
Selena sudah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan jahitan di area jalan lahir yang robek. Begitu juga dengan si mungil pun ikut ke instansi kesehatan tersebut. Brandon diizinkan untuk mendampingi karena pria itu sudah memasuki tahap tiga dalam proses penyembuhan, jadi tidak harus selalu terkurung di pusat rehabilitasi.
Alceena serta Dariush yang sejak awal membantu dan menemani pun masuk ke dalam ruang rawat Selena. Keduanya memastikan kondisi wanita itu apakah baik-baik saja atau tidak. Tak lupa memberikan ucapan selamat.”
“Halo, keponakan Aunty, jagoan, ya?” Alceena mengajak bayi yang sedang coba menyusu Selena itu untuk mengobrol.
Selena mengangguk. “Iya.” Kepalanya lalu melihat ke sekitar. “Apakah Mama tak menyusul ke sini?” Sudah enam jam dari kepergiannya ke Munich, tapi belum melihat orang tuanya. Ia jadi merasa bersalah karena membangkang dan tak mengindahkan ucapan dari wanita yang sudah melahirkannya.
Alceena mengedikkan bahu. “Belum ada kabar, tapi aku sudah memberi tahu kalau kau melahirkan dengan selamat,” jelasnya seraya mengusap halus pipi bayi yang masih merah.
“Mamamu di sini.” Suara Brandon yang baru saja masuk langsung memberi tahu. Di belakangnya ada orang tua Selena.
Brandon baru saja pergi membeli perlengkapan bayi dan pakaian ganti untuk Selena. Dia tidak mempersiapkan segala keperluan karena waktu terus dihabiskan untuk proses penyembuhan. Jadi, selagi ada kesempatan, maka digunakan sebaik mungkin supaya tak menyesal dikemudian hari kalau tak bisa merawat ataupun berada di sisi anak serta wanita yang sudah melahirkan keturunannya.
Brandon meletakkan dua tas besar di dalam ruangan lain yang ada di dalam sana. Itu adalah fasilitas yang bisa digunakan untuk istirahat orang yang menunggu pasien. Lalu kembali keluar untuk berada di sisi Selena.
Selena tersenyum lembut menyambut kedatangan orang tuanya. “Ma, maafkan aku karena tidak menurut denganmu.”
Mama Gwen segera mengayunkan kaki, berhenti tepat di samping Selena untuk mengusap kepala putri dan cucunya. “Tak apa, Mama paham dengan keinginanmu yang ingin melahirkan didampingi Daddy dari anakmu. Aku hanya khawatir kalau ada hal buruk yang menimpa kalian. Tapi, melihat kau dan cucuku baik-baik saja, perasaanku lega.” Begitu lembut caranya menjawab. Mungkin sifat Selena menurun dari dirinya.
“Tidak, nanti juga kami tahu sendiri kalau Selena atau kau mulai memanggil anak kalian,” jawab Dariush dan langsung mendapatkan cubitan kecil dari istrinya yaitu Alceena.
Melihat Brandon seperti sedikit muram dan langsung berpura-pura kembali fokus ke si mungil, Selena langsung mencolek Mamanya supaya bertanya. Mungkin Dariush tidak tahu betapa sensitifnya perasaan Brandon sekarang.
Mama Gwen yang paham pun langsung mengajukan pertanyaan. “Wah ... cucuku sudah punya nama ternyata?”
“Sudah,” jawab Selena.
“Siapa nama cucuku yang jagoan ini?”
Brandon diam saja dan terus mengusap kulit anaknya.
Selena yang melihat reaksi Brandon pun segera menepuk pundak pria itu, ternyata sedang melamun. “Mamaku bertanya, siapa namanya?”
Brandon segera menatap wanita paruh baya yang mungkin akan menjadi calon mertuanya, nanti kalau dia sudah keluar dan sembuh. Itu pun jika mendapatkan restu. “Karena anak ini pejuang yang tangguh, maka ku beri nama Hedwig Brooks.”
“Nama yang keren, sekeren Daddynya.” Selena langsung memberikan pujian. Mungkin cara-cara sederhana seperti itulah yang dibutuhkan supaya Brandon kembali percaya diri dan siap hidup bersosial lagi.