Ecstasy

Ecstasy
Part 30



Selena kembali mengejan ketika kontraksi kembali datang. Dia mencari pegangan sebagai penguat, dan di saat itulah Brandon dengan suka rela memberikan tangan. Pria itu dengan senang hati disakiti. Meskipun rasanya pasti tak seberapa dibandingkan yang saat ini sedang melanda Selena.


Setelah perjuangan lima belas menit, akhirnya suara bayi menggema juga di telinga Brandon dan Selena.


Selena sampai menitikan air mata bahagia karena akhirnya perut berasa lega. Dia tak menyangka perjalanan melahirkan yang dramatis karena keras kepalanya ingin ditemani oleh Brandon kini terbayar lunas.


Brandon langsung memeluk Selena saat itu juga, mencium kening terus menerus. Rasa syukur tak henti menyelimuti hati. “Maaf tak bisa memberimu tempat yang layak untuk melahirkan. Tapi, terima kasih karena kau tidak menggugurkan bayi itu dan merawatnya sampai ada di dunia.” Dia senang bisa menemani berjuang meskipun hanya ketika akhir saja.


Selena mengangkat tangan, menyentuh kepala Brandon untuk mengusap pria itu. “Hei, jangan merasa bersalah. Tempat ini cukup baik untuk persalinan, tidak kotor, bersih, dan yang terpenting ada kau di sisiku.”


“Seharusnya kau tidak perlu datang ke sini kalau kondisi sudah mendesak. Jika menghubungi tim medisku, pasti akan ku usahakan datang ke sana.” Jantung Brandon sampai detik ini masih berdebar hebat saat melihat wajah Selena yang tadi nampak sangat kesakitan. Dia hanya khawatir saja.


“Aku ingin memenuhi janji yang akan datang ke sini saat melahirkan, tak tahu kalau prosesnya akan secepat ini. Tanggal perkiraan yang diberikan oleh dokter juga masih satu minggu lagi. Jadi, aku tak menyangka kalau maju cepat. Tak ada waktu untuk menghubungimu juga. Pasti kau harus membeli tiket terlebih dahulu untuk bisa terbang ke Helsinki, dan itu memakan waktu lagi.”


Brandon menatap Selena dengan sorot mata begitu kagum. Wanita itu tidak membencinya sedikit pun setelah apa yang sudah ia perbuat, bahkan ketulusan yang diberikan padanya juga sangat nyata.


Brandon menangis trenyuh dengan pengorbanan Selena, seraya tangan mengusap pipi wanita itu dengan lembut. “Kenapa baru sekarang aku menyadari kalau kau adalah seorang malaikat yang Tuhan tempatkan di sisiku.”


“Tuan dan Nona, maaf memotong pembicaraan kalian, putranya mohon dipeluk sampai bantuan dari rumah sakit datang.” Tim medis dari pusat rehabilitasi itu membuat Brandon dan Selena berhenti berbincang. Ia memberikan bayi mungil yang baru saja dibantu keluar ke dunia.


“Apa dress Anda bisa dibuka, Nona? Supaya bayi ini mendapatkan kehangatan dari kulit orang tuanya langsung.”


“Boleh.” Selena sedikit berdiri dan meminta tolong pada Brandon supaya membantu membukakan pakaiannya.


Brandon berusaha mengalihkan pandangan ketika Selena hanya tertutup kain yang minim. Dia justru mengambil selimut untuk menutupi tubuh yang hampir polos sampai putranya hanya terlihat kepala saja. “Supaya kalian hangat.”


Brandon duduk bersimpuh di lantai agar sejajar dengan Selena. Bibirnya tak henti mengulas senyum, dan mengusap pipi si mungil yang masih merah. “Halo, jagoan Daddy, akhirnya kita bertemu di dunia. Sebentar lagi pasti akan berkumpul bertiga, doakan aku cepat mendapatkan hasil evaluasi bagus supaya lekas keluar dari sini.”


Komunikasi yang dilakukan oleh Brandon membuat bayi mungil itu berhenti menangis, dan menunjukkan senyum meskipun mata sepertinya masih lengket belum mau terbuka.


“Dia tahu suara Daddynya, anak pintar,” ucap Selena dengan tangan mengusap rambut yang masih basah.


...*****...


...Anaknya Gwen kalo lahiran tempatnya aneh semua, gak ada yang bener kek di rumah sakit. Rambut singa di pesawat, Kucing di mobil, ini Selena di pusat rehabilitasi....