
Selena meraih tangan Brandon yang mulai menjauh, dia tak membiarkan pria itu berkecil hati dengan kondisi saat ini. “Aku baik-baik saja menjalani masa kehamilan seorang diri.”
“Aku sangat tak berguna untukmu, menyakitimu secara fisik dan psikis. Lalu sekarang tak bisa melakukan apa pun ketika kau hamil. Pria sepertiku sebaiknya ditinggalkan saja.”
Wanita yang perutnya sekarang sudah terlihat buncit itu memaklumi kenapa reaksi Brandon seperti ini. Selena banyak bertanya dengan tim medis tentang pasien rehabilitasi. Dan ia justru diminta bantuan supaya menumbuhkan lagi rasa percaya diri Brandon karena pria itu senang sekali berdiam diri dibandingkan berinteraksi dengan pasien lain.
“Tidak ada yang tak berguna, anak kita menunggumu keluar dari sini dengan kondisi yang sehat. Mungkin sekarang kau tak menemani masa kehamilanku. Tapi, itu bukan sebuah masalah, mengandung hanya selama sembilan bulan. Namun, membesarkan dan mendidik anak ini tak ada batas waktunya.” Selena mencoba berbicara seraya mengusap rahang Brandon dengan penuh kelembutan. Dia memberikan hantaran emosional supaya pria itu memiliki semangat untuk bangkit dari fase terendah semasa hidup.
“Aku ingin menemanimu ketika melahirkan. Setidaknya, itu bisa mengobati rasa bersalahku padamu.” Brandon menundukkan kepala diiringi tetesan air mata yang terjatuh di lengan.
“Ketika saatnya melahirkan, aku akan datang ke sini, memohon pada tim medis supaya kau diizinkan untuk mendampingi persalinanku.”
Kepala Brandon kembali terangkat, saling melayangkan tatapan bersama Selena. “Apa bisa?”
Ulasan senyum di bibir wanita itu dan anggukan Selena menandakan bahwa jawaban pertanyaan tersebut adalah bisa. “Semoga saat hari itu tiba, kau sudah selesai dan dinyatakan sembuh,” harapnya dengan menggenggam tangan Brandon.
Brandon tidak tahu harus merespon bagaimana. Dia tak ingin terlalu berharap karena takut kecewa sendiri. “Aku akan mencoba untuk cepat sembuh.”
“Ya, itu harus. Setidaknya demi anakmu.”
Brandon terdiam sesaat, mendalami bagaimana Selena menyikapi ia yang pendosa ini. Wanita itu nampak sabar sekali, bahkan tidak meninggalkan dirinya disaat terpuruk seperti sekarang.
Tiba-tiba senyum terukir di wajah Brandon tanpa sebab yang pasti. Membuat Selena ikut menarik dua sudut bibir juga.
“Aku hanya bersyukur saja.”
“Karena apa?”
“Karena Tuhan memberiku seseorang seperti kau yang memiliki tingkat kepedulian tinggi.” Brandon meraih rambut Selena untuk disampirkan ke balik telinga wanita itu.
“Aku hanya menjalankan hidup sebagaimana kata hatiku berbicara.”
Brandon nampak terdiam lagi, namun ia melihat wajah Selena terus seolah menginginkan sesuatu tapi tidak berani melakukan.
“Ada yang ingin kau sampaikan?” Lagi-lagi Selena harus bertanya terlebih dahulu baru Brandon mau mengutarakan isi hati.
“Aku ingin menciummu, tapi sepertinya kau belum tentu mau.”
“Lakukan, kau mau di bibir? Pipi? Kening? Silahkan, aku tidak akan melarang. Bahkan perut sekali pun kau boleh.”
Namun, Brandon justru melemparkan pandangan ke sembarang arah. “Aku mantan pecandu, pasti kau akan malu.”
Selena menghela napas supaya tetap sabar menghadapi Brandon dalam sosok yang tidak percaya diri. Dia menangkup kedua pipi pria itu, mengarahkan supaya bisa saling berpandangan.
“Aku tidak malu sedikit pun.” Selena yang berinisiatif melabuhkan sebuah kecupan di kening Brandon sebagai wujud kasih sayangnya. Menyudahi itu dan meninggalkan jarak sejengkal antar mata. “Kau adalah satu-satunya orang yang menghampiriku, dan menjadikan teman disaat semuanya menjauhi karena aku adalah anak seorang narapidana seumur hidup.”