Ecstasy

Ecstasy
Part 29



“Mari saya antar.” Salah satu tim medis itu membawa Selena, Alceena, dan Dariush ke sebuah ruangan tempat Brandon berada saat ini.


Mengetuk pintu dan mendorong ke dalam sebelum diberikan izin. “Tuan Brooks, bisa keluar sekarang?”


Ketika mereka datang, Brandon sedang menjadi pengisi materi tentang bisnis. Pria itu memiliki keahlian di bidang tersebut, sehingga diminta untuk memberikan ilmu pada pasien rehabilitasi lain. Selain itu, juga sebagai upaya untuk menumbuhkan rasa percaya dirinya agar siap menghadapi dunia luar dan beraktivitas seperti biasa lagi.


Brandon langsung berhenti menjelaskan pada pasien lain. Segera keluar ruangan untuk bertemu tim medis yang menangani dia. “Ada ap—” Belum sempat ia selesai bertanya, fokus mata sudah membulat sempurna saat melihat Selena digendong oleh Dariush dan tengah berdesis kesakitan.


Kaki Brandon otomatis terayun mendekati Selena, mengusap kening wanita itu yang terus mengeluarkan peluh. “Hei, kau kenapa?”


“A—ku sudah ta—k kuat—” Berhenti sejenak untuk berdesis, baru ia melanjutkan lagi. “Ingin melahirkan.”


“Kita ke rumah sakit sekarang, kenapa kau justru datang ke sini?” Dia bukannya tak senang Selena menemuinya, tapi kondisi wanita itu yang ia pikirkan, sehingga merespon bercampur rasa cemas. Brandon mengulurkan tangan pada Dariush. “Biar aku yang menggendongnya.”


Dengan senang hati Dariush memindahkan kakak iparnya pada Brandon, sembari berucap, “sepertinya tak ada waktu untuk dibawa ke rumah sakit, dia sudah kesakitan sejak tadi. Coba lahirkan saja di sini.”


“Kita lahirkan di kamarku saja, tolong panggilkan dokter atau siapa saja di sini yang bisa membantu.” Brandon meminta sembari mengayunkan kaki secara cepat menuju ruangan tempat biasa ia beristirahat setelah tak diisolasi lagi.


“Saya bisa membantu, dahulu pernah menolong tetangga yang melahirkan juga.” Tim medis yang mengantarkan Selena bertemu Brandon itu mengajukan diri. Nampaknya situasi memang sudah darurat dan mendesak.


Brandon merebahkan tubuh Selena dengan sangat hati-hati. Kini ia mendapatkan fasilitas kamar untuk dirinya sendiri, dengan ranjang single, meja, kursi, selayaknya kamar pada umumnya. Tapi, bukan seperti hotel bintang lima. Yang pasti nyaman, bersih, dan bisa digunakan untuk melahirkan anaknya.


Tim medis yang menawarkan bantuan juga sudah bersiap di bawah Selena, dan menanggalkan kain yang menutup jalan lahir.


“Kepalanya sudah sedikit terlihat,” ucap tim medis di pusat rehabilitasi itu saat menyaksikan ada ujung kepala yang ingin mendesak keluar. “Atur napasnya, Nona, lalu mulailah mengejan.”


Selena mengikuti instruksi, fokusnya sudah tertuju ingin mendorong anaknya supaya segera menghirup udara di dunia.


Brandon mengulurkan tangan, menawarkan diri siapa tahu Selena butuh pegangan. “Kau pasti bisa, semangat,” bisiknya.


Selena tak menjawab apa pun yang diucapkan untuknya. Mengejan saja ia merasakan sakit dan seperti remuk semua tubuh.


Tangan Brandon sebelah kanan diremas erat oleh Selena, ia menahan sakit dari tancapan kuku wanita itu. Yang dirasakan tak seberapa menyakitkan dibandingkan yang dialami oleh Selena.


Sementara tangan kirinya mengusap kening, berusaha mengeringkan Selena dari peluh. Ia meninggalkan kecupan beberapa kali di sana.


“Mi—num, haus.” Selena membisikkan itu pada Brandon karena tak kuat rasanya mengejan terus tapi tak kunjung keluar juga. Katanya sudah terlihat ujung kepala, tapi mana? Suara tangis belum juga tedengar, perut juga belum terasa lega. Padahal baru lima menit dilalui, namun rasanya sangat lama.