
Ada benarnya juga yang dikatakan oleh orang tuanya. Sejak menikah dan sudah resmi menyandang status suami istri, Brandon dan Selena justru belum merasakan melakukan hubungan intim. Keduanya setiap hari fokus mengurus Hedwig dan terlalu senang hingga tak memikirkan kebutuhan biologis karena selalu tidur bertiga.
“Ayo ikut aku.” Brandon menarik tangan Selena supaya mengayunkan kaki bersama dengannya.
“Ke mana?”
“Kamar,” jawab Brandon dengan suara berbisik tepat pada telinga istrinya.
Dada Selena rasanya sangat berdebar ketika tubuh merasakan didorong pelan hingga terjatuh di atas ranjang. “Kau ingin melakukan apa?” Dari posisinya sekarang, bisa melihat kalau Brandon sedang melucuti setiap helai kain yang menutupi tubuh sampai pria itu polos.
“Ingin bercinta denganmu, anggap saja ini malam pertama kita,” jawab Brandon. Perlahan ia naik ke atas ranjang, menungkung tubuh Selena supaya tak bisa kabur.
Meskipun suaminya sudah polos, tapi wanita itu masih tetap menutupi tubuh dengan pakaian lengkap. Mendadak ia merasakan sesak ketika ingatan kejadian menyakitkan sebelumnya kembali terputar dalam otak.
“Kau tidak melepaskan pakaianmu? Baiklah, aku akan melakukannya.” Brandon sudah bergairah, padahal belum juga melakukan pemanasan. Tapi, ada sesuatu yang sedang memanjang.
Selena mematung, ia sangat tegang bagaikan patung. Napasnya terengah-engah seperti orang lari ketakutan. Padahal dia hanya berdiam diri. Tapi, yang membuatnya seperti itu adalah tangan kekar Brandon tengah melepas paksa kainnya. “Jangan!” teriaknya seraya menutup dada agar Brandon tidak meloloskan bajunya.
Selena menggelengkan kepala pelan seraya mendorong tubuh Brandon agar menyingkir dari atasnya dan tak mengungkung lagi. “A—aku belum siap.” Jujur, dia takut kalau akan terjadi hal mengerikan lagi ketika ingatan tentang betapa kasar pria itu menyetubuhi pada saat malam naas yang terjadi satu tahun silam mulai memenuhi pikiran.
Brandon mengusap kening Selena yang basah oleh keringat dingin. “Aku tidak akan memaksamu kalau kau belum ingin melakukan itu padaku.”
Kepala Selena menunduk, merasa bersalah. “Maaf.”
“It’s ok, apa pun alasanmu menolak bercinta denganku, pasti akan ku dengarkan.” Brandon memeluk Selena, membiarkan kepala wanita itu bersemayam di dadanya walaupun tidak dibalas.
“Aku takut kau membuatku masuk ke rumah sakit lagi karena melakukan sangat kasar, aku tiba-tiba teringat kejadian saat kita di hotel.” Selena menangis tanpa sesegukan, hanya sebatas keluar air mata. Ia merasa bersalah karena belum bisa mengendalikan pikiran. Memang trauma atau takut pada Brandon sudah hilang, tapi kejadian saat disetubuhi secara paksa itu terkadang masih sering melintas.
Brandon paham atas ketakutan istrinya. Dia tak akan memaksakan kehendak kalau memang Selena belum mau. “Aku tak akan melakukan sekarang. Kita hilangkan ingatan itu secara perlahan dan kita bisa bercinta saat kau sudah siap.” Ia mengusap puncak kepala wanita itu dan melabuhkan kecupan di kening. “Sekarang, kita tidur saja berdua.”
Sementara Selena merebahkan tubuh, Brandon turun dari ranjang untuk memakai kembali pakaiannya. Memang sedikit pusing karena hasratnya mendadak dihancurkan begitu saja akibat penolakan sang wanita. Tapi, tak masalah, ini juga salah satu konsekuensi yang didapatkan dari kesalahan masa lalu.
Brandon dan Selena tidur saling beradu pandang dengan jarak wajah tiga puluh centimeter. Hanya ada kata diam karena keduanya tidak berbicara sedikit pun. Mereka menyimpan rasa bersalah dengan porsi masing-masing. Selena tak enak hati karena menolak saat diajak bercinta, sedangkan Brandon merasa bersalah karena pernah memberikan ingatan buruk pada wanita yang perlahan mulai dicintai.