
Semua mata tertuju pada isi dalam kotak perhiasan di tangan Brandon. Mereka melongo tapi ingin berkomentar tak sampai hati juga. Namun, ada yang mendadak menyeletuk, siapa lagi kalau bukan Dariush.
“Kertas?” ucap Dariush. Dia pikir saat Brandon me gatakan kalau isinya bukan cincin adalah sebuah kebohongan. Ternyata memang benar. Di dalam kotak tersebut tidak ada berlian ataupun emas bahkan perak. Tapi, kertas origami berwarna merah yang dibuat bentuk melingkar dan ada kupu-kupunya.
Mulut Dariush yang tidak bisa direm itu langsung dibekap oleh sang istri supaya diam. “Mungkin uangnya habis untuk beli ekstasi, kau jangan menyinggungnya.” Alceena berbisik di telinga pria itu.
Sementara Brandon, dia menarik tangan ke bawah untuk menyembunyikan kotak perhiasan yang di dalamnya tak berharga. Tentu saja menjadi malu karena ia belum siap seratus persen.
“Maaf, aku tidak bermaksud membuat Selena seperti wanita yang tak berharga. Persiapanku belum matang seratus persen,” ucap Brandon dengan kepala menunduk karena merasa bersalah.
Tapi, Selena segera memberikan Hedwig pada Mamanya yang duduk di dekatnya. Ia meraih tangan Brandon supaya pria itu kembali mendongak ke arahnya.
“Tak masalah, pakaikan cincin dari kertas itu ke jariku.” Selena mengulurkan jemari lentik ke hadapan Brandon. Dia tidak akan mempermalukan pria itu di hadapan keluarganya, sekalipun yang diberikan oleh Daddy dari anaknya hanyalah sesuatu yang tidak berharga mahal. Tapi, paling penting untuknya adalah niatnya.
Brandon merasa tak terlalu yakin akan memasangkan benda yang lebih seperti sampah itu ke jari Selena. Ia melihat mimik wajah setiap orang yang ada di sana. Ternyata, semua mengangguk pertanda supaya dirinya melakukan sesuai permintaan Selena.
Tangan Brandon pun mengambil cincin dari kertas tersebut. “Maaf, Selena,” ucapnya lirih seraya memasukkan ke dalam jari manis. Ia tersenyum karena ternyata ukuran yang dibuat pas untuk wanita itu.
Riuh tepuk tangan dari penghuni mansion Pattinson pun sebagai ucapan selamat. Brandon tak jadi berkecil hati karena keluarganya Selena begitu baik dan menerima setiap pemberiannya.
“Indah sekali, apa kau sendiri yang membuatnya?” Bahkan Selena pun memberikan pujian.
“Iya, semalam.”
Selena berangsur turun dari sofa supaya bisa sejajar dengan Brandon yang masih bersimpuh di lantai. Ia memeluk pria itu. “Terima kasih, meskipun ini sederhana, tapi sangat berarti.”
...........
Sore harinya, Brandon menghampiri Selena yang baru saja menidurkan putra mereka. Dia merangkul sang wanita dengan tangan mengusap lengan kurus. “Aku keluar sebentar, ya?”
“Suatu tempat. Tidak lama, tapi urusan ini sangat penting.”
“Aku boleh ikut?”
Kepala Brandon langsung menggeleng. “Jangan, kau di sini saja.”
“Baiklah, tapi harus hati-hati, oke?” Selena mengusap rahang tegas Brandon yang kini sudah mulai tak begitu kurus lagi seperti saat rehabilitasi.
“Pasti.” Brandon meraih tangan Selena yang bersemayam di wajahnya. Ia menarik hingga ke depan bibir dan mengecup permukaan kulit putih tersebut.
...........
Sebenarnya, Brandon tak sungguh-sungguh ingin memberikan cincin dari kertas. Dia tak tahu ukuran jari Selena, sehingga membuat benda tersebut untuk dicobakan pada sang wanita supaya saat membeli perhiasan tidak salah ukuran.
Memang benar kalau kondisi ekonominya kurang bagus setelah memakai obat terlarang. Tapi, masih adalah untuk membelikan perhiasan pernikahan dan kehidupan dua puluh tahun yang akan datang.
Dan di sinilah sekarang Brandon berada, toko perhiasan. “Aku ingin cincin yang ini,” ucapnya pada karyawan toko tersebut seraya menunjuk sebuah cincin dengan berlian putih di tengah berukuran tak terlalu besar, dan di samping kanan dan kiri juga ada berlian tapi berukuran sangat kecil.
...*****...
Ini yang dibuat si Gendon
Ini yang dibeli dia