Ecstasy

Ecstasy
Part 53



Brandon dan tiga puluh orang yang datang bersama dengannya tidak nampak mencurigakan. Jadi, mereka semua bisa lolos begitu saja masuk ke dalam gudang obat terlarang milik seorang pria yang kini sedang berbicara di depan dan menjelaskan kalau mereka akan dikirim ke negara lain untuk menyelundupkan beberapa jenis narkotika golongan pertama.


Dalam ruangan luas itu terdapat kurang lebih dua puluh orang yang menjaga. Brandon tidak fokus mendengarkan bos narkoba, justru ia tengah menanti petugas kepolisian yang belum juga masuk ke dalam padahal sudah tiga puluh menit berlalu.


“Apa kalian paham?” tanya bos narkotika tersebut.


“Ya.” Brandon dan tiga puluh orang lainnya menurut saja sembari menanti bantuan masuk.


“Bagus, jangan sampai terlihat mencurigakan.”


Dada Brandon terasa berdebar kala melihat bos narkotika itu mulai berdiri dan hendak meninggalkan gudang. ‘Kenapa lama sekali, bisa gagal misi kalau terlambat,’ gumamnya dalam hati.


“Alex, ku percayakan mereka untuk kau urus!” Bos narkotika itu mulai mengayunkan kaki menuju pintu.


Brandon melirik ke arah tiga puluh Badan Inteligen Negara, memberikan isyarat yang menandakan sebuah pertanyaan terkait apa yang harus dilakukan. Tapi, dijawab dengan gelengan kepala pelan supaya tetap diam dan menanti tim lain di luar yang bertindak.


Baiklah, Brandon pun menurut saja beserta yang lainnya untuk mengambil obat terlarang yang hendak diedarkan. Tapi, ia segera berbalik badan ketika mendengar ada suara tembakan pertanda peringatan.


Ketika bos narkotika itu membuka pintu dan hendak keluar, ternyata ada polisi yang sudah berjaga. Langsung menangkap sebelum berhasil kabur serta melawan.


“Jangan bergerak, kalian sudah dikepung!” ucap salah satu komandan tim. Dengan hati-hati dan langkah pasti, mereka pun masuk ke dalam.


Kecuali Brandon yang masih bebas bergerak. Dia bernapas lega karena anggota tim lainnya datang saat yang tepat.


“Alex! Kau tak becus mencari informasi! Bodoh! Bisa-bisanya membawa anggota kepolisian sampai tahu tempat persembunyian kita!” Bos narkotika itu langsung berteriak menyalahkan anggotanya sebelum tubuhnya dibawa keluar oleh dua orang yang mencekal tangan. “Kau harus bereskan kekacauan ini!” teriaknya memberikan perintah sebelum pada akhirnya tidak bisa terlihat lagi.


Kini Alex justru mendelik kesal ke arah temannya yang sedang tersenyum puas melihatnya diringkus. “Sialan kau, Brandon! Kau menjebak kami?!”


“Sama halnya saat kau menjebakku menjadi seorang pecandu, aku pun melakukan pembalasan yang sama padamu.” Brandon tersenyum dengan sebelah sudut bibir saja yang terangkat.


“Ayo jalan!” titah petugas kepolisian supaya anggota bandar narkotika itu segera bergerak.


Alex melotot ke arah Brandon ketika tubuhnya melewati orang itu. “Awas kau!” ancamnya.


“Silahkan nikmati hukumanmu, daripada merusak generasi, lebih baik kau memperbaiki diri supaya berguna,” balas Brandon. Dia tidak takut karena semua tangan dicekal oleh pihak berwajib.


Mendengar ocehan Brandon, Alex pun semakin marah. “Mati saja kau!” teriaknya sembari memberontak supaya terlepas dari cekalan polisi. Dia merebut paksa pistol dari tangan pihak berwajib itu dan tanpa perhitungan langsung menembakkan ke arah Brandon.


Dor!


Tak sempat menghindar karena terlalu mendadak dan kecepatan peluru begitu melesat, Brandon pun terkena tembakan di salah satu bagian tubuh. Dia berdesis merasakan sakit seiring darah mulai merembes keluar dari luka. “Setan kau, Alex! Ada anak istri menantiku di rumah!”