Ecstasy

Ecstasy
Part 23



Selena sudah tak sabar ingin melihat Brandon dan menunjukkan kalau bayi mereka sehat. Ia terus mengusap perut seraya mengajak komunikasi anaknya. “Sebentar lagi kalian akan melihat Daddy, Sayang, mungkin tempat bertemu kami kurang enak terdengar. Tapi, percayalah kalau Daddymu sedang berjuang supaya bisa memberikan kehidupan yang lebih baik lagi.”


Seakan paham dengan ucapan Selena, bayi di dalam perutnya tiba-tiba menendang. Dia menengok ke belakang saat mendengar ada suara langkah kaki. Senyum langsung merekah saat melihat ada orang yang selama ini dinanti sedang diantarkan berjalan ke arahnya.


“Itu Daddymu, jangan pernah malu memiliki orang tua seorang mantan pecandu, oke? Setidaknya dia selalu mengusahakan yang terbaik untukmu.” Selena memang selalu membangun kedekatan emosional dengan cara mengajak berkomunikasi.


Meskipun ini baru pertama kali mereka akan bertatap muka secara langsung dalam kondisi perut Selena yang sudah besar, tapi nampaknya anak itu sudah sering didongengkan tentang Brandon Brooks. Sehingga sejak tadi menendang perutnya seperti tak sabar ingin bertemu.


Salah satu tim medis itu mendudukkan Brandon di kursi dan berhadapan dengan Selena. “Tuan dan Nona, saya tinggal ke dalam. Waktu kalian hanya satu jam,” pamitnya.


Selena mengangguk diiringi sebuah senyuman manis. “Terima kasih, akan ku manfaatkan dengan baik enam puluh menit yang kau berikan.”


Tim medis itu mengayunkan kaki meninggalkan Brandon dan Selena. Di taman tersisa dua orang tersebut.


Sunyi, tidak ada obrolan sama sekali. Selena sejak tadi hanya tersenyum melihat Brandon. Tapi, semakin lama justru memudar karena pria itu diam saja dan tak merespon apa pun.


Brandon hanya melihat Selena dengan datar, dari atas sampai ke perut buncit wanita itu.


“Ini anak kita, apa kau tak senang melihat kami datang menjenguk?” Selena memulai pembicaraan.


“Senang.” Brandon menjawab dengan datar dan tak ada ekspresi apa pun.


“Karena aku malu dengan kalian yang harus datang ke pusat rehabilitasi, tempat manusia pendosa.” Brandon menundukkan kepala, padahal dalam hatinya bahagia karena akhirnya ada orang yang sangat peduli bahkan sampai rela menjenguk di sana. Orang tuanya saja tidak pernah menunjukkan batang hidung di depannya setelah masuk ke dalam tempatnya para pecandu narkoba berjuang untuk sembuh.


Selena beranjak berdiri, merubah duduk untuk berpindah ke samping Brandon. “Kenapa harus malu? Bukankah niatmu ingin lepas dari obat terlarang? Itu bukan sesuatu yang memalukan.”


Selena meraih tangan Brandon yang sedikit kurus, mungkin kurang makan. Mengarahkan pria itu untuk menyentuh perutnya. “Usianya sudah delapan bulan lebih lima hari.”


Tanpa sadar Brandon menitikan air mata ketika merasakan ada tendangan dari dalam. “Dia bergerak, apakah sakit?”


“Tandanya anak kita aktif dan sehat, aku tidak merasakan sakit, dia sepertinya senang bertemu Daddynya,” jelas Selena seraya menggerakkan tangan Brandon untuk mengusap seluruh bagian yang buncit.


Perlahan dua sudut bibir Brandon terangkat membentuk senyum sempurna. “Kira-kira, kapan anak ini lahir?”


“Mungkin tiga atau empat minggu lagi.”


Seketika itu wajah Brandon berubah muram, menarik tangan dan berhenti mengusap. “Sepertinya aku belum keluar dari sini, dan tidak bisa menemanimu melahirkan.” Ia menunduk lesu, merasa menjadi pria paling tak berguna. “Bahkan aku tak ada disetiap detikmu melewati masa kehamilan.”


Brandon memang sedang berada di tahap kurang percaya diri. Itu wajar bagi mereka yang sedang menjalani fase penyembuhan. Maka, di dalam proses rehabilitasi ada tahapan di mana pasien dibentuk supaya membangun mental positif sampai siap menghadapi dunia luar lagi.