Ecstasy

Ecstasy
Part 36



Inilah yang Brandon harapkan. Disambut dengan penuh kebahagiaan, senyuman, rasa syukur, dan kehangatan. Definisi keluarga yang ia harapkan, memberikan kehangatan peluk meskipun sudah pernah berbuat hal yang tak semestinya, tapi tetap ada maaf selama sudah berubah dan menunjukkan pada arah yang lebih baik. Tidak seperti orang tuanya.


“Hallo, Daddy, akhirnya kita bertemu lagi.” Selena yang berbicara mewakilkan Hedwig dan juga kata hatinya.


“Jagoanku, kangen Daddy, ya?” Brandon mendekatkan wajahnya pada sang anak, mencium bocah mungil itu berkali-kali.


Selena menatap terenyuh pada Brandon yang begitu bahagia saat bertemu dengannya. Sudah tak seperti pertemuan mereka ketika di pusat rehabilitasi.


“Mau menggendongnya?” tawar Selena.


“Boleh?” Brandon justru balik bertanya seraya kepala sedikit mendongak sampai bisa menatap Mommy dari anaknya.


“Tentu saja, kau orang tuanya juga.” Selena sedikit mendorong tangan ke arah dada Brandon. “Coba posisikan tanganmu,” titahnya kemudian, lalu langsungsung dilaksanakan oleh pria tersebut.


Selena membiarkan Hedwig berada di dekapan Brandon, sementara dirinya berdiri tepat di samping pria itu. Menyandarkan kepala di lengan yang entah hubungan mereka disebut apa. Mungkin masih teman sampai detik ini.


Baik Selena maupun Brandon, keduanya bisa melihat sangat jelas kalau Hedwig tersenyum ketika digendong oleh sang Daddy.


“Hedwig gembira, ya? Tahu kalau ini Daddynya?” Brandon menaikkan tangan, supaya bisa mencium bayi tersebut.


“Kita duduk saja, kau baru sampai sini, pasti lelah,” ajak Selena seraya menunjuk sofa.


Brandon mengangguk, mengayunkan kaki kembali. Menghempaskan pantat supaya menyatu lagi dengan benda empuk.


Sudah satu jam Brandon dan Selena hanya di ruang tamu. Wanita itu mulai melihat ke pintu masuk. Dia pikir, sang pria akan datang membawa kedua orang tua dan menikahinya. Ternyata, harapannya terlalu tinggi.


“Brandon?” panggil Selena, sepertinya lebih baik ditanyakan saja.


“Kau datang ke sini sendiri?”


“Iya.”


“Orang tuamu? Apa kau tak mengajaknya?”


Terlihat ada kesedihan yang tergambar di wajah Brandon saat menjawab dengan gelengan kepala. “Ku harap mereka akan menyusul ke sini.”


“Maaf, boleh ku tanya, kenapa?”


Brandon menarik napas sedalam mungkin, mengeluarkan dengan sedikit kasar. Dengan berat hati, ia menceritakan bagaimana kedua orang tuanya memperlakukan dirinya saat di mansion. Tadinya, ia ingin menutupi saja karena tak ingin menyebarkan keburukan Mommy dan Daddynya. Tapi, sepertinya berbagi perasaan kecewa pada Selena juga tak terdengar buruk. Sebab, hanya wanita itu yang mau dan bisa mengerti serta memahami dirinya.


Mendengar cerita tersebut, Selena langsung memeluk Brandon. “Tak apa, ada aku dan keluargaku di sini,” ucapnya menenangkan.


Pembicaraan Selena dan Brandon itu ternyata didengar oleh Mama Gwen. Dia ingin menemui pria muda yang baru saja keluar dari pusat rehabilitasi.


“Brandon, bisa kita bicara sebentar?” ajak Mama Gwen yang tiba-tiba sudah berdiri di ruang tamu.


Brandon langsung mengangguk, berdiri dan masih membawa Hedwig di tangannya. Ia mengikuti Nyonya Pattinson, meninggalkan Selena seorang diri karena wanita itu tak diajak.


Kaki Brandon berhenti di sebuah taman, duduk di kursi saat sudah dipersilahkan. Berhadapan dengan wanita paruh baya yang terlihat terus mengulas senyum ramah.


“Maaf, bukannya lancang, tapi tadi aku sempat mendengar ceritamu pada Selena,” ucap Mama Gwen.


Brandon rasanya ingin sekali menunduk malu. Dia sangat tahu keluarga Pattinson saling menyayangi satu sama lain. Tidak seperti orang tuanya. “Maaf, aku belum bisa memenuhi permintaanmu untuk membawa Mommy dan Daddyku ke sini.” Ada perasaan takut kalau rencana ingin menikahi Selena tidak akan disetujui karena hubungan keluarganya tidak baik.