
Brandon sudah mengirimkan pesan pada kedua orang tuanya sejak satu minggu yang lalu. Ia mengabarkan tanggal pernikahan dengan Selena. Terserah akan datang atau tidak. Tapi harapannya sebagai anak, pastilah hari bahagia ingin disaksikan juga bersama keluarga.
Namun, sampai hari ini, sebelum Brandon mengikrarkan janji suci, belum terlihat Tuan dan Nyonya Brooks datang ke Helsinki. Bahkan tidak ada kabar sedikit pun, pesannya juga tak dibalas.
Sudahlah, Brandon tak ingin kecewa dengan harapannya sendiri. Lebih baik dia mengulas senyum karena ini akan menjadi hari bersejarah baginya. Tidak ada pernikahan yang gagal seperti sebelumnya.
Sekarang Brandon dan Selena sedang berada di mobil berbeda. Calon mempelai wanita berangkat bersama keluarga Pattinson. Keduanya sama-sama menuju tempat yang akan menjadi lokasi pernikahan.
Brandon segera turun dari mobil, menanti mempelai wanitanya. Tepat sekali di depannya, ada kendaraan yang berhenti. Ia membukakan bagian pintu belakang di mana Selena berada.
Tangan Brandon langsung terulur untuk membantu Selena keluar. Ia bisa merasakan kalau wanita itu membalas dengan menggenggam, dan menyembulkan tubuh diiringi ulasan senyum.
Membuat Brandon sangat terpukau. “Kau cantik sekali.” Ia mengecup permukaan kulit putih nan lembut milik Selena.
“Kau sangat gagah dan tampan, Daddynya Hedwig.” Selena juga balas memuji, tapi memang jujur seperti itu adanya.
Brandon memposisikan lengannya supaya Selena bisa melingkarkan tangan di sana. “Siap?”
“Sangat.”
Dengan menggandeng Brandon, kedua calon mempelai itu memasuki lokasi pernikahan. Melewati karpet merah menuju depan, tempat berlangsungnya janji suci.
Tamu undangan dan keluarga Pattinson telah menduduki kursi yang disediakan dalam venue. Sepanjang kaki melangkah, Brandon tidak fokus ke depan. Tapi, pria itu sembari melihat ke kanan dan kiri, memastikan apakah orang tuanya hadir di menit-menit terakhir atau tidak. Ternyata, tetap tak ada.
“Kenapa?” bisik Selena. Dia bisa merasakan kalau Brandon seperti mencari sesuatu.
“Tak apa, hanya sedikit miris saja, di saat seperti ini, orang tuaku tak datang.”
Dua pasang kaki itu berhenti tepat sekali di depan. Calon mempelai fokus untuk menjawab pertanyaan dari seseorang yang akan mengesahkan pernikahan mereka.
Barulah Brandon dan Selena dipersilahkan untuk saling berhadapan setelah dipastikan kalau pernikahan yang akan berlangsung bukan atas keterpaksaan. Keduanya diminta untuk saling menggenggam tangan satu sama lain.
“Saya, Brandon Brooks, dengan niat yang suci dan ikhlas hati memilihmu, Selena Eisten, menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia kepadamu saat suka dan duka, sehat maupun sakit, menerima segala kekurangan serta kelebihanmu. Saya akan selalu berada di sisimu sepanjang hidup sampai maut memisahkan.” Ia begitu lancar dan lantang dalam mengucapkan janji tersebut.
Begitu juga dengan Selena. Ia melakukan janji yang sama persis seperti mempelai pria.
Brandon dan Selena akhirnya dinyatakan resmi menjadi sepasang sumi istri. Mereka sama-sama mengulas senyum lega sekaligus gembira.
Brandon tak langsung mencium istri barunya. Tapi, ia mengambil sesuatu dari kantong. Kotak perhiasan. Dia membuka itu dan menunjukkan pada Selena.
“Maaf jika saat itu aku hanya memberimu cincin dari kertas origami. Maka, di hari pernikahan kita, ku gantikan dengan cincin perhiasan sungguhan.”
Brandon meraih tangan Selena, ia hendak mengambil cincin dari origami yang ia buat selama tiga hari dengan belajar di youtube. “Kau berharga, Selena, tidak pantas memakai ini,” ucapnya saat berhasil meloloskan kertas origami tersebut.
Selena mencegah tangan Brandon yang hendak meremas cincin dari kertas itu. “Jangan, biarkan aku pakai di tangan satunya, nanti akan ku simpan sebagai kenangan.”
Brandon pun mengurungkan niat untuk menghancurkan cincin tak ada harganya itu. Ia beralih mengambil perhiasan dan memakaikan pada jari manis Selena. “Aku akan berusaha untuk mencintaimu.” Setelah mengucapkan itu, bibirnya mulai disatukan dengan milik mempelai wanita. Mencium dengan lembut dan penuh perasaan.
...*****...
...Kondangan ah, mau numpang makan doang, tapi ngasih amplopnya kosongan wkwkwk...