Ecstasy

Ecstasy
Part 49



Setelah dirasa sudah jauh, Brandon baru meminta polisi yang datang bersamanya untuk duduk normal dan tak perlu bersembunyi lagi. “Bosnya memintaku untuk menjual ini sebagai syarat kalau ingin bergabung dengan mereka.” Ia memberikan plastik berisi ekstasi ke jok belakang.


“Kau akan menjualnya?”


“Tentu saja tidak, aku akan menggunakan uang pribadi. Mereka hanya ingin menguji saja. Yang penting kita dapatkan para pengedar ini sampai ke sumbernya secara langsung karena yang menjadi bosnya adalah produsennya. Kalau hanya menangkap pengedar tapi pembuatnya masih berkeliaran bebas, sama saja tetap banyak orang yang akan menjadi korban.”


“Tapi, ku rasa tidak semudah itu mereka akan memberi tahu lokasi pabrik dan bosnya. Mustahil sekali hanya memberikan syarat menjual ini,” sanggah polisi tersebut.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan? Nampaknya harus menyusun strategi.”


“Kita ke tempat yang aman untuk mendiskusikan ini.”


Brandon pun melihat ke spion terlebih dahulu, memastikan apakah ada orang yang mengikuti atau tidak. Dirasa aman, ia membawa kendaraan untuk menuju hotel tempatnya menginap selama melakukan misi ini.


...........


Setelah melakukan diskusi yang begitu panjang dan lama untuk mengatur strategi supaya Brandon bisa meyakinkan kalau memang ia bukanlah sebuah ancaman bagi komplotan penjual obat terlarang, akhirnya pria itu bisa bersantai juga.


Sehari tidak melihat istri dan anak, membuat Brandon sangat merindukan keduanya. Melihat jam terlebih dahulu karena takut mengganggu istirahat kalau terlalu malam menghubungi.


Brandon sengaja tidak pulang ke mansion selama misi ini karena ia takut bisa membahayakan keluarga. Juga lebih meyakinkan kalau hidupnya memang berantakan.


Brandon pun hanya bisa mengobati rasa rindu dengan menatap foto yang digunakan untuk wallpaper, potret anaknya. Namun, tiba-tiba ada panggilan masuk. Tertera jelas kalau Selena yang menelepon. Tanpa menunggu lama, tentu saja langsung diangkat.


Tangan Brandon yang memegang ponsel pun sedikit dijauhkan supaya wajah bisa terlihat jelas di layar, mereka tengah melakukan video call.


Selena menggelengkan kepala pelan. “Hedwig menangis terus sejak tadi, sulit sekali ku tenangkan.” Ia mengarahkan layar pada anaknya yang dibiarkan tertidur di atas ranjang dan masih berteriak, menangis layaknya bayi pada umumnya sampai wajah terlihat merah.


“Sayangnya Daddy, Hedwig kenapa menangis? Rindu digendong Daddy, ya?”


Mendengar suara Brandon, bayi yang histeris itu mendadak mulai diam dan melihat ke arah layar. Entah memang dia paham kalau diajak bicara orang tuanya, atau karena layar ponsel yang menyala terlihat menarik mata. Mungkin juga bisa akibat tepukan di pantat dari tangan Selena.


“Wah ... Hedwig sepertinya ingin bertemu Daddy,” ucap Selena.


“Minggu depan Daddy pulang, Sayang, jangan buat Mommy kuwalahan ya.”


Selena membiarkan Brandon berceloteh dengan Hedwig supaya anak mereka tidak menangis lagi.


“Bagaimana kabarmu hari ini? Semua lancar?” tanya Selena.


“Lancar, doakan saja misi ini berhasil supaya tak ada lagi korban seperti aku.”


Selama satu jam penuh mereka melakukan panggilan video. Saling menghilangkan rasa rindu satu sama lain walau sekedar melalui layar sebesar enam koma tujuh inch.


...........


Satu minggu penuh Brandon habiskan waktu itu untuk mengedarkan ekstasi. Dia tahu kalau selama ini ada yang mengawasi. Jadi ia tidak langsung menyetorkan uangnya, melainkan sungguh menjual barang yang bisa merusak generasi bangsa. Tapi, jangan disangka kalau pembelinya adalah pemakai sungguhan, tentu saja hanya sandiwara. Semoga saja peran yang mereka lakukan berhasil untuk mengelabuhi.