
“Bisa bahaya, Selena, kalau kau memaksakan diri terbang ke Munich sekarang.” Mama Gwen sampai menghela napas kasar karena melihat permohonan putrinya yang sangat keras kepala.
“Masih ada waktu, Ma, kalau aku berangkat sekarang.” Tak henti Selena terus meyakinkan orang tuanya.
“Memangnya kau sudah membeli tiket pesawat? Pukul berapa penerbangangan yang paling awal?”
Kepala Selena menggeleng. “Setelah ini aku akan mencari tiket pesawat kalau diizinkan.”
“Terlalu berisiko.” Tapi, Mama Gwen takut kalau anak dan calon cucunya berada dalam keadaan bahaya.
Alceena yang menyaksikan Selena sampai memohon bersimpuh di depan Mamanya pun merasakan hati seperti dicubit. Begitu kuat keinginan kakaknya demi memenuhi harapan Brandon. “Ayo, ku temani ke Munich, kita pinjam pesawat keluarga Dominique, aku akan hubungi Dariush supaya dia memberikan izin.”
Alceena membantu Selena untuk berdiri. Kalau ia berada di posisi sang kakak, pasti akan melakukan hal yang sama. Maka, membangkang sedikit tak masalah.
“Astaga ... kenapa dua anakku keras kepala semua,” keluh Mama Gwen saat melihat punggung Alceena dan Selena mulai menjauh.
...........
Selena terus berdesis menahan sakit. Kontraksi yang dialami jaraknya mulai berdekatan. Ia mengusap perut saat di dalam mobil menuju bandara. Baru saja mengambil paspor untuk kepentingan keluar masuk negara lain.
“Nak, sabar sebentar saja, oke? Mommy sedang mengusahakan yang terbaik untuk kita. Kau ingin bertemu Daddy, ‘kan? Aku juga. Jadi, tunggulah sampai kita mendarat di Munich.” Selena mencoba meminta pengertian pada anaknya. Walaupun bayi di dalam kandungannya belum tentu bisa paham dengan apa yang dibicarakan.
Kendaraan yang ditumpangi oleh Alceena dan Selena akhirnya berhenti juga di bandara.
“Jangan jalan, bagaimana kalau nanti anakmu tiba-tiba keluar? Aku ambilkan kursi roda.” Alceena memperingatkan supaya sang kakak tak menurunkan kaki terlebih dahulu.
“Sini ku bantu.” Alceena mengulurkan tangan dan diraih oleh Selena.
“Terima kasih,” ucap Selena ketika sudah mendudukkan pantat di kursi roda.
Wanita yang sedang hamil anak kembar itu hendak mendorong Selena. ‘Ternyata berat juga,’ gumamnya dalam hati.
Namun, tiba-tiba ada tangan kekar yang menyentuh kedua tangan Alceena. Orang itu berdiri di belakangnya. Mendongak ke atas untuk melihat siapa yang berani melakukan itu. “Dariush?”
“Ya.” Pria itu dengan santainya tersenyum dan membantu mendorong kursi roda karena melihat wanitanya kesulitan.
“Kenapa kau ke sini?”
“Karena aku harus memastikan kalian selamat sampai Munich.” Dariush mengusap puncak kepala Alceena yang selalu berantakan seperti rambut singa. “Menyingkirlah, biarkan aku yang mendorong kakakmu.” Ia melepaskan tangan sang wanita dari pegangan kursi roda.
Jadilah Alceena berjalan di samping Dariush dan membiarkan pria itu membawa kakaknya.
“Maaf jadi merepotkan kalian,” ucap Selena dengan perasaan bersalah.
“Tidak, kami turut andil dengan kondisimu saat ini. Jadi, sudah sewajarnya membantu. Lagi pula, kau dan Brandon tak akan berjarak kalau bukan aku yang memasukkan dia ke pusat rehabilitasi.” Alceena mengusap lengan Selena supaya wanita itu tak perlu merasa tak enak hati padanya.
Mereka bertiga sampai juga di pesawat pribadi keluarga Dominique. Dariush hendak menggendong Selena untuk dibawa masuk ke dalam sesuai permintaan Alceena.
“Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Namun Selena menolak dan memilih menaiki anak tangga yang berjumlah tak lebih dari sepuluh.