
Brandon dan ratusan polisi saling membantu. Mereka menjalankan peran sebagai pengedar dan pembeli. Tentu saja untuk mengelabuhi orang yang diam-diam memata-matai. Mereka tak tahu saja kalau ujiannya bukan sekedar asal menjual habis, ada penilaian lain yang entah mereka bisa sadari atau tidak.
Hari ini waktunya Brandon setor pada Alex. Ia sudah duduk lagi di dalam rumah pria itu.
“Ternyata lumayan juga mengedarkan obat-obatan ini, cepat sekali dapat uangnya,” ucap Brandon seasyik dan sesantai mungkin seraya ia meletakkan amplop berisi uang di dalamnya.
“Kau berhasil menjual habis seribu butir?” tanya Alex. Ia mengambil dan melihat jumlah uang yang diberikan.
“Tentu saja, satu butir untung lima puluh euro sampai seratus euro, lumayan menambah pemasukanku.” Brandon meraih gelas dan menuangkan sendiri alkohol ke dalamnya.
Alex langsung menatap Brandon dengan alis naik sebelah. “Oh, ya? Seribu butir kau bisa menjual habis dalam waktu satu minggu? Bagaimana caramu melakukannya?” Pertanyaan itu merupakan jebakan. Mimik wajahnya nampak tak percaya kalau pria yang baru mencoba menjual ekstasi itu mampu menyelesaikan tantangan dengan begitu mudah. Awal ia melakukan itu saja tak bisa menjual habis dalam waktu cepat.
“Ku jual perorangan dan sebagian mencari pengedar lain untuk membantu. Mana mungkin aku bisa menghabiskan sebanyak itu dengan menjual sendiri.” Brandon sudah memprediksi kalau ada hal lain yang pasti dinilai, bukan sekedar uang dan seribu ekstasi saja. Logikanya mengarah pada ketidakmungkinan seorang pemula begitu mudah menyelesaikan tantangan yang diberikan. Jadilah dia sudah merencanakan strategi untuk menjawab juga.
Alex bertepuk tangan untuk Brandon. “Pebisnis memang beda cara berpikirnya. Tanpa diberi tahu pun bisa mengatur strategi sendiri.” Dia percaya dengan alibi tersebut karena dirinya pun memiliki orang-orang di bawahnya yang membantu mengedarkan dan mencari mangsa.
“Demi uang, otak licik pun lancar.” Brandon meneguk habis minuman dengan kedua mata menatap Alex, memastikan raut pria itu curiga atau tidak dengannya.
“Keputusan ada di tangan bosku.” Alex berangsur berdiri. Ia berjalan melewati Brandon, tapi menyempatkan sejenak menepuk pundak temannya tersebut. “Ku telepon dia dulu.”
Brandon melihat punggung Alex yang kian menjauh dan hilang tertutup pintu sebuah ruangan.
‘Mereka tak mungkin tahu kalau aku berbohong, ‘kan?’ Brandon bergumam dalam hati. Sulit sekali hanya ingin bertemu produsen obat terlarang. Bahkan lebih susah dari bertemu pemimpin negara.
Tak berselang lama, Alex pun keluar lagi. Ia duduk di depan Brandon. “Bosku ingin tahu, siapa saja pengedar yang kau rekrut.”
“Apa dia tidak percaya dengan kinerjaku?”
“Bukan tak percaya, tapi bosku hanya ingin memastikan saja apakah kau pantas naik ke level selanjutnya atau tidak.”
“Dia ingin bertemu langsung atau hanya sekedar foto? Kalau foto orangnya aku ada, tapi kalau bertemu harus ku hubungi dahulu orangnya.” Untung saja Brandon dan tim sudah menduga hal ini. Jadi, ia sudah menyiapkan semuanya.
“Kau memotret saat bertransaksi?” tanya Alex. Pertanyaannya selalu menjebak untuk melihat keseriusan dan kelayakan Brandon dalam menjadi penjahat di bidang obat terlarang.