Ecstasy

Ecstasy
Part 46



Sepertinya memang Brandon yang terlalu terburu-buru ingin segera melakukan malam pertama dengan Selena. Tapi, kini ia sedang melakukan strategi lain supaya sang istri bisa perlahan tidak takut. Menderita juga kalau setiap hari tak bisa menyalurkan hasrat biologis.


Metode pendekatan yang dilakukan oleh Brandon adalah membangkitkan rasa nyaman dengan menjalani keseharian seperti sepasang kekasih yang penuh cinta. Memberikan sentuhan sedikit demi sedikit agar Selena mulai terbiasa.


Sudah tiga minggu ini Brandon melakukan hal tersebut. Contoh salah satu pendekatan yang dilakukan yaitu seperti sekarang, pria itu tiba-tiba memeluk sang istri dari belakang saat pulang kerja.


“Kesayanganku sudah wangi semua.” Yang dimaksud adalah istri dan anaknya. Brandon berbicara seraya mengulurkan tangan ke depan untuk mengusap pipi Hedwig yang berada dalam gendongan Selena di dalam kamar.


“Tentu saja, Daddy, kami rajin mandi,” jawab Selena.


Tak hanya pendekatan dengan cara memeluk saja, Brandon juga memutar tubuh Selen supaya menghadap ke arahnya. Pria itu selalu memegang tengkuk sang wanita. Kalau sudah posisi seperti itu, langkah yang dilakukan adalah mencium istrinya.


Karena perlahan terbiasa dengan hal tersebut, Selena pasti membalas ketika dicium. Ia aktif dan menikmati ketika lidah terasa ditarik masuk ke dalam rongga mulut suaminya.


Namun, ciuman itu tidak berlangsung lama karena Selena yang mengakhiri saat mendengar Hedwig menangis. Namanya juga bayi, tak tahu saja kalau orang tuanya sedang asyik memupuk cinta.


“Sini, gantian aku yang menggendong Hedwig.” Brandon mengulurkan tangan hendak mengambil alih putranya.


Tapi, tidak diizinkan oleh Selena. Wanita itu justru menggeserkan tubuh. “Mandi dulu, bersihkan badanmu setelah beraktivitas di luar. Takutnya membawa bakteri atau kuman dan menempel di Hedwig.”


Brandon menarik hidung mancung wanitanya. “Iya, sekarang kau bisa mulai bawel.”


“Kalau untuk kesehatan anak kita sudah pasti harus dijaga, Sayang. Harus hati-hati karena bayi mudah sekali terkena sakit akibat virus ataupun bakteri.”


Brandon tidak akan membantah jika sudah seperti itu. Dia bagaikan anak yang menurut pada perintah ibunda. Pria itu segera masuk ke dalam kamar mandi, melucuti setiap helai kain yang menutup tubuh, lalu menghidupkan gemercik air hingga membasahi dari ujung kepala hingga kaki.


“Kalian tak ajak Daddy bermain?” Brandon bertanya seraya tanggan menggelitiki perut anaknya.


“Ayo kalau Daddy mau ikut.”


Keluarga kecil itu nampak bahagia. Semua mengulas senyum karena si mungil yang sangat ceria. Tapi, mendadak Hedwig menangis.


“Hedwig sudah mengantuk, ya, Sayang? Atau haus?”


“Sepertinya dia ingin minum.” Brandon menggendong anaknya untuk diposisikan dalam pangkuan Selena.


Selena membuka tiga kancing baju dan mengeluarkan sumber ASI, ia memposisikan supaya Hedwig bisa minum dengan nyaman.


Brandon selalu menelan saliva saat melihat Hedwig dengan lahap dan semangat menghisap ujung buah dada yang belum dia rasakan dalam kondisi sadar. Tapi, segera menendang pikiran-pikiran kotor.


“Satu minggu kedepan sepertinya aku tidak akan pulang,” ucap Brandon seraya jemari mengusap pipi lembut si mungil.


“Kenapa?”


“Aku sedang bekerjasama dengan polisi untuk menangkap Alex beserta sindikat lain yang tergabung dalam komplotannya.”


“Siapa Alex?”


“Orang yang menjerumuskan aku sampai bisa mengkonsumsi ekstasi.”