
Brandon mengakhiri pelukan dengan orang tuanya. Ia kembali berdiri di samping sang istri untuk mengenalkan wanita yang berharga dalam hidupnya itu.
“Mom, Dad, ini Selena.”
Meskipun perkenalan awal mereka berada di tempat yang kurang bagus, bisa dikatakan alakadarnya yaitu pinggir jalan. Tapi, tidak mengurangi esensi dari niat Brandon.
Selena melihat mertuanya tersenyum samar. Mungkin itu adalah sapaan dari mereka. “Senang bisa bertemu dengan kalian.”
Tuan dan Nyonya Brooks sepertinya bingung dan tak tahu harus memperlakukan seperti apa menantunya. Sudah cukup malu karena putranya membuat wanita itu menjadi korban.
Karena merasa canggung, padahal ia sudah berusaha ramah, Selena pun berinisiatif untuk mengajak mertuanya. “Ayo ikut ke pesta kecil-kecilan kami, ku kenalkan pada keluargaku.”
Namun, kedua orang tua Brandon menjawab dengan serempak yaitu berupa gelengan kepala. Pertanda sebuah penolakan.
“Kenapa?” tanya Selena.
“Mommy dan Daddy sudah jauh-jauh meluangkan waktu ke sini. Jadi, ikut saja, ya?” bujuk Brandon.
“Kami malu dengan Selena dan keluarganya.”
“Untuk apa malu?”
“Karena kau adalah korban dari putraku yang sedang tak terkendali. Tapi, meskipun sudah tahu seperti itu, kami tak langsung datang untuk minta maaf, justru berusaha menghindar dan tak ingin tahu masalah tersebut.”
“Aku dan keluargaku telah memaafkan, kalau belum, mana mungkin sekarang bisa menjadi istri Brandon.” Selena mengulas senyum. Kakinya terayun sebanyak tiga kali. Ia menggandeng dua tangan yang sudah masuk usia tua dan keriput. “Jadi, tidak perlu malu, kita berangkat bersama ke lokasi pesta.”
Meskipun orang tua Brandon menolak dengan sebuah gelengan, Selena tetap menarik tangan. Dia memaksa karena suaminya sangat ingin pernikahan mereka dihadiri keluarga lengkap. Maka, selagi ada kesempatan, harus diwujudkan.
“Aku juga akan memperlihatkan cucu kalian,” imbuh Brandon. Dia berdiri di belakang Mommy dan Daddynya, lalu merangkul pundak. Ikut menggiring dua orang yang sudah membesarkannya hingga menuju mobil.
Pesta yang dibuat Brandon dan Selena hanyalah acara makan-makan bersama keluarga dan rekan kerja di sebuah restoran yang memiliki taman luas. Diberi sentuhan dekorasi sederhana namun tidak menghilangkan kesan elegan. Meja bundar hanya tersedia lima belas di sana, dilengkapi kursi juga.
Brandon dan Selena beserta Tuan dan Nyonya Brooks sudah sampai di lokasi pesta. Pengantin sengaja menggandeng supaya memastikan orang tua Brandon tidak pergi.
“Keluargaku di sana, mari kita bergabung,” ajak Selena seraya menunjuk meja yang ada di paling depan.
“Tidak, kita duduk di sini saja.” Nyonya Brooks segera menarik suaminya untuk menempati kursi kosong pada bagian meja belakang.
Baiklah, Selena tidak akan memaksa. “Sayang, kau di sini saja, temani orang tuamu. Aku akan mengambil Hedwig ke Mama.”
Brandon mengangguk. Meskipun keluarga Selena sudah memperlakukannya baik, tapi menyambut hangat orang tuanya juga sangat perlu. Mau bagaimanapun perlakuan Tuan dan Nyonya Brooks yang pernah mengabaikannya, dia tetap akan memaafkan karena ada ikatan darah yang tak pernah bisa diputuskan.
Sementara itu, Selena menghampiri keluarga Pattinson yang sedang asyik berbincang. “Ma?”
Mama Gwen pun menengok. “Ya?”
“Boleh aku meminta Hedwig?” Padahal bocah mungil itu adalah anaknya. Tapi, memang dasar sifatnya begitu sopan, dia sampai meminta izin dan tak berani langsung mengambil.
“Untuk apa? Biarkan Hedwig bersamaku saja, kau nikmati pestanya,” tolak Mama Gwen seraya menggoyangkan tangan agar cucunya terus tersenyum.
“Aku ingin mengenalkan Hedwig pada orang tua Brandon.”
“Memangnya mereka datang?”
Selena mengangguk, lalu menunjuk di mana mertuanya berada. “Itu, duduk di sana bersama Brandon.”