Ecstasy

Ecstasy
Part 28



Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Selena saat ini. Tentu saja ia berdebar ketika burung besi mulai mengudara di atas awan. Rasa sakit yang begitu hebat sedang melanda diri, luar biasa sekali kontraksi itu datang tanpa jeda. Tapi, ia berusaha untuk mengatur pernapasan supaya lebih tenang dan mencoba tak merasakan sekujur tubuh yang sedang seperti dipatahkan.


"Kau baik-baik saja?" tanya Alceena. Ia memilih duduk di dekat sang kakak dibandingkan prianya. Supaya bisa menggenggam tangan Selena ketika wanita itu butuh dukungan seperti saat ini.


Selena menganggukkan kepala tanpa menjawab dengan sebuah suara. Sebab, bibirnya sedang mengatur pernapasan agar lebih relax dan pikirannya juga tidak memikirkan hal-hal buruk. Membiarkan sang adik menggenggam tangannya.


“Masih berapa lama lagi kita mendarat di Munich?” tanya Selena dengan suara lirih. Wajah wanita itu sudah terlihat kesakitan, mata sayu, dan sering menggigit bibir bawah.


“Lima menit lagi,” jawab Alceena saat melihat layar yang menunjukkan rute perjalanan udara pesawat pribadi milik keluarga Dominique.


Selena kembali memusatkan pikiran supaya anaknya jangan segera mendesak keluar. Ia berusaha keras agar tak mengejan walaupun sebenarnya sangat ingin melakukan itu.


‘Sabar sebentar saja, Nak, sampai Mommy bertemu Daddymu.’ Selena berbicara dalam hati ketika ia merasakan ada sesuatu yang rembes keluar dari jalan lahirnya. Sepertinya air ketuban mulai pecah.


Akhirnya, burung besi itu mengeluarkan ban kecil dan mendarat sempurna di bandara yang ada di Munich.


“Hei, kita sudah sampai.” Alceena menyentuh lengan Selena yang sedang terpejam seraya meringis menahan sakit.


Selena segera membuka kelopak mata, ia tak tertidur, hanya berusaha mengatur pikiran saja. Tangan segera membuka sabuk pengaman dan berdiri pelan seraya memegang perut. Tentu saja wanita itu tak pernah lupa menarik napas dan menghela secara perlahan agar tenang.


Alceena memicingkan mata ketika melihat dress biru cerah yang dipakai oleh Selena nampak berbeda warna di bagian pantat ke bawah. “Pakaianmu basah, apa kau buang urine di sini?”


Alceena langsung mengangguk saat Dariush melirik ke arahnya.


“Tentu.” Tangan Dariush langsung menggendong kakak iparnya keluar.


Tak jauh dari pesawat, ada mobil yang sudah menanti. Mereka bertiga segera masuk ke dalam dan melaju ke arah pusat rehabilitasi.


“Sir, tolong naikkan kecepatannya,” pinta Alceena kepada supir. Ia melihat kakaknya seperti sudah tak tahan ingin segera melahirkan pun gemas juga kalau kendaraan itu tak cepat sampai ke pusat rehabilitasi.


Untung saja jarak bandara dengan tempat di mana Brandon berada saat ini tak terlalu jauh. Jadi, sepertinya masih ada waktu.


“Sayang, tolong bantu Selena keluar.” Alceena segera meminta bantuan ketika mobil sudah berhenti di depan pusat rehabilitasi.


“Segera datang.” Dariush gerak cepat keluar dari pintu depan, dan membopong kakak iparnya lagi.


Alceena mengekori di belakang sang pria yang cepat sekali mengayunkan kaki. Bahkan ia jadi tertinggal karena tak bisa bergerak gesit akibat perut yang sedang buncit.


“Kami ingin bertemu Brandon Brooks, kakakku akan melahirkan tapi ingin ditemani oleh Daddy dari anaknya. Tolong bawa kami ke pria itu.” Alceena segera mengutarakan maksud kedatangannya pada salah satu tim medis. Suaranya terdengar tergesa-gesa dan tak sabaran.