
Melihat mimik wajah Brandon yang tidak ceria setelah mengatakan kalau datang tak bersama orang tua, Mama Gwen segera berdiri untuk berpindah duduk. Ia menempatkan diri di kursi yang bersebelahan dengan Brandon.
Mama Gwen mengusap lengan pria itu dengan lembut. Brandon merasakan ada kasih sayang yang dihantarkan layaknya ibu pada anak.
“Tak masalah, mungkin orang tuamu sedang banyak pikiran,” ucap Mama Gwen mencoba menenangkan.
Brandon hanya bisa mengulas senyum sebagai jawaban. “Ku harap mereka bisa menyusul.”
Tangan Mama Gwen menepuk pelan punggung Brandon. “Tidak masalah kalau orang tuamu tak bisa datang. Sekarang, yang paling utama ku tanya niatmu datang ke Helsinki untuk apa? Menjenguk anakmu, Selena, atau ada hal lain?” Dia mulai mengungkit pembicaraan penting.
“Semuanya. Tapi, yang utama, aku ingin menikahi Selena,” jawab Brandon tanda keraguan sedikit pun. “Hanya saja, kondisi keluargaku berbeda, tidak harmonis.” Dadanya terasa berdenyut nyeri saat mengatakan itu, sangat menyakitkan jika diingat. “Apakah tetap ada restu untukku, si mantan pecandu ekstasi?”
“Tentu saja, niat baik tidak boleh ditolak. Asalkan kau mau berjanji akan menjaga putri dan cucuku sebaik mungkin, tidak menyakiti mereka baik secara fisik maupun psikis.” Mama Gwen menjawab dengan senyum tercetak di wajahnya yang sudah ada keriput.
“Aku akan melakukan itu semua.” Brandon lega dan bersyukur karena orang tua Selena tidak menolaknya, justru memberikan dukungan penuh.
“Kata siapa semudah itu menikahi putriku?” Tiba-tiba Papa Danzel ikut duduk dan langsung masuk ke dalam obrolan Brandon serta Mama Gwen.
“Apakah ada syarat supaya aku bisa menikahi Selena?” tanya Brandon seraya menggoyangkan tangan yang sejak tadi menggendong putranya supaya Hedwig tidak terbangun dari tidur meskipun sedang diajak berbincang bersama.
“Ada,” ucap Papa Danzel.
“Tidak,” tutur Mama Gwen.
Tuan dan Nyonya Pattinson menjawab secara bersamaan walaupun tidak sejalan.
“Aku hanya ingin Selena mendapatkan pendamping yang terbaik.”
“Aku Mamanya, tahu mana yang baik untuk masa depannya.”
“Dan aku Papanya.”
“Tapi, tidak ada darahmu mengalir di tubuh Selena. Jadi, ku mohon, biarkan kali ini aku yang mengambil keputusan.” Mama Gwen bukan ingin melawan suaminya. Tapi, Brandon sudah menunjukkan perjuangan melawan diri sendiri supaya berhenti dari ekstasi. Baginya itu sudah cukup, tidak perlu ada persyaratan lain.
“Aku turut andil dalam membesarkan Selena.”
Mama Gwen semakin membulatkan mata. “Tolong, sekali saja biarkan aku yang memutuskan.”
Papa Danzel tersenyum saat melihat istrinya sedikit marah padanya. “Aku bercanda, Sayang, jangan tegang.” Tangannya mengusap pipi Mama Gwen dengan penuh kasih.
Brandon menghembuskan napas lega. Dia pikir tak akan mendapat restu ketika melihat orang tua Selena berdebat.
Mama Gwen langsung mencubit kecil lengan suaminya. “Bercandamu tak lucu, hampir saja aku akan mengancam dengan cara mendiamkanmu.”
Papa Danzel mengusap lengan bekas cubitan, lalu meraih kepala sang istri tercinta untuk mendaratkan sebuah kecupan di pelipis. Hanya sesaat karena setelah itu ia menatap Brandon. “Meskipun orang tuamu tak memperlakukanmu hangat maupun tidak mengampuni kesalahanmu, maka bangunlah keluarga yang penuh kasih serta cinta bersama Selena dan anakmu, buatlah rumah tangga kalian harmonis.”
Brandon mengangguk dengan dua sudut bibir ditarik membentuk senyum. “Pasti.” Tidak ada keraguan sedikit pun dari tanggapannya. Dia merasakan sakitnya tidak diperlakukan hangat, maka tak akan melakukan hal yang sama pada keluarganya sendiri. Kalau definisi rumah tak didapatkan dari kedua orang tuanya, maka ia bisa membangun sendiri.