
Setelah selesai menandatangani dokumen pernikahan, Brandon menggandeng tangan Selena kembali. Keduanya mengayunkan kaki bersamaan untuk menyambut keluarga yang hendak mengucapkan selamat.
Sayangnya, hanya keluarga Pattinson yang ada di sana. Namun, Brandon tetap saja harus tersenyum walaupun masih mengharapkan orang tuanya datang meski sudah selesai pengucapan janji suci.
“Bukankah sekarang saatnya kita berpesta untuk merayakan hari bahagia kalian?” ucap Dariush seraya merangkul mempelai pria yang sejak tadi nampak melihat ke sekitar ruangan.
“Tentu, aku sudah menyiapkan lokasi pesta, meskipun tak terlalu mewah,” jawab Brandon.
“Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang,” ajak Mama Gwen. Sebagai orang tua, dia seolah merasakan kalau menantu barunya itu sedang menyimpan sesuatu. Pasti karena Tuan dan Nyonya Brooks, karena ia tahu permasalahan Brandon yang kurang akur dengan keluarga. Itulah sebabnya berusaha untuk mengalihkan pikiran supaya tidak perlu bersedih terus. Lagi pula, mereka memaklumi.
Brandon merasakan kehangatan dari keluarga istrinya. Dia mengangguk mengiyakan ajakan mertua.
Satu demi satu orang yang hadir pun mulai keluar untuk berpindah ke lokasi pesta. Brandon menggandeng Selena, keduanya justru memilih jalan paling akhir.
Saat kaki Brandon menginjak di area luar gedung, ia sekilas melihat seseorang yang wajahnya tertutup kacamata hitam serta topi. Namun, dia langsung mengenali dua orang yang ternyata sejak tadi mengamati.
Dua sudut bibir Brandon langsung ditarik sempurna. Dia merasa lega, ternyata orang tuanya bukan tidak hadir, tapi tak masuk ke dalam.
“Kita ke sana dulu.” Brandon sedikit menarik istrinya supaya menunda masuk ke dalam mobil.
“Ke mana?” tanya Selena sedikit bingung, tapi tetap saja menurut.
“Aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku.”
“Tadinya ku pikir seperti itu, tapi ternyata mereka ada di sini.” Brandon menunjuk dua orang yang sudah berbalik dan sedang berjalan seolah menghindarinya.
Karena dress yang dipakai membuat sulit berjalan, Selena pun melepaskan genggaman tangan sang suami. “Kau kejarlah mereka, sebelum pergi naik taksi.” Dia justru memberikan perintah karena terlihat kalau dua orang yang seperti keluarga Brandon itu sedang berdiri di tepi jalan dan menanti kendaraan umum lewat.
Brandon segera berlari agar tak kehilangan orang tuanya. Meskipun yang dilakukan Tuan dan Nyonya Brooks hanya berdiri di luar gedung. Tapi, dia merasa sangat bersyukur dan bahagia karena tidak sepenuhnya acuh padanya. Maka, ia harus berterima kasih sudah menyempatkan waktu ke Helsinki.
“Mom, Dad,” panggil Brandon seraya mencekal pergelangan tangan dua orang yang hendak masuk ke dalam taksi.
Tuan dan Nyonya Brooks memang ingin datang ke pernikahan putra mereka. Tapi, malu dengan keluarga mempelai wanita. Keduanya akhirnya menurunkan ego masing-masing. Sebab, setelah dipikir-pikir, masih membutuhkan Brandon juga untuk mengelola perusahaan. Umur yang sudah tua membuat mereka kesulitan berpikir maupun bekerja. Juga, membutuhkan anaknya untuk merawat ketika sakit.
Betapa senangnya Brandon saat kedua orang itu berbalik dan tebakannya memang benar. Dia langsung memeluk. “Terima kasih karena kalian sudah datang.”
Tuan dan Nyonya Brooks hanya diam. Keduanya menepuk punggung Brandon. Sekarang justru merasa canggung karena mengingat perlakuan buruk pada putra mereka.
Selena yang berjalan pelan pun akhirnya sampai juga pada tempat berdirinya sang suami. Ia ikut berkaca-kaca saat Brandon terlihat berseri.
“Hi.” Selena menyapa orang tua suaminya dengan sangat ramah. Berusaha memberikan kesan yang bagus supaya hubungan mereka kedepannya terjalin baik.
...*****...
...Kalo emang dasarnya baek mah susah ya dihasut buat jadi jahat. Itu udah dicuekin sama emak bapaknya aja masih baek...