu, Brandon,” balas Selena diiringi suara erotis yang keluar juga dari bibirnya.


“I know, maaf jika dahulu hanya menganggapmu teman. Mulai sekarang, aku akan berlomba agar melebihi cintamu padaku.”


Entah Brandon harus bersyukur atau tidak karena dijebak oleh Alex hingga membuatnya bisa bersatu dan menemukan cinta sejatinya. Tapi, yang jelas tetap tidak membenarkan penyimpangan perilaku sebagai seorang mantan pecandu.


Akhirnya, setelah berbulan-bulan Brandon dan Selena menikah, keduanya bisa melangsungkan malam pertama juga. Mungkin sudah kadaluarsa, tapi tetap saja rasanya begitu menggelora, apa lagi bersama orang yang dicinta.


...-TAMAT-...