
Brandon memberikan ruang untuk Mommy dan Daddy menerima kehadirannya kembali di mansion keluarga Brooks. Dia sampai mengesampingkan untuk terbang ke Helsinki menemui Selena dan anaknya.
Ada niatan untuk menikahi Selena. Tapi, tentu saja Brandon ingin hari bahagianya dihadiri oleh keluarga.
Brandon berpikir bahwa Mommy dan Daddynya pasti akan hangat kembali kalau ia berada di mansion, berangkat bekerja, ya melakukan kebiasaan seperti biasa. Namun, pada kenyataannya, tidak ada yang berubah.
Tuan dan Nyonya Brooks tetap memperlakukan Brandon sangat dingin. Tidak menyapa ataupun mengajak berbicara.
Bahkan, saat duduk bertiga di ruang makan pun Tuan dan Nyonya Brooks asyik mengobrol berdua. Brandon hanya bisa menatap nanar pada kedua orang tua itu.
“Mom, Dad.” Brandon tidak tahan dengan keberadaannya yang tak dianggap ada. Seolah raganya hanya sebuah patung di sana.
Tuan dan Nyonya Brook tidak menjawab. Keduanya hanya menatap ke arah putra mereka.
“Wanita yang ku hamili namanya Selena Eisten, dan aku ingin menikahinya. Maukah kalian menghadiri hari penting itu, sekaligus menjadi saksi?” Brandon akhirnya mengutarakan niat baik tersebut. Berharap kalau kedua orang tuanya bisa melihat bahwa ia adalah putra bertanggung jawab.
Tapi, ternyata reaksi yang didapatkan sungguh di luar ekspektasi. Kedua orang tua Brandon justru menertawakan niat baik tersebut.
“Apa kau tak malu? Sudah menghancurkan hidup wanita itu, lalu mau menikah dengannya? Memangnya dia mau menerima kau setelah apa yang sudah terjadi?” Nyonya Brooks nampaknya tidak setuju. Dia malu dengan keluarga wanita karena kesalahan putranya sangatlah tidak terpuji.
“Ikutlah denganku ke Helsinki, maka kalian akan mengetahui jawabannya.” Meskipun orang tuanya memperlakukan kurang baik, tapi Brandon tidak pernah sedikit pun membalas dengan cara kurang ajar. Dia masih berusaha menghormati Mommy dan Daddynya. Mau bagaimanapun, mereka sudah membesarkan dan merawatnya.
Bukannya memberikan jawaban, Nyonya Brooks justru meninggalkan meja makan dan mengabaikan Brandon.
Si mantan pecandu ekstasi itu hanya bisa menghela napas saat kedua orang tuanya mengabaikannya. “Apakah sesulit itu memaafkan kesalahanku?” gumam Brandon.
...........
Brandon menuruni anak tangga dengan membawa koper besar berisi seluruh pakaian dan barang-barangnya. Dia harus berpamitan supaya tidak dicari oleh Mommy dan Daddynya, meskipun tak terlalu yakin kalau orang tuanya akan melakukan itu saat tidak menemukannya di mansion.
“Mom, Dad,” panggil Brandon pada dua orang yang sedang berada di kolam renang.
Tidak ada jawaban, Brandon langsung saja berpamitan. “Aku pergi ke Helsinki dalam kurun waktu yang tidak ditentukan. Jika kalian berkenan, datanglah ke sana untuk menghadiri pernikahanku dengan Selena, waktunya akan ku kabari melalui pesan.”
Brandon berbalik badan. Sudah tak berharap apa pun lagi pada kedua orang tuanya. Dia segera pergi ke bandara seorang diri.
...........
Sesampainya di Helsinki, Brandon menaiki taksi menuju mansion Pattinson. Setelah sampai, dia langsung dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu. Menanti pelayan memberitahukan kedatangannya pada Selena.
Tak berselang lama, senyum Brandon langsung merekah ketika wanita yang dinanti sedang berjalan ke arahnya dengan menggendong Hedwig. Ia segera berdiri untuk menghampiri Selena.
Brandon memeluk wanita itu. “Aku merindukan kalian,” ucapnya seraya mengecup pelipis Selena, begitu juga dengan Hedwig yang mendapatkan ciuman di pipi.
...*****...
...Orang tua pun bisa durjana pada anaknya. Ck ck ck, tak patutlah kalian ni...