Ecstasy

Ecstasy
Part 52



Meskipun sudah dilarang oleh istrinya, tapi Brandon tetap melanjutkan misi. Tanggung, sudah sampai setengah jalan, sebentar lagi sampai. Lagi pula rencana yang disusun telah rapi juga, hanya satu langkah terakhir menuju final.


Besok malamnya, Brandon sungguh datang ke rumah Alex dengan membawa tiga puluh orang pengedarnya. Tapi, sesungguhnya itu adalah Badan Inteligen Negara.


Alex sampai terkejut saat kediamannya didatangi oleh banyak orang. “Ini semua orang yang membantumu mengedarkan obat terlarang?”


“Ya.”


Tenang, orang-orang itu sudah biasa menyamar saat melakukan misi. Jadi, tidak akan terlihat mencolok kalau sebenarnya profesi mereka adalah intel.


“Lalu sebanyak ini kau angkut menggunakan apa?” Banyak tanya sekali Alex.


“Itu.” Brandon menunjuk truck dengan box tertutup.


“Dapat dari mana kau truck itu?”


“Ada salah satu dari mereka bekerja sebagai supir truck, jadi dibawa saja untuk mengangkut.”


“Oh.” Alex mengangguk percaya. Baguslah, bisa dimanfaatkan juga untuk distribusi. “Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang,” ajaknya kemudian.


Tiga puluh orang yang dibawa oleh Brandon itu masuk ke dalam truck. Sementara dirinya ikut mobil Alex.


Perjalanan yang ditempuh tidak terlalu jauh. Justru mereka berhenti di sebuah hotel mewah.


“Bukankah katamu kita akan ke gudang?” tanya Brandon saat merasa aneh dengan tempat yang dituju.


“Memang, gudangnya ada di dalam hotel ini,” jelas Alex.


“Truck itu tidak bisa masuk ke basement, lalu bagaimana?”


“Parkirkan saja di tepi jalan, kalau sudah malam tak banyak kendaraan berlalu lalang juga.” Alex pun membawa masuk mobil menuju basement.


Brandon lalu mengikuti langkah kaki Alex yang menuju lift. “Kenapa gudangnya ada di dalam hotel?”


“Supaya tidak terlalu mencolok, jadi polisi tak akan tahu karena pasti tak curiga kalau banyak orang keluar masuk hotel,” jelas Alex.


Pantas saja sulit ditemukan. Ternyata lokasinya justru ada di dalam kota dan gedung yang biasa ramai oleh pengunjung untuk menginap.


Alex dan Brandon pun berhenti di lobby untuk memberikan perintah pada tiga puluh orang pengedar baru supaya naik ke lantai delapan secara bergantian karena lift tidak cukup menampung semua secara sekaligus.


“Di lantai delapan gudangnya? Terlihat seperti kamar hotel biasa.” Brandon tidak melihat keanehan sedikit pun, cocok sekali menjadi tempat persembunyian karena tak mencolok.


“Memang, tapi hanya ada satu pintu yang bisa dibuka.” Alex melihat ke belakang, memastikan terlebih dahulu apakah para pengedar sudah sampai di lantai itu atau belum.


“Yang mana?”


“Pintu delapan delapan delapan.”


Ketika semua ada di belakangnya, Alex pun membuka pintu berangka delapan sebanyak tiga.


Brandon sampai menggelengkan kepala, ternyata yang dilihat dari luar hanyalah tipuan mata supaya menganggap semuanya adalah kamar. Tapi, nyatanya itu gudang yang sangat luas.


“Wait!” Seseorang yang sudah ada di dalam langsung menghentikan Brandon. “Cek badan.” Ia membiarkan Alex masuk.


Seperti biasa, sebelum membiarkan orang-orang baru ke dalam, mereka harus memastikan terlebih dahulu kalau tak membawa senjata berbahaya.


Brandon lolos karena dia tidak membawa apa pun. Begitu juga dengan tiga puluh orang lainnya. Mereka sudah memprediksi ini. Jadi, penyergapan akan dilakukan oleh anggota kepolisian yang akan menyusul dan pasti berjumlah sangat banyak.


Tentu saja mereka melakukan komunikasi. Tangan Brandon selama berjalan menuju gudang selalu dimasukkan ke dalam saku, sesungguhnya ia sedang mengirimkan voice note percakapannya. Jadi, sudah pasti tim kepolisian bisa tahu.