Ecstasy

Ecstasy
Part 25



Tidak terasa, waktu satu jam yang diberikan ternyata sudah habis. Brandon telah dijemput oleh tim medis untuk kembali. Selena melambaikan tangan mengantarkan kepergian pria itu, tak lupa ulasan senyum supaya menunjukkan kalau ia akan baik-baik saja setelah ini.


Rasanya masih kurang dan belum puas berbincang dengan Brandon. Tapi, apalah daya, keadaan memang sedang seperti itu untuk saat ini.


“Setidaknya rinduku sedikit terbayar,” gumam Selena dengan tangan pengusap perut karena merasakan anaknya menendang terus.


“Kau belum puas bertemu Daddy, ya? Kapan-kapan kita ke sini lagi, oke?” Selena sudah tak merasakan bayi itu menendang, ia pun beranjak berdiri untuk meninggalkan pusat rehabilitasi.


...........


“Bagaimana perkembangan Brandon?” tanya Alceena yang saat ini sedang mengunjungi Selena. Dia sering mendatangi kakak tirinya untuk sekedar menemani berbincang ataupun melakukan yoga bersama. Supaya mengurangi rasa kesepian pada Selena. Ia merasa ikut andil dalam semua kejadian yang terjadi di hidup Brandon dan Selena. Jadi, supaya tak merasa bersalah, menebus dengan cara seperti itu.


“Sudah membaik, mungkin beberapa hari atau minggu lagi boleh keluar kalau hasil evaluasinya bagus,” jawab Selena sembari meringis karena mendadak merasakan perutnya mulas.


Alceena yang menangkap jelas ekspresi wajah sang kakak pun segera merangkul pinggang dan ikut mengusap perut buncit Selena. “Apa kau merasakan sakit?”


Selena menggeleng pelan. “Tidak, hanya mulas saja, sepertinya ingin buang air besar.”


“Ku antar ke toilet,” tawar Alceena seraya menuntun sang kakak untuk membantu berjalan. Padahal Selena bisa mengayunkan kaki sendiri, tapi dia ingin saja melakukan itu.


“Tidak perlu, aku bisa sendiri,” tolak Selena seraya mencoba menyingkirkan tangan sang adik.


“Baiklah, aku tunggu di sini.” Alceena membiarkan Selena pergi sendiri, sedangkan ia duduk dengan sorot mata terus tertuju pada pintu toilet.


Tak berselang lama, Selena sudah keluar lagi.


“Lega?” tanya Alceena.


Dijawab gelengan oleh Selena. “Tidak bisa keluar.”


“Sejak kemarin aku seperti ini,” beri tahu Selena.


“Jangan mengejan, biarkan kotoran keluar sendiri. Takutnya nanti kalau dipaksakan justru mendorong bayimu juga,” peringat Mama Gwen.


...........


Pagi ini Selena ada jadwal yoga bersama Alceena. Dia sudah berada di ruangan indoor yang ada di mansion Pattinson. Instruktur telah menanti di sana.


“Maaf aku terlambat,” ucap Alceena dan segera bergabung.


“Tak masalah, kami juga baru datang,” balas Selena. Begitu sabar dan lembutnya wanita itu. Padahal ia menanti sudah tiga puluh menit yang lalu.


“Kita mulai, ya?” Instruktur yoga yang khusus dipanggil ke mansion Pattinson pun mulai mencontohkan gerakan supaya diikuti oleh Alceena dan Selena.


Alceena masih bisa melakukan yoga itu dengan relax. Tapi berbeda dengan Selena yang sesekali berdesis karena merasakan pinggangnya sakit.


“Kau baik-baik saja?” tanya Alceena mendadak menghentikan kegiatan yoga.


“Siniku sakit sekali,” jawab Selena seraya memegang pinggang. “Perutku juga mulas lagi tapi pasti tak ada yang keluar, sepertinya aku sembelit.”


“Sepertinya kau harus ke rumah sakit untuk memastikan. Siapa tahu sudah mulai terbuka jalan lahirnya.” Instruktur yoga khusus ibu hamil itu menyudahi kegiatan dan membantu Selena berdiri.


“Apa yang aku rasakan ini kontraksi?”


“Ya, mungkin sebentar lagi kau akan melahirkan.”


Mendadak Selena terdiam. Dia teringat dengan ucapannya pada Brandon yang akan berada di Munich ketika hendak melahirkan. Tapi, sampai sekarang masih di Finlandia, bahkan belum persiapan atau membeli tiket ke Munich.