Ecstasy

Ecstasy
Part 32



Selena hanya di Munich selama satu minggu. Dia tidak bisa berada di sana terus karena tak ada yang menjaga dua puluh empat jam, Brandon harus kembali ke pusat rehabilitasi untuk menyelesaikan proses pemulihan yang nampaknya sebentar lagi akan berakhir.


Mereka tak pulang ke Helsinki menggunakan pesawat, tapi melalui jalur darat supaya lebih aman dan nyaman bagi bayi yang baru berumur satu minggu. Tentu saja meminta Tuan Pattinson untuk datang menjemput naik mobil.


Kini Selena, Brandon, dan si mungil harus kembali berpisah. Sudah satu bulan ini mereka tidak bertemu.


Hedwig sejak tadi terus menangis kencang. Selena sudah mencoba menenangkan dengan cara menyusui tapi tidak mau, digendong juga sama saja, dipeluk tak ada perubahan, bahkan diajak jalan-jalan pun tetap masih menangis.


Selena bingung dan lelah, dia membaringkan Hedwig ke atas sofa yang ada di ruang keluarga. Membiarkan jagoannya membuat bising seluruh penghuni mansion.


“Sayang, kau mau apa? Kenapa tak mau diam?” Selena yang tengah bersimpuh di lantai pun menatap Hedwig dengan mata berkaca-kaca. Rasanya ingin menangis saat usaha untuk menenangkan tak kunjung berhasil.


Mama Gwen yang mendengar tangisan keras dari sang cucu pun segera menghampiri. “Selen, kenapa Hedwig didiamkan saja?” Ia segera menggendong bayi mungil tersebut.


“Aku tak tahu harus melakukan apa, dia tak mau diam sejak tadi.” Selena hanya melihat bagaimana Mamanya menenangkan Hedwig. Mungkin karena Nyonya Pattinson sudah pernah memiliki anak, jadi tahu bagaimana cara menghadapi bayi.


“Mungkin posisi menggendongmu kurang nyaman. Jadi membuatnya menangis, buktinya dengan Mama diam.”


Selena berangsur berdiri hingga bisa melihat si mungil yang sudah tak menangis lagi. “Mommy menggendongnya tidak membuatmu nyaman? Maaf, ya? Nanti Mommy belajar lagi.”


...........


Sementara itu, di pusat rehabilitasi, Brandon baru saja diperbolehkan pulang. Hasil evaluasi pria itu menunjukkan ke arah yang lebih baik.


“Ingat, Tuan, jangan pernah tergoda ataupun menyentuh obat terlarang lagi. Penyembuhan Anda bisa sia-sia kalau pada akhirnya masih mengkonsumsi ekstasi.” Salah satu tim medis Brandon memberikan nasihat. Mengulurkan tangan sebagai ucapan selamat karena akan terbebas.


“Sebisa mungkin aku akan menjauhi barang itu.” Brandon balas jabatan tangan tersebut diiringi senyuman dan ucapan terima kasih karena sudah membantunya sampai sejauh ini.


Kaki Brandon keluar dari gerbang rehabilitasi. Kedua bola mata melihat ke arah sekitar, banyak pasien lain yang dijemput oleh keluarga mereka. Tapi, kini ia justru tersenyum getir karena tak ada satu pun yang datang menyambut kebebasannya.


“Apa mereka sudah tak peduli lagi denganku?” gumam Brandon. Yang dimaksud adalah orang tuanya. Dia sengaja tak meminta tim medis untuk memberikan kabar pada Selena karena wanita itu pasti sedang sibuk merawat bayi. Tapi, ia memohon supaya mengirimkan pesan pada Tuan dan Nyonya Brooks.


Helaan napas penuh rasa kecewa pun keluar dari bibir Brandon. “Mungkin mereka sibuk.” Dia berusaha untuk berpikiran positif.


Tak masalah pulang sendiri, Brandon bisa naik taksi. Dia meminta supir mengantarkan ke kediaman keluarganya yang merupakan tempat tinggalnya juga.


Brandon segera turun dan masuk ke dalam mansion yang tak terlalu besar tapi juga tidak kecil. Dia bisa melihat kedua orang tuanya sedang karaoke di depan televisi. Entah kenapa rasanya sakit sekali, ia pikir mereka sedang sibuk sampai tak bisa menyempatkan menjemput, ternyata sedang bersenang-senang.