Ecstasy

Ecstasy
Part 22



“Tahap detoksifikasi ini bisa memakan sekitar dua minggu kalau pasien menunjukkan perubahan yang baik dan berhasil melewati masa sakau secara cepat. Tapi ada juga sampai tiga bulan. Semua tergantung hasil dari proses pemutusan obat yang dilalui,” jelas salah satu tim medis Brandon.


“Berarti setelah detoksifikasi sudah boleh dijenguk?”


“Belum, Nona. Setelah berhasil melalui detoksifikasi, pasien tidak langsung dinyatakan sembuh dan terbebas dari obat terlarang, mereka masih harus melewati tahap rehabilitasi psikososial primary atau spesial program. Pasien akan dibentuk kembali pribadinya supaya bisa merubah perilaku ke arah yang lebih baik. Tahap ini juga belum diizinkan untuk bertemu orang luar, bahkan kerabat sendiri.”


Selena menghela napas, sepertinya harapan ingin bertatap muka langsung dengan Brandon selama kehamilan akan sangat kecil peluangnya. “Kira-kira berapa lama psikososial primary berlangsung?”


“Sekitar tiga sampai enam bulan, cepat atau lama proses penyembuhan tergantung pasiennya. Keinginan dari dalam diri untuk putus obat merupakan faktor yang paling besar mempengaruhi kesuksesan rehabilitasi.”


“Apa setelah berhasil melewati tahap kedua boleh dijenguk?”


Tim medis itu menganggukkan kepala. “Boleh, tapi pasien masih harus tinggal di dalam pusat rehabilitasi. Masih ada tahap penyembuhan terakhir, namanya rehabilitasi psikososial re-entry. Kalau hasil evaluasi Tuan Brooks bagus, beliau boleh kembali beraktivitas di luar, bekerja, bertemu keluarganya. Tapi, tidak diizinkan untuk dua puluh empat jam berada di lingkungan luar.”


Selena bisa bernapas lega, ternyata masih ada peluang untuk bertemu Brandon meskipun masih lama. “Berarti, berapa bulan lagi dia memasuki tahap ketiga?”


“Berkisar empat bulan lagi.”


Selena menghitung masa kehamilannya. “Berarti ketika aku hamil delapan bulan baru bisa bertemu Brandon,” gumamnya pelan.


Tangan Selena mengusap perutnya yang belum nampak buncit. “Sabar, suatu saat pasti akan bertemu Daddymu, sekarang baik-baik bersama Mommy.” Dia menyemangati diri sendiri walaupun sebenarnya sangat ingin menangis ketika melihat lagi layar yang menunjukkan Brandon.


Kini pria itu sedang terlentang di atas lantai dengan sorot mata kosong menatap ke atas. Selena hanya ikut miris menyaksikan perjuangan Brandon. “Andai kau tak salah memilih teman, pasti nasibmu tak akan seburuk ini.”


Selena mengakhiri melihat perkembangan Brandon. Dia mengucapkan terima kasih dan pergi dari pusat rehabilitasi.


“Setidaknya rinduku sedikit terbayar setelah melihatnya meskipun dari sebuah layar.” Selena mengucapkan kalimat tersebut saat taksi yang ia tumpangi mulai melaju meninggalkan tempat rehabilitasi.


...........


Detik, menit, jam, hari, dan empat bulan berlalu. Setiap minggu Selena rutin melihat perkembangan Brandon di Munich. Tidak masalah walaupun belum bisa bertatap muka secara langsung. Tapi, semalam salah satu tim medis memberikan kabar kalau Daddy dari anak dalam kandungannya sudah masuk ke tahap ketiga.


Selena begitu antusias ingin menjenguk Brandon. Ini adalah pertama kalinya ia akan mengikis rindu secara tatap muka.


Pagi-pagi sekali Selena berangkat ke bandara dan terbang ke Munich. Dia langsung menemui tim medis yang biasa.


“Ingin bertemu Tuan Brooks?”


“Ya.” Selena mengangguk antusias seraya mengusap perut. Dia sudah tak sabar ingin mempertemukan Brandon dengan anak di dalam perutnya.


“Mari, ikut saya.” Salah satu tim medis itu mengajak Selena ke sebuah taman yang bernuansa asri. “Tunggu sebentar di sini.”


Selena mengangguk. “Iya.”