
Pandangan Selena segera beralih dari menunduk menatap putranya, kini menjadi terisi Brandon. “Pasti berbahaya, aku tak ingin kalau kau sampai terluka karena misi itu.” Ada kecemasan yang tergambar di wajah cantiknya saat ini.
“Tenang, aku bersama tim kepolisian. Jadi, kau tak perlu khawatir, ada yang melindungi di belakangku,” jelas Brandon seraya tangan mengusap pipi wanitanya.
Selena terdiam, entah kenapa ada rasa tak rela membiarkan suaminya pergi. Meskipun untuk melakukan suatu kebaikan, tapi tetap saja yang dihadapi pasti seorang bandar berbahaya.
Tak lekas mendapatkan izin, Brandon pun memeluk istrinya dan mendaratkan dagu di pundak. “Demi kebaikan bersama, supaya tidak ada lagi orang yang berakhir seperti aku.”
Helaan napas kasar keluar dari bibir Selena. “Tapi kau harus berjanji akan pulang dengan sehat, selamat, dan utuh.”
Brandon mengangguk. “Pasti.”
...........
Brandon sengaja mengambil cuti kerja untuk melakukan misi ini. Dia tak mau semakin banyak korban Alex yang dijebak seperti dirinya agar menjadi pecandu. Karena hendak pergi selama satu minggu, ia membawa pakaian ganti yang dimasukkan ke dalam ransel.
“Aku pergi dulu, Sayang,” pamit Brandon seraya mengecup puncak kepala Selena yang sedang menyusui Hedwig.
Brandon mengayunkan kaki dengan langkah yang mantap. Tekad dan keberaniannya sudah bulat. Misi ini harus berhasil diselesaikan.
“Tunggu!” teriak Selena supaya menghentikan Brandon yang sudah berhasil melewati pintu kamar.
“Kenapa?” Brandon membalikkan badan lagi.
Selena menidurkan Hedwig ke box bayi sebentar. Lalu ia sedikit berlari kecil dan langsung memeluk suaminya. Menenggelamkan kepala di pundak sang pria karena tinggi keduanya tidak jauh berbeda.
Selena pasti akan merindukan dipeluk dan memeluk seperti ini selama Brandon pergi. “Jangan lupa selalu mengirimkan kabar padaku.”
“Tentu.”
Selena mulai mengurai pelukan, ia mendalami tatapan mata suaminya. “Ingatlah selalu rasa ini.” Tiba-tiba bibirnya mencium Brandon dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada khawatir dan juga sedih karena akan berpisah walaupun sebentar.
Brandon mengulas senyum saat ciuman itu berakhir. Ia mengusap pipi sang istri yang begitu cantik hari ini. “Ku harap saat pulang nanti, kau sudah siap untuk melakukan malam pertama setelah pernikahan kita.” Selepas mengatakan itu, ia mendaratkan kecupan di kening Selena.
“Jika kau pulang dengan kondisi utuh, maka aku akan mempersiapkan diri untuk menjamu kepulanganmu.” Selena melambaikan tangan, mengantarkan kepergian Brandon dengan senyuman.
...........
“Ayolah, kenalkan aku pada bosmu, ingin coba ikut menjadi pengedar juga,” ucap Brandon pada Alex.
Saat ini Brandon sedang menemui temannya di sebuah rumah mewah milik Alex. Dia berdalih ingin ikut bergabung mengedarkan obat terlarang.
“Bukannya kau sudah direhabilitasi?” Alex tidak langsung menyetujui, justru menginterogasi. Dia harus tahu terlebih dahulu motifnya.
“Justru karena lama direhabilitasi membuat bisnisku goyah. Jadi, ku rasa menjadi pengedar lumayan juga untungnya, kau saja bisa sampai membeli rumah dan mobil mewah,” jelas Brandon seraya meneguk minuman berisi alkohol.
Wajah Brandon sungguh meyakinkan dan tidak terkesan gusar sedikit pun. Ia santai seperti biasanya ketika mengobrol bersama teman. Jadilah Alex percaya dengan motifnya.
“Aku hubungi bos dulu, dia butuh pengedar baru atau tidak,” ucap Alex, meraih ponsel dan menghubungi seseorang yang tak lain adalah produsen obat-obat terlarang.