
Alex sudah menghubungi bosnya, produsen obat-obatan terlarang. Dia menganggukkan kepala kepada Brandon yang sedang duduk di hadapannya. “Dia ingin mengujimu terlebih dahulu, apakah kau memang bisa menjadi seorang pengedar atau tidak.”
“Maksudnya?” tanya Brandon yang belum paham.
Alex berdiri, mengambil sesuatu di kamar. Dia lalu kembali lagi dengan membawa sebuah plastik berisi seribu butir ekstasi, setara dengan satu kilogram. “Kalau kau berhasil menjual habis ini dalam waktu tujuh hari, bosku mau bertemu denganmu dan dia akan mengajarimu menjadi pengedar kelas kakap.”
Di luar dugaan dan rencana Brandon. Dia tak menyangka kalau menjadi komplotan penjahat ternyata ada trainingnya juga supaya bisa bertemu bos besar mereka.
Brandon belum bisa langsung memutuskan iya atau tidak. “Berapa total yang harus ku setor untuk sebanyak itu?”
“Aku biasanya menjual seratus lima puluh euro untuk satu butir. Untungku lima puluh euro, sisanya untuk bos yang menjadi produsen langsung.”
“Itu harga minimal?”
“Minimal seratus euro untuk satu butir, terserah kau mau naikkan berapa sebagai untung.”
“Target penggunanya?”
“Bebas, tapi ku sarankan kau menjebak orang-orang yang polos dan mudah ditipu. Buat mereka kecanduan dulu, lalu saat mereka sudah ketergantungan, jual dengan harga sangat mahal supaya menutup kerugian yang kau berikan secara cuma-cuma.”
Brandon mengangguk seolah ia menunjukkan sudah paham dengan penjelasan Alex. “Triknya seperti saat kau menjebakku?”
“Kurang lebih seperti itu.”
“Bagus, pebisnis paling royal, mereka rela mengeluarkan uang berapa saja. Pasti koneksimu juga banyak, jadi lebih mudah mendapatkan mangsa. Bisa juga kau jual ke club malam, di sana banyak orang yang ingin bersenang-senang tanpa mengenal lelah, cocok juga sebagai target pasar.”
“Sepertinya aku akan mencoba mencari target sekarang.” Brandon mengambil plastik berisi ekstasi itu untuk dia bawa. “Aku akan kembali menemuimu ketika ini sudah terjual habis.”
Brandon berangsur berdiri, dia harus segera keluar dari sana dan melaporkan pada tim kepolisian yang bersembunyi di dalam mobilnya. Sebisa mungkin ia tak menunjukkan gelagat aneh supaya tidak dicurigai.
Kaki Brandon terayun hendak menuju pintu keluar, tapi telinga mendengar kalau ada langkah yang mengikuti. Benar saja itu Alex.
“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Brandon tanpa berhenti berjalan.
“Aku akan membantumu, memberikan contoh supaya bisa menghabiskan seribu butir ekstasi secara cepat,” jelas Alex seraya merangkul temannya.
“Tidak perlu, aku akan menargetkan para pebisnis seperti saat kau menjebakku hingga menjadi pecandu.” Tentu saja Brandon harus menolak. Dia saja tak berniat untuk mengedarkan obat terlarang itu. Kalau Alex membantunya, justru bisa kacau rencana penyergapan tersebut. Tapi, nampaknya tetap harus waspada
“Baiklah, kau bisa menipu rekan kerjamu dengan mengatakan itu permen.” Alex menepuk pundak Brandon. “Semoga berhasil, dan mari kita sukses bersama.”
‘Mata kau sukses bersama, ini namanya sesat bersama,’ ucap Brandon dalam hati. Sebab yang keluar dari bibir adalah kata lain. “Aku akan menjadi kaya dalam sekejap.”
Brandon segera masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan rumah mewah Alex. Ia langsung melajukan kendaraan sebelum teman yang menyesatkan itu menyadari kalau sedang diintai. Sebab, nampaknya Alex ada gelagat yang menunjukkan kalau kurang percaya dengannya.