Ecstasy

Ecstasy
Part 34



“Maaf jika aku belum bisa menjadi putra kalian yang membanggakan. Tapi, setidaknya, tolong perlakukan aku layaknya keluarga. Hanya itu yang ku inginkan di sini. Sejak kecil sampai dewasa, aku sudah mencoba yang terbaik, menuruti seluruh kemauan Mommy dan Daddy. Sekali lagi aku minta maaf. Kalau memang kehadiranku di sini sudah tak disambut lagi, maka aku akan pergi.” Brandon menyeka air mata yang luruh dari kedua bola mata. Hatinya sakit diperlakukan tak baik di dalam rumahnya sendiri.


Harapannya begitu sederhana, merindukan peluk yang telah lama tak didapatkan. Meskipun Brandon sadar kalau hidupnya sudah sangat berantakan. Tapi, dia ingin menjadi lebih baik. Sampai detik ini sudah berusaha semampunya.


Brandon menahan bibir yang terasa bergetar. Tak ada salahnya seorang pria menangis, tandanya dia memiliki perasaan, bisa kecewa dan patah hati.


Pria itu berbalik badan, mengayunkan kaki kian menjauhi kedua orang tuanya. “Luka dari keluarga sendiri lebih menyakitkan daripada putus cinta,” gumamnya.


Brandon masuk ke dalam kamarnya. Mencoba menghilangkan sesuatu yang terasa sesak. Bahkan sampai memukul dadanya sendiri dengan sangat kuat. Berharap akan hilang kepiluan ini.


“Mungkin mereka sedang terkejut. Aku harus tetap berpikiran positif. Tidak ada orang tua manapun yang tak menyayangi anaknya.” Dalam situasi seperti ini, Brandon masih berharap semua yang terjadi hari ini pasti akan berlalu dan semua bisa kembali seperti biasa.


Cukup, jangan menangis lagi. Brandon lekas menyeka air mata. “Aku harus memberikan kabar pada Selena.”


Sebelum meraih ponsel untuk menghubungi seseorang yang tengah berada di negara Finlandia, Brandon membasuh wajahnya supaya tak begitu terlihat baru saja menangis.


Mengambil posisi tiduran di atas ranjang, Brandon sudah memegang ponsel dan mencari kontak Selena. Dia melakukan video call karena merindukan anaknya, begitu juga dengan Selena.


“Brandon?” Selena membulatkan mata saat melihat wajah pria itu. “Kau sudah pulang?”


Brandon mengangguk diiringi wajah penuh senyum. “Ya, baru saja.”


Sepertinya, hanya Selena yang melihatnya dengan sorot bangga, bahagia, dan penuh rasa haru. Brandon bisa melihat itu, meskipun dari sebuah layar sebesar enam koma tujuh inch.


“Seharusnya tim medis di pusat rehabilitasi mengatakan padaku kalau kau bebas. Pasti, akan ku jemput bersama Hedwig.”


Selena sejak tadi sedang memperhatikan wajah Brandon, ada sesuatu yang nampak berbeda. “Apa kau baru saja menangis?”


Brandon segera menekan kotak kecil di sudut kanan atas pada layar. Hingga kini yang ditunjukkan sangat besar adalah wajahnya, bukan Selena. “Tidak,” dia berusaha berkilah.


“Jangan bohong, Brandon, wajahmu terlihat jelas kalau sembab. Apa lagi matamu itu, masih merah.”


Brandon terdiam, mau beralasan apa lagi? Dia tak bisa mengelak.


Tapi, Selena kembali mengajukan pertanyaan. “Are you ok? Apa yang membuatmu bersedih?”


“Aku hanya merindukanmu dan Hedwig,” jawab Brandon. Dia belum siap saja menceritakan kondisi keluarganya. Bisa jadi perlakuan orang tuanya hanya amarah sesaat dan mungkin akan kembali lagi seperti biasa.


“Kalau begitu, kami akan ke Munich.”


“Jangan, aku saja yang ke sana,” larang Brandon.


Selena memindahkan kamera untuk diarahkan pada wajah putranya yang sedang digendong oleh Mama Gwen. “Hi, Daddy, Hedwig tunggu di sini, ya?”


“Kata Grandma, jangan lupa bawa Mommy dan Daddynya. Siapa tahu ingin langsung melakukan sakramen pernikahan di sini.” Itu suara Mama Gwen yang ikut menyahut.


...*****...


...Kek mana mau bawa Emak Bapaknya, mereka pun gak peduli. Cari calo ajalah Brandon buat jadi saksi...