
Selena terus menolak ketika dipaksa dibawa ke rumah sakit oleh orang tuanya dan juga Alceena. “Turunkan aku!” pintanya dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak, Selena, tak boleh menunda kalau memang sudah saatnya melahirkan, bisa bahaya untuk anakmu.” Namun Mama Gwen berusaha menjelaskan alasannya kenapa tak memberikan izin pergi ke Munich sekarang.
“Aku sudah berjanji dengan Brandon untuk melahirkan di sampingnya. Kasian dia, pasti merasa bersalah kalau aku melahirkan sendiri.” Selena terus mencoba menjelaskan situasi yang ia hadapi.
Dalam suasana menahan rasa sakit di perut, pinggang, dan sekujur tubuhnya pun Selena masih memikirkan Brandon. Bagaimana tidak? Di saat semua orang tidak ada yang mengulurkan tangan untuk berteman, justru pria itulah satu-satunya yang datang menghampiri.
Selena tak mungkin tega menghancurkan harapan Brandon. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk mewujudkan keinginan pria itu yang mau berada di sampingnya ketika anak mereka lahir.
“Kita cek ke rumah sakit sebentar, kalau memang kau boleh terbang naik pesawat, maka akan kami temani. Tapi, kalau kondisinya tidak memungkinkan, jangan lakukan itu,” jelas Alceena. Ia mencoba menggenggam tangan Selena agar wanita itu berhenti khawatir berlebihan.
Selena menghela napas kasar. Tidak ada satu pun yang mau membiarkannya pergi ke bandara. Dia hanya bisa pasrah. Tak mungkin berani nekat turun karena sangat berbahaya bagi nyawanya dan anak yang masih dalam kandungan.
Mobil pun berhenti di depan sebuah rumah sakit swasta. Selena segera turun dan keluarganya langsung mengapit di sebelah kanan dan kiri. Sehingga ia tidak bisa berlari atau pergi kemanapun.
Selena masih mencoba tenang, meskipun dalam hati sedang berdoa supaya anaknya belum mendesak ingin keluar sebelum ia sampai di Munich.
Dada Selena berdebar ketika tubuh mulai direbahkan ke sebuah brankar, lalu kedua kaki diangkat ke atas di sebuah penyangga khusus, sampai kedua paha terbuka lebar. Dan semakin cepat ritme jantungnya mempompa darah saat merasakan ada jari yang berusaha masuk ke dalam daerah jalan lahir anaknya.
‘Ku mohon jangan sekarang,’ doa Selena dalam hati.
“Mulut rahim Anda sudah terbuka lima centimeter, Nona,” beri tahu Dokter tersebut. Tandanya, Selena sudah pembukaan lima.
“Sebentar lagi akan melahirkan, mungkin tidak sampai satu hari.”
Selena langsung terdiam. Ia melihat di sekitar ruangan itu tak ada keluarganya. “Aku tidak harus tinggal di rumah sakit, ‘kan?”
“Disarankan untuk tetap di sini, supaya persalinan lebih dekat dan memudahkan Anda. Jadi, tidak perlu menempuh perjalanan lagi.”
Tidak, Selena tak boleh tetap di Helsinki. Ia harus segera berangkat ke Munich. “Aku ingin pulang saja.”
“Saya bicarakan dengan keluarga Anda terkait hal ini.”
“Jangan!” seru Selena. Bisa gagal rencananya pergi ke Jerman sekarang. “Aku akan mengatakan pada mereka sendiri.”
“Maaf, Nona. Tapi, keluarga memang harus tahu terkait ini.” Dokter itu tak mengindahkan permintaan pasiennya.
Membuat Selena menghela napas seraya menengadahkan kepala. “Kenapa semua orang menghalangi aku untuk bertemu Brandon?”
Selena ingin langsung memesan tiket pesawat saat ini juga. Tapi, ia tidak membawa ponsel. Sehingga mau tak mau berjalan lunglai keluar dari ruangan tersebut.
Derai air mata meluncur di wajah Selena, ia merosot ke bawah sampai lutut menyentuh lantai. Bersimpuh di hadapan Mamanya. Memohon dengan sangat pada keluarga supaya membiarkan pergi ke Munich. “Berikan aku kesempatan satu kali ini saja, mungkin bagi kalian moment melahirkan adalah hal biasa, tapi tidak untukku dan Brandon. Dia sangat menginginkan berada di sisiku dan menyaksikan anak kita keluar ke dunia secara bersama. Tolong, izinkan aku pergi.” Kepalanya menunduk, setiap tetes yang keluar dari mata langsung terjatuh di lantai.